Beberapa tahun terakhir, terjadi reformasi besar-besaran dalam dunia industri. Ada banyak sekali pemberitaan mengenai perusahaan-perusahaan besar yang gulung tikar hingga mengakibatkan angka tenaga kerja meningkatkan tajam, salah satunya adalah tutupnya gurita Sevel per 30 Juni 2017 lalu. Padahal kita tahu, Sevel memiliki banyak sekali tenaga kerja yang tersebar di berbagai gerai, cabang, bahkan di berbagai kota besar. Otomatis tenaga kerja yang baru saja kehilangan pekerjaan mereka ini membutuhkan pekerjaan baru. Adanya peningkatan jumlah tenaga kerja yang membutuhkan pekerjaan ini ternyata tidak sebanding dengan jumlah usaha yang membutuhkan tenaga kerja. Akinatnya tentu saja persaingan di dunia para pencari kerja menjadi semakin ketat.

Di saat yang sama, perkembangan dunia digital mengalami peningkatan dan membuka berbagai peluang kerja baru. Tidak saja sebagai entrepreneur (membuka usaha sendiri), membangun start-up, tetapi menjadi freelancer pun cukup menjanjikan. Khusus untuk perkembangan dunia freelance ini sebenarnya dipengaruhi dengan banyaknya perusahaan yang berada dalam kondisi yang kurang kondusif, seperti yang telah kita ulas pada paragraf sebelumnya. Dengan memanfaatkan tenaga freelance yang hanya digunakan ketika membutuhkan saja, perusahaan-perusahaan tersebut bisa menghemat banyak sekali biaya dan pengeluaran bulanan mereka.

Indonesia Melek Freelancing.
Indonesia Melek Freelancing. Sumber: sribulancer.com

“Melihat perkembangan dan prospek pekerjaan freelance, kami yakin ke depannya semakin banyak pekerja melirik pekerjaan freelance. Bahkan pekerjaan freelance ini dapat menjadi solusi mengatasi pengangguran di Indonesia. Hanya berbekal akses internet dan laptop/komputer/gadget, tiap orang dapat menjadi freelancer,” kata Ryan Gondokusumo, CEO sekaligus pendiri Sribulancer, seperti yang tertuang di laman sribu.com.

Mengenal Profesi Freelance Lebih Dekat

Freelance atau pekerjaan lepas diperkenalkan pertama kali oleh Sir Walter Scott (1771-1832) dalam novelnya yang berjudul Ivanhoe. Di novel itu digambarkan mengenai seorang tentara bayaran abad pertengahan. Saat ini, istilah freelance lebih pada pekerjaan yang diberikan kepada seseorang yang tidak berkomitmen jangka pada suatu usaha. Jadi, freelancer bisa diartikan sebagai seseorang yang bekerja secara mandiri, bisa bekerja dari mana saja dan kapan saja, tidak terikat waktu dan tempat, namun bertanggung jawab pada pemberi kerja dalam jangka waktu yang telah disepakati, serta menerima bayaran dari hasil kerjanya tersebut. Biasanya, para freelancer ini bekerja secara online. 

Pertumbuhan Pengguna Internet di Dunia dan Indonesia.
Pertumbuhan Pengguna Internet di Dunia dan Indonesia. Sumber: setara.net

Ada banyak bidang yang bisa ditekuni para freelancer, meski kebanyakan masuk dalam kategori jasa, seperti: programer, pengembangan website, desain grafis, penerjemah, web design, jurnalistik, penulisan artikel, penulis lepas, ghostwriter, konsultan di berbagai bidang, dan lain sebagainya. Sebagian besar di antara mereka bekerja secara online, artinya, pemberi kerja akan berhubungan secara online melalui email, chatting, atau sesekali bertemu untuk diskusi secara langsung jika memungkinkan.

Selain itu, profesi sebagai freelancer menjadi sangat diminati dewasa ini karena bisa dilakoni siapa saja, dengan latar belakang kehidupan apa saja, bahkan tidak ditentukan oleh latar belakang pendidikan. Jika sudah punya kemampuan yang bisa diakui dan terbukti, biasanya para pemberi kerja akan menggunakan jasa freelancer tersebut. Contoh nyatanya yang telah saya lihat sendiri, banyak teman-teman anggota komunitas Keluarga Blogger Jakarta, yang masih duduk di bangku SMA ataupun hanya lulusan SMA, bisa mendapatkan pekerjaan bergengsi, menjadi content atau SEO creator dengan bayaran tinggi melebihi pegawai di perusahaan swasta terkenal.

Apa yang Harus Dipersiapkan?

