Beberapa waktu yang lalu, ada teman yang bertanya, bagimana cara memanfaatkan outline untuk menyelesaikan naskah? Sejujurnya, saya juga tidak terlalu pandai dalam hal ini, namun saya mencoba membagikan pengalaman yang selama ini saya lakukan saja ya. Jadi, kalau ada kurang-kurangnya, mohon dimaafkan. Saya terbuka diajak berdiskusi mengenai hal ini.

Apa Itu Outline?


9 Langkah Cara Selesaikan Tulisan

Masih ingat pelajaran Bahasa Indonesia di masa sekolah dulu mengenai ‘Kerangka Karangan’, kan? Nah, outline itu adalah kerangka karangan. Dengan kata lain, outline adalah kerangka atau garis besar dari cerita atau tulisan yang hendak kita tulis. Outline ini berisi serangkaian ide-ide dasar yang tersusun secara sistematis, urut dan logis, yang nantinya akan kita kembangkan saat proses penulisan.

Pelajaran mengenai pembuatan kerangka karangan di masa sekolah dulu itulah yang saya manfaatkan dan saya terapkan dalam proses menulis, baik dalam menulis naskah nonfiksi maupun menulis naskah fiksi. Karena kedua bidang penulisan (baik fiksi maupun nonfiksi) membutuhkan outline, maka garis besar pembahasan hari ini menyangkut keduanya, ya. Saya tidak akan secara spefisik membahas proses penulisan naskah nonfiksi saja atau fiksi saja.

Alasan Penting Memanfaatkan Outline untuk Menyelesaikan Naskah

Proses Penulisan Lebih Terarah

Dengan adanya outline, proses penulisan jauh lebih terarah karena pada saat kita merancang outline, pastilah secara tidak langsung kita sudah memikirkan alur cerita (dari awal hingga akhir). Selain itu, proses penulisan menjadi lebih mudah karena kita sudah mengira-ngira, adegan apa yang ingin kita tuliskan di tiap bab, atau point-point penting apa yang akan kita masukkan di dalam suatu bab.

9 Langkah Selesaikan Tulisan
9 Langkah Selesaikan Tulisan

Tujuan dan ending yang diinginkan bisa dirancang

Menulis suatu naskah pastilah memiliki tujuan atau ending (akhir cerita untuk naskah fiksi). Dengan adanya outline, kita sudah menetapkan tujuan apa yang ingin dicapai diakhir tulisan kita. Misalnya, ketika kita menulis naskah non fiksi yang mengenalkan benua-benua di dunia pada anak kecil, maka tujuan kita adalah menciptakan sebuah tulisan yang membuat anak-anak kecil mengetahui keistimewaan setiap benua, apa kebudayaannya, makanan apa yang terkenal, dan lain sebagainya.

Begitu pula saat kita menulis naskah fiksi, pastilah kita sudah memikirkan, apa tujuan akhir dari tokoh utama kita. Misalnya saja, tokoh utama pada akhirnya berbahagia setelah musuhnya meninggal dan ia bisa merebut kembali kekasihnya yang sempat hilang. Atau tokoh utama nantinya akan mati secara mengenaskan akibat kejahatan yang dilakukannya. Tujuan atau ending tidak “HARUS” terjadi seperti rancangan awal. Kadangkala, karakter yang kita mainkan di dalam sebuah cerita bisa bergerak dan memiliki kemauannya sendiri, sehingga pada akhirnya akan mengubah ending. Ini bisa terjadi, tapi paling tidak, perubahan ini tidak akan melenceng terlalu jauh dari rancangan awal yang sudah kita buat.

Mencegah Timbulnya Writer’s Block

Apa itu ‘Writer’s Block’? Writer’s Block bisa diartikan sebagai kebuntuan yang dialami oleh seorang penulis sehingga ia tidak tahu apa lagi yang harus dituliskannya. Dengan membuat outline terlebih dahulu, maka kemungkinan terjadinya kebuntuan dalam proses menulis bisa dicegah seminimal mungkin. Kenapa bisa? Pasti sebagian dari kita bertanya-tanya apa outline memang sehebat itu sampai bisa membuat penulis lancar dalam prosesnya menulis.

