Tips Menulis

Teknik menulis cepat perlu dipelajari oleh semua orang yang bergerak dalam bidang kepenulisan. Saya sendiri telah merasakan betapa teknik ini sangat bermanfaat untuk meningkatkan produktivitas harian dalam menghasilkan tulisan yang berkesinambungan. Dari beberapa buku saya yang telah diterbitkan, ada beberapa yang menggunakan teknik ini. Hanya saja perlu diingat, hasil tulisan dengan teknik menulis cepat ini tidak bisa langsung di-publish atau dikirimkan ke penerbit. Ada beberapa tahap yang harus dilalui terlebih dahulu, sehingga hasil tulisan layak baca dan bisa diterima pihak lain untuk diterbitkan.

Persiapan Menulis Cepat

Menurut saya, proses menulis adalah sebuah perjalanan. Sama seperti ketika kita hendak menempuh suatu perjalanan, ada persiapan-persiapan yang kita perlukan, misalnya menetapkan tujuan yang ingin dicapai, barang apa saja yang ingin dibawa, lewat mana yang lebih cepat, dan sebagainya. Proses menulis juga begitu. Ada beberapa persiapan yang perlu dilakukan, seperti:

Ide

Untuk dapat menghasilkan karya tulis, kita harus memiliki ide. Apa yang ingin ditulis? Mengenai apa? Bagaimana mewujudkannya? Apa harapan yang ingin dicapai dari tulisan ini? Bahkan kita mungkin perlu menentukan ke mana dan di mana bisa menemukan ide.

Pengembangan Ide Menjadi Tema

Setelah menemukan ide yang ingin ditulis, selanjutnya yang perlu dilakukan adalah mengembangkan ide tersebut menjadi sebuah tema yang lebih spesifik. Dengan tema yang lebih spesifik ini akan lebih memudahkan kita dalam mengembangkannya menjadi sebuah tulisan. Di saat bersamaan ketika menemukan tema, bisa jadi ada ide-ide tambahan yang bisa melengkapi tema yang sudah kita pilih. Lebih jelasnya bisa melihat contoh berikut:

Ide: menulis tentang lingkungan hidup
Tema:

  • Daur ulang sampah plastik menjadi bahan kerajinan tangan yang bisa dijual.
  • Pemanfaatan limbah rumah tangga untuk membuat kompos tanaman di halaman.
  • Relokasi warga di bantaran sungai untuk meminimalisasi bertebarannya sampah di sungai.

Ide: mudik lebaran
Tema:

  • Tips agar perjalanan mudik lebaran nyaman dan lancar.
  • Tempat-tempat wisata sepanjang jalur Pantura.
  • Hal-hal yang perlu diwaspadai saat menempuh perjalanan mudik lebaran.

Garis Besar Karangan/Outline

Apakah setelah menentukan tema kita bisa langsung memasuki proses menulis? Bisa saja. Ada banyak penulis yang bisa menyelesaikan tulisannya hanya dengan memahami tema yang telah ditentukan. Tetapi, ada banyak pula penulis, terutama penulis-penulis yang baru memulai karier sebagai penulis, mengalami kesulitan dalam menyelesaikan tulisannya kalau hanya bermodal tema. Untuk mencegah terjadinya stuck atau kebuntuan menulis (dikenal juga dengan nama writer’s block) maka alangkah baiknya kalau kita juga membuat outline atau garis besar karangan.

Apa itu Outline? Silakan baca di sini ya.

Peralatan

Peralatan yang dapat mendukung proses penulisan bisa bermacam-macam, tergantung kebutuhan kita masing-masing. Ada orang yang lebih senang menulis secara manual menggunakan pulpen dan buku dulu, kemudian baru disalin di laptop atau PC desktop. Ada pula orang yang bisa lebih lancar menulis kalau langsung di laptop. Sementara itu, tak menutup kemungkinan menulis menggunakan gadget karena saat ini ponsel pintar telah dilengkapi dengan aplikasi pendukung, semacam word, evernote, notepad, dan sebagainya. Intinya, menulis saja sesuka hati dengan peralatan yang kita miliki. Jangan pernah berpikir, tidak memiliki laptop atau pc desktop lalu tidak bisa menulis! Selain peralatan yang telah saya sebutkan tadi, kita juga membutuhkan referensi dari berbagai sumber, baik berbagai artikel di internet maupun dari buku dengan tema serupa dengan tema yang hendak kita tulis.

