Hari ini hari kedua saya dan Pewe di Bali, masih bersama dua teman kami. Janjian dengan Pak Putu jam 8 pagi kami akan melanjutkan perjalanan, namun karena suasana di Bagus Guest House enak banget, rasanya malas sekali cepat-cepat meninggalkan tempat ini. Ya, karena rute perjalanan yang kami lalui cukup jauh maka kami kembali memutuskan patungan sewa mobil milik Pak Putu lagi. Jadi kami bisa hemat tenaga dan begitu tiba di lokasi wisata tetap bisa senang-senang. Jadi selanjutnya, meski tak ingin meninggalkan Padang Bay, tetap saja kami melanjutkan perjalanan sekitar jam sembilan lewat (dengan terburu-buru packing tentu saja… hahaha). Di tulisan kali ini saya akan menceritakan perjalanan kami ke tiga tempat di kabupaten berikutnya, yaitu Bangli. Hari 2 di Bali: Tukad Cepung, Pura Puseh, Campuhan.

Tukad Cepung

Tukad Cepung ini adalah destinasi air terjun di dalam gua, begitulah hasil pencarian kami di Google. Foto-foto tempat ini keren banget dan masih belum terlalu populer. Memang sih tujuan kami berempat ke Bali untuk mencari tempat-tempat yang belum terlalu populer layaknya Kuta, Sanur, dan sebagainya. Kami mencari yang berbeda dan menantang biar perjalanan jadi lebih seru dan tak membosankan. Lokasi Tukad Cepung berada di Dusun Penida Kelod, Tembuku, Kabupaten Bangli. Kalau dari Denpasar waktu tempuhnya kurang lebih 1 jam 30 menit. Tapi karena kami dari Padang Bay, maka waktu perjalanan tak selama kalau dari Denpasar.

Tukad Cepung. Foto: dok.pribadi

Untuk mencapai air terjun yang berada di dalam gua ini, kami harus melewati jalan kecil yang naik turun, beberapa kali menuruni tangga, berbelok-belok di antara tanaman hijau yang lebat, bahkan kami terpaksa menyelinap di antara bebatuan besar dan tebing untuk mencapai lokasi air terjun yang tersembunyi ini. Mirip sih dengan Guwang Hidden Canyon yang terkenal, cuma katanya memang tak sebagus Guwang. Begitu tiba di gua, serem juga mau berfoto di depan air terjun. Angin cukup kencang di luar sana karena suasana mendung dan menyebabkan guyuran air terjun jadi lebih deras. Ketinggian air terjun kurang lebih 15 meter dan di atas kepala kami, ada batu besar yang posisinya persis berada di antara dua tebing. Saya sempat membatin, gempa sedikit saja bisa jadi bikin batu di atas sana jatuh ke bawah dan menimpa kami. Meski deg-deg-an, tetap saja kami berempat berusaha mendekati air terjun dan berfoto bergantian. Sayangnya, karena di luar sedang mendung, sinar matahari tak cukup masuk ke gua dan hasil foto kami pun tak sama seperti foto-foto di Google dan Instagram yang jadi referensi kami. Kecewanya sedikit sih, tapi tetap enjoy karena bisa berpetualang ke tempat keren ini. Oh ya, harga tiket masuk ke Tukad Cepung murah meriah, cuma 10 ribu perorang. Karena sudah siang, kami memutuskan melanjutkan perjalanan, tapi sebelum ke destinasi berikutnya, kami makan siang dulu dengan menu sate luluh. Satu paketnya (satu luluh 8 tusuk, sup bakso ikan, sambal dan lalapan) cuma 15 ribu, dan maafkan, saya lupa nama depotnya.

Paket Sate Luluh Seharga 15 Ribu. Foto: destinasikeren.com

Pura Puseh

Di Kabupaten Bangli, kami memang sengaja memilih hanya satu air terjun karena kabupaten selanjutnya kami ingin mendekati Ubud. Itu sebabnya di daftar kami destinasi keren selanjutnya adalah Hidden Canyon Guwang di Kabupaten Gianyar. Waktu kami tiba di lokasi, para petugas yang menjaga tempat wisata itu mengatakan kalau hari ini Hidden Canyon tak bisa dimasuki akibat air pasang menutup jalan masuk ke gua. Hiks… sedih. Padahal dari seluruh destinasi yang ingin kami datangi, tempat inilah yang paling memikat hati. Tapi ya sudahlah, mau bagaimana lagi.

