Dasar-dasar Menulis Fiksi

Lama tidak mengisi blog, kali ini saya akan mencoba berbagi materi yang pernah saya bawakan dalam pertemuan penulis di Banjarmasin. Materinya mengenai dasar-dasar menulis fiksi. Apa saja dasar-dasar menulis fiksi? Yuk, baca, terutama bagi kamu yang mau jadi penulis buku fiksi.

Mengenal Genre dalam Fiksi

Untuk menjadi seorang penulis fiksi, baik sebagai penulis cerpen, cerbung atau novel, kita harus terlebih dahulu mengetahui banyak hal tentang fiksi itu sendiri. Tanpa pengetahuan yang cukup, kita akan ‘tersesat’. Itulah mengapa tulisan fiksi kita susah menembus media atau penerbit. Salah satu yang perlu kita tahu adalah genre dalam fiksi.

1. Romance

Genre romance sering diartikan sebagai bacaan yang menitikberatkan pada masalah percintaan. Namun pengertian ini tidak sepenuhnya tepat. Romance sendiri seharusnya lebih menitikberatkan pada perjalanan sang tokoh dalam sebuah cerita untuk mencapai kebahagiaannya.

Tidak melulu karena masalah cinta, bisa jadi perjalanannya berbalut kisah persahabatan, pencapaian cita-cita, dan lain sebagainya. Contoh karya yang masuk kategori ini, Tetralogi Musim karya Ilana Tan yang terdiri dari empat buku.

2. Komedi

Fiksi bergenre komedi lebih menitikberatkan adanya unsur lelucon, bertema ringan, dan membuat pembaca mau tidak mau tertawa. Komedi yang bagus tidak hanya sekadar kekonyolan yang tak masuk akal. Namun komedi bermutu bisa menunjukkan sisi ‘lucu’ tanpa harus terlihat konyol dan bodoh. Contoh: buku-buku komedi milik Raditya Dika, atau Lupus-nya Hilman

3. Sci-fi

Sci-fi singkatan dari Science Fiction. Genre ini menekankan pada penggunaan sains dan teknologi dalam dunia fiksi. Dalam kisah-kisah sci-fi, pembaca akan diajak menuju dunia yang mungkin tidak pernah terbayangkan sebelumnya, dengan penggunaan teknologi, atau penemuan-penemuan sains unik.

Sayangnya, penulis dalam negeri belum ada yang benar-benar bisa menciptakan sebuah karya fiksi sci-fi. Hal ini menjadi kesempatan besar bagi para penulis dalam negeri untuk mencoba genre yang satu ini.

4. Fantasi

Beberapa waktu terakhir ini sudah mulai bermunculan karya-karya fiksi yang merupakan hasil imajinasi murni, di mana setting tempat dan waktu yang digunakan berbeda dengan kenyataan yang kita temui di dunia nyata. Contoh karya fantasi fenomenal adalah Harry Potter milik JK. Rowling.

cerita fiksi fantasy

5. Horor

Genre horor menitikberatkan pada kengerian, baik itu tentang hal-hal gaib, hantu dan lain sebagainya. Pembunuhan mengerikan yang membuat jantung pembaca berdebar juga bisa masuk kategori ini.

Dengan kata lain, horor tidak selalu berupa kisah hantu, namun dengan kreativitas yang kita miliki, kita bisa memadukannya dengan pembunuhan, psikologi atau adegan-adegan lain yang mengandung unsur ketegangan tingkat tinggi. Contoh karya horor berkelas misalnya milik Stephen King.

