Sumber gambar : s630.photobucket.com
Hari ini, setelah begitu banyak kejadian yang kualami akhir-akhir ini, aku mencoba merenungkan kembali segalanya. Dan aku mendapati beberapa hal yang membuatku terpekur dan menyebut namaNya. Betapa Tuhan itu ternyata sudah mengaturkan hidupku dengan sangat baik.
Aku mencoba merunut semuanya dari awal. Mungkin perenunganku ini hanyalah sebagian kecil dari begitu banyaknya kebaikan yang telah diberikan Tuhan padaku. Tapi dari sebagian kecil ini pula, aku belajar untuk semakin menyandarkan hidupku pada Tuhan. Kalau apa pun yang terjadi di dalam hidupku, pastilah memiliki maksud tersendiri yang mungkin tidak pernah terpikirkan olehku.
PROSES PENULISAN SUNRISE AT THE SUNSET YANG TERSENDAT-SENDAT!
Aku mencoba merenungkan
proses penulisan novelku yang berjudul Sunrise at The Sunset. Novel ini sebenarnya sudah mulai kurancang sejak Desember 2012. Namun entah kenapa, dalam prosesnya menulis setiap bab di dalam novel ini terasa begitu berat. Berkali-kali aku mengubah plot. Berkali-kali pula aku membongkar outline. Bahkan aku sempat putus asa untuk melanjutkan novel ini dan memutuskan membiarkan saja beberapa outline yang sudah berhasil kubuat menjadi terbengkalai.
Apa kamu pernah merasa pikiranmu sangat penuh hingga kamu tidak bisa memikirkan apa pun?
Itulah yang terjadi padaku selama berbulan-bulan setelahnya. Rangkaian cerita Sunrise at The Sunset itu bagai kepingan puzzle yang bertebaran di dalam kepalaku. Awalnya hanya berupa pecahan kecil, lama kelamaan, kepingan-kepingan itu semakin beranak-pinak, berjejalan di dalam kepalaku. Dan aku diserang kegelisahan yang tak ada obatnya.
Akhirnya, di bulan Maret 2013, aku mencoba merancang outline novel itu sekali lagi, dan langsung mulai menuliskannya. Hasilnya, lima bab pertama jadi dalam waktu satu bulan lebih seminggu. Tapi setelah itu, aku tidak bisa meneruskan lagi. Aku stuck. Terdiam lama hingga aku tidak tahu apa lagi yang harus kutulis untuk menyelesaikan novel ini. Dan lima bab pertama itu pun sempat mengalami perubahan hingga delapan kali.
Untuk memotivasiku menyelesaikan novel ini, aku mencoba menawarkan konsepnya pada editor dari sebuah penerbit terkenal yang sudah pernah menerbitkan naskahku. Siapa sangka, Mbak Editor yang baik itu langsung menyetujui kalau novel Sunrise at The Sunset ini bisa mereka terbitkan. Dan aku pun berjanji kalau bulan Juni, novel ini sudah bisa kuserahkan dalam bentuk naskah utuh.
Harusnya, dengan adanya kepastian terbit, aku jadi semangat ya untuk menyelesaikan novel ini!
Kenyataannya, aku tetap tidak bisa menyelesaikan proses penulisan novel ini tepat waktu. Dengan perasaan bersalah, aku mengatakan pada Mbak Editor-ku itu agar berkenan memberikan waktu tambahan. Waktu tambahan diberikan, dan aku cuma bisa menangis menatap layar monitor, tanpa tahu apa lagi yang mau kuceritakan yang berhubungan dengan cinta masa laluku.
Dari semua yang terasa berat di dalam proses penulisan novel ini, aku sungguh-sungguh bersyukur karena suamiku meluangkan waktunya untuk terus memberiku semangat. Tidak hanya semangat dalam bentuk kata-kata, tapi juga dalam bentuk nyata. Suamiku berkenan membaca setiap bab yang berhasil kuselesaikan, memberi masukan, membantu membaca sekali lagi, bahkan memberikan ide-ide adegan yang mungkin bisa dipakai di dalam novel ini.
Kamu tahu apa rasanya membahas cinta pertamamu dengan suamimu yang sekarang?
Nyesek yang pasti! Bagaimana bisa apa membahas tentang cinta dan kangen yang masih ada di dalam hatiku untuk laki-laki lain yang bukan suamiku? Bagaimana bisa aku malah mendiskusikan apa saja yang pernah terjadi selama aku pacaran dengan laki-laki lain, termasuk ciuman, pelukan dan ungkapan-ungkapan sayang yang diberikan laki-laki lain padaku?
Nyatanya, itulah yang terjadi. Aku mendiskusikan semuanya dengan suamiku. Aku mendiskusikan laki-laki lain yang namanya masih tersimpan di dalam hatiku dengan suamiku. Dan suamiku membantuku memilah-milah bagian mana saja yang bisa dimasukkan di dalam novelku dan mana yang sebaiknya tidak.
Hingga akhirnya naskah lengkap Sunrise at The Sunset selesai dan kukirimkan ke penerbit tanggal 22 Juli 2013.
JADWAL TERBIT YANG DIPERCEPAT
Proses review dan editing berjalan. Mbak Editor-ku itu memberi kabar padaku kalau ia suka sekali dengan naskah ini. Tapi dari pihak marketing merencanakan untuk menerbitkan novel ini di akhir bulan Oktober atau mungkin awal November.
Aku jelas bersyukur novel ini akhirnya terbit. Jadwal terbit tidak menjadi masalah buatku karena aku tahu, setiap penerbit pasti sudah menjadwalkan buku-buku yang akan mereka terbitkan. Dan pastinya penyusunan jadwal terbit tersebut sudah melalui proses pemikiran dan perencanaan yang matang.
Aku mencoba move on dari naskah ini dan mulai menulis naskah berikutnya. Namun, pikiranku ternyata masih tertinggal di naskah yang lama. Ada banyak bagian yang kurasa masih kurang. Ada beberapa adegan yang sebenarnya ingin sekali kumasukkan ke dalam cerita tersebut.
“Kalau semuanya kamu tulis, aku jamin pembacamu akan malas baca novel yang setebal bantal.” Itulah yang dikatakan suamiku setiap kali aku mengeluhkan kalau aku masih merasa kurang dalam mengeksplorasi berbagai adegan di Sunrise at The Sunset.
Awal Agustus, aku mendapat kabar kalau setelah meeting intern di penerbit diadakan, maka diputuskan novel Sunrise at The Sunset akan dipercepat jadwal terbitnya. Aku jelas kaget sekaligus senang. Namun artinya, dengan dipercepatnya proses terbit, maka proses review, editing dan proofing juga harus dipercepat. Aku, Mbak Editor dan suami yang berperan sebagai proofreader, akhirnya bergotong royong untuk membaca naskah ini berkali-kali, berulang-ulang, agar kesalahan ketik, kesalahan kalimat, atau kekurangan apa pun yang masih ada di naskah tersebut bisa diminimalkan.

