Dalam tips 30 hari menulis nonfiksi kali ini saya ingin membahas mengenai pentingnya bank ide. Apa sih sebenarnya Bank Ide? Sama seperti bank yang selama ini kita kenall, yaitu sebagai wadah untuk menyimpan uang, maka bank ide yang saya maksudkan pun memiliki fungsi kurang lebih sama, yaitu wadah untuk menyimpan ide-ide.

Mengapa ide perlu disimpan di tempat khusus? Coba bayangkan deh, ide itu sering kita buru dengan susah payah, yang ditunggu-tunggu kedatangannya, dan selalu berusaha kita tangkap kelebatannya. Kelebatan ide yang seringkali muncul di saat tak terduga bisa saja hilang akibat kita lupa, telat menangkapnya, atau hanya menjadi ide sambil lalu karena kita tak mampu mengumpulkannya.

Agar ide tak hilang sia-sia itulah kita membutuhkan Bank Ide, jadi setiap ide muncul, kita bisa bergegas menyimpannya dulu, mengumpulkannya satu demi satu, dan mengolahnya saat kita membutuhkannya. Dengan adanya bank ide, tak akan ada lagi kata “kehabisan ide”. Semakin banyak ide, semakin mudah pula kita menerapkan berbagai tips 30 hari menulis nonfiksi.

Mengapa Perlu Bank Ide?

Ketika duduk di boncengan motor atau di dalam mobil dalam perjalanan ke suatu tempat, sering kelebatan ide muncul di kepala. Saya pun menangkap ide itu, memikirkannya selama sesaat apa yang bisa saya lakukan dengan ide tersebut, lalu bertekad nanti akan
menuliskannya.

Setelahnya, saya menikmati perjalanan, bercakap-cakap sesekali. Begitu tiba di tujuan, langsung bergegas, dan sesudahnya ide yang tadi melintas terlupakan. Saya hanya ingat tadi saat perjalanan saya punya ide baru, namun saya tak mampu mengingat ide apakah itu dan apa yang hendak saya lakukan dengan ide itu. Pernah mengalami hal seperti ini juga?

Ide yang berkelebatan di sekitar kita maupun dalam kepala kita bisa diumpamakan seperti kilat. Datang dalam kecepatan sekedipan mata, dan dalam sekedipan mata pula bisa hilang begitu saja, sementara ingatan kita sangat terbatas.

Bisa saja kita mengingat untuk beberapa waktu, lalu saat ada ingatan-ingatan lain, maka ingatan sebelumnya bisa hilang tanpa kita sadari. Padahal setiap ide, sesepele apa pun kelihatannya, sangat berharga. Dari ide yang sepele, yang dianggap tak penting, bisa jadi sesuatu yang besar dan bermanfaat kalau dikembangkan secara maksimal. Oleh karena itulah, kita membutuhkan bank ide. Banyaknya ide yang tersimpan di bank ide akan memungkinkan kita menulis apa pun dalam waktu 30 hari. Tips 30 hari menulis naskah nonfiksi akan bisa diterapkan setiap tahapannya, bahkan saking banyaknya ide, kita juga bisa menghasilkan lebih banyak tulisan lagi, tidak hanya satu dua tulisan saja.

Cara Membuat Bank Ide

Cara membuat bank ide sebenarnya susah-susah gampang ya karena ini membutuhkan latihan untuk membiasakan diri. Hal pertama yang perlu kita siapkan adalah alat untuk mencatat, baik itu buku, note di ponsel atau tablet, jurnal harian, atau apa pun yang bisa kita bawa ke mana pun dan bisa digunakan di mana pun.

Tips 30 Hari Menulis Nonfiksi Pentingnya Bank Ide
Cara Membuat Bank Ide

Saya pribadi lebih senang menggunakan dua alat, yaitu notes di ponsel, karena ponsel adalah benda yang paling sering saya bawa-bawa dan hampir selalu ada dalam genggaman. Alat kedua, saya juga memiliki jurnal harian. Jurnal ini untuk mencatat kegiatan satu hari yang telah saya lalu, termasuk ide-ide apa saja yang muncul di hari tersebut.

