Semua orangtua, terutama para ibu, pastilah menginginkan anak-anaknya tumbuh menjadi anak yang cerdas dan sehat. Agar anak tumbuh cerdas, ibunya tentu saja harus cerdas dalam banyak hal, tidak hanya terkait urusan nutrisi makanan, pola asuh, urusan domestik rumah, melainkan juga berkaitan dengan perkembangan teknologi digital. Lalu, bagaimana sih caranya bisa menjadi ibu cerdas di era digital? Apa saja yang dibahas di Kelas Literasi Digital Sisternet?

Kelas Literasi Digital Sisternet Ibu Cerdas di Era Digital
Kelas Literasi Digital Sisternet Bertema Ibu Cerdas di Era Digital

Kelas Literasi Digital Sisternet: Ibu Cerdas di Era Digital

Ketika mendapatkan undangan dari Blogger Crony Community (BCC) untuk hadir di Kelas Literasi Digital Sisternet dengan tema “Ibu Cerdas di Era Digital”, saya langsung setuju untuk hadir. Saya sama seperti kebanyakan ibu di luar sana yang ingin punya anak yang cerdas. Untuk itu, saya perlu menjadi ibu yang cerdas dulu.

Ngomong-ngomong ini kelas literasi digital Sisternet kedua yang saya ikuti. Sebelumnya, saya juga pernah ikut Kelas Literasi Digital yang diselenggarakan di Pulau Untung Jawa. Tapi namanya belajar kan tak bisa sekali ikutan saja kan ya? Mesti belajar berkali-kali biar tambah pinter dan punya banyak pengetahuan.

Jadi pada Minggu pagi, 16 Desember 2018, saya meluncur ke Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta. Karena saya datangnya kepagian, suasana di sana masih sepi. Hanya ada beberapa panitia yang sedang melakukan persiapan, sementara di beberapa sudut museum memang ada pengunjung yang sedang berfoto atau sekadar berjalan-jalan menikmati isi museum (kapan-kapan saya juga akan cerita tentang Museum Kebangkitan Nasional di artikel terpisah ya).

Tepat pukul 10, acara pun dimulai. Kelas Literasi Digital Sisternet kali ini menghadirkan dua pembicara, yaitu Shahnaz Haque (Aktris & Pembawa Acara) dan Monika Kumalasari (Gesture & Microexpression Specialist). Hadir pula Putri Lintang selaku Group Head People Journey XL Axiata serta Diah Kusumawardani Wijayanti yang merupakan Founder Belantara Budaya Indonesia dan Ketua Perempuan Pelestari Budaya.

Ibu Cerdas di Era Digital
Pembicara di Kelas Literasi Digital Sisternet

Tips Menjadi Ibu Cerdas di Era Digital

Menurut Ibu Putri Lintang selaku perwakilan dari XL Axiata dan Sisternet, literasi digital sangat penting mengingat pesatnya perkembangan teknologi internet saat ini. Agar bisa mendukung tumbuh kembang anak-anak yang terlahir di era digital maka perlu sekali para ibu juga melek digital sehingga mampu memanfaatkan teknologi digital tersebut secara positif dan maksimal. Selain itu, penyelenggaraan Kelas Literasi Digital Sisternet memiliki tujuan untuk memberikan edukasi dan pandangan terbuka terhadap dunia digital.

Jadi meskipun selama ini cukup banyak anggapan bahwa di dunia internet banyak hal negatif, tetap saja ada pula hal-hal positif dari internet yang sangat mendukung perkembangan pengetahuan dan informasi terkini. Hanya saja, memang perlu kemampuan tersendiri untuk memilah dan memilih mana yang berdampak positif dan mana yang berdampak negatif.

Hal menarik terjadi berikutnya ketika Monika Kumalasari memperkenalkan Generation Theory, pembagian generasi berdasarkan tahun lahir, yaitu:

  • Generasi Baby Boomer (1946-1954)
  • Generasi X (1966-1976)
  • Generasi Y (1977-1994)
  • Generasi Z (1995-2012)
  • Generasi Alpha

Anak-anak yang lahir di tiap generasi memiliki karakteristik yang berbeda, kata Monika Kumalasari, sehingga perlu penyesuaian dalam pola asuh dan didikan. Itu sebabnya, orangtua pun harus ikut menyesuaikan diri. Contohnya, anak-anak generasi milenial adalah anak-anak berkaristeristik lebih percaya diri, optimis, ekspresif, bebas, dan menyukai tantangan sehingga pola asuh yang tepat akan semakin mendukung mereka meraih apa yang mereka impikan.

Sementara itu, anak-anak generasi Z adalah anak-anak yang lahir di era digital, karena seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi dan internet. Anak-anak pada generasi ini sudah familiar dengan gadget dan media sosial. Tentunya pendidikan dan pola asuh pun perlu disesuaikan, termasuk pengawasan yang tepat dalam mendukung aktivitas digital mereka.

Shahnaz Haque yang menjadi pembicara berikutnya menyetujui apa yang dikatakan Monika Kumalasari. Shahnaz pun berbagi cerita tentang pengalamannya dengan ketiga anaknya. Anak Pertama Shahnaz adalah anak yang perlu terus di-support karena seringkali bimbang dalam mengambil langkah. Shahnaz sampai menasihati anak pertamanya ini tentang ketekunan bisa mengalahkan bakat.

Lain cerita dengan anak kedua Shahnaz yang disebutnya sebagai “anak cobaan” karena ibu dan anak sering berdebat. Ya, anak kedua Shahnaz memiliki karakter berbeda, punya prinsip yang tegas apa yang ia mau. Senang mencoba ini itu, sampai akhirnya menemukan passionnya di bidang Kuda. Kalau anak ketiga Shahnaz disebutkan sebagai “anak baik”, yang mengikuti keinginan kedua orangtuanya dengan sepenuh hati. Kebayang kan, anak yang diasuh, didik, dan disayangi dengan cara yang sama, tetap bisa menghasilkan anak yang berbeda karakter.

Jadi, masih kata Shahnaz, ketika di media sosial ada ibu-ibu yang curcol anaknya begini dan begitu, saya (dan siapa pun) yang juga seorang ibu, tidak bisa langsung menyamaratakan atau malah membandingkan anak sendiri dengan anak orang lain. Setiap anak memiliki keistimewaannya sendiri-sendiri. Tugas orangtua adalah membantu anak menemukan apa yang menjadi passionnya, apa yang menjadi keistimewaannya, kemudian bersama-sama memberi dukungan penuh hingga anak bisa menempuh perjalanannya meraih sukses.

Kelas Literasi Digital Sisternet Ibu Cerdas di Era Digital
Peserta Kelas Literasi Digital Sisternet di Museum Kebangkitan Nasional

Menjelang siang, acara pun usai. Semua peserta Kelas Literasi Digital Sisternet bertema Ibu Cerdas di Era Digital kemudian menutup sesi hari ini dengan makan siang bersama, juga foto bersama. Beberapa peserta bahkan masih melanjutkan acara dengan eksplorasi Museum Kebangkitan Nasional. Ah, bahagianya saya hari ini karena bisa mendapatkan ilmu yang sangat bermanfaat mengenai mendidik anak, termasuk pola asuh anak yang mendukung anak menemukan passion-nya. Tak sabar rasanya menunggu Kelas Literasi Digital Sisternet selanjutnya.

15,470 total views, 2 views today

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here