Hari ini adalah hari pertama di bulan April 2013.
Hari pertama bulan ini yang juga kulewati di kota baru yaitu kota Jakarta.

Ada banyak hal yang membuat aku shock saat pertama kali tiba di kota ini.
Pertama, saat masih dalam perjalanan dari Cikarang ke Jakarta. Sepanjang perjalanan,
aku harus berpegangan erat-erat di pinggang suami karena melihat pengendara, baik motor maupun mobil yang melaju dalam kecepatan tinggi. Bahkan di jalan sempit pun, para pengendara itu bak seorang pembalap di arena balapanan.

“Ini Jakarta, Cha. Wajar aja. Kebiasaan di sini memang seperti ini. Kitanya aja yang harus ekstra hati-hati.”
Suamiku gampang saja sih ngomong seperti ini, tapi namanya hati, tetap saja berdebar-debar hebat. Aku berpikir bahwa seseram-seramnya aku berkendaraan di kota lain, sepertinya tidak separah di kota Jakarta ini. Apa karena kehidupan di Jakarta ini lebih keras ya, maka masyarakatnya pun terbentuk menjadi pribadi yang keras dan tidak mau mengalah? Aku tidak tahu kebenarannya. Aku hanya takut, bagaimana aku bisa melewati perjalanan ini hingga akhirnya tiba di kost yang akan kami tempati itu dengan selamat dan tubuh yang utuh.

Kedua, aku semakin shock ketika bertemu dengan pemilik kost, dan ternyata kamar kost yang dipesan suamiku belum dibersihkan sama sekali. Ibu kost malah menyarankan agar kami mengambil kamar lain dengan harga yang sama, ukuran yang lebih kecil dan terletak di bagian pojok, tersembunyi. Kebetulan, katanya sih, kamar pojok itu sudah dibersihkan sehari sebelum kedatangan kami.

Nah loh, ada intrik baru kah ini, masa ibu kost membersihkan kamar yang tidak dipesan? Dan mengabaikan kamar yang sudah dipesan jauh-jauh hari, bahkan sudah dibayar lunas untuk satu bulan itu.

Saat itu, ada perasaan tak nyaman di dalam hati. Selalu saja seperti itu. Hatiku akan membunyikan alarm dalam situasi yang nantinya tidak membuatku nyaman. Mungkin saja kamar pojok itu sudah bertahun-tahun tidak laku, lembab atau entah apa yang sudah terjadi di kamar itu, sehingga ibu kost lebih menyarankan kami mengambil kamar pojok itu.

Entahlah!

Kami pun akhirnya memutuskan untuk membersihkan sendiri kamar yang sudah kami pesan itu. Setelah mendapatkan kunci kamar, kami langsung menuju ke kamar kost kami yang letaknya terpisah dari lokasi rumah ibu kost.

Aku hampir pingsan ketika pintu kamar yang akan kami tempati dibuka suamiku. Kamarnya amat sangat bau dan kotor. Kecoak bertebaran di mana-mana baik yang masih hidup dan beterbangan maupun kecoak-kecoak mati yang bertebaran di mana-mana. Belum lagi kamar mandi yang ada di dalam kamar itu, benar-benar tidak layak digunakan.

Bagaimana caranya membersihkan kekacauan ini dalam kondisi tubuh yang remuk dan sudah hampir jam sembilan malam?

Melihat wajah suami yang begitu merasa bersalah, aku yang tadinya hampir saja mengomel jadi tidak tega. Akhirnya, kami harus bergerak cepat. Kami membeli berbagai peralatan bersih-bersih termasuk pembersih lantai dan kamar mandi antibakteri. Malam itu, kami berdua bergotong royong membersihkan ala kadarnya, minimal membuat kamar itu layak kami tiduri untuk satu malam.

Aku lagi-lagi berpikir, apakah kehidupan di Jakarta ini membuat hati nurani manusia menjadi mati. Bagaimana bisa uang sudah diterima dengan utuh, tapi kewajiban yang harusnya ditunaikan, ternyata tidak ditunaikan dengan baik? Apakah demi mendapatkan uang, segala cara harus dihalalkan? Apalagi, ini kost tidak murah. Semahal itu, ternyata tidak ada fasilitas apapun yang layak digunakan di kamar ini. Kasur busuk yang tidak bisa ditiduri sehingga kami memilih tidur di lantai beralas karpet, lemari pakaian yang terkunci rapat dan tidak bisa digunakan bahkan ranjang kayu di kamar ini penuh rayap.

Tapi setelah semua kekacauan itu berhasil diatasi, hari ini, hari pertama di bulan April. Kami berdua baik-baik saja. Suami berangkat ke kantor lebih pagi dan sampai di kantor paling pertama :p, penghuni kost lain yang kebanyakan mahasiswa juga sangat ramah dan bersahabat, terlepas dari ibu kost yang dodol, dan keadaan kost-kostan yang tenang ternyata membuatku dapat bekerja dengan baik pula.

Saat aku menuliskan semua ini, aku sedang duduk dengan bersandar di pintu, menikmati hujan yang mengguyur deras di halaman, sambil menyesap kopi hangat dan menikmati emping singkong yang tadi siang kubeli di warung depan kost… hehehehe…

Mungkin memang beginilah hidup adanya.
Aku yakin, semua akan baik-baik saja.
Dan Tuhan pasti akan membuat semuanya indah pada waktunya.
Kita tinggal mengusahakan segala yang terbaik yang kita mampu

697 total views, 3 views today

SHARE
Previous articleGo To Jakarta
Next articleKarakter dalam Novel

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here