Penerbit : Rumah Kreasi
Penulis : Monica Anggen
 
 
 
“Cantik sekali. Kamu akan menjadi pengantin wanita yang paling cantik, Moon,” seru desaigner itu sambil menatap bayangan Moon di cermin.
Moon tersenyum. Ia memang terlihat cantik. Pasti Kevin akan sangat terkejut melihat penampilan dirinya ini di hari pernikahan mereka nanti. Seminggu lagi. Dan ia sungguh tak sabar menantikan datangnya hari itu.
Manusia memang boleh berencana. Tetapi sang Sutradara alam semesta juga memiliki rencana lain bagi setiap tokoh yang ada di dalam drama kehidupan. Moon tidak akan pernah menduga bahwa cerita yang akan dihadapinya sangat jauh dari impiannya.
Kecelakaan itu mengubah segalanya. Bukan hanya tubuhnya yang menjadi berbeda. Kakinya divonis cacat untuk selamanya. Kenyataan lain yang harus diterima Moon ketika dirinya masih dalam keadaan koma cukup memukul jiwanya. Moon nyaris tak sanggup menerima semua kenyataan itu. Kevin, laki-laki yang akan dinikahinya itu ternyata tidak seperti yang diharapkannya. Ia kecewa. Ia terluka.
“Aku harus sembuh!” tekad Moon itu membuatnya terbang ke Korea. Negeri asal ibunya itu seperti menjanjikan suatu kehidupan baru. Tapi bisakah kehidupan baru itu menyembuhkan seluruh luka-lukanya?
Moon Eun Lee, adalah gadis peranakan Korea – Indonesia. Ibunya berasal dari negeri Ginseng sedangkan ayahnya adalah pengusaha sukses, pemilik salah satu perusahaan raksasa yang ada di Jakarta.
Pergi ke Korea ternyata memberinya berbagai kejutan lain di sela-sela terapi penyembuhan kakinya. Michael Hwang (Hwang Min Yoo), lelaki peranakan seperti dirinya, tiba-tiba muncul dihadapannya. Laki-laki yang tak dikenalnya itu malah memberikan sejuta perhatian yang membuatnya heran.
Kehadiran Jun Woo Woo, laki-laki asli Korea yang terlahir sebagai anak orang kaya namun memilih menjadi Dokter praktek di rumah sakit tempatnya dirawat juga membuat Moon luluh lantak.
Ada cinta di antara dua pria. Ada dendam pada laki-laki yang nyaris menjadi pasangan seumur hidupnya. Kevin kembali mengejarnya ke Korea. Menangis dan memohon agar Moon kembali mau menjadi kekasihnya, tunangannya. Tapi Moon tak bisa! Cinta itu sudah kering. Bagai anak sungai yang tersumbat aliran airnya di pojokkan dengan sampah-sampah yang berserakan. Moon tidak akan pernah bisa memaafkan pengkhianatan yang telah dilakukan Kevin padanya. Tidak juga untuk ulah Kevin yang membuat perusahaan papa Moon diambang kehancuran.
Michael Hwang, membawanya dalam kejutan-kejutan penuh sensasi yang tak pernah dirasakannya. Moon tahu, ada cinta dalam sikap Michael kepadanya. Dibalik kekasaran dan tindakan seenaknya itu, Michael memiliki hati yang lembut dan perhatian. Moon tidak dapat ingkar. Ada denting piano bermain di pojokkan hatinya. Denting piano yang sama ketika Jun, dokter sederhana itu terus berusaha mengobati kakinya yang mati rasa.
Hingga akhirnya tanpa ia harus memilih, pilihan itu sudah dihadapkan padanya. Michael Hwang adalah laki-laki yang menyebabkan kakinya lumpuh. Kecelakaan malam itu, walau tak disengaja telah mengubah semuanya. Michael Hwang tidak akan mungkin mampu mencintai dirinya. Ia hanya kasihan. Dan Moon benci untuk dikasihani.
Tuhan itu adil mungkin. Masih mungkin. Moon tidak akan bisa menghindari apapun yang telah digariskan Tuhan di dalam hidupnya. Nyatanya, ia harus berterima kasih, karena dari sekian  banyak luka yang didapatnya, masih ada segunung cinta yang dulu tidak pernah benar-benar diperhatikannya.

908 total views, 3 views today

SHARE
Previous articleFor The Love of Mom
Next articleMy Lost Prince

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here