Seri Tips 30 Hari Menulis Nonfiksi (8): Proses Menulis Buku Nonfiksi, akhirnya masuk juga pada tahap Proses Menulis. Memang sih di awal saya menuliskan artikel berseri ini, niatnya untuk membantu siapa pun yang ingin menulis buku nonfiksi dalam waktu 30 hari. Namun sebenarnya, tips yang dituliskan di seri ini tidak hanya untuk nonfiksi lho, melainkan bisa juga diterapkan dalam proses menulis buku nonfiksi juga fiksi (novel).

Di masa lalu ketika saya masih belajar menulis buku, saya pernah mengajukan pertanyaan, “Gimana sih caranya menulis?” Mau tahu jawaban yang saya terima ketika itu? Jawabannya ya begini, “Ya tulis saja apa yang kamu pikirkan dan rasakan. Sesederhana itu.”

Okay, jawaban tersebut singkat dan kesannya gampang banget. Tapi untuk memulai 10 halaman pertama, bahkan setelah saya berhasil menerbitkan lebih dari 60 judul buku, tetap saja terasa sulit. Kadang malah untuk menyelesaikan 5 bab pertama saya rasanya kehabisan napas. Baru setelah menemukan ritme yang tepat, kegiatan menulis terasa lebih menyenangkan.

Nah dalam penemuan ritme yang tepat tadi itulah saya mencoba merumuskan tips kali ini untuk membantu “memperlancar” proses menulis. Jadi bagaimana memulai proses menulis?

Proses Menulis Buku Nonfiksi

Memulai proses menulis kurang lebih sama halnya seperti kita hendak pergi berlibur. Saat sudah berencana pergi liburan, pastilah kita melakukan berbagai persiapan. Kita packing barang-barang yang diperlukan untuk dibawa. Kita merancang itinerary. Pesan hotel. Menentukan transportasi untuk liburan. Semua sudah siap, tinggal kapan nih mau berangkat?

Pada tips sebelumnya, kita sudah sudah membuat mind map, sudah mengembangkan mind map menjadi outline, lalu sudah pula mengembangkan outline jadi deskripsi perbab. Nah sekarang, kapan mau mulai menulis naskahnya?

Berdasarkan pengalaman saya, jeda antara deskripsi perbab selesai dengan mengeksekusinya menjadi bab-bab utuh sebaiknya tak lebih dari seminggu. Jika terlalu lama menunda maka akan banyak missing link, banyak ingatan-ingatan terkait rancangan outline dan deskripsinya tersebut terlupakan.

Jeda terlalu lama juga seringkali membuat saya harus mengulang lagi beberapa proses, seperti mempelajari outline dan deskripsi perbab yang sudah dibuat, membuka kembali catatan data dan referensi, dan sebagainya. Pengulangan proses seperti ini melelahkan dan kadang malah membuat timbul rasa malas untuk mulai menulis.

Untuk dapat mengembangkan deskripsi perbab pada outline menjadi naskah utuh, yang perlu kita lakukan adalah menjabarkan dengan lebih lengkap dan lebih detail lagi, melengkapinya dengan data dan fakta, atau hal-hal yang menurut kita penting untuk diketahui pembaca.

Tips Agar Proses Menulis Buku Nonfiksi Lancar

1. Menulis Setiap Hari

Bisa karena biasa. Semakin terbiasa menulis maka semakin mudah kegiatan ini kita lakukan. Agar menjadi terbiasa, kita perlu melakukannya setiap hari secara rutin. Dengan menulis setiap hati, otak juga ikut berlatih setiap hari untuk menguraikan ide-ide yang muncul di kepala menjadi kalimat-kalimat tertulis.

2. Membaca di Sela-sela Kegiatan Menulis

Kesulitan terbesar dalam proses menulis muncul karena kurangnya persediaan kosakata dalam ingatan kita. Kadang satu ide yang berupa satu kata bisa diuraikan menjadi satu paragraf utuh dengan 10 kalimat kalau perbendaharaan kita lengkap, termasuk dalam hal ini penguasaan kemampuan atau memiliki pengetahuan yang banyak terkait ide tadi. Agar perbendaharaan kata dan pengetahuan kita semakin banyak maka banyak-banyaklah membaca.

Membaca di sini bisa membaca apa saja, entah artikel, buku-buku, referensi dari website Wikipedia. Lebih baik lagi bacaan ini terkait dengan tema yang sedang kita tulis. Bisa juga kita memilih bacaan dengan tema lain, tapi masih memiliki korelasi dengan tema yang sudah kita tentukan. Membaca di sela-sela kegiatan menulis ini juga membantu kita melengkapi data dan referensi yang kita butuhkan. Tapi hindari membaca naskah yang sedang ditulis, sebelum naskah itu benar-benar selesai.

Proses Menulis
Proses Menulis

3. Analogi Gelas yang Terus Diisi Air

Analogi gelas yang terus diisi air ini adalah analogi favorit saya. Pertama kali menemukan analogi ini ketika sedang mengisi gelas dengan air dari dispenser. Ketika itu karena melamun, saya tidak memperhatikan kalau gelas sudah penuh dan airnya pun tumpah.

