Pada hari Selasa, 19 September 2017, saya menghadiri Blogger Meeting yang diselenggarakan Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) dan Komunitas #KebayaKopidanBuku. Acara yang diselenggarakan di Balai Sarwono, Jl. Madrasah Raya No. 14 RT.07/RW.06, Cilandak Timur, Jakarta Selatan, ini mengangkat tema “Mari Menjadi Ibu Melek Nutrisi Demi Mewujudkan Generasi Emas 2045.” Acara ini terbagi menjadi 3 sesi, yaitu (1). Ibu Cerdas Anak Berkualitas; (2). Gizi untuk Bayi dan Anak; dan sesi terakhir (3). Yuk, Jadi Konsumen Cerdas!

DR. IR. Dwi Hastuti, MSC, kepala divisi perkembangan anak, Departemen IKK, FEMA, IPB.
DR. IR. Dwi Hastuti, MSC, kepala divisi perkembangan anak, Departemen IKK, FEMA, IPB. Foto: dok.pribadi

Ibu Cerdas Anak Berkualitas

Sesi bertema “Ibu Cerdas Anak Berkualitas” dibawakan oleh DR. IR. Dwi Hastuti, MSC. Beliau saat ini menjabat sebagai kepala divisi perkembangan anak, Departemen IKK, FEMA, IPB, juga pengelola Labschool Pendidikan Karakter IPB. Diskusi dibuka dengan pertanyaan, “Apakah anak-anak bisa tumbuh begitu saja menjadi orang dewasa yang berkualitas tanpa ada hal-hal penting yang perlu dilakukan orang tua?”

Faktanya, ada banyak faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang anak dan faktor tersebut sekaligus menentukan akan seperti apa kualitas mereka di masa depan. Peran orangtua dan keluarga yang tinggal serumah dengan anak memberi pengaruh besar dalam pembentukan sifat, kepribadian, perilaku, serta keterampilan-keterampilan lain. Fakta ini bahkan telah diungkapkan oleh Aristoteles jauh sebelum gaung mengenai mewujudkan generasi terbaik kita dengar.

“People do not naturally or spontaneously grow up to be morally excellent or practically wise. They become so, if at all, only as the result of lifelong personal and community effort.”

– Aristoteles –

Seorang anak tumbuh dan berkembang dari kemampuannya melihat, memperhatikan/mengamati, menyimpan semua hasil observasinya dalam memori, kemudian menirukannya. Anda pasti pernah melihat anak Anda melakukan sesuatu yang sebelumnya pernah Anda lakukan, kan? Nah, inilah yang dimaksudkan bahwa anak belajar dengan meniru apa yang dilakukan orang-orang di sekitarnya. Anak perempuan biasanya  menirukan perilaku ibunya saat merias diri, berpura-pura memasak seperti ibunya, bahkan ada pula anak yang menirukan gaya ayahnya ketika marah. Hal yang sama juga terjadi pada anak laki-laki yang bisa menirukan perilaku ibu maupun ayah, termasuk menirukan pola makan. Ketika ibu, yang paling sering berada di rumah bersama anak, tidak terlalu suka makan sayur atau memasak makanan berbahan sayur, kemungkinan besar anak pun tumbuh dengan pola makan yang tak suka sayur. Jika ayah dan ibu bekerja, sementara anak bersama pengasuh, ada banyak perilaku yang bisa ditiru anak dari perilaku pengasuhnya, seperti makan sambil menonton televisi, makan sambil berlarian, pengasuh yang pola hidupnya kurang bersih juga bisa membuat anak kurang sadar akan kebersihan dirinya.