Hal-hal Lain yang Mendukung Proses Penulisan

Nah, bagian yang satu ini sebenarnya perlu dipikirkan sebelum kita melalui serangkaian persiapan tadi. Hal-hal yang mendukung proses penulisan di sini meliputi: motivasi dan alasan yang membuat kita ingin menulis, komitmen untuk segera memulai sekaligus menyelesaikan tulisan, konsisten pada kegiatan menulis dan menjadikannya kegiatan sehari-hari, serta bisa menepati deadline (yang mungkin kita tetapkan sendiri maupun yang ditetapkan oleh orang lain kalau kita menulis untuk diterbitkan).

Cara Menulis Cepat

Hilangkan Semua Gangguan

Ada banyak sekali gangguan yang bisa menghambat proses menulis cepat. Dari semua jenis gangguan, yang paling banyak menyita waktu kita adalah media sosial dan gadget. Untuk itu, jauhkan dulu kedua hal tersebut selama proses menulis agar kita tidak sebentar-sebentar memeriksa notifikasi.

Gunakan Timer

Mungkin sebagian dari kita beranggapan kalau menggunakan timer akan membuat kita menulis terburu-buru. Padahal, kita jadi lebih fokus menulis karena tahu dan sadar kalau waktu yang kita miliki terbatas.

Apakah kita butuh timer atau penghitung waktu sungguhan?

Jawaban untuk pertanyaan itu tentu saja tidak harus. Kita bisa memanfaatkan hal-hal atau benda-benda di sekitar kita, misalnya merebus air. Bunyi nyaring ceret adalah tanda berakhirnya waktu yang kita miliki untuk menulis satu chapter (misalnya).

Cara lain, manfaatkan saja jam beker, timer di mesin cuci (jadi kita menulis sambil menunggu cucian selesai), dan sebagainya. Berkreasilah agar hidup jadi lebih seru, berwarna, dan menjadi lebih produktif.

Buat Outline

Outline itu seperti garis putus-putus di jalan raya yang membantu kita agar tidak keluar jalur ketika mengendarai mobil atau sepeda motor. Dengan memanfaatkan outline ini, tulisan kita jadi lebih terarah dan kita sudah tahu lebih dulu apa yang harus kita tulis.

Contoh nyata outline bisa dilihat di halaman awal sebuah buku dalam  bentuk daftar isi. Namun, ada sedikit perbedaannya. Jika daftar isi hanya berisi judul bab, maka pada outline selain judul bab juga disertakan deskripsi (pokok pikiran) apa saja yang mau ditulis.

Siapkan Referensi

Sering terjadi, kita mencari referensi tambahan untuk melengkapi tulisan sembari menulis. Sekarang bayangkan, kita baru menulis tiga kalimat, lalu kita membutuhkan satu referensi dari seorang ahli. Karena belum memilikinya, kita pun berselancar dulu di internet. Karena keasyikan berselancar, kegiatan menulis kita pun jadi terganggu.

Sebaiknya, referensi dan data pendukung lainnya dicari terlebih dahulu sebelum memasuki proses menulis. Membuat catatan untuk hal-hal penting yang nanti hendak dimasukkan ke tulisan kita bisa dilakukan. Jadi saat memasuki proses menulis dan membutuhkan data, kita tinggal membuka catatan ini saja.