Pekerjaan freelancer itu cukup menggiurkan hasil yang akan didapat lho. Contohnya saja seorang selebgram dengan jumlah follower tertentu bisa berpenghasilan lebih dari 5 juta rupiah, sementara seorang buzzer penghasilannya antara satu hingga tiga juta rupiah untuk satu proyek. Dengan penghasilan sebesar itu, tentu banyak orang yang berminat sekali menjadi freelancer. Hanya saja perlu diingat, ada proses yang harus dijalani terlebih dahulu sehingga bisa mendapatkan penghasilan yang diinginkan.

Untuk itu, kita perlu memiliki kesiapan mental dan tidak gampang menyerah. Penolakan, kegagalan, masalah pembayaran yang tertunda, klien yang tak bertanggung jawab, pasti akan menjadi bagian dalam aktivitas kita menjadi pekerja freelance. Biasanya, jangka waktu yang harus dilalui seorang freelancer untuk dapat menikmati hasil dari kerja kerasnya antara satu hingga tiga tahun, ini pun tergantung kerja keras dan bagaimana kita menyikapi setiap masalah yang terjadi, termasuk profesional-tidaknya kita bekerja. Saya sendiri, sebagai seorang penulis buku, baru bisa merasakan hasilnya setelah lebih dari tiga tahun berkarier di bidang ini.

Ada banyak orang yang berpendapat kalau bekerja sebagai freelancer itu enak karena bisa bekerja di mana saja, entah di rumah dengan mengenakan daster (untuk yang laki-laki mengenakan celana pendek dan kaus oblong juga tetap bisa bekerja), di coffee shop, di taman, di mana saja. Belum lagi mengenai kebebasan waktu bekerja yang tidak harus ngantor dari pukul 8 pagi hingga 5 sore. 

Tetapi faktanya tidak demikian. Tantangan bekerja sendiri, apalagi dengan kebebasan waktu dan tempat, sungguh luar biasa. Di rumah, ada anggota keluarga lain yang bisa jadi akan membuat kita tidak fokus bekerja. Belum lagi, kebiasaan membuka media sosial, nonton tayangan televisi, atau mungkin malah terlalu santai karena merasa memiliki banyak waktu. Itulah sebabnya, memiliki disiplin dan tanggung jawab yang tinggi dimasukkan pada bagian persiapan ini. Karena kalau kita merasa bukan orang yang bisa mendisiplinkan diri, pasti jalan untuk meraih sukses di dunia freelance dua kali lipat lebih berat, dan bisa jadi malah belum apa-apa kita sudah gagal karena tidak berhasil menyelesaikan pekerjaan tepat waktu akibat manajemen waktu yang buruk.

Nah, ini juga hal penting berikutnya yang harus dipersiapkan oleh para freelancer. Jika ingin ‘menjual’ skill desain, tentu kita membutuhkan perangkat desain yang mendukung. Laptop atau pc desktop tidak semuanya bisa digunakan untuk desain karena berbagai software desain membutuhkan perangkat high-end. Untuk jadi penulis konten, penulis buku, ghost writer, juga membutuhkan banyak buku referensi, alat perekam jika sewaktu-waktu perlu melalukan wawancara, dan tentu saja laptop/pc desktop untuk menuangkan tulisan. 

Berikutnya, smartphone menjadi sarana komunikasi yang praktis untuk freelance yang dalam beraktivitas memiliki mobilitas yang tinggi. Saat ini, spesifikasi smartphone yang kita gunakan bisa disesuaikan dengan kebutuhan kita. Di dalamnya nanti bisa kita isi dengan software-software pendukung yang memudahkan kita bekerja di mana saja dan kapan saja. Kamera bisa jadi diperlukan, bisa juga tidak, mengingat ada banyak smartphone yang telah dilengkapi fitur kamera yang tidak kalah canggihnya dengan kamera DSLR.

Perangkat terakhir dan yang mempengaruhi kesuksesan penyerahan pekerjaan kita kepada para pemberi kerja adalah koneksi internet. Saat ini, ada banyak sekali provider yang menyediakan koneksi internet dengan biaya yang juga bisa disesuaikan, bahkan banyak perusahaan swasta yang membangun jaringan internet dan menjadikannya bonus paket jika kita berlangganan televisi kabel. Untuk pilihan provider yang digunakan, usahakan pilih yang terbaik, seperti misalnya XL yang memiliki banyak pilihan paket yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan freelancer. Jika lebih sering berkomunikasi dengan klien melalui telepon, manfaatkan saja Paket Bicara. Sementara jika proses upload dan download pekerjaan membutuhkan koneksi internet yang cepat dan jumlah kuota yang besar, manfaatkan paket dari XL Go atau XL Home. Intinya, pilihlah provider yang menguntungkan dan terbaik, baik dalam segi harga, kualitas suara, luas dan tidaknya jangkauan jaringan, serta stabil tidaknya koneksi internet. Jangan sampai gara-gara koneksi internet sering gangguan, pekerjaan kita pun menjadi terhambat atau malah membuat kita malah terlambat menyerahkan/mengirimkan pekerjaan ke pemberi kerja. Tahu kan resikonya jika pekerjaan terlambat diserahkan? Bisa jadi pemberi kerja tidak akan menggunakan jasa kita lagi. Dengan kata lain, kehilangan satu klien potensian adalah kerugian yang sangat besar bagi freelancer.

