Tanggal 10 Januari 2018 malam, saya dan Pewe tiba di Bali sekitar pukul 00.30 WITA karena pesawat kami sempat mengalami penundaan di Soekarno Hatta. Dua teman kami yang lain, sudah berangkat dengan pesawat lain dan telah tiba duluan di Bali. Jadi begitu kami tiba di bandara Ngurah Rai Bali dan ambil beberapa foto sebentar, saya dan Pewe lalu bergabung dengan kedua teman tadi. Di sana juga telah menunggu Pak Putu, pak supir yang mobilnya kami sewa. Dari bandara, kami langsung menuju ke penginapan yang telah kami pesan sebelumnya, yaitu Gandhi Hostel 2 yang berada di Jl. Intan LC II, Gg.VIII No. 1. Denpasar. Namanya penginapan murah, ya dimaklumi saja keadaannya. Ada 3 tempat tidur susun 2 dalam satu kamar, kamar mandi di luar dan no breakfast. Untungnya kami di sini hanya satu malam. Pagi ini kami berempat akan memulai petualangan kami dengan mengunjungi Desa Tenganan Pegringsingan, Taman Ujung, Pantai Jasri, Rumah Cokelat, dan tujuan terakhir adalah Padang Bay.

Desa Tenganan Pegringsingan

Penjual kerajinan daun lontar. Foto: dok.pribadi

Jam 8.30 pagi kami sudah jalan lagi meninggalkan Gandhi Hostel 2 dan langsung meluncur ke Desa Tenganan Pegringsingan di Kabupaten Karangasem. Desa ini termasuk salah satu dari tiga desa Bali Aga Desa Tenganan, Desa Trunyan, dan Desa Sembiran). Desa Bali Aga artinya desa yang masih mempertahankan kehidupan tradisonal, mulai dari bentuk bangunan serta pekarangan, bahkan termasuk kegiatan masyarakatnya. Bentuk bangunan di sini unik dan pemandangannya masih asri. Di pinggir jalan yang kami lewati ada pengrajin ukiran di daun lontar yang memajang karyanya. Ada hiasan dinding, gantung kunci, ada yang berbentuk jam dinding, dan sebagainya. Saya sempat bercakap-cakap dengan salah satu pengrajin dan mendengarkan ceritanya mengenai cara mereka membuat ukiran di daun lontar. Saya juga ditunjukkan cara bikin ukirannya, yaitu dengan semacam arang, yang bisa menciptakan garis-garis hitam atau putih. Kami berada di tempat ini cukup lama mengingat desanya lumayan luas, melihat para ibu-ibu yang duduk di semacam bale-bale sambil menenun, serta yang pasti ya sesi foto-foto dong.

Taman Ujung - Bali

Kami Berempat | Foto: mainjalan.com | Kamera: herminiyuliawati.com

Masih ingat dengan tulisan saya kemarin yang berjudul Persiapan Liburan ke Bali, kan? Saat persiapan saya dan teman-teman sudah menyusun destinasi yang dikunjungi berdasarkan kabupaten sehingga jarak tempuh yang kami lalui selama perjalanan tidak menghabiskan
waktu.

Jadi setelah dari Desa Tenganan Pegringsingan, kami pun mampir ke Taman Ujung yang masih berada di wilayah Karangasem, tepatnya di Banjar Ujung, Desa Tumbu. Sayangnya ketika kami tiba di sini, gerimis turun. Untungnya Pak Putu Sideman (yang hari ini kembali menemani kami) punya dua payung yang bisa dipinjamkan ke kami. Jadilah kami bergegas turun dari mobil dan langsung eksplorasi Taman Ujung yang ternyata keren banget pemandangannya.

