Pernah tidak kamu mengalami terpipis di celana gara-gara tertawa atau batuk? Atau di lain waktu mendadak merasa kebelet pipis dan tak bisa menahannya hingga terpipis di celana? Jika pernah, coba amati lagi, apakah kejadian itu sering kamu alami? Kalau iya, jangan-jangan kamu menderita inkontinensia urine. Apa itu? Yuk kita mengenal inkontinensia urine dan cara mengobatinya melalui artikel saya ini.

Mengenal Inkontinensia Urine

Berdasarkan data yang pernah dihimpun WHO pada tahun 2000, ada kurang lebih 200 juta penduduk di dunia yang pernah mengalami inkontinensia urine. Di Indonesia diperkirakan ada kurang lebih 5,8 persen dari 200 juta penduduk dunia tadi yang mengalami masalah gangguan dasar panggul yang menyebabkan inkontinensia urine. Itu data tahun 2000. Bagaimana dengan sekarang? Diperkirakan ada 1 dari 3 perempuan yang mengalaminya sehingga aktivitas dan kualitas hidup mereka terganggu.

Apa sih sebenarnya inkontinensia urine ini? Pada 31 Maret 2018 lalu, saya pertama kalinya mengenal istilah medis ini saat datang ke acara seminar Stress Urinery Incontinence (SUI) di RS YPK Mandiri, Jl. Gereja Thresia No. 22, Menteng, Jakarta Pusat. Acara yang dihadiri teman-teman blogger dan media serta masyarakat umum (pengunjung RS YPK Mandiri) mengulas mengenai masalah “Tidak Bisa Menahan Buang Air Kecil”.

Menurut dr. Budi Iman Santoso SpOG (K), salah satu pembicara dan dokter yang berpraktik di RS YPK Mandiri, inkontinensia urine adalah suatu kondisi saat seseorang tak bisa menahan buang air kecil. Kondisi ini bisa dialami pria dan wanita, namun lebih cenderung dialami wanita yang aktif secara seksual dan yang telah banyak melakukan persalinan secara normal. Mengapa wanita lebih berisiko mengalami inkontinensia urine ini? Karena uretra pada wanita ukurannya hanya 4cm, lebih pendek dari pria yang ukuran uretranya bisa mencapai 25cm.

Inkontinensia Urine adalah suatu kondisi saat seseorang tak bisa menahan buang air kecil. Kondisi ini bisa dialami pria dan wanita, namun lebih cenderung dialami wanita yang aktif secara seksual dan yang telah banyak melakukan persalinan secara normal.

Jika diperinci lebih lanjut, kalau terjadi pada lelaki, salah satu penyebab terjadinya kondisi ini bisa karena komplikasi pembesaran prostat yang membuat dinding kandung kemih menjadi lebih sensitif. Sementara jika terjadi pada wanita, penyebabnya lebih kompleks dan harus dicari tahu dengan terlebih dahulu melakukan pemeriksaan, namun beberapa penyebab umum seperti lemah/rusