Sumber : gamb.wordpress.com
Banyak teman yang mengatakan padaku betapa enaknya hidupku yang selalu bepergiaan ke mana-mana seenak hatiku. Mungkin benar, hidup yang kujalani selama ini berbeda dengan kebanyakan orang yang sudah berkeluarga. Dalam setahun, aku bisa beberapa kali bolak-balik Banjarmasin, Jakarta, Semarang atau Surabaya. Dalam beberapa even tertentu (terutama even yang berhubungan dunia menulis, aku bahkan menjelajah ke kota-kota lain)
Mungkin aku harus bersyukur karena
memiliki suami yang memberi kebebasan padaku dalam banyak hal. Suamiku bukan seorang pengatur yang mengharuskanku melakukan ini itu. Ia selalu mengijinkanku ke mana pun aku pergi, selama itu tidak membahayakan keselamatanku serta mendukungku yang masih merintis di dunia kepenulisan.
Jadi, hari ini, aku akan kembali ke Jakarta. Yang membedakan hari ini adalah, suamiku tidak berada di Jakarta. Ia sedang tugas di Batam dan baru kembali ke Jakarta tanggal 22 Desember.
Masa ini jadi hal besar?
Yup… bagiku ini jadi hal besar dan penting. Meski aku sudah hampir setahun tinggal di Jakarta, aku tidak tahu jalan, tidak tahu rute angkutan umum, dan tidak tahu apapun tentang kota ini. Namun hari ini, aku nekat berangkat dengan pesawat paling malam. Apesnya, pesawat sempat delayed selama dua jam.
Aku baru tiba di Jakarta hampir jam sebelas malam! Oh my God!
Oke, ini Jakarta. Ibukota gitu loh. Walau sudah jam sebelas malam, suasana Bandara Soekarno Hatta masih ramai. Aku cukup lega mendapati kenyataan ini. Masih banyak orang yang berkeliaran ke sana kemari. Juga masih banyak taksi yang siap mengantarkan penumpang sampai ke tujuan masing-masing.
Awalnya, aku memang berencana naik taksi. Tapi setelah kupikir lagi, mungkin lebih baik aku naik bis Damri. Pikiranku saat itu, kalau supir taksinya berbuat jahat padaku, aku tidak akan bisa melawan. Sedangkan kalau naik bis Damri, ada banyak penumpang di dalam bis itu. Jadilah aku naik taksi jurusan Lebak Bulus.
Tujuanku bukan ke rumah kos yang kutempati di Jakarta, tapi ke sebuah penginapan keluarga (Pondok Seruni) di Kemanggisan Ilir. Aku turun dari bis Damri begitu bis keluar dari tol.
Takut? Tentu saja. Sekali lagi kukatakan. Aku tidak mengenal daerah manapun di Jakarta selain sekitar rumah kos yang kudiami. Tapi aku mencoba tetap berani, karena tidak ada hal lain yang bisa kulakukan selain memberanikan diri.
Aku mengeluarkan Blackberryku dan membuka map. Lokasi aku berada sebenarnya tidak terlalu jauh dari Kemanggisan Ilir. Karena merasa cukup dekat, aku pun memutuskan naik ojek. Ada dua tukang ojek. Salah satunya mau mengantarkanku ke penginapan itu dengan tarif Rp. 15.000. Aku pun naik ke boncengan si tukang ojek.
Motor mulai melaju. Dari sejak motor memulai perjalanan si tukang ojek mengajakku terus bicara. Aku mencoba menjawab ala kadarnya. Entah kenapa ada perasaan tak nyaman saat tukang ojek itu berbelok ke sebuah jalan kecil yang terlihat sepi dan gelap. Di bagian kanan hanya ada sungai. Sementara di bagian kirinya tanah kosong. Hampir tidak ada rumah penduduk di jalan itu.
Aku langsung mengeluarkan Blackberryku lagi dan melihat map. Seharusnya kami tidak melalui jalan ini. Aku pun langsung bertanya ke tukang ojek kenapa melalui jalan ini? Tukang ojek menjawab kalau jalan ini adalah jalan pintas ke Kemanggisan Ilir.
Aku berusaha percaya. Nyatanya, dadaku semakin keras berdebar. Aku merasa ada yang salah. Tapi aku tidak tahu di mana salahnya. Pikiran buruk pun berkelebatan di dalam kepala.

“Jangan-jangan, tukang ojek ini berniat jahat padaku.” Pikiran itu terus bergaung dalam kepalaku. Berulang-ulang. Akhirnya aku mengucapkan doa dalam hatiku. “Ya Tuhan peliharalah aku, jagalah aku, sayangilah aku.”