Pemberi kerja tidak mengenal kita. Mereka juga tidak tahu kemampuan dan keahlian yang kita miliki. Jadi, bagaimana mereka tahu kita punya keahlian yang bisa mereka manfaatkan? Tentu saja melalui resume. Dari resume inilah mereka nanti akan menilai apakah kemampuan dan keahlian yang kita miliki sesuai dengan yang mereka butuhkan. Oleh karena itu, pelajari cara maupun teknik membuat resume yang memikat. Ada banyak sekali artikel maupun situs di internet yang bisa dimanfaatkan. Atau buat saja resume secara online, misalnya di uptowork, situs resume online, canva, dan sebagainya.

Di dalam resume, cantumkan semua hal yang terbaik dari diri kita, termasuk foto terbaik untuk foto profil. Selain itu, hanya cantumkan keahlian yang benar-benar dikuasai dan singkirkan yang dikuasai ala kadarnya. Resume yang terlalu banyak mengungkapkan keragaman keahlian biasanya membuat para pemberi kerja menjadi ragu untuk menyerahkan proyek mereka.

Personal branding adalah cara kita ‘memasarkan’ diri kita, dalam hal ini kemampuan dan keahlian yang kita miliki. Misalnya, kita mampu membuat desain menarik untuk tampilan buku dan infografis. Lalu kita ingin mendapatkan pekerjaan secara freelance dari keahlian ini. Tentu kita harus memberitahu orang lain terlebih dahulu mengenai keahlian yang kita miliki ini, kan?
Ada banyak sekali cara membangun personal branding, seperti: ikut berbagai event yang sesuai dengan bidang keahlian, bertemu dengan banyak orang, membicarakan keahlian tersebut pada orang-orang yang dikenal (maupun yang tidak dikenal), membagikan kartu nama, memasang iklan di media sosial, membuat website, dan sebagainya. Intinya, kita harus membuat orang tahu mengenai keahlian yang kita miliki sekaligus memberitahu mereka kalau kita bisa membantu jika mereka sedang membutuhkan jasa kita.

Selain 5 hal yang baru saja kita ulas bersama, masih ada banyak hal penting lainnya yang perlu kita ketahui untuk menjadi seorang freelancer sukses. Intinya sih, semua profesi itu pasti ada enak atau tidak enaknya, ada untung ruginya. Alangkah baiknya kalau kita mengetahui semua itu terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan demi meminimalkan resiko yang mungkin terjadi. Dan yang terpenting, pengetahuan yang kita dapat berkaitan dengan profesi yang ingin kita lakoni akan membantu kita mengatasi rintangan, tantangan, sekaligus masalah yang bisa saja terjadi tanpa sebelumnya terprediksi.

Untuk 5 hal penting berikutnya nanti bisa di ulasan selanjutnya pada website ini ya.
Semoga bermanfaat.

24 COMMENTS

  1. Ini nih yang sampe sekarang aku rasain banget >> personal branding. Tapi sayang mba, di kota Semarang banyak yang belum aware karena mereka merasa bahwa buat apa sih bikin diri kita dilihat orang, toh kerja tu yang dilihat cuma ijazah, ijazah, ijazah huh 🙁

    • Iya. Masih banyak orang yang berpendapat begitu sih, Mbak Septi. Aku pribadi kan ngalami sendiri. Waktu mutusin jadi freelancer, penulis buku khususnya, keluargaku menentang abis. Menurut mereka, pekerjaan ini masih nggak pasti, termasuk nggak pasti dalam hal penghasilan. Jadi, kitanya harus kuat mental dan bisa buktiin sih. Nggak gampang, tapi pasti bisa.