Perilaku Dipelajari Melalui Pengamatan.
Perilaku Dipelajari Melalui Pengamatan. Foto: dok.pribadi

Saat mendengar penjelasan Bu Hastuti hari ini, saya benar-benar merasa tertampar. Dulu ketika anak saya masih kecil, saya yang tidak terlalu suka sayur dan buah jadi jarang memasak menu makanan berbahan sayur maupun menyediakan buah-buahan di rumah. Akibatnya, anak saya memang kurang suka mengkonsumsi sayur dan buah. Hingga sekarang ia sudah beranjak remaja, pola makannya tetap sama seperti ketika ia kecil. Sayur dan buah jadi pilihan makanan terakhir jika tak ada lagi makanan yang bisa dikonsumsinya. Menyesal, tentu saja.

Saat ini, karena hormon pertumbuhannya, wajah anak saya berjerawat. Sewaktu saya bawa ke dokter, dokter menyarankan untuk banyak-banyak konsumsi sayur dan buah agar kulit lebih sehat dan bisa berbebas dari jerawat dan penyakit kulit lainnya. Metabolisme tubuh pun jadi lebih bagus yang berdampak pada kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Bu Hastuti memberi saran kepada para ibu, khususnya, agar sedini mungkin telah memperhatikan dengan sungguh tumbuh kembang anak. Pikiran anak itu seperti kertas kosong, yang perlahan kertas itu akan terisi dengan hal-hal yang anak serap dari sekitarnya. Itu sebabnya, beri kesempatan kepada anak untuk melihat semua hal sambil diberi arahan, mana hal yang baik dan mana yang tidak. Selanjutnya, berikan kesempatan kepada anak untuk berpikir dan memutuskan hal-hal yang baik. Ini berhubungan dengan tahap sebelumnya. Ketika anak banyak melihat hal baik akan menyimpan lebih banyak hal baik dalam pikirannya sekaligus tahu risiko apa yang dihadapinya kalau memilih hal buruk. Kelak, ia tentu hanya akan memilih hal-hal baik saja. Agar bisa mewujudkan anak yang memiliki pondasi kuat dalam menentukan mana yang terbaik bagi dirinya, kita perlu memberikan berbagai informasi dan pengetahuan tentang hal baik. Ini termasuk dalam membentuk pola makan anak yang bisa dilakukan sejak dini.

Tips Agar Anak Memiliki Pola Makan yang Baik

1. Pembentukan Kebiasaan Makan.

Saat anak berusia satu tahun, sebenarnya anak sudah bisa makan layaknya orang dewasa, tidak perlu terus-terusan makan makanan lunak. Malah di usia ini, alangkah baiknya anak sudah mulai mengenai beragam menu makanan dan mencoba semuanya satu per satu. Sayangnya, masih banyak orangtua yang membiasakan anak untuk tetap berada dalam pola makan seperti bayi, bubur yang dihaluskan dengan berbagai menu yang dicampur jadi satu, disuapi sambil digendong dan diajak jalan-jalan, hingga kebiasaan makan yang kurang tepat ini terus berlanjut. Padahal seharusnya, anak sudah mulai dibiasakan duduk di kursinya sendiri, mencoba menyuap makanan dari sendok yang dipegangnya, bahkan mulai diajari minum dari gelasnya sendiri. Jika kebiasaan ini terus dilakukan setiap hari maka anak pun akan jadi terbiasa.

Anak Belajar Makan Sendiri.
Gambar: anakvidoran.com

2. Sediakan Menu Makanan Beragam.

Sesibuk apa pun ibu, cobalah untuk menyiapkan sendiri makanan bagi anak dan keluarganya sehingga kebersihan makanan tetap terjaga. Mengkonsumsi makanan yang bersih dan sehat bisa melindungi anak, juga seluruh keluarga, dari ancaman berbagai penyakit, begitulah yang dikatakan Bu Dwi Hastuti kepada media, blogger, dan masyarakat umum yang hadir pada Blogger Meeting hari ini. Selain itu, menyediakan menu makanan yang beragam bisa membantu kita mengajari anak bermacam-macam jenis makanan sekaligus rasanya. Kita juga bisa mengenalkan beragam jenis makanan ini sambil bercerita mengenai manfaatnya, misalnya wortel mengandung vitamin A yang menyehatkan mata. Selanjutnya, acara pengenalan mengenai makanan bisa dilanjutkan dengan membaca buku cerita anak yang berkaitan dengan pengetahuan mengenai sayuran dan buah, disertai manfaatnya. Kelak, anak akan mengingat semua yang didapatnya ini dan menjadikan ia memiliki bahan untuk mempertimbangkan keputusan mana yang baik dan mana yang buruk di kemudian hari.