Tentu saja. Outline yang dibuat lengkap dan terperinci akan membuat proses penulisan suatu naskah menjadi bebas tanpa hambatan. Karena itu, biasanya dalam menyusun outline, aku sudah menyertakan referensi yang harus dibaca, catatan penting, data-data dan lain sebagainya, sehingga ketika menulis kita tidak perlu berhenti hanya karena kekurangan data yang harus kita masukkan di dalam naskah kita. Biasanya, aku akan membuat folder-folder khusus yang menyimpan semua data dan referensi yang dibutuhkan.

Mencegah Terjadinya Pembahasan Topik yang Sama di Satu Naskah

Pernah tidak kita membaca suatu buku yang di bab satu membahas masalah bagaimana tokoh utama bertemu dengan tokoh A, misalnya. Lalu di bab lima, ternyata kita menemukan lagi adegan yang sama di mana tokoh utama bertemu dengan tokoh A, tapi dengan perubahan di sana-sini. Nah, kalau sebagai pembaca kita menemukan hal ini, apa kita tidak bingung sendiri? Dengan adanya outline, hal ini bisa dihindari. Kita bisa secara tepat merancang urutan kejadian, point-point penting dan hal-hal penting lainnya untuk naskah kita tanpa perlu membuat ‘kecelakaan’ terjadinya pembahasan yang sama sampai beberapakali dalam sebuah naskah.


9 Langkah Selesaikan Tulisan

Pengerjaan Naskah Jauh Lebih Cepat

Outline memudahkan proses penulisan menjadi lebih cepat. Karena dengan adanya outline, kita bisa menulis bagian-bagian yang kita inginkan terlebih dahulu tanpa harus urut dari awal sampai akhir.

Contoh:

  • Bab 1. Pertemuan Tokoh.
  • Bab 2. Marahan.
  • Bab 3. Penculikan Tokoh B.
  • Bab 9. Kehilangan

Nah karena aku baru saja marah sama seseorang, perasaan marah bisa langsung kutuangkan ke dalam Bab. 2 tanpa harus menuliskan Bab. 1 terlebih dahulu. (Eh, tapi bukan berarti kita harus sengaja cari gara-gara dan akhirnya marah baru menuliskan perasaan marah itu, ya :p) Atau kita bisa juga langsung menulis Bab. 9 tentang Kehilangan karena kita baru saja melihat dan ikut merasakan saudara kita yang kehilangan kucing kesayangannya.

Hanya dengan outline kita bisa membuat keajaiban, menulis tanpa harus urut dari awal sampai akhir namun tetap bisa menjaga konsistensi jalan cerita, sesuai dengan jalan cerita yang kita inginkan.

Penyusunan Adegan dan Konflik Lebih Terarah

Dengan membuat outline terlebih dahulu, maka saya bisa menyusun timeline dan mengubah-ubah adegan yang saya inginkan sesuai dengan urutan yang juga saya inginkan. Caranya: Setelah menulis adegan dan konflik dalam outline, biasanya saya akan memindahkan tiap adegan dan konflik di tiap bab ke kertas Post It.

Kertas Post It itu akan saya tempelkan ke dinding atau ke papan tulis yang tersedia, dan bisa saya pindah-pindah, saya susun ulang atau bahkan saya ganti sehingga urutan adegan dan konflik menjadi lebih bagus dan lebih terarah.

See…, ada banyak sekali keuntungan menulis menggunakan outline.
Sudahkah kalian memanfaatkan outline untuk menyelesaikan tulisan kalian?

5,916 total views, 1 views today

18 COMMENTS

  1. Wah, tipsnya keren, Monica. Dulu waktu masih SD kayaknya aku gampang banget bikin tulisan (ditulis pake bolpen di buku. Tamatnya bisa di buku tulis ke sepuluh atau lebih). Kalo sekarang, entah kenapa rasanya otak buntu kalo disuruh nyari ide dan berimajinasi. Huhuhuhuhu….. Mau nulis outline aja bingung mau nulis apaan.