Taman Ujung - Bali. Foto: dok.pribadi

Taman Ujung Soekasada dibangun pada 1901 oleh I Gusti Bagus Jelantik dan awalnya diberi nama Kolam Dirah (kolam tempat pembuangan bagi orang yang menguasai ilmu hitam. Tahun 1909, Raja Karangasem memerintahkan untuk melakukan perombakan Taman Ujung ini jadi tempat peristirahatannya. Selain menjadi tempat peristirahatan, tempat ini juga menjadi tempat menjamu tamu kerajaan, dan salah satu bangunannya digunakan pula sebagai menara pantau kapal. Berjalan-jalan di taman ini bikin hati nyaman banget. Udaranya sejuk (soalnya lagi gerimis… hahaha) dan membuat kami berempat foto-foto terus. Oh ya, saat jalan terus sampai ke bagian belakang Taman Ujung yang menuju ke bangunan tempat dulu raja memantau kapal-kapal barang, kami menemukan warung kecil. Di sana kami duduk minum kopi, ngobrol, sambil memperhatikan ibu pemilik warung mengusir burung-burung dari sawah yang ada di depan warung.

Pantai Jasri dan Rumah Cokelat

Hujan mulai turun deras. Kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya, yaitu Rumah Cokelat yang terletak di Desa Jasri, Kabupaten Karangasem. Rumah cokelat dikenal juga dengan nama Charlie chocolate Factory. Di sini bangunannya lucu, berwarna cokelat, dan kita bisa melihat proses pembuatan cokelat, bahkan bisa membeli sekaligus menikmati cokelat hasil buatan Charlie Chocholate Factory. Tiket masuknya 15 ribu aja dan kita dapat sabun wangi. Lalu ada pula wahana ayunan. Kita bisa menikmati pemandangan pantai sambil main ayunan. Pantai di dekat Rumah Cokelat ini dikenal dengan nama Pantai Jasri. Saat kami tiba di sini sudah sekitar pukul 16.00 Wita. Sayang banget tak bisa berlama-lama karena tempat wisata ini tutup pukul 17.00 Wita.

Rumah Coklat. Foto: dok.pribadi

Padang Bay

Malam mulai turun. Kami memutuskan untuk menginap di Padang Bay saja karena lokasinya masih berada di wilayah Karangasem. Di perjalanan menuju ke Padang Bay, kami mulai cari-cari penginapan dan akhirnya pilihan jatuh ke Bagus Guest House. Sesuai namanya, penginapan murah ini cukup bagus, kamar besar, kamar mandi dalam, dapat sarapan pagi enak (bisa memilih dari menu yang diberikan), dan harganya cuma 170 ribu semalam. Kami sewa dua kamar. Teman saya berdua, dan saya sama Pewe dong. Setelah meletakkan barang di kamar, Pak Putu pamit pulang, dan kami pun bebersih badan. Sekitar pukul enam sore, Pewe lapar dan mengajak saya menikmati senja di dermaga Padang Bay sambil cari makan. Eh beruntung ada penjual tahu tek (tahu teknya mirip tahu tek di Surabaya). Harga perporsi cuma 8.000. Kami pesan dua porsi dan duduk di dermaga berdampingan menikmati senja. Berdua saja karena dua teman kami sedang sibuk entah ngapain di kamar mereka. Baru sekitar pukul 7 keduanya bergabung dengan kami, makan malam dulu, lalu nongkrong di salah satu kafe yang ada di tepi pantai Padang Bay (hadeeh… lupa saya nama kafenya)

Padang Bay di Waktu Senja. Foto: dok.pribadi

Sekitar pukul 10 malam kami balik ke penginapan dan cangkrukan di depan kamar. Sambil ngobrol kami menghitung biaya perjalanan hari ini, siapa yang bayar karcis masuk ke tempat wisata, siapa yang bayar makanan, dan membagi biaya sewa mobil sama rata untuk kami berempat, juga mengosongkan memori kamera dengan memindahkan semua foto ke laptop Pewe. Setelahnya kami beristirahat. Hari 1 di Bali kami telah bersenang-senang berpetualang ke Desa Tenganan Pegringsingan, Taman Ujung, Pantai Jasri & Rumah Cokelat, serta Padang Bay. Puas sekali rasanya. Besok petualangan akan kami lanjutkan lagi.

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here