Pura Puseh - Bali

Akhirnya kami memutuskan pergi ke pura saja agar bisa jalan-jalan santai sambil meredakan otot-otot kaki yang masih tegang. Jadi destinasi kami selanjutnya adalah Pura Puseh Batuan yang terletak di Kabupaten Gianyar. Berdasarkan prasasti yang terpasang di depan Pura tertulis Pura ini dibangun di tahun Isaka 944 atau 1022 Masehi. Tua banget ya ternyata. Dan ketika kami berada di sini, ada cukup banyak turis dari berbagai negara Asia, seperti Jepang, China, dan Korea. Saya sempat berbincang sebentar dengan salah satunya (saat kami sama-sama mau ambil foto) dan bertanya padanya, tidak takut datang ke Bali karena isu Gunung Agung. Dia bilang tidak. Hidup dan mati Tuhan yang menentukan. Tak usah ke Bali, naik pesawat saja kalau sudah saatnya dipanggil Tuhan, pastilah tak bisa menolak. Benar juga sih jawabannya. Saya sempat membantunya mengambil foto, lalu ia bergabung kembali dengan rombongannya.

Kami berkeliling area pura. Mengambil foto bergantian, juga berfoto berempat dengan meminta tolong Pak Putu untuk mengambilkan foto. Untungnya cuaca sedikit mendung sehingga berjalan-jalan tak terlalu membuat kami kepanasan. Pak Putu juga sempat bercerita mengenai sejarah pura ini. Nanti kapan-kapan akan saya ulas pada tulisan saya berikutnya saja ya biar tak kepanjangan. Setelah puas berfoto, kami memutuskan lanjut ke tempat wisata berikutnya.

Bukit Campuhan

Lokasi Bukit Campuhan berada di Jalan Bangkiang Sidem, Ubud, Kabupaten Gianyar. Kami masuk dari jalan di sebelah Ibah Villas & Suites, trus temukan petunjuk bertuliskan “Going to the hill”, nah selanjutnya ikuti saja jalan tersebut sampai menemukan trek berupa jalan paving dengan pemandangan hijau di kiri kanan jalan. Kalau mau ke sini, usahakan pakai sepatu ya, jadi kaki tidak sakit karena trek ini panjangnya kurang lebih 2km (pulang pergi berarti 4km). Di bukit ini, sejauh mata memandang hanya warna hijau loh, itu makanya banyak yang menjadikan Bukit Campuhan sebagai tempat untuk jalan-jalan menyegarkan mata atau berolahraga joging. Di sini dapat pula menikmati matahari terbit dan matahari tenggelam. Kami sebenarnya mau berburu sunset, tetapi karena mendung jelas sunset tak akan terlihat. Jadi, kami hanya menikmati jalan-jalan sambil bercanda dan sesekali foto-foto atau bikin video. Sampai di ujung trek, kami melihat beberapa villa dan penginapan. 

Oh ya, tanpa sengaja kami juga menemukan semacam pondok kecil dari bambu beratap rumbia. Di sana ada ibu dan anaknya menjual es kelapa muda. Kami mampir dan minum kelapa di sana. Enak banget kelapa muda yang kami nikmati di tengah pemandangan hijau begini. Cukup lama kami duduk-duduk di sini hingga senja turun dan kami harus segera pergi menuju penginapan. Sekitar pukul 7 malam, kami tiba di Santun Homestay Jl. Sriwedari No. 20, Ubud. Harga permalam perkamar hanya 100 ribu dengan fasilitas kamar mandi dalam, kipas angin, dan sarapan pagi. Enak kok tempatnya dan bikin betah, pemiliknya juga ramah banget.

Bukit Campuhan - Bali

Dan seperti malam sebelumnya, kami ngumpul lagi di malam hari untuk hitung seluruh pengeluaran kami dan langsung kami bagi empat. Namanya saja share cost jadi susah senang dibagi sama rata, baik untuk bayar sewa mobil Avanza, makan siang, jajan es kelapa, kecuali untuk jajan pribadi ya. Hari 2 di Bali: Tukad Cepung, Pura Puseh, Campuhan pun berakhir. Malam ini kami beristirahat dengan hati puas dan besok akan kembali berpetualang.

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here