Sumber : familada.blog.com
Apa sih sebenarnya hidup?
Untuk apa hidup di dunia ini?
Selama ini, aku berpikir bahwa hidup adalah tuntutan untuk pencarian jati diri.
Kenyataannya, pencarian jati diri yang selama ini kulakukan tidak melalui jalan yang mudah.
Aku tidak mengatakan bahwa hidup yang kulalui selalu lurus dan mulus.
Ada banyak sekali jalan berliku, berbatu-batu, jurang di kiri dan kanan, menanjak dan menurun bahkan penuh dengan kubangan.
Sesekali, aku terperosok ke dalam jurang, tapi untungnya, aku masih sempat menjulurkan tangan hingga mampu memegang sebongkah batu hingga aku tidak benar-benar terperosok.
Ada kalanya aku terjatuh karena tersandung bebatuan yang membuatku tersandung. Di suatu waktu, aku terdiam begitu lama dalam posisi terduduk itu dan nyaris tak mampu bangkit.
Ada kalanya, aku terpeleset ke kubangan dan membuat seluruh tubuhku kotor, bau dan basah kuyup.
Nyatanya, …
Hingga hari ini, aku masih

saja melanjutkan perjalananku.

Bukan karena aku sosok yang kuat. Bukan pula karena aku berjiwa petarung yang membuat semua rintangan itu tak berarti. Sama sekali bukan.
Ada satu cahaya kecil di ujung perjalananku yang begitu ingin kucapai.
Impian!
Cahaya kecil itu adalah sebuah impian yang kurangkai dan kubisikkan dalam setiap tapak kaki yang kuayunkan.
Impian sederhana untuk membahagiakan orang-orang di sekitarku.
Impian sederhana yang ingin membuktikan bahwa aku bukanlah si biang kerok yang selalu membuat rusuh.
Impian untuk hidup apa adanya dan menjadi diri sendiri sepenuhnya.
Lalu bagaimana caranya aku mencapai impianku itu?
Sejujurnya, aku tidak tahu cara yang paling tepat yang harus dilakukan untuk mencapai impianku.
Aku juga belum menemukan satu formulasi yang membuat semuanya menjadi mudah dan lancar jaya tanpa hambatan.
Dan aku juga tidak selalu yakin bahwa jalan yang kupilih untuk mencapai impian itu adalah jalan yang paling benar.
Yang bisa kulakukan hanyalah berusaha sekuat tenaga. Bekerja dengan sepenuh hati dan daya yang kupunya. Mengerjakan sebaik-baiknya, dan menyerahkan hasilnya pada Tuhan pemilik alam semesta.
Aku tidak tahu apakah yang kukerjakan itu benar.
Aku tidak tahu apakah yang kukerjakan itu pasti sukses.
Aku tidak pernah tahu.
Namun aku selalu berusaha menyiapkan rencana cadangan di setiap rencana awal yang kubuat.
Kenapa demikian?
Apakah aku tidak percaya dengan kemampuan Tuhan untuk membuat sesuatu yang tak mungkin menjadi mungkin?
Bukan. Bukan itu maksudku. Aku percaya pada kemampuan Tuhan sepenuh hatiku.
Aku percaya bahwa Tuhan selalu memberikan yang terbaik bagi siapa pun yang menggantungkan harapannya pada KehendakNya.
Tapi pernahkah kamu mendengar bahwa rencana yang baik bagi kita belum tentu baik pula buat Tuhan?
Karena aku tidak pernah tahu apakah rencana yang kubuat itu sesuai dengan kehendak Tuhan, maka aku selalu mempersiapkan rencana cadangan. Itulah alasan utamanya.
Dulu, sebagai seorang Medical Representatif, aku memiliki rencana besar untuk berkarir di bidang itu dan menuai tabungan sebanyak mungkin dengan bonus pencapaian target yang selalu kudapatkan. Bagiku, sebuah target itu adalah tantangan yang harus ditaklukan, sehingga aku akan mengerahkan seluruh tenaga dan usaha yang kupunya untuk mencapainya.
Namun dengan berjalannya waktu, aku melihat ada banyak sekali hal yang tidak sesuai dengan hati nurani.
Contohnya : mendorong seorang dokter untuk memakai obat dengan target yang sudah ditentukan ternyata bisa membuat seorang dokter gelap mata. Bisnis kesehatan tidak lagi murni untuk menolong orang yang sakit, namun sudah didomplengi dengan menangguk keuntungan sebesar-besarnya tanpa peduli apakah pasien itu mampu atau tidak. Akhirnya, hatiku berontak ketika mendapati istilah bahwa orang miskin tidak boleh sakit karena mahalnya biasa pengobatan.
Aku keluar dari pekerjaan ini setelah melihat seorang pasien yang sekarat dan sudah tidak ada harapan hidup, terpaksa menerima suntikan berampul-ampul antibiotik berharga paling mahal, yang akhirnya tetap mengantar si pasien itu ke alam baka. Dan meninggalkan anggota keluarga yang sesak nafas membayar biaya obat-obatan yang sama sekali tak berguna untuk menolong nyawa pasien tersebut.
Begitu juga ketika aku menjadi seorang sales lapangan di sebuah toko alat tulis dan kantor. Ada target penjualan yang ditargetkan bagi setiap sales. Target yang harus dipenuhi untuk mendapatkan bonus bulanan yang jumlahnya kadang jauh lebih besar dari jumlah gaji pokok yang didapat.