Bijak Memilih Makanan
Bijak Memilih Makanan. Gambar: Buku Pedoman Gizi Seimbang

3. Beri Kesempatan Kepada Anak Memilih Makanannya Sendiri.

Saat menyajikan beragam menu makanan, beri kesempatan kepada anak untuk memilih mana makanan yang ia sukai dan mana yang tidak. Mintalah alasan mengapa ia menyukai makanan A dan mengapa ia tidak suka makanan B? Bersikaplah bijak untuk memahami dan mengerti alasan-alasan yang diajukan anak. Di saat yang sama, perlahan beri masukan mengapa sebaiknya ia menyukai kedua jenis makanan tersebut dan apa manfaatnya. Memang anak tidak bisa langsung mengerti saat itu juga, tetapi secara perlahan jika kebiasaan ini terus diulang dan dilakukan maka anak pun akhirnya memahami.

4. Ajari Anak untuk Menghabiskan Makanannya.

Dari laman finance.detik.com (11/10/2016) diberitakan bahwa Badan Pangan PBB (Food and Agriculture Organization of the United Nations/FAO) mencatat sepertiga dari total makanan yang diproduksi di dunia terbuang percuma. Sampah makanan tersebut berasal dari proses produksi, distribusi, juga berasal dari rumah tangga di mana perilaku konsumen kebanyakan masih senang membuang-buang makanan baik secara sengaja maupun tak sengaja. Sementara di Indonesia sendiri, Mark Smulders, kepala perwakilan FAO untuk Indonesia dan Timor leste mengatakan, sebanyak 13 juta metrik ton makanan terbuang setiap tahunnya. Sayang sekali makanan itu terbuang sia-sia seperti itu padahal di luar sana masih banyak orang yang belum bisa makan cukup dan layak 3 hari sekali. Bisakah Anda membayangkan berapa banyak orang yang bisa makan dengan 13 juta metrik ton makanan tersebut? Oleh karena itu, ajarkan kepada anak untuk mengambil makanan secukupnya dan habiskan makanan yang telah diambil. Jika kurang, anak boleh mengambil kembali.

5. Kenalkan 4 Pilar Gizi Seimbang kepada Anak.

Sedini mungkin kenalkan anak mengenai makanan dengan gizi seimbang sehingga bisa membantu anak menentukan pilihan makanan yang akan dikonsumsinya sehari-hari. Empat pilar gizi seimbang meliputi: makan makanan beranekaragam, berperilaku hidup bersih, melakukan aktivitas fisik, dan mempertahankan dan memantau berat badan normal. Penjelasan lebih lanjut mengenai empat pilar gizi seimbang, nanti akan coba saya tuliskan pada artikel berikutnya, ya.

Gizi untuk Bayi dan Anak

Narasumber untuk tema Gizi untuk Bayi dan Anak adalah Prof. Dr. Ir. Dodik Briawan, peneliti di Pusat Pengembangan Ilmu Pengetahuan Teknologi Pangan dan Pertanian Asian Tenggara, SEAFAST Center IPB, mengatakan bahwa ibu memiliki peranan penting dalam pemenuhan gizi bayi, anak, dan seluruh anggota keluarga. Dalam pemenuhan gizi ini, kebutuhan dan asupan harus benar-benar diperhitungkan agar dalam kondisi seimbang. Pemenuhan gizi juga harus dimulai sedini mungkin, bahkan perlu dilakukan sejak janin dalam kandungan. Gizi yang terpenuhi dengan baik akan membuat anak tumbuh dan berkembang menjadi orang dewasa yang berkualitas, baik secara fisik, mental, dan intelektual.