Ide bisa muncul di mana saja dan kapan saja, tanpa peduli kita sedang melakukan apa. Seperti yang sebelumnya sudah saya ceritakan, saya sering mendapat kelebatan ide ketika duduk di kendaraan dalam suatu perjalanan. Selain kondisi tersebut, saya juga pernah mendapatkan ide ketika sedang memasak, ketika membaca, saat berolahraga, bahkan ketika jari jemari bergerak di keyboard laptop untuk menulis.

Begitu ide muncul bergegaslah menuliskannya. Tulis selengkap dan sedetail mungkin agar kelak saat mau eksekusi bisa lebih mudah. Jika tak punya waktu untuk menuliskannya secara lengkap, cobalah menuliskannya dalam 2-3 kalimat inti yang menggambarkan ide tersebut hendak dikembangkan jadi apa.

Contoh:

  1. Menjadi pribadi bahagia dengan menyelesaikan masalah seperti yang diulas Mark Manson di bukunya. Coba cari contoh pengaplikasiannya dalam kehidupan sehari-hari?
  2. Bisakah menjadi kaya dengan profesi sebagai freelancer? Bagaimana caranya? Apa saja yang perlu dipersiapkan dan dipelajari? Gali pengalaman diri sendiri.
  3. Hidup sehat penting dimulai sesegera mungkin agar terhindar dari penyakit berbahaya. Cari data berbagai penyakit berbahaya yang saat ini paling banyak diderita dan cari solusi untuk mencegahnya.

Ketiga hal tadi hanya contoh ya. Tapi seperti itulah biasanya saya menuliskan ide-ide yang suatu hari nanti akan saya kembangkan, entah menjadi artikel atau untuk menulis buku nonfiksi. Selain pentingnya Bank Ide, cari tahu pula Tips 30 Hari Menulis Nonfiksi lainnya: Melakukan Persiapan, Memanfaatkan 5W + 1H Untuk Menggali Ide, Berburu Ide Untuk Bahan Tulisan. Semoga bermanfaat ya.

138 total views, 1 views today

44 COMMENTS

    • Idenya coba dicatatnya lebih detail, Kak, trus sebelum mulai nulis di blog, coba cari tambahan data atau referensi yang berhubungan dengan ide itu biar proses menulisnya lancar. Kalau masalahnya mood, tetap harus kalahkan mood-nya dong karena menulis berdasarkan mood itu cuma kita sendiri yang bisa mengatasinya.

    • Terima kasih kembali, Mpok, semoga bisa sedikit berbagi inspirasi ya. Benar banget, ide-ide banyak sekali di sekitar kita. Tinggal kita aja gimana nangkep tiap ide dan mengeksekusinya. Ide yang tak dieksekusi jadi tulisan akan selamanya berbentuk ide.

  1. Bener banget mbak Mon kalau ide itu harus segera disimpan baik2, apalagi daya ingat kita kapasitasnya terbatas. Saya biasanya timbul ide saat lagi giling cabe mbak, makanya kl lagi giling cabe saya sediakan pena dan buku saku untuk mencatat apa aja yg saya pikirkan saat itu. Pernah saya nyoba nggak dicatat, saat sepuluh menit berlalu pengen dicatat eh hilang ntah kmana tuh ide.

    • Wah, idenya pas datang saat lagi giling cabe ya? kalau aku seringnya pas lagi duduk di boncengan motor gitu atau pas lagi naik mobil dan duduk sebagai penumpang. Ide-idenya dikumpulin aja, Mbak. Ada ide yang tak bisa dieksekusi sekarang (butuh waktu gitu), ada yang bisa langsung dieksekusi.

  2. Mbak Monicaa…wah..artikelnya keren banget. Aku sering tuh begitu, tiba-tiba datang ide tapi ga ditulis. Eh begitu waktu lagi luang lupa ide yang tadi sempet datang itu..Nice article mbak, makasih yaa..

    • Makasi kembali, Mbak Hida. Yuk siapkan notes atau manfaatkan aja ponsel kita untuk menampung sebanyak mungkin ide ya. Semoga kalau udah punya bank ide bikin kita jadi lebih produktif menulis.

    • Nah, nulis judul juga oke banget kok, Mbak… Simpen aja sebanyak mungkin judul-judul tersebut. Nanti pas butuh tinggal buka bank ide, langsung deh bisa eksekusi dan jadi punya tulisan baru.

