Pernahkah kamu berada dalam suatu masalah yang seakan tidak ada jalan keluarnya? Apa yang kamu lakukan saat itu agar bisa menyelesaikan masalah yang sedang kamu hadapi?

Ada orang, yang ketika berada dalam masalah pelik, memilih menutup mulutnya rapat-rapat dengan berbagai alasan, seperti didera rasa takut yang hebat, malu, beranggapan tidak ada satu orang pun yang bisa menyelesaikan masalahnya, atau belum melakukan apa pun sudah berpikir tidak ada jalan keluar bagi masalah yang sedang dihadapinya. Dalam kondisi yang hampir sama, ada pula orang yang memilih mengabaikan masalah, menyepelekannya, dan akhirnya masalah itu menjadi semakin pelik, yang membuat ia malah jadi depresi, stres, frustasi, atau malah mengancam keselamatan jiwanya.

99 Cara Menyelesaikan Masalah ala Sherlock Holmes

Padahal ketika Tuhan mengizinkan masalah hadir dalam hidup kita, Tuhan tahu kapasitas serta kemampuan yang kita miliki. Tuhan bahkan sudah pula menyediakan solusi untuk setiap masalah yang menghadang kita. Hanya saja, Tuhan ingin kita berusaha terlebih dahulu menemukan solusi tersebut. Analogi sederhananya, seorang guru akan sekaligus menyiapkan kunci jawaban ketika membuat soal ulangan. Para murid harus berusaha menemukan jawaban untuk soal-soal yang diberikan kepada mereka terlebih dahulu, sebelum nanti setelah selesai ulangan, guru akan memberi kunci jawabannya.

Ide Awal Penulisan Buku Ini

Ide Awal Penulisan Buku Ini

Seri 99 Belajar ala Sherlock Holmes awalnya hanya dirancang untuk 2 buku, yaitu 99 Cara Berpikir ala Sherlock Holmes dan 99 Cara Mengasah Intuisi ala Sherlock Holmes. Itu sebabnya, kedua buku tersebut terbit dalam waktu yang berdekatan. Saya sama sekali tidak terpikir untuk menulis seri lanjutannya. Tapi suatu hari saat saya jalan-jalan ke Toko Gramedia, saya menemukan buku Ken Watanabe yang berjudul 101 Problem Solving. Menurut saya, buku itu sangat menarik karena membantu kita menemukan solusi untuk setiap permasalahan yang sedang dihadapi.

Lalu sekitar bulan Agustus 2016, Editor kesayangan menghubungi saya dan bertanya, “Mbak, udah baca buku Ken Watanabe, belum? Buku itu bagus, lho. Kira-kira kalau kita bikin tema yang seperti itu gimana? Kan di kehidupan kita sehari-hari juga kita dihadapkan dengan berbagai masalah kan, ya?”

99 Cara Menyelesaikan Masalah ala Sherlock Holmes
99 Cara Menyelesaikan Masalah ala Sherlock Holmes

Waktu itu, saya iseng menjawab, “Ya, udah. Kita lanjutkan aja seri Sherlock dengan menggabungkannya dengan problem solving.” Sungguh, waktu saya memberi jawaban ini, saya sama sekali tidak terpikir akan dihadapkan pada masalah berat! Saya malah dengan santainya langsung menyanggupi untuk sesegera mungkin membuatkan outline-nya. Hasilnya? Saya bingung luar biasa. Proses merancang outline tidak berjalan mulus seperti perkiraan saya karena di dua seri Belajar ala Sherlock sebelumnya, sebenarnya juga merupakan cara Sherlock Holmes menyelesaikan masalah-masalahnya, hanya saja dalam bentuk penggunaan cara berpikir dan memanfaatkan intuisi. Dan saat itulah saya ingin mundur dan merasa tidak sanggup menuliskan tema kali ini.

Sayangnya, editor kesayangan sama sekali tidak menerima alasan saya untuk mundur!

Aku belum punya data. Salah besar mengajukan teori tanpa mempunya data. Secara tak sadar, kita akan mengubah fakta agar cocok dengan teori, bukannya teori yang seharusnya disesuaikan dengan fakta.

Sherlock Holmes dalam kisah Skandal di Bohemia

Merancang dan Mengumpulkan Data

Oke, saya akui. Mengajukan ide penulisan buku ini membawa saya pada masalah baru. Artinya, saya langsung dihadapkan pada tema yang hendak ditulis dan diminta untuk mencari solusi agar tema tersebut benar-benar bisa saya jadikan naskah utuh. Bayangkan, mau nulis buku mengenai pemecahan masalah, saya malah dihadapkan langsung pada masalah dulu dan berusaha sendiri untuk mencari solusinya. Ini benar-benar tidak saya sangka.

