Sumber: dok.pribadi
Jakarta, 1 Maret 2016
Selama tiga bulan pertama di 2016 ini, ada banyak hal yang telah terjadi. Memasuki tahun baru 2016 lalu, saya begitu bersemangat dan sangat yakin kalau tahun ini akan jauh lebih baik dari tahun sebelumnya. Tetapi namanya manusia, tetap saja hanya bisa berencana, karena pemilik rencana sejati adalah TUHAN.
Sebenarnya, tidak ada hal buruk yang terjadi selama tiga bulan ini. Semuanya baik-baik saja. Hari berganti seperti biasa. Malam dan siang bertukar tempat sama seperti yang sudah-sudah. Hanya saja, cara pandang saya yang berubah. Cara saya menyikapi kehidupan yang berubah. Pertemuan dan acara keluarga yang bertubi-tubi di bulan Februari kemarin membuat hati dan pikiran saya berubah.

“Monica sudah jadi penulis sukses ya. Banyak buku best seller. Tapi kok masih ngontrak?”

“Penghasilan sebulan berapa nih setelah jadi penulis? Apa lebih besar dari waktu jadi sales dulu? Sudah sukses begini harusnya sudah kaya dong.”

“Eh, aku baru beli rumah satu miliar loh. Kamu sekarang tinggal di mana? Masih kontrak di tempat lama?”

Tidak hanya pertanyaan spontan yang sebenarnya saya yakin hanya basa-basi. Tetapi melihat kesuksesan anggota keluarga besar yang baru membeli rumah, baru membeli mobil keluaran terbaru, baru berlibur ke luar negeri, anak-anak yang ceria, atau pasangan dengan pakaian dan penampilan yang wah, ternyata cukup mempengaruhi pikiran dan perasaan saya.
Apa yang sudah saya capai selama ini?
Sudahkah saya menjadi seperti yang diharapkan banyak orang?
Apakah Monica ini sudah sesukses kelihatannya?
Membandingkan diri sendiri dan orang lain mendatangkan ketidakbahagiaan. Perasaan kecil dan kurang menghargai pencapaian diri pun lahir dan membuat segala hal yang awalnya tampak baik menjadi begitu buruk. Saya menjadi tidak bahagia. Perasaan tidak bahagia ini akhirnya cukup berpengaruh dalam hari-hari saya hingga saya tidak bisa bekerja dengan baik.
Di hari terakhir ketika seluruh keluarga inti berkumpul (Mama, Papa, dan adik-adik), terjadi pembicaraan yang cukup mendalam.
My Family My Soul

 

“Pikiran itu kita yang mengendalikan. Lihat aja, Io, kalau segala hal nggak penting dipikirkan, sudah lama Io gila. Apalagi dengan tumpukan pekerjaan yang nggak ada habisnya. Perusahaan berani membayar mahal karena kemampuan dan hasil kerja Io. Kalau Io sendiri nggak bisa menghargai hasil kerja dan diri sendiri, terutama mengelola pikiran dan perasaan, sudah pasti Io nggak pernah sampai di titik ini,” kata adikku yang nomor dua.

“Mama sudah bahagia kalau anak-anak Mama rukun, saling sayang, saling menjaga. Yah, walaupun materi penting karena tanpa materi kita nggak bisa hidup kayak orang, nggak bisa jalan-jalan keluarga negeri. Tapi Mama yakin, rumah yang rukun, damai, saling sayang, pasti rezeki juga datang tanpa perlu dicari susah payah,” sahut Mama.

“Bagi Papa, uang penting. Banyak hal di dalam hidup ini membutuhkan uang. Hidup layak butuh uang. Itu makanya kita harus bekerja dengan baik. Tapi lebih penting lagi hati yang bahagia.”

Pembicaraan ini mengendap begitu dalam di hati saya. Tapi tetap saja, selama seminggu penuh di akhir bulan Februari, saya masih tidak bisa melakukan apa-apa. Waktu itu saya berpikir, apa gunanya sih jadi penulis buku-buku best seller? Toh tidak banyak yang berubah dalam hidup saya! Melalui buku dan tulisan, saya bisa memotivasi orang lain. Tetapi, kenapa untuk memotivasi diri sendiri saya sulit sekali? Tiga bulan di awal 2016 ini berlalu begitu cepat dan saya kesulitan untuk menyelesaikan naskah yang seharusnya sudah tenggat waktu.
Lalu ketika saya berada di pesawat dalam perjalanan kembali ke Jakarta pada 28 Februari 2016 yang lalu, di tengah guncangan pesawat yang cukup membuat nyali ciut dan harapan hidup begitu menyala, saya seperti disadarkan.

“Jika pesawat ini jatuh dan saya tidak selamat, saya berarti meninggalkan dunia ini dalam perasaan tidak bahagia dan tidak menghargai perjuangan dan kerja keras yang sudah saya lakukan selama ini. Dan jika saya tidak bisa mensyukuri hal-hal kecil yang sudah terjadi dalam hidup saya, bagaimana Tuhan mau mempercayakan hal besar untuk saya syukuri?”

Kalimat terakhir adalah kalimat yang pernah saya tulis sendiri di dalam buku Yakin Selamanya Mau Di Pojokan!? Detik itu juga saya merasa tertampar. Masa hanya gara-gara komentar orang lain saya jadi tidak bersyukur dengan berkat yang telah Tuhan berikan dalam hidup saya? Masa hanya karena “kebodohan” saya membandingkan diri dengan orang lain, saya menganggap semua hal yang telah saya lakukan adalah sia-sia?
Fakta yang akhirnya tidak bisa dipungkiri:

Bahagia itu kita sendiri yang menentukan. Bahagia berkaitan dengan produktif. Kita tidak bahagia, tentu tidak bisa bekerja dengan baik. Tapi kalau kita memilih dan memutuskan untuk bahagia, kita tinggal bekerja dengan sebaik-baiknya saja dan serahkan hasilnya pada Tuhan.

Jadi, di hari pertama bulan Maret ini, saya berjanji:
  • Tidak membiarkan pembicaraan negatif orang lain mempengaruhi perasaan dan pikiran saya
  • Memilih untuk terus bahagia agar bisa lebih produktif
  • Percaya pada kuasa dan rencana Tuhan. Semuanya baik adanya.
  • Terus belajar menghalau semua energi negatif dan tetap berpegangan pada hal-hal positif
  • Bersyukur, bahkan untuk hal sepele dan tidak penting.
Kamu bagaimana?
Apa kamu pernah merasakan seperti yang saya rasakan?
Apa keputusanmu? Apakah memilih terus bahagia juga seperti saya?

726 total views, 1 views today

2 COMMENTS

  1. Mantaaaap, sangat memotivasi, Mbak monica.
    Semoga kita semua kedepannya lebih baik.

    *Nggak terasa ya? Parasaan baru kemarin ngerayain tahun baru, Eh udah Maret lagi aja. #TambahTua. :v 😀

  2. Iya nih, Mas Iwan. Waktu berlari cepat sekali. Tahu-tahu udah Maret. habis itu nggak lama lagi tahun baru lagi :v

    Amin. Semoga kita menjadi pribadi yang terus berkembang dan lebih baik dari hari ke hari ya

    Terima kasih sudah berkunjung

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here