Akhirnya, Sunrise at The Sunset dipastikan akan terbit di akhir bulan September 2013!

RENCANA PINDAH KOST YANG BENAR-BENAR ANEH!

Di pertengahan September 2013, kenyamanan hidup yang biasanya kulalui dengan tenang tanpa gejolak tiba-tiba hilang mendadak karena ibu kost yang melakukan pengusiran terhadap anak-anak lama. Semua anak kost yang tinggal di rumah kost ini harus mengosongkan kamarnya di hari itu juga.

Suamiku langsung protes. Jika memang ibu kost mengharuskan kami keluar dalam waktu 1-2 hari, maka suamiku minta uang kost yang sudah kami bayar dikembalikan separuh. Atau jika tidak, maka kami masih berhak mendiami kamar ini sampai akhir bulan!

Pilihan kedua yang ternyata diambil oleh ibu kost khusus untuk aku dan suami. Karena dari keseluruhan anak kost yang tinggal di sini, hanya kami yang membayar secara bulanan, sementara anak-anak lain (yang kebanyakan adalah mahasiswa STAN yang tinggal menunggu wisuda) karena membayar secara tahunan dan tidak bisa menunjukkan bukti kuitansi pembayaran yang ada tanggal mereka masuk ke kost ini, harus tetap keluar hari itu juga.