Tulis Saja Dulu Secepat-cepatnya

Tiba saatnya kita memasuki proses menulis yang sebenarnya. Di sini, kita tinggal menulis saja secepat-cepatnya dulu. Apa pun yang muncul di kepala kita, tuliskan saja tanpa perlu memikirkan apakah tulisan kita ini benar atau tidak, bagus atau tidak, atau mengenai masalah ejaan. Nanti di tahap selanjutnya semua ini bisa kita perbaiki.

Cara lain, ambil satu judul bab dari outline yang sudah kita buat. Tuliskan sampai selesai. Usahakan untuk tidak membaca ulang kalimat yang sudah kita tulis.

Proses menulis ini juga bisa kita lakukan dengan menulis secara manual terlebih dahulu. Biasanya proses  menulis dengan tangan jauh lebih lancar daripada menulis langsung di laptop atau di pc desktop.

Baca Ulang dan Self Edit

Setelah tulisan kita selesai, entah satu adegan (untuk fiksi) atau satu bab pendek, baru kita membaca ulang dan melakukan self edit. Namun selama tulisan belum selesai, hindari masuk ke tahap ini.

Ketika membaca ulang ini, kita bisa saja menemukan kalimat-kalimat yang kurang enak dibaca, tidak sesuai dengan pembahasan yang diinginkan, atau kesalahan ejaan. Sambil membaca kita bisa sekaligus melakukan perbaikan.

Jika ada bagian-bagian dalam tulisan kita yang membutuhkan data tambahan, maka lakukan pula pada tahap ini.

Naskah Siap

Naskah dinyatakan siap untuk ditayangkan di website atau dikirimkan ke penerbit setelah kita melalui tahap baca ulang dan self edit. Tapi alangkah baiknya kalau naskah tersebut masih kita baca satu hingga dua kali lagi setelah proses pengeditan.

Oh ya, dalam setiap tahap baca ulang tadi, kita bisa beri jeda beberapa lama. Misalnya, membaca naskah untuk ketiga kalinya satu atau dua minggu setelah proses baca naskah kedua kali. Pemberian jeda ini berguna untuk menyegarkan ingatan kita sehingga kita jadi lebih cermat untuk menemukan bagian-bagian yang masih membutuhkan perbaikan.

Tips dan langkah-langkah yang saya tuliskan di sini sudah sering saya terapkan dalam proses menulis naskah-naskah saya. Namun, tahapan apa pun yang nanti kamu gunakan, itu bisa disesuaikan dengan kebutuhanmu. Carilah cara asyikmu sendiri untuk menulis, karena di sinilah kamu akan menemukan duniamu sendiri.

Berkreasilah dan cobalah beberapa cara. Kamu juga masih bisa menemukan lebih banyak tips dan trik menulis di internet. Baca pula proses kreatif dari penulis-penulis dunia yang karyanya memang sudah diakui. Ada banyak kok kisah-kisah mereka, tinggal kita saja mau atau tidak mencari, membaca, dan mempelajari pengalaman mereka.

Selamat menulis.
Semoga sedikit tips yang saya bagikan di sini bisa bermanfaat.

1,026 total views, 1 views today

SHARE
Previous articleMenulis Buruk
Next articleBE MINE

8 COMMENTS

  1. Tips nya sangat bermanfaat sekali. Saya jadi termotivasi untuk menulis dengan cepat.

    Menulis dengan apa adanya dulu menjadi hal yang saya utamakan, lalu saya taruh ke draf, disaat ada waktu luang self edit memang sudah jadi kewajiban agar tulisan yang apa adanya dapat dibaca serta dinikmati pembaca saat tulisan saya sudah terbit. Hehe

    Nice posting mba, semoga keluarga Blogger Jakarta membaca artikel ini

    • Hai, Mas Geraldi, makasi udah berkunjung ke sini ya. Menulis cepat ini salah satu cara terbaik untuk menyelesaikan tulisan. Tapi bukan untuk langsung diposting/dikirim ke penerbit ya. Hasil dari menulis cepat masih membutuhkan perbaikan di sana sini dulu, dibaca ulang, biar hasilnya jadi lebih bagus.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here