Sejalan dengan waktu, pengalaman gelas yang terus diisi air dan membuat air tumpah tadi ternyata berhubungan dengan kegiatan membaca dan menulis. Jadi begini, ketika kita membaca banyak buku atau artikel atau jenis bacaan apa pun, ada berbagai informasi, data, cerita, pengalaman, fakta, opini, dan sebagainya, yang secara sadar maupun tak sadar tersimpan dalam otak kita. Proses menulis

Semakin banyak kita membaca, semakin banyak pula yang tersimpan. Belum lagi kita juga menambahkannya dengan pengalaman, pekerjaan, pengamatan, atau kisah-kisah yang kita dengar sendiri dari orang-orang di sekitar kita. Tumpukan informasi di otak akan tetap tersimpan di sana untuk jangka waktu tertentu, mengingat kemampuan mengingat otak manusia terbatas.

Jika tidak digunakan, maka tumpukan informasi tadi hanya tersimpan, lalu terlupakan sia-sia. Lain halnya kalau kita manfaatkan untuk menulis. Otak pun akan memberi respons dengan menyajikan hal-hal yang kita butuhkan untuk ditulis. Sama seperti gelas yang terus diisi air dan lama kelamaan airnya tumpah, maka otak kita yang penuh dan dimanfaatkan untuk menulis akan membantu proses penulisan jadi lebih lancar.

4. Menulis Cepat dan Buruk

Dalam proses menulis, tuliskan saja semua yang ingin dituliskan. Sesederhana itu. Masih ingat dengan kalimat ini? Ya, ini jawaban yang pernah diberikan seseorang pada saya, yang sudah saya tuliskan di awal artikel ini.

Jawaban itu ternyata benar kok. Jadi ketika sudah memulai proses menulis, ya langsung saja tuliskan apa yang ingin ditulis. Panduan dari deskripsi perbab ataupun outline bisa mengarahkan kita pada hal-hal penting yang perlu dituliskan terlebih dahulu.

Dalam blog ini, saya pernah sih menulis artikel tentang Menulis Cepat dan Menulis Buruk. Dua artikel ini saya tulis pada 2014. Sudah lebih dari 5 tahun lalu. Hari ini saya kembali membaca kedua tulisan itu dan dalam hati membatin, “Astaga! Sesuai banget dengan judulnya. Benar-benar ini hasil menulis cepat dan hasilnya buruk.” Hahaha….

Tak perlu malu dengan gaya tulisan di masa lalu. Kegiatan menulis itu adalah berproses. Semakin sering menulis (didukung dengan banyak membaca), gaya tulisan bisa berubah dan bisa jadi lebih baik dari sebelumnya. Bagi yang mengikuti buku-buku saya, pasti bisa melihat perubahan ini. Tulisan saya di tahun 2012, berbeda sekali dengan tahun 2014, dan semakin beda di tahun 2015 atau 2019 saat ini.

Jadi, bagaimana memulai menulis? Ya tulis saja dulu. Secepat-cepatnya, buruk pun tak apa. Tuangkan semua ide dan perasaan yang muncul. Hindari pemikiran tentang hasil tulisan. Ini urusan belakangan.

5. Menulis Saja Revisi Belakangan

Tips ke-5 ini masih berhubungan dengan tips sebelumnya. Saat menulis cepat bahkan menulis buruk tadi, saya sudah menyebutkan hindari pemikiran akan hasil tulisan. Artinya, ketika menulis fokuskan pikiran hanya pada apa yang ingin ditulis. Kalau ada data dan fakta yang terlupakan, ya tuliskan juga hal ini.

Contoh:

Liburan kali ini saya memilih Kota Malang sebagai destinasi yang ingin saya jelajahi. Selain karena ingin melihat perkembangan kota Malang yang semakin pesat, saya juga ingin bernostalgis. Ada banyak kenangan yang saya lalui di sini semasa SMA dan kuliah. Sayangnya, tempat-tempat yang dulu pernah saya kunjungi banyak yang sudah berubah.

Tempat pertama yang saya datangi ketika kaki sudah menjejak Kota Malang adalah Toko Oen. Dulu setiap hari saya ke sini karena ada satu kue yang namanya _____________ enak sekali. Toko Oen ini sudah berdiri sejak tahun ____________ dan bisa bertahan hingga hari ini sungguh luar biasa. Pendirinya adalah ______________ dan saat ini toko ini diteruskan oleh _____________. Sama seperti Malang yang sudah banyak berubah, toko ini pun juga ada perubahannya.

Coba perhatikan. Saya mempraktikkan menulis cepat saat membuat dua paragraf tentang liburan di Malang. Pada bagian-bagian yang saya lupa, saya hanya memberi underline, yang nanti akan saya lengkapi belakangan.

Proses menulis tidak boleh terhenti hanya untuk mencari data atau referensi tambahan karena feel-nya pasti akan berbeda. Dampak lain jika memberi jeda sementara otak sudah merespons aktif memberi data yang dimiliki, kita akan sulit untuk memulainya lagi. Selamat menulis. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi yang sedang menulis buku.

1,193 total views, 53 views today

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here