Kesehatan

Pemenuhan Hak Kesehatan Anak Mewujudkan Indonesia Emas

Jakarta, 7 Agustus 2017 lalu, Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) bekerja sama Kementerian Kesehatan, praktisi kesehatan, serta aparatur negara terkait bidang kesehatan menyelenggarakan Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) tahun 20017 di Aula Kemendikbud. Tema yang diangkat dalam bentuk diskusi publik ini adalah "Pemenuhan Hak Kesehatan Anak Untuk Mewujudkan Indonesia Emas 2045: Upaya Mencegah Masalah Malnutrisi pada Anak."

Pemenuhan Hak Kesehatan Anak Karena Semua Anak Adalah Anak Kita. Foto: dok.pribadi

Saya bersyukur mendapatkan kesempatan untuk hadir di acara ini dari Ibu Elisa Koraag, founder Blogger Cihuy. Saya pun dengan suka cita dan penuh rasa ingin tahu hadir di sini. Bagaimanapun anak-anak adalah generasi penerus bangsa. Anak-anak inilah yang nantinya melanjutkan perjuangan dalam pembangunan menuju kejayaan bangsa di masa depan nanti. Jika anak-anak saat ini menderita gizi buruk, dengan tingkat kesehatan yang rendah, serta banyak tak tercukup halnya, maka tak bisa dibayangkan apa yang akan terjadi pada negeri tercinta ini.

Diskusi Publik Pemenuhan Hak Kesehatan Anak. Foto: dok.pribadi

Fakta Mengenai Kemiskinan dan Masalah Kesehatan Anak

Hasil sensus penduduk yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa jumlah penduduk Indonesia yang berada dalam kondisi miskin masih sekitar 27,77 juta jiwa. Inilah kondisi terkini berdasarkan data bulan Maret 2017 dan dari data itu diketahui sekitar 40%-nya (sekitar 11 juta jiwa) adalah anak-anak. Kalau kita mau membuka mata dan melihat ke sekeliling, data ini bisa jadi benar karena di luar sana masih banyak anak yang hidup dalam kondisi miskin, berkeliaran di jalan untuk mendapatkan serupiah demi serupiah hanya agar bisa makan atau jajan. Di saat yang sama, kita juga bisa melihat masih banyak anak-anak yang kekurangan gizi, berbadan kurus, sering terserang penyakit, dan tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang layak.

Apa akibatnya kalau anak menderita gizi buruk?
Kekuranga gizi akan membawa akibat cukup besar dalam pertumbuhan anak. Otak anak jadi tak bisa berkembang dengan baik sehingga mengakibatkan IQ bisa saja berada di bawah nilai rata-rata seharusnya.

Akibat lainnya, kekurangan gizi berakibat stunting atau gagal tumbuh. Anak akan mengalami keterlambatan dalam perkembangan baik fisik maupun mental, fungsi kekebalan tubuh pun menurun, bahkan banyak di antaranya sudah mengidap penyakit-penyakit berbahaya dan mematikan.

Pemenuhan Hak Kesehatan Anak Dimulai dari Rumah.

Acara diskusi publik ini dibuka dengan drama yang dibawakan oleh anak-anak dari SD Cugenang, Cianjur, yang merupakan anak-anak ber-IQ tinggi. Kisah yang mereka bawakan adalah mengenai pemenuhan gizi anak dan perbedaan anak yang mendapatkan nutrisi yang baik dengan anak-anak yang kekurangan gizi.

Foto: peweartstudio.net

Selanjutnya, sesi diskusi pun dimulai. Pembicara pertama dalam diskusi ini adalah Dr. Lenny N. Rosalin, Plt Sekretaris Kementerian & Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak, mengatakan pemenuhan hak kesehatan anak dimulai dari rumah. Keluarga memegang peranan penting dalam pembentukan generasi muda yang cerdas, sehat dan terlindungi haknya dengan baik. Sayangnya, permasalahan berkaitan dengan kesehatan anak, seperti gizi buruk, tumbuh kembang anak yang kurang baik, entah terlalu, kurus, terlalu gemuk, obesitas, dan sebagainya.