  3. Saya juga biasanya untuk menangkap ide yang seperti kilat itu dengan menuliskannya di notes hape. Gak tau deh saya kok merasa lebih ngalir juga ketika nulis di hp ketimbang di laptop, jadi laptop kaya tempat merapikan tulisan aja, heheh

    • Ic… cukup banyak temanku juga melakukan seperti itu, Mbak, lebih enak nulis di ponsel dan bisa nulis di mana aja tanpa tergantung laptop. Ntar kalau udah jadi, tinggal dirapikan di laptop. Ini mungkin karena kebiasaan aja ya. Kalau aku masih belum terbiasa nulis di ponsel makanya suka bawa laptop ke mana-mana dan jadinya berat banget bawaannya

  4. Manfaat banget memang adanya bank ide. Saya suka nulisnya sampe sedetil mungkin ide yang keluarga saat itu. Meski yah kadang belom dilanjutkan lagi nulisnya, hahaha

    • Gpp, Mbak, yang penting idenya sudah aman tersimpan. Kalau nulisnya detail malah bisa dilanjutkan kapan-kapan atau pas udah punya bahan tambahan lain.

  5. Akupun mbaa. Setiap kali ide datang lgsg buru buru catat di notes hape. Alhamdulillah aman. Karena ide datang di waktu yg tak terduga, XD

    • Iya, Mbak, selalu begitu yak, ide datang di saat tak terduga. Malah pas duduk diam nunggu ide datang, idenya malah nggak datang-datang. Nah saat begini nih kita bisa langsung buka bank ide aja kalau uda punya.

  6. bank ide itu memang harus ada
    kadang saat melihat sesuatu menjadi ide
    tapi lupa ditulis di notes atau note hp
    dan lupaaa deh
    sekarang saya udah mulai rajin nabung ide
    kalau lagi ada terlintas langsung catat dan bisa jadi bahan tulisan di blog

    • Bener bangeet dan jadi bisa nulis apa pun dan kapan pun kan, Mbak? Nggak perlu lagi nunggu-nunggu lama ide datang karena kita tinggal buka bank ide, trus nulis deh

  7. Kalau saya pas lagi ada ide kadang sempet ditulisin kadang nggak Mba. Soalnya pas nulisnya keburu anaknya nangislah, mint ini itulah akhirnya idenya jadi lupa. Terus pas lagi inget, tapi mood nulisnya yang udah hilang. Karena ide yang ketunda-tunda. Hihihi

    • Wah, masih ada anak kecil ya, Bunda Ery. Emang sih klo masih punya anak kecil cukup sibuk ya, aku pun pernah merasakannya dulu. Coba deh, Bunda bikin bank ide-nya pelan2 aja. Memang butuh membiasakan diri. Klo udah terbiasa, enak kok, dan kapan aja mau nulis udah bisa karena udah punya ide

  8. Ulasannya oke banget kak, aku juga sering tiba tiba ide nemplok untuk tulisan, tiba tiba pas depan laptop malah ilang dan gak tau nulis apa. Tapi bener notes di hp sangat penyelamat ya kak.

    • Bener, paling praktis manfaatin notes di HP ya, karena itu benda yang paling sering ada di genggaman kita. Tinggal ketak-ketik gitu secara singkat tapi jelas biar memudahkan kalau udah mau eksekusi jadi tulisan. Dikumpulin aja, Mbak, biar makin produktif nulisnya.

  9. Ngobrolin tentang bank, pertama yang muncul di benak saya itu adalah… Money 😅😅 kirain apaan tadi, eh, ternyata ide nulis. Yup, kalo sya uda ada laptop lagi baru deh lanjutkan nabung di bank ide. Soalnya laptop uda laku, belum beli lg nih wkwkwk…

    • Apakah harus punya laptop dulu biar bisa menulis? Wah sayang dong potensi yang ada di dalam diri jadi tak bisa berkembang jika hanya terkendala alat kita tak mencari jalan keluar. Dulu sebelum punya komputer sendiri, apalagi laptop. Saya nulisnya di buku tulis, Mbak. Hampir 2 tahun saya menjalani seperti itu. Lalu tiap seminggu sekali, ke rental komputer buat nyalin semua tulisan biar jadi digital dan bisa dikirimkan ke penerbit. Dari hasil nulis itulah akhirnya saya punya komputer. Lalu semakin banyak nulis, dan bisa beli laptop…. hehehe

    • Tos kita Mbak Indri. Membantu banget kan kalau sudah punya simpanan ide yang banyak. Kapan pun mau nulis dan sedang tak punya bahan tulisan (ide), tinggal buka deh simpanan ide yang sudah ada.