Piramida Gizi Seimbang.
Piramida Gizi Seimbang. Sumber: Buku Pedoman Gizi Seimbang

Sayangnya, anak-anak di Indonesia saat ini masih mengalami permasalahan gizi ganda, yaitu gizi kurang yang menyebabkan pendek (stunting) dan gizi lebih yang menyebabkan obesitas. Data Riskesdas tahun 2010 menunjukkan prevalensi balita pendek (stunting) di Indonesia masih sebesar 35,6 persen, yang menyebabkan Indonesia menjadi negara ke-5 terbesar di dunia, yang berkontribusi pada 90 persen anak-anak stunting di dunia. Anak stunting memiliki risiko lebih tinggi menderita penyakit diabetes, jantung, hipertensi, obesitas, dan stroke di usia dewasa. Sementara itu, anak-anak yang menderita gizi lebih menyebabkan angka angka obesitas pada anak di Indonesia meningkat 3 kali lipat. Anak-anak yang menderita obesitas ini pada akhirnya berisiko mengidap berbagai penyakit pula saat mereka dewasa, seperti diabetes, jantung, bahkan kanker.

Jadi, apa yang harus dilakukan untuk mencukupi kebutuhan gizi bayi dan anak? Pak Dodik memberi beberapa tips sebagai berikut:

  • Ibu perlu mengetahui Angka Kecukupan Gizi (AKG) dalam setiap perkembangan anak. Bayi berusia 0-6 bulan AKG-nya berbeda dengan yang telah berusia di atas 6 bulan. Kemudian AKG bayi sudah tentu berbeda dengan AKG anak usia di atas 1 tahun. Selanjutnya, ibu juga perlu jumlah kebetuhan energi dan protein di setiap usia anak dan asupan makanan perlu disesuaikan dengan kebutuhan tersebut.
AKG Usia Bayi 0-6 Bulan
AKG Usia Bayi 0-6 Bulan
AKG Usia Bayi 6-12 Bulan
AKG Usia Bayi 6-12 Bulan
  • Bayi di bawah usia 6 bulan sudah cukup diberi ASI saja. Berikan sesuai dengan keinginan bayi. Usahakan untuk tidak memberikan susu formula karena kandungan gizinya jelas berbeda. Dengan kata lain, kebutuhan gizi bayi berusia di bawah 6 bulan sudah mampu dipenuhi hanya dengan pemberian ASI ekslusif.
  • Mulai usia 6-9 bulan, bayi tetap mendapatkan asupan ASI sesuai dengan keinginan bayi, namun sudah mulai ditambah dengan makanan lunak 1-3 kali sehari (disesuaikan lagi dengan berat badan bayi). Pak Dodik juga memberi saran, setiap kali makan, bayi usia 6 bulan cukup diberi makanan kurang lebih 6 sendok makan. Usia 7 bulan, cukup 7 sendok makan. Contoh makanan yang bisa diberikan: bubur tepung, sari buah, biskuit lumat. Saat bayi telah memasuki usia 8 bulan, bayi sudah bisa diberi nasi tim saring. Hindari memberi bayi makanan instan. Sebagus-bagusnya makanan instan tetap lebih baik kandungan gizinya dan jelas lebih sehat makanan yang dibuat sendiri.
  • Pada usia 9-12 bulan, bayi tetap mendapatkan ASI sesuai keinginan bayi, sementara untuk makanan sudah bisa diberi makanan lembut 3 kali sehari dalam jumlah yang cukup. Tidak perlu sampai bayi kekenyangan. Contoh makanan yang bisa diberikan: nasi tim, bubur campur.
  • Setelah usia 12 bulan, bayi sudah bisa dikenalkan dengan makanan keluarga. Cukup 9 sendok makan saja dengan lauk pauk yang beragam. Di sela-sela waktu makan, bayi bisa diberi biskuit, buah, atau kue 2x sehari. ASI tetap diberikan selama bayi menginginkannya.