Rendahnya Gizi dan Kesehatan Anak. Foto:Bappeda Kota Ambon

Kemiskinan menjadi faktor utama penyebab masalah kurang gizi pada anak, tidak hanya di Indonesia, namun juga di negara-negara lain, terutama di negara berkembang. Selain itu, kurangnya pengetahuan dan informasi para orang tua mengenai nutrisi untuk mencukupi kebutuhan anak juga memiliki andil. Lalu, era teknologi informasi dan internet masuk ke Indonesia. Semua mengira dengan persebaran arus pengetahuan dan informasi yang cepat akan membawa perubahan yang baik dalam banyak bidang. Lagi-lagi, perkiraan ini belum tepat sasaran karena ternyata penyebaran informasi berkaitan dengan ilmu kesehatan, tumbuh kembang anak, serta nutrisi belum tentu dapat dibuktikan kebenarannya. Hasil penelitian Sekretaris Dewan Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) awal tahun 2017 menunjukkan penyebaran informasi hoax berkaitan dengan bidang kesehatan paling banyak beredar di internet.Masyarakat yang masih minim informasi dan akibat kekurangtahuan malah turut menyebarkan berita ini dan akibatnya berdampak buruk pada kesehatan.

Foto: lagizi.com

Masalah gizi pada anak sebenarnya dimulai semenjak ibu hamil. Ketika ibu yang hamil kekurangan zat besi, kurang gizi, mengalami anemia, dan sebagainya, memungkinkan janin di dalam perutnya ikut mengalami kekurangan vitamin dan gizi yang dibutuhkan. Akibatnya, bayi lahir dengan berat badan kurang. Setelah bayi lahir dan kurang mendapatkan ASI, lagi-lagi dampak kesehatan yang buruk akan terus dialami bayi, seperti mudah sakit, stunting (mengalami pertumbuhan yang lambat), anemia, dan sebagainya.

Untuk itu, sangat diharapkan seorang ibu lebih memerhatikan asupan nutrisi selama proses kehamilan dan menyusui. Kemudian, lebih memperhatikan pula asupan nutrisi dan pola makan anak sehari-hari. Anak yang susah makan bisa jadi terlalu banyak diberi jajanan atau camilan di luar jam makan sehingga ketika tiba waktunya makan, anak sudah merasa kenyang.

Waspadalah Pada Iklan yang Malah Menyebabkan Timbulnya Masalah kesehatan

Dalam konteks perkembangan media dan teknologi yang pesat saat ini membuat banyak orang tua dan anak terpapar tayangan iklan produk makanan dan minuman yang kurang tepat dan kurang baik bagi kesehatan. Visualisasi iklan dan frekuensi penayangan yang tinggi menjadi penyebab anak-anak terpengaruh untuk ikut mengkonsumsi makanan dan minuman produk yang diiklankan tersebut.

"Tidak heran apabila tayangan iklan produk makanan dan minuman untuk anak-anak di televisi tidak secara terbuka memaparkan komposisi yang terkandung dalam produknya saat beriklan karena fokus mereka lebih untuk menjual produk semata, tanpa menyelipkan nilai edukasinya."

Dr. Winny G.W, Pemerhati Iklan dan Ketua Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI).

Dr. Winny juga mengatakan bahwa upaya menjaga kelangsungan hidup suatu bangsa bisa dimulai dari keluarga sebagai elemen yang plaing dekat dengan lingkungan anak-anak. Masyarakat perlu lebih cermat, lebih kritis, dan lebih selektif terhadap tayangan iklan produk yang tidak bermanfaat bagi anak. Pihak produsen, industri periklanan, dan media elektronik juga diharapkan tidak menjadikan anak-anak sebagai target iklan

Pemenuhan Hak Kesehatan Anak. Foto: emagrecendo17quilos.blogspot.com
Sumber: https://www.slideshare.net/destariska

Selain iklan, orang tua juga perlu memperhatikan tontonan anak. Ada banyak sekali tontonan anak yang ternyata sangat berbahaya bagi perkembangan moral dan emosional anak. Menurut Dewi Setyarini dari Komisi Penyiaran Indonesia Pusat (KPIP), Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) sebenarnya telah berupaya untuk menyaring tayangan-tayangan yang kurang tepat bagi anak dan menetapkan tayangan tersebut tidak ditayangkan pada jam-jam anak menonton televisi. Dalam hal ini, seharusnya orang tua pun ikut berperan aktif dengan menetapkan aturan kepada anak masing-masing, kapan boleh menonton televisi dan kapan tidak.