Karena sudah terlanjur, akhirnya saya mengikuti saran Sherlock dalam kisah Skandal di Bohemia. Saya harus punya data-data lengkap terlebih dahulu, sebelum menghubungkan data-data itu dengan teori pemecahan masalah mana pun yang ingin saya kembangkan dalam naskah ini. Hal pertama yang teringat dalam kepala saya adalah Metode Ilmiah yang pernah saya pelajari di masalah sekolah dulu.

Langkah-langkah dalam metode ilmiah:

  • Mengajukan Pertanyaan.
  • Mencari Tahu Latar Belakang Masalah.
  • Merumuskan Hipotesis.
  • Melakukan Percobaan untuk Menguji Hipotesis.
  • Melakukan Analisis.
  • Merumuskan Ulang Hipotesis.
  • Menarik Kesimpulan.
  • Kebenaran Didapat.

Jika dilihat dari tahapan metode ilmiah, sepertinya mudah saja ya menemukan solusi untuk menyelesaikan masalah. Fakta yang saya alami, tidak semudah itu. Pertanyaan utama, apa yang sudah saya tulis berkaitan dengan menyelesaikan masalah ala Sherlock dan apa yang selanjutnya harus saya tulis, membutuhkan cukup banyak waktu untuk menemukan jawabannya.

Jadi, saya pun mulai membaca ulang kedua buku dari seri 99 Belajar ala Sherlock Holmes (99 Cara Berpikir ala Sherlock Holmes dan 99 Cara Menyelesaikan Masalah ala Sherlock Holmes) terlebih dahulu dan mulai membuat catatan, pembahasan apa saja yang sudah dibahas? Pembahasan mana saja yang perlu dikembangkan lebih lanjut? Apa yang belum dibahas?

Setelah menemukan jawaban dari pertanyaan utama tadi, selanjutnya saya mulai mengumpulkan berbagai referensi berkaitan dengan teori-teori pemecahan masalah, seperti teori Metode Ilmiah, teori problem solving milik Ken Watanabe, Metode Kipling, teori analisis dan eliminasi yang sudah pernah ditulis di dua buku sebelumnya ternyata masih bisa dikembangkan, teori heuristik G. Polya, teori deduksi yang biasa digunakan Sherlock, bahkan saya juga memasukkan teori negosiasi cara Steve Job sebagai suatu cara menemukan solusi untuk masalah berkaitan dengan hubungan kerja sama.

Apakah tugas saya selesai sampai di sini saja? Ternyata, belum! Saya harus membaca semua kisah petualangan Sherlock Holmes sekali lagi. Mencari-cari kisah mana yang cocok diuraikan dengan teori tertentu? Apakah teori A bisa digunakan untuk beberapa kisah sekaligus, ataukah hanya untuk satu kisah saja? Lalu, saya juga harus menentukan kisah-kisah Sherlock mana saja yang harus saya pakai (yang belum saya bahas di dua buku sebelumnya. Terakhir, saya menghubungkan data-data, berbagai teori, kisah-kisah Sherlock yang telah dipilih, dengan kehidupan nyata yang saat ini kita jalani.

Proses Penulisan yang Membutuhkan Waktu 3 Bulan

Setelah semuanya siap. Outline jelas yang pertama kali saya buat. Begitu editor sudah setuju dengan outline tersebut, proses penulisan pun saya mulai. Untuk beberapa bab pertama buku ini, saya hanya khusus mengulas mengenai Metode Ilmiah. Jadi, saya mulai memasukkan satu atau dua cuplikan kisah, menguraikan permasalahan yang sedang dihadapi Sherlock di kisah tersebut dan mencoba memadukannya dengan Metode Ilmiah. Kisah yang saya ambil untuk pembahasan ini adalah kisah Peristiwa di Sekolah Priory. 

99 Cara Menyelesaikan Masalah ala Sherlock Holmes
99 Cara Menyelesaikan Masalah ala Sherlock Holmes

Ada yang menarik ketika saya menuliskan cuplikan kisah Peristiwa di Sekolah Priory ini. Saat saya melihat peta sekolah dan mengetahui kalau Sherlock ternyata juga melakukan penyelidikan di sekitar sekolah, saya jadi teringat dengan jargon: Think out of the Box. Saya lalu mencoba membuatkan analoginya.