Dan di sini aku melihat PERSAINGAN!
Aku merasa heran. Sangat heran.
Bukankah Tuhan sudah menetapkan rejeki masing-masing manusia sesuai dengan porsinya?
Kenapa harus bersaing untuk mendapatkan rejeki yang sudah ditetapkan itu?
Bahkan persaingan itu membuat banyak sekali orang yang tega melakukan segala cara untuk menjatuhkan lawannya, melakukan berbagai kecurangan, menjilat atau yang paling parah adalah rela membunuh hanya demi mencapai keinginannya.
Astaga!
Selama dua tahun aku bekerja di tempat itu. Aku bagai hidup di sebuah hutan rimba. Hanya orang-orang yang rela menjilat, yang tega menyingkirkan orang lain dan yang dengan bernafsu melakukan segala cara sajalah yang bisa bertahan lama di tempat itu.
Agar orang lain tidak menyingkirkanku, aku harus memikirkan berbagai intrik untuk menyelamatkan pesanan pelanggan agar terkirim tepat waktu, bahwa aku harus rela menjadi pengirim barang yang membawa tiga dus besar diboncengan sepeda motorku, terjatuh dan nyaris terlindas sebuah bis yang melaju kencang gara-gara barang yang kubawa di belakang tubuhku terlalu berat dan ikatannya terlepas hingga seketika itu juga membuat aku beserta sepeda motorku terbanting di jalan.
Aku tidak bisa bertahan dalam situasi ini! Aku memilih keluar!
Aku tidak mau mengorbankan nyawaku di jalanan yang begitu sadis hanya demi sesuatu yang aku sendiri tak tahu apa tujuannya. Mempertahankan ego-ku sebagai seseorang yang tak ingin dikalahkan? Lalu untuk apa mempertahankan yang sia-sia seperti itu hanya untuk mati dengan cara yang mengenaskan.
Di sinilah aku pada akhirnya. Aku bekerja di dalam sebuah ruangan yang tertutup rapat. Ruangan kamarku sendiri. Dan aku menulis dalam ruang yang sepi dan hidup hanya dengan tokoh-tokoh rekayasaku. Aku sedang berusaha menghindarkan diri dari berbagai hawa nafsu yang menggoda untuk dipuaskan. Dan ternyata, di ruang yang tertutup ini pun, aku tidak terhindar pada kenyataan bahwa persaingan terjadi di mana-mana.
Aku harus mengambil sikap!
Aku harus membuat satu keputusan!
Aku tidak akan pernah bersaing dengan siapa pun dan dengan cara apapun.
Bagiku, persaingan memang kadang membawa hal positif yaitu memacu diri kita ke titik maksimal untuk mengalahkan orang yang menjadi saingan kita. Tapi untuk apa? Pertanyaan “UNTUK APA?” itu terus bergaung di dalam kepalaku bagai sebuah granat yang setiap saat siap meledak.
Sebagai seseorang yang baru masuk dalam dunia kreatif, menulis buku, aku tidak memiliki kemampuan apa pun yang bisa kubanggakan. Aku hanya bisa berkutat dalam dunia khayalanku dan menciptakan tulisan-tulisan yang selalu kusertai dengan bisikan doa, “Semoga tulisan ini bermanfaat”.
Sumber gambar : yogacuy.wordpress.com
Begitu sebuah naskah jadi, dan akhirnya dicetak menjadi sebuah buku. Persaingan itu jadi sebuah angka NOL besar. Bukan kita yang memutuskan buku itu akan menjadi Bestseller dan mendatangkan banyak uang! Bukan kita pula yang bisa mengatur agar orang lain membeli dan membaca buku yang kita tulis tersebut.
Coba perhatikan!
Begitu buku dipajang di toko buku. Dari ribuan judul buku yang terpajang, bisakah kita menebak buku yang mana yang akan dibeli oleh seseorang?
Aku sudah pernah melakukannya. Aku berdiri di sebuah rak fiksi di toko buku, dan memperhatikan orang-orang yang lalu lalang di sekitar rak itu. Aku menebak, si A akan membeli buku yang mana? Si B akhirnya tidak membeli buku yang mana pun. Si C ternyata pindah ke rak berikutnya dan membeli buku yang sama sekali tidak diprediksi. Si D akhirnya cuma membeli sebuah komik, dan lain sebagainya.
Dan lagi-lagi, pertanyaan yang sama menghantuiku.
Lalu untuk apa para penulis itu bersaing?
Untuk apa mereka saling menjatuhkan? Saling berlomba menghasilkan sebuah naskah namun dengan mulut yang sibuk bergunjing ke kiri dan ke kanan?
Aku sungguh tidak mengerti.
Mengapa di dunia yang harusnya tenang ini juga diisi dengan persaingan yang tak ada habisnya?
Mengapa di dunia yang harusnya hanya ada kreativitas ini akhirnya berisi sebuah bisnis yang tipu kiri tipu kanan dan saling memanfaatkan demi keuntungan diri sendiri?
Aku tetap tidak mengerti.
Adakah yang bisa memberikan pengertiannya padaku?

734 total views, 1 views today

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here