  10. Makasih mbak tipsnya! 😀 Aku suka bikin gini dan kadang kalau lagi lowong sekalian bikin outlinenya. Nulisnya bener jadi lebih cepat. Ga sabar baca rangkaian tips 30 hari menulis non fiksi lainnya 🙂

    • Nah iya, bank ide gandengannya sama outline. Misalnya nih hari ini dapat ide apa gitu, trus besoknya atau pas ada waktu luang, coba dilihat lagi itu, dan jika memungkinkan langsung buat outline-nya. Ide yang tersimpan dalam bentuk outline jauh lebih mudah eksekusinya. Atau mau langsung dikembangkan begitu outline jadi pun malah makin memperlancar proses penulisan.

  11. Iya bener, ci. Ade juga suka catat semua ide2 di note HP. Nanti kalau pas santai tinggal baca aja deh. Dan mengalir dengan sendirinya yg sempat tersimpan.

    • Tu kan, kita sama berarti. Pokoknya tiap dapat ide langsung simpan di note hp kan ya? Terus semangat ya, Mbak, nulisnya dan tetap berburu ide-ide biar makin produktif.

  12. Menarik sekali tulisannya mba. Semoga aku juga bisa konsisten menulis nih. Kasihan blog udah berdebu penuh sarang laba-laba. Kadang yang susah itu meluangkan waktu untuk menulis karena harus ngurus baby juga.

    • Amin, ikut mendoakan ya, Mbak, semoga bisa mulai menulis lagi. Tetap semangat, Mbak. Misalnya susah untuk nulis di laptop karena masih ada baby, gimana kalau dicoba latihan nulisnya pake ponsel dulu.

  13. Aku sering nih mba, tina-tiba muncul ide di waktu-waktu yang enggak bisa diprediksi. Dan biasanya langsung ak tulia di notes hp, yg lebih mudah di jangkau. Sebenernya di tas ak selalu sesia notes kecil dan pulpen, tp suka keburu lupa klo harus buka-buka tas dulu.

    • Iya, manfaatin notes di ponsel aja, Mbak. Lebih praktis juga sih menurutku. Cuma untuk mencegah hal-hal yang tak diinginkan, bisa juga manfaatkan email. Atau secara rutin notes yang di-hp dikirim ke email kita sendiri aja. Misalnya nih hp kenapa-kenapa, ide tetap aman.

  14. Bener mba, kalau gak cepet2 di save idenya bisa ilang karena lupa. Senior saya juga pernah ngajarin, klo lagi ketemu ide langsung buru2 catet di note, beliau pun selalu membawa note kecil dan pulpen kemana pun dia pergi

    • Saya dulu juga tahunya perlu ada bank ide karena diajarin senior juga, Mbak. Dulu sih karena pas nulis buku nonfiksi kan butuh banyak ide biar bisa jadi naskah 150 halaman. Tapi dilihat-lihat lagi, ternyata bank ide juga bisa kok diterapkan untuk dunia blogging, wong sama-sama kegiatannya juga menulis

  15. Nahh iya benerrr.. Kalau aku sukanya note.. Lebih enakkk gitu nulisin ide yg dtgnya kayak kilat.. nulisnya bisa lebih cpt drpd HP.. dan ga takut kedelete… hehehe

    • Terhapus tak sengaja, hp error, hp hilang, data reset, dan sebagainya, ini jadi salah satu kendala menjadikan hp sebagai bank ide. Memang untuk awalnya bisa manfaatkan hp, tapi abis itu tetap perlu sediakan cadangan, misalnya notes di hp terhubung juga dengan cloud storage, dikirim secara rutin ke email, atau disalin ke agenda, jurnal, atau buku khusus

    • Klo datang ke event lebih bagus sih gunain recorder biar semua pembicaraan dan data penting ter-collect dengan baik dan bisa jadi bahan tulisan yang lengkap. Klo cuma untuk bikin bank ide, menurutku sih cukup notes di ponsel atau sediain buku khusus aja, nggak usah pake recorder

  16. oh iya mbak bak ide ya
    terus buat kayak rumusan masalah klo di penelitian ilmiah
    bisa banget ini aku jarang sampe buat kayak rumusan masalah itu
    TFs mbak…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here