6. Misteri

Genre misteri biasanya mengarah pada cerita-cerita detektif tentang penyelidikan dari berbagai hal membingungkan yang belum diketahui jawabannya. Penulis harus mampu menciptakan twist-twist yang menjebak dan membuat pembaca penasaran sampai akhirnya misteri terpecahkan di halaman terakhir. Contoh: novel-novel karya Agatha Christie, Doyle dengan karyanya Sherlock Holmes

7. Petualangan

Genre petualangan adalah kisah yang berisi pengalaman para tokoh cerita dalam melakukan sebuah perjalanan yang akan mempengaruhi kehidupan secara keseluruhan tokohnya. Contoh karya bergenre petualangan misalnya : Lima Sekawan karya Enid Blyton

Kategori Pembaca Karya Fiksi

Saat menulis karya fiksi, kita harus tahu siapa sasaran pembaca yang ingin kita tuju. Kita tidak bisa sembarangan merancang karya kalau ingin karya kita disukai pembaca. Misalnya, novel yang mengisahkan percintaan anak SMA. Sudah tentu sasaran pembacanya adalah remaja usia SMP dan SMA, atau anak kuliahan. Sebaliknya, novel bertema rumah tangga, akan lebih disukai ibu rumah tangga atau pembaca novel usia dewasa.

Nah, kategori pembaca fiksi bisa dibagi menjadi:

  • Anak-anak.
  • Pra Remaja (pre-teens).
  • Remaja (teenlit).
  • Dewasa muda (Young adult)
  • Dewasa.

Syarat Wajib yang Harus Kamu Penuhi untuk Menjadi Penulis Fiksi

Saya lumayan sering mendapatkan pertanyaan, “Apa saja syarat menjadi penulis fiksi?” Maka jawabannya:

  • Membaca, membaca, membaca! Ya, jadi penulis itu harus banyak membaca buku, lho. Tanpa membaca, apa yang mau kita tulis?
  • Latihan terus menerus, karena tulisan akan berkembang seiring dengan kita rutin menulis.
  • Disiplin dan konsisten.
  • Berpikir out of the box.
  • Melek EYD.

Cara Membuat Cerita Fiksi

Jika ingin menulis cerita fiksi, baik berupa cerpen maupun novel fiksi, berikut langkah-langkah menulis fiksi yang biasa saya lakukan.

1. Menggali Ide

Ide utama seharusnya hanya terdiri dari satu kalimat yang menggambarkan isi cerita secara keseluruhan. Contoh: Seorang perempuan yang mendapat hidayah untuk menjadi mualaf, namun harus melalui serangkaian kejadian, penolakan, pergolakan batin hingga ia hanya bisa beribadah secara sembunyi-sembunyi (Ide cerita dari novel Sujudku yang Tersembunyi – Garina Adelia)

Bagaimana cara mendapatkan ide untuk menulis fiksi?

  • Pengalaman pribadi atau pengalaman orang lain
  • Hasil membaca buku, menonton film, atau mendengarkan lagu.
  • Adaptasi dan pengembangan dari cerita dongeng, fabel, hikayat, dll.
  • Dari kejadian di sekitar.
  • Berdasarkan perenungan mendalam, tafakur, meditasi, dll.

2. Karakter Unforgettable

Karakter unforgettable adalah karakter yang tidak terlupakan oleh pembaca. Biasanya karakter seperti ini terlihat sangat manusiawi di mana kita sebagai pembaca akan merasa bahwa karakter di dalam kisah kita itu benar-benar nyata.

Cara membuat karakter unforgettable:

  • Buatlah biodata karakter secara lengkap dari nama, tanggal lahir, zodiak, golongan darah, bentuk wajah, bentuk tubuh, warna kesukaan, dll.
  • Buatlah daftar motivasi atau cita-cita dari masing-masing karakter.
  • Buat peta karakter atau deskripsikan karakter semanusiawi mungkin.

Karakter fiksi yang tak terlupakan

3. Setting

Setting adalah tempat di mana cerita terjadi. Latar belakang cerita atau lokasi cerita memegang peranan penting dalam sebuah cerita. Kita tidak bisa melulu menceritakan adegan antar karakter tanpa menampilan setting atau tempat di mana para karakter sedang melakukan adegan.