Jika Sherlock Holmes hanya melakukan penyelidikan di dalam sekolah dan asrama, ia hanya berputar-putar di tempat dan masalah yang sedang dihadapinya akan semakin membelit layaknya segumpal benang kusut. Sementara kalau ia keluar, ada kemungkinan ia malah menemukan titik terang yang akan menuntunnya ke pusat masalah. 

Logikanya, kita bisa diibaratkan berada di dalam satu kotak besar ketika sedang menghadapi suatu masalah. Kalau kita tetap berada di dalam kotak, masalah yang seperti benang kusut tadi akan sulit untuk diuraikan. 

Sekarang bayangkan, kita mengambil tangga, memanjat naik ke atas, kemudian berdiri di atas kotak dan memandang ke bawah. Sudut pandang kita menjadi luas dan kita pun bisa menemukan pangkal atau titik awal terjadinya masalah. Dari sinilah akhirnya kita secara perlahan bisa menguraikan masalah kita satu per satu

Setelah menguraikan masalah di Sekolah Priory, saya mencoba menggunakan cara yang sama untuk mengajukan satu contoh kasus yang sering terjadi di dunia nyata. Contoh yang saya ambil selanjutnya mengenai toko online yang mengalami penurunan omset. Dari percobaan ini, saya pun bisa menarik kesimpulan bahwa cara-cara Sherlock dalam menyelesaikan masalah di kisah petualangannya, benar-benar bisa pula kita terapkan dalam kehidupan nyata.

99 Cara Menyelesaikan Masalah ala Sherlock Holmes

Apakah satu teori pemecahan masalah bisa digunakan untuk masalah yang berbeda?
Bisa banget! Sherlock Holmes dalam kisah Tiga Napoleon kembali menggunakan cara yang sama seperti ketika ia memecahkan masalah di Sekolah Priory. Pada intinya, ada beberapa hal utama yang harus terlebih dahulu dilakukan untuk dapat menemukan solusi bagi tiap-tiap masalah. Apa saja hal-hal utama ini? Kamu harus baca sendiri di buku 99 Cara Menyelesaikan Masalah ala Sherlock Holmes ya.

99 Cara Menyelesaikan Masalah ala Sherlock Holmes
99 Cara Menyelesaikan Masalah ala Sherlock Holmes

Catatan Penulis

Dari ketiga buku seri 99 Belajar ala Sherlock, buku terakhir inilah yang paling lama bisa saya selesaikan. Itu pun dengan tambahan beberapa kali bongkar dan revisi habis-habisan. Beberapa kali, saya yang tidak merasa pas dengan tulisan saya. Di lain waktu, editor saya yang merasa ada yang kurang dan perlu ditambah, dibongkar, bahkan di hilangkan, di sana- sini. Menulis itu bisa diibaratkan suatu perjalanan. Kita dituntut untuk mengetahui medan yang harus dilalui. Sepanjang jalan, kita juga perlu belajar banyak hal agar bisa selamat sampai tujuan. Menulis membutuhkan proses yang panjang dan cukup melelahkan. Salah besar jika ada yang berpendapat pekerjaan menulis itu adalah pekerjaan yang paling santai dan tidak membutuhkan energi yang besar. Ada banyak buku yang harus dibaca agar tulisan menjadi lebih bernas. Ada banyak pengalaman, baik dari diri sendiri maupun orang lain, yang perlu diambil hikmahnya dan menjadi semacam “warning” agar kita tidak melakukan kesalahan yang sama atau bisa menemuakn solusi untuk permasalahan yang mirip. Tetapi, menulis bisa dilakukan siapa saja. Semua orang bisa menulis apa pun yang mereka inginkan, tergantung niat dan tekadnya saja.

Kamu, kenapa tidak menulis juga?

99 Cara Menyelesaikan Masalah ala Sherlock Holmes

9 COMMENTS

    • Hai, Mbak Elva. Makasi ya sudah berkunjung ke rumahku ini. Maaf masih berantakan… hehehe. Makasi juga udah beli dan baca 9 Langkah Cepat Selesaikan Outline. Semoga bisa bermanfaat dan memberi inspirasi untuk semakin giat menulis ya.

    • Benar. Salah satu cara Sherlock memecahkan masalahnya dengan melogikan semua hal berkaitan dengan masalah yang sedang ia hadapi

    • Iya. Alhamdulillah bisa selesai. Butuh “napas panjang” Mbak saat menulis buku dan komitmen sih. Nah yang komitmen ini kadang susah karena kan harus memaksakan diri untuk menulis setiap hari.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here