Berdasarkan Permenkes No. 30 Tahun 2013, rekomendasi konsumsi gula, garam, dan lemak adalah sebagai berikut:

  • Gula: 50 grama/hari = 4 sendok makan.
  • Garam: 5 gram/hari = 1 sendok teh.
  • Lemak: 67 grama/hari = 5 sendok makan.

Yuk, Jadi Konsumen Cerdas!

Sesi ketiga adalah sesi terakhir dalam acara Blogger Meeting hari ini. Sesi ini dibawakan oleh Natalya Kurniawati, staf bidang penelitian YLKI. Menurut Natalya, sebagai konsumen kita memiliki beberapa hak yang harus dipenuhi oleh para produsen produk dan jasa. Beberapa hak konsumen tersebut adalah:

  • Hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi produk/jasa.
  • Hak untuk memilih barang/jasa.
  • Hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur.
  • Hak untuk didengarkan pendapat dan keluhannya.
  • Hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya penyelesaian sengketa.
  • Hak untuk mendapatkan pembinaan dan pendidikan konsumen.
  • Hak untuk diperlakukan, dilayani secara benar dan jujur, serta tidak diskriminatif.
  • Hak untuk mendapatkan kompensasi ganti rugi.
Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia.
Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia. Foto: dok.pribadi

Bagaimana cara menjadi konsumen yang cerdas?

Masih menurut Natalya, kita harus mencari tahu sebanyak mungkin kandungan gizi dan informasi penting lainnya berkaitan dengan produk/jasa yang kita gunakan. Selain itu, kita juga perlu tahu kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi konsumen. Intinya, sebagai konsumen kita perlu memprioritaskan produk apa saja yang penting untuk memenuhi kebutuhan kita, bukan membeli produk secara acak sesuai dengan keinginan saja. Miliki rasa ingin tahu sehingga kita mau mencari lebih banyak informasi berkaitan dengan produk/jasa yang dibeli. Usahakan untuk tidak bersikap permisif pada produk-produk yang merugikan atau berbahaya. Untuk produk seperti tadi, kita juga harus berani bersuara.

Jika ada hal-hal berkaitan dengan produk dan jasa yang membahayakan, atau untuk mengajukan keluhan terkait suatu produk yang kita gunakan, bahkan untuk mendapatkan informasi penting lainnya, kita bisa menghubungi:

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI)
Jl. Pancoran Barat VII No.1 Duren Tiga – Jakarta Selatan, 12760.
Telp (021). 7971378.
E-mail: konsumen@ylki.id.
Website: ylki.or.id
Line informasi konsumen dan pengaduan: pelayanan.ylki.or.id

SKM Bukan Susu

Hal terakhir dan paling penting dalam diskusi hari ini adalah mengenai SKM yang sebenarnya bukan susu yang cocok untuk anak. Prof. Dr. Ir. Dodik Briawan, mengatakan bahwa SKM (Susu Kental Manis), lebih tepat digunakan sebagai salah satu bahan untuk mengolah makanan, seperti halnya sirup, misalnya untuk membuat minuman sirup yang hanya sesekali diminum, sebagai pelengkap puding, dan sebagainya. Kandungan gula di dalam SKM sangat tinggi, kurang lebih 40-50 persen, dan jika diberikan kepada anak-anak akan sangat berbahaya, bisa menyebabkan diabetes di usia sangat muda, obesitas, bahkan dan menyebabkan anak kekurangan gizi karena SKM rendah kalsium dan protein. Oleh karena itu, sebaiknya para ibu tidak lagi memberikan SKM kepada anak-anaknya sebagai susu. Selain itu, pola konsumsi makanan manis juga perlu diubah demi kesehatan anak-anak sendiri.

Demi menjadi ibu cerdas anak berkualitas, mari kita ubah pola makan anak dan hidup lebih sehat.

4 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here