Setting bisa kita ambil dari lingkungan sekitar, tempat-tempat yang pernah kita kunjungi, bahkan tempat yang ingin kita kunjungi. Referensi mengenai tempat juga bisa kita dapatkan dari internet atau buku. Hal penting yang perlu kita ingat, usahakan penggunaan setting di dalam cerita tidak hanya sekadar tempelan. Setting harus benar-benar menyatu dengan setiap adegan, dialog, narasi, konflik, dan karakter di dalam cerita.

4. Plot

Plot adalah kronologis/urutan adegan atau kejadian yang dialami oleh para tokoh di dalam sebuah karya fiksi. Biasanya plot mulai dari awal, serangkaian konflik, dan bagian terakhir yang menjadi penyelesaikan untuk semua konflik yang tokoh utama hadapi.

5. Dialog

Gunakan dialog dengan efektif dan cerdas. Hindari penggunaan dialog yang remeh temeh dan bertele-tele, untuk menghindari kejenuhan pembaca.

6. Sinopsis

Sinopsis adalah ringkasan cerita dari awal, pertengahan cerita (konflik) dan akhir cerita. Dari buku Winna Effendi yang berjudul DRAF 1 begini cara membuat sinopsis yang baik:

  • Sinopsis tidak lebih dari 2 halaman A4.
  • Paragraf pertama: jelaskan naskah yang kamu tulis baik dari segi genre, konsep dan plot dasar.
  • Paragraf dua: ceritakan secara singkat keseluruhan isi naskah. Garis besarnya saja. Siapa tokoh utamanya, inti konflik, klimaks dan penyelesaiannya.
  • Paragraf tiga: jelaskan kenapa naskah ini menarik dan memiliki ciri khas, bisa dalam segi adanya wawasan baru, ide yang orisinal, dll.
  • Paragraf empat: tuliskan kelebihan lainnya. Jika ada sekuel atau presekuel, cantumkan saja.

7. Membuat Outline

Outline atau kerangka karangan adalah ide pokok tiap paragraf atau bab, yang disusun secara urut dari awal hingga akhir. Dari ide-ide pokok tersebut, nantinya penulis tinggal mengembangkan ide pokok ini saja pada tahap penulisan.

Kriteria Naskah Fiksi (yang Biasanya) Diterima Penerbit

  • Tema menarik/baru/unik/sesuai dengan target pembaca.
  • Opening menarik, menggugah rasa penasaran pembaca.
  • Karakter tidak stagnan, artinya karakter kuat dan berkembang sejalan dengan cerita.
  • Setting ‘hidup’ dan mendukung jalan cerita.
  • Plot, konflik, ending rapi, dan logis.
  • Deskripsi, narasi dan dialog diatur secara proporsional, tidak berlebihan dan tidak banyak pengulangan.
  • Diksi dan gaya penulisan harus benar-benar diperhatikan agar tidak menimbulkan kebosanan pada pembaca.
  • Ending tidak mengecewakan.
  • EYD dan hindari terlalu banyak typo atau salah ketik.
  • Nilai tambah lain seperti misalnya naskah berbeda dari naskah yang sudah ada, ide lama yang diolah kembali menjadi baru dan unik, penulis memiliki jaringan pembaca yang luas dan sebagainya.

novel monica anggen

Demikian dasar-dasar menulis fiksi yang perlu kamu tahu, terutama kalau kamu ingin menjadi penulis fiksi atau penulis novel. Apa pun genre fiksi yang mau kamu tulis, dasar-dasar menulis fiksi di atas tidak ada salahnya kamu perhatikan, agar proses kamu menulis dan menyelesaikan karya fiksimu jadi lebih mudah. Oh ya, kalau masih butuh referensi cara menulis fiksi, baca juga 5 Dasar Penulisan Fiksi.

About the author

Hobi saya dalam hal kepenulisan menjadikan saya ingin selalu berkarya. Menciptakan ruang blog monicaanggen.com ini bukanlah sesuatu hal yang kebetulan gais. Sit, Enjoy, and Starting Read.. ^_^

Satu pemikiran pada “Dasar-dasar Menulis Fiksi”

Tinggalkan komentar