Hari itu, kami terpaksa menyaksikan kehebohan anak-anak lama yang terusir keluar dari kost ini dengan perasaan kacau balau. Bagaimana pun, kekompakan mereka telah membuat aku dan suami merasa nyaman tinggal di tempat ini.
Karena keputusan untuk pindah kost sudah diambil, maka di sisa waktu yang ada, aku dan suami mulai mencari rumah kost lain untuk kami tinggali. Di hari kerja, suami jelas tidak bisa keliling mencari kost. Ia harus pergi pagi dan pulang tengah malam. Jadi hanya di hari Sabtu dan Minggu sajalah kami bisa keliling.
Nah selama hari Senin hingga Jumat, aku mulai browsing di internet. Melihat-lihat rumah kost yang memasang iklan, mencatat alamat dan nomor telepon dan mulai menelepon satu per satu. Selain itu, aku juga mulai melakukan packing barang, mengurangi jumlah barang bawaan yang nantinya harus kubawa, juga membiarkan koleksi bukuku berkurang banyak untuk persiapan pindahan ini.

Anehnya, tanggal 14 dan 15 September, ketika kami berkeliling untuk mendatangi rumah-rumah kost yang alamatnya sudah kucatat, tidak ada satu pun alamat yang bisa kami temukan. Berkali-kali kami tanya orang, berkali-kali juga kami telepon pemilik kost, hasilnya tetap saja kami tidak bisa menemukan rumah yang dimaksud.

Bayangin deh, nomor rumah kost yang sedang kami cari misalnya Blok D2/22… Tapi yang kami temukan hanya blok D2/21. Nomor 22-nya nggak ada. Atau saat kami berputar mencari alamat di Bintaro Permai 3. Sampai malam kami berputar-putar, alamat tetap tidak bisa kami temukan.

Dan itu pula yang terjadi saat kami berkeliling di tanggal 21 dan 22 September. Dari 3 lembar bolak-balik kertas loose life yang penuh dengan alamat dan nomor telepon, hanya satu rumah kost yang berhasil kami temukan. Rumah kost yang satu ini pemiliknya sangat ramah dan baik hati, hanya sayang, rumah kostnya mirip dengan rumah hantu. Dan jujur, aku tidak sreg dan rumah kost yang satu ini.