  2. Betul mba, menjadi freelancer memang butuh kerja yg serius. Gimana bs meyakinkan calon client kalau kita orang yang tepat untuk pekerjaan yang mereka miliki. Dan mungkin yang jadi tantangan itu menemukan harga yang cocok sesuai pekerjaannya ya mba 😂

    • Nah, bener banget. Profesionalitas itu penting. Tapi di sisi lain jadi tantangan berat untuk menemukan bayaran yang sesuai dengan kerjaan. Cuma setahu aku, semakin tinggi kualitas pekerjaan yang bisa kita hasilkan, nanti hasil yang dicapai juga baik kok. Intinya, berani menghargai karya dan hasil kerja sendiri. Jangan sampai juga mau dibayar murah sangat… hehehe. Klo kata Mas Jarot, carilah bayaran yang lebih manusiawi :v

  3. Yeeeaaa, dan sebagai pekerja mandiri saya juga jadi bisa memperhatikan tumbuh kembang anak, keluarga terawat dan yang utama bahagia tidak terikat jam kantor. Negatifnya ya suka jadi deadliner yang mau ga mau nulis kudu extra cepat Hahahahha

    • Harus pinter atur waktu ya, Mbak, biar semuanya bisa terkondisikan dengan baik. Ngomong-ngomong, sejak jadi pekerja mandiri juga kita bisa saling kenal ya. Senang bisa punya banyak teman juga. Sukses selalu, Mbak.

    • Bikin portofolio aja, Kak, untuk menjelaskan apa yang kita mampu dan sudah biasa kita kerjakan. Atau bikin website dan posting di media sosial mengenai pekerjaan kita juga bisa

    • Ya. Tren kerja freelance sedang naik daun lho dan ini membuka peluang besar bagi pekerja mandiri seperti kita. Cuma ya itu, harus kreatif dan terus mengasah skill biar bisa bersaing dengan freelancer lain. Klo masalah perusahaan lebih senang pakai freelance, ini karena bisa mengurangi cost mereka untuk bayar karyawan, dan yang pasti sih bisa mendapatkan hasil yang tidak biasa juga. Jadi, Kak Riswan mau hire saya nih jadi freelance… hehehe

  4. Share tulisan yang cukup menarik, memang jika diperhatikan di satu sisi kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan sekarang semakin sulit dan ketat dikarenakan jumlah calon tenaga kerja yang terus bertambah setiap bulannya, tapi di sisi lain jika diperhatikan tetap masih ada celah untuk mendapatkan peluang memperoleh penghasilan. Ya lewat jalur freelance ini salah satu diantaranya. 🙂

    • Ya, Mas, Dwi… salah satu celah dan peluang yang masih bisa dimanfaatkan ya jadi freelancer. Ada banyak sekali yang bisa dikerjakan di sini. Kayak kita sekarang ini ya

    • Bener banget, Mas. Dengan personal branding, kita juga memperkenalkan skill yang kita miliki sehingga ketika ada klien yang membutuhkan jasa kita, mereka tahu bagaimana caranya menghubungi kita. Iya, kan?

  5. Personal branding..ini yang aku pikirkan sejak memutuskan fulltime ngeblog. Dimulai dari pemilihan nama domain, tapi sayang kurang eksekusinya di bagian konten 😀

  6. Membangun personal branding ini nih yang masih jadi pr, terkadang yang gak tahu justru memberi pandangan yang kurang enak. Dan juga masih banyak yang belum paham soal freelancer. Sering ditanya, kerjaaanya apa kok sering di rumah mulu 😀

  7. Saya sendiri belum bisa melepas pekerjaan saya sehari – hari nguli di kantor walaupun diluar ngantor ada juga beberapa pekerjaan freelance yang saya kerjakan imbasnya lebih ke tenaga, waktu dan pikiran mesti di gas terus enggak pake rem hehehe pulang kerja bukannya istirahat malah ganti project cuma beda tempat saja…mungkin suatu saat saya mencoba untuk jadi full time freelancer

  8. tapi kok kayaknya menjadi frelance itu susah banget yaa mbak.
    saya emang baru si ngeblog, belum pengalaman juga, karena saya masih coba-coba kan.
    ternyata ngblog nggak segampang yang diceritakan banyak orang.
    penghasilannya pung nggak nentu karena banyaknya orang yang ngblog.
    saya harus gimana yaa mbak ? soalnya saya sudah hampir nyerah nih, karena job tidak kunjung datang.

    • Semua profesi kan emang ada susah dan senangnya sendiri, kalau sebagai karyawan segalanya lebih pasti, maka sebagai freelance kita harus rajin jemput bola. Blognya dibagusin, kumpul komunitas blogger, ngikutin diskusi biar performa blog dan media sosial bagus, terus belajar, dan jangan khawatir. Nanti saatnya tiba, dirimu bakal banjir job… Semangaat ya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here