    • Hi, Felyina, makasi udah berkunjung ke sini ya. Emang kok, nulis pakai pulpen di buku tulis itu lebih lancar loh nulisnya. Memang butuh waktu sih setelahnya untuk menyalin kembali tulisan itu menjadi file di laptop atau pc desktop. Tapi sambil menyalin sebenarnya kita bisa sekalian mengedit untuk kalimat-kalimat janggal, alur cerita, bahkan diksi. Saya dulu pernah nemu artikel tentang kreativitas menjadi lebih baik kalau kita sering memanfaatkan tangan untuk menulis atau menggambar, termasuk mewarnai. Tapi entah di mana saya menyimpan artikel itu.

  2. aku punya cita2 buat bikin naskah non fiksi betul bgt outline membantu biar lebih terarah sayangnya rasa malas akhirnya membuat naskahnya terbengkalai wkwkwk y ampun 😂
    makasi bnyk mba info pentingnya smg aku bisa seleseiin naskahnya

  3. Aduuuhhh…ini tips pas banget, kebetulan aku mau nulis draft. Bener jga yak klu dah ada outline ide yang datang tiba2 bisa langsung dieksekusi. Makasih mba Monica tips menulisnya…ditunggu tips berikutnya…

  4. Pertama-tama.. keren sekali tampilan blog, Mbak Monica hehehe.
    Terima kasih tulisan kerennya, Mbak Monica. Outline juga sangat membantu saya. Ibaratmya, saya sudah punya peta, saat mencari alamat. Jadi saya bisa fokus mencari alamat itu. Dengan outline, tulisan kita akan semakin berkembang.

    • Nah, iya, outline itu seperti peta ya, nunjukin dari mana dan ke mana gitu (dari mulai awal cerita sampai ending), dan biar kita nggak mudah tersesat. Saya selalu ngandalin outline dalam proses menulis, Mas, klo nggak bahaya. Bisa nggak selese-selese tulisannya. hehehe. Makasi sudah berkunjung ya

    • Benar banget, Mas. Selain untuk menulis naskah yang nantinya diterbitkan jadi buku, outline juga sangat membantu dalam menulis artikel untuk blog maupun website. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat ya. Terima kasih telah menyapa di sini. Salam kenal.

  5. Setuju, outline sangat manjur. Saya sudah pernah praktikkan, tapi baru untuk nonfiksi *meringis malu

    Thank you 4 yr reminder, Sis.

    Another tricks, please? 😊

  6. Setuju banget outline itu penting. Apalagi tulisan yang panjang dan butuh berkali-kali duduk buat nyelesain. Kena aktivitas dan tidur, buyar kalau cuma disimpen di otak. Hehe.
    Thanks for share ya… karena terkadang, terkadang aku ya menyepelekan outilne meski tulisannya sekali duduk selesai. Padahal kalau dikonsep detail dan rapi, tulisannya jadi lebih berbobot dan nilai manfaatnya tinggi. 🙂

  7. Mksh bnyk ya mbak Monic. Menambah wawasan aq dalam (belajar) nulis. Selama ini aq cuma buat kisi-kisinya aja yg akan aq tulis. Sukses selalu buat sampeyan. Aamiin

  8. […] Apa itu outline? Outline bisa disebut pula kerangka karangan. Outline sama seperti garis putih di tengah jalan raya, yang memandu para pengendara agar tidak keluar dari jalur. Outline bisa pula disamakan dengan daftar isi buku, deskripsi singkat mengenai isi buku, atau deskripsi bab demi bab di dalam novel/buku yang ingin kita tulis. Outline tidak berlaku hanya untuk menulis buku, tetapi juga bisa digunakan untuk menulis artikel, opini, cerpen, dan karya tulis lainnya. Pembahasan lengkap mengenai pentingnya outline dalam proses menulis bisa dibaca di Pentingnya Outline Dalam Menulis Naskah. […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here