Sisa delapan hari terakhir. Aku tidak punya gambaran sedikit pun akan pindah ke mana. Tahu-tahu, ibu kost datang dan memberitahu kalau aku dan suami disuruh melanjutkan saja di rumah kost ini. Pertimbangannya, anak-anak yang sekarang tinggal di rumah kost ini adalah anak-anak yang masih baru lulus SMA. Jadi butuh ada orang dewasanya di sini untuk ikut menjagakan kost. Apalagi mulai tahun ini, ibu kost membuat kost ini jadi kost cewek dan cowok sekaligus.
Aku dan suami jadi berpikir malam itu, apa ini salah satu cara Tuhan untuk mengaturkan hidup kami. Lihat, betapa anehnya ketika kami tidak bisa menemukan satu pun alamat kost yang seharusnya bisa dengan mudah ditemukan, ternyata Tuhan sudah menyiapkan rencana yang lebih baik, kami tidak perlu pindah kost sampai bulan Januari tahun 2014.
Thank you God, for this amazing plan!
MASALAH PESAN TIKET YANG JUGA ANEH!
Orang tuaku di Banjarmasin memberi kabar kalau Audi, anakku, akan menghadapi ulangan umum tengah semester tanggal 27 September 2013. Sementara, aku sudah ada rencana untuk pulang ke Banjarmasin tanggal 13 Oktober 2013.
Setelah berunding dengan suamiku, suamiku sih bilang kalau memang ada tiket murah tanggal 26 September atau tanggal 25 September, ya pulang aja. Bantuin Audi belajar. Bagaimana pun pasti beda hasilnya kalau anak yang sedang menghadapi ulangan umum ditunggui orang tuanya atau tidak ditunggui.
Jujur, aku setengah hati saat mencari tiket untuk tanggal 25 atau 26 September itu. Hal pertama, aku kasihan sama suamiku yang harus ditinggal lagi dalam waktu lama. Hal kedua, saat mendapat kabar, aku juga belum mendapat kepastian masalah pindah kost. Namun, suami menguatkanku dan mendorongku untuk mencari tiket murah itu.
Aku menghubungi teman yang kebetulan kerja di agen tiket. Tapi tidak ada balasan. Aku juga mulai browsing dan mulai mencari tiket murah secara online. Tapi semua tiket tanggal tersebut berharga luar biasa menakjubkan. Aku pun akhirnya menunda pembelian tiket itu dan baru benar-benar beli tiket tanggal 22 September secara online, itu pun aku memilih tetap di rencana semula, pulang ke Banjarmasin tanggal 13 Oktober.
Tiket pun sudah di tangan untuk tanggal 13 Oktober. Dan jelas tidak bisa dilakukan pembatalan karena tiket ini termasuk tiket murah!
KABAR DUKA YANG TAK DISANGKA
Tanggal 26 pagi, sekitar jam tujuh, HP-ku berbunyi dan dilayar tercantum nomor Papaku. Aku pun mengangkat telepon itu dan anehnya dadaku berdebar hebat.
“Apa kamu ada mimpi? Apa ada perasaan aneh?”
Dua kalimat awal Papa membuatku terdiam lama. Mencoba mencerna dan menebak-nebak apa yang sebenarnya sudah terjadi di sana. Tapi karena aku baru bangun tidur (setelah hampir semalamam aku tidak bisa tidur), aku pun menjawab tidak ada. Dan mulai bertanya sebenarnya apa yang sudah terjadi.
Dan Papa pun mengabarkan kabar duka itu.
Ari yang sudah 15 tahun koma, akhirnya mengakhiri ketidaksadarannya itu untuk selamanya.
Aku shock saat itu. Tidak menangis sih awalnya karena kebingungan. Tapi begitu telepon ditutup, aku tidak bisa menahan air mata yang langsung berderai tanpa bisa kutahan. Aku sedih. Sangat. Tapi aku juga lega.
Dan keseluruhan kejadian ini, hari ini, aku mulai merenungkannya kembali.
Kenapa Sunrise at The Sunset tidak bisa kuselesaikan di bulan Maret?
Kenapa Sunrise at The Sunset akhirnya terbit di bulan September dan bahkan luncur ke toko buku tanggal 21 September?
Dan kenapa Ari meninggal tanggal 25 September malam?
Satu kalimat yang diucapkan oleh suamiku sambil lewat ternyata mampu membuatku merinding.
“Sepertinya, Ari menunggumu menyelesaikan kisah itu, Cha!”
Benarkah?
Yang pasti, aku bersyukur karena tidak jadi membeli tiket tanggal 25 atau 26 September. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kalau aku harus berdiri di depan peti matinya dan melihatnya untuk terakhir kali. Aku juga tidak bisa membayangkan akan jadi apa aku saat menatap peti mati yang tertutup rapat sedangkan aku ingin sekali melihat wajahnya untuk terakhir kalinya!
Satu kalimat yang bisa kuucapkan saat ini :
“TERIMA KASIH, TUHAN, PENGATURANMU DALAM HIDUPKU SUNGGUH LUAR BIASA.”

 

Sumber gambar : lymeinside.wordpress.com

830 total views, 1 views today

SHARE
Previous articleWhen The Tears Down
Next articlePeran Paragraf Pembuka Dalam Sebuah Cerita

4 COMMENTS

  1. Wah, Mbak. Kisahnya benar-benar "ajaib". Memang rencana Tuhan tidak disangka-sangka, ya.

    Aku suka berkunjung ke sini, tapi baru kali ini ngisi kolom komentar. Saya juga ingin menjadi penulis seperti Mbak. Sekarang lagi belajar-belajar, hehe….

  2. Hai, Mbak. Terima kasih sudah berkunjung ke sini.
    Menulis blog juga salah satu cara untuk jadi penulis loh 🙂
    Tetap semangat ya, aku yakin, di mana ada niat dan kerja keras, pasti akan ada banyak jalan yang terbuka lebar

  3. kak, aku suka bgt Novelnya :')
    banyak hikmah yg aku Ambil, mkasih bnyak buat ceritanya. Aku nangis bacanya.
    Pas pertama kali liat Novel.a dijajaran rak novel baru lgsg aku ambil. Keep writing kak 🙂
    GB

  4. Hai, Vina… salam kenal ya. Terima kasih sudah baca novelku dan karena sudah mampir ke blog ini dan bertegur sapa. Senang mengenalmu, Vina. Semoga ada hikmah dan kebaikan yang bisa dipetik dari kisah di dalam novel ya… hehehe… Maaf jika tulisannya masih kurang di sana-sini.

    Semoga Vina gak bosan untuk baca novelku yang lainnya ya 🙂

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here