Hanya itu doa yang terucap di dalam hatiku.
Lalu tiba-tiba, motor berjalan oleng. Ban belakang motor itu sepertinya kempes atau bocor. Aku menyuruh tukang ojek itu berhenti. Awalnya, tukang ojek itu tidak mau berhenti. Ia mengatakan kalau ia tetap bisa mengantarku. Ya ampun, di mana-mana yang namanya ban bocor jelas tidak bisa digunakan, kan?
Aku melompat turun dari boncengan dan mengatakan kalau aku tidak mau naik motor yang bocor. Tukang ojek itu mengeluarkan telepon genggamnya dan menghubungi temannya. Dia meminta temannya (yang tadi bersamanya saat menawar ojek) untuk mengantarkanku. Anehnya, di bagian akhir percakapan itu, ia berbicara dalam bahasa yang tidak kumengerti. Entah bahasa apa itu.
Gawat! Sepertinya orang itu memang berniat jahat!
Tapi aku tetap tidak tega melihat ban motornya bocor. Jadi, aku mengeluarkan uangku, dan menyerahkan uang itu padanya. “Ini, Bang, ongkos buat tambal ban. Tapi aku tidak mau diantar temannya Abang. Aku kembali ke jalan besar sana aja dan mencari taksi.” Aku menyerahkan uang itu dan langsung berlari kembali ke jalan besar.
Tukang ojek itu berusaha mengikutiku sambil memanggil-manggil aku dan mengatakan kalau temannya akan mengantarkanku ke alamat tujuanku. Aku mengabaikannya dan terus berlari sampai melihat sebuah warung makan yang masih buka. Aku masuk ke warung makan itu sebentar, melihat situasi. Begitu aku berada di dalam warung, si tukang ojek terlihat mengeluarkan telepon genggamnya. Mungkin ia menghubungi temannya itu lagi. Lalu setelahnya, tukang ojek itu memutar motornya dan berlalu meninggalkan mulut jalan kecil itu.
Aku menarik napas lega. Setelah mengucapkan terima kasih ke penjaga warung (seorang bapak tua), aku menunggu taksi yang lewat dengan berdiri di dekat warung itu. Hampir setengah jam aku menunggu, tidak ada satu taksi pun yang lewat.
Aku hampir putus asa. Tiba-tiba saja melintasi sebuah bajaj. Aku memanggil bajaj itu. Pak Bajaj-nya mengatakan ia hendak pulang jadi tidak menarik penumpang lagi. Aku hampir menangis rasanya ditolak seperti itu. Apalagi saat melihat jam sudah hampir jam setengah satu malam.
Gila, aku terdampar di daerah yang tidak kukenal, di pinggir jalan, sendirian, tengah malam buta!
Sepertinya Pak Bajaj itu melihat ekspresi wajahku. Ia bertanya memangnya aku mau ke mana. Aku mengatakan alamat tujuanku. Ia pun menawarkan untuk mengantarkanku. Malah dia tidak menyebutkan ongkosnya sama sekali ketika kutanya. Katanya, kebetulan ia pulang lewat jalan itu.
Pak Bajaj itu baik sekali ternyata. Alamat penginapan itu ternyata tidak mudah ditemukan. Tapi Pak Bajaj itu terus berusaha menemukannya, bahkan sampai bertanya beberapa kali pada orang-orang yang ditemuinya di jalan. Sampai akhirnya kami tiba di penginapan.
Aku menyerahkan sejumlah uang. Bapak itu menolak. Bayangkan, Pak Bajaj itu menolak karena katanya ia memang berniat menolongku. Akhirnya kubilang saja kalau pamali menolak rezeki. Untunglah Pak Bajaj itu mau menerimanya (walaupun pakai acara berdebat terlebih dahulu :p)
Ternyata, di Jakarta masih ada orang sebaik Pak Bajaj itu ya. Ia seperti malaikat yang dikirim Tuhan untuk mengantarkanku. Lalu kejadian ban motor tukang ojek yang kempes, itu juga seperti mukjizat yang menyelamatkanku dari orang (yang mungkin) berniat jahat padaku.
Aku masuk ke penginapan, mandi dan langsung berbaring di tempat tidur. Masih kepikiran dengan kejadian yang baru saja kualami. Ternyata, Tuhan sangat menyayangiku. Ia terus menjagaku dalam banyak hal.
Jadi, masihkah aku meragukan kehadiran Tuhan dalam hidupku?

814 total views, 3 views today

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here