Perlu diketahui, anak memiliki sifat imitatif, meniru apa saja yang mereka lihat dan dengar. Anak juga mampu beradaptasi melalui proses belajar yang dilalui, juga mengadopsi cara atau perilaku yang mereka lihat/dengar dari suatu tayangan. Kemudian, pengetahuan yang didapatkan dari tayangan itu malah mereka gunakan untuk menyelesaikan masalah yang sedang mereka hadapi. Dari sini bisa disimpulkan, anak paling mudah terpapar dampak media sehingga menjadi individu yang paling mudah pula mendapatkan pengaruh buruk dari suatu tayangan. Dampak ini bisa berlangsung dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Pembicara selanjutnya adalah Dr. Eni Gustina MPH, Direktur Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan RI. Dr. Eni mengatakan, ada banyak penyebab sehingga anak kurang mendapatkan gizi seimbang, salah satunya adalah iklan di televisi, yang diterima mentah-mentah oleh kebanyakan ibu tanpa diteliti terlebih dahulu kebenarannya. Iklan seperti susu kental manis, misalnya, membuat banyak ibu menggantikan ASI maupun susu formula dengan susu kental manis ini. Padahal susu kental manis tidak boleh dikonsumsi oleh bayi dan balita. Susu kental manis bukanlah susu, melainkan cairan gula berbentuk susu dan fungsinya seperti sirup, yang digunakan sebagai pelengkap puding. Bukan untuk dikonsumsi rutin layaknya susu formula. Hal lain yang banyak tak diketahui para ibu, susu kental manis ini tinggi kadar gula dan lemaknya dan bisa menyebabkan obesitas serta diabetes pada anak.

Masalah Asupan Gizi Anak Bisa Disebabkan Kurangnya Pengetahuan Ibu

Dalam upaya mewujudkan visi besar bangsa, Indonesia Emas 2045, diharapkan Indonesia akan mencapai puncak kejayaannya pada 2045 mendatang serta terbebas dari ancaman gizi buruk. Untuk itu, kesehatan dan tumbuh kembang anak perlu dipersiapkan mulai hari ini agar dapat menghasilkan generasi yang sehat dan produktif.

Foto: dok.pribadi

dr. Rahmat Sentika, Sp.A, MARS, yang juga Anggota Satgas Perlindungan Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengatakan, "Masalah asupan gizi anak tidak semata-mata disebabkan faktor ekonomi keluarga saja, melainkan juga kurangnya pengetahuan ibu. Anak yang seharusnya diberi ASI, malah diberi makanan maupun minuman lain yang tinggi kandungan gula, garam, dan lemak. Akibatnya tidak heran kalau saat ini sudah banyak sekali anak yang mengalami obesitas, bahkan menderita diabetes."

Untuk memutuskan mata rantai masalah gizi ini, perlu kerja sama antara semua pihak yang peduli pada asupan gizi dan tumbuh kembang anak. Pemerintah seharusnya memberikan perhatian lebih terhadap keamanan pangan yang dikonsumsi anak melalui pengawasan ketat terhadap produk pangan yang beredar. Di saat yang sama, para orang tua juga seharusnya ikut serta berperan aktif dalam upaya meningkatkan pengetahuan mengenai kesehatan dan tumbuh kembang anak, serta pola makan dan asupan nutrisi apa saja yang dibutuhkan anak. Dengan cara inilah diharapkan anak-anak di Indonesia akan bertumbuh menjadi penerus bangsa yang andal, sehat, cerdas, dan produktif.

Tentang YAICI

Foto: dok.pribadi

Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) merupakan lembaga mandiri yang didirikan sebagai bentuk kepedulian terhadap pendidikan dan kesehatan di Indonesia. YAICI fokus pada advokasi dan edukasi masyarakat tentang pentingnya pengetahuan dan pemahaman membangun fondasi kesehatan yang kuat bagi anak-anak Indonesia.

Fokus utama yang dilaksanakan YAICI adalah mendukung program pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan melalui pembelajaran, pendampingan, pemberian pelatihan serta pengetahuan kepada masyarakat dengan metode kreatif dan inovatif. Abhipraya sendiri memiliki arti harapan. Dengan kata lain, YAICI diharapkan dapat membantu menumbuhkan anak-anak Indonesia yang cerdas dan berbudi luhur sekaligus ikut membantu terlaksananya program pemenuhan hak kesehatan anak.

5 thoughts on “Pemenuhan Hak Kesehatan Anak Mewujudkan Indonesia Emas

  1. Baru tahu susu kental manis bahaya banget ternyata ya… Hiks. Banyaklah di luar sana ibu2 yang kasih susu kental manis ke anaknya dengan alasan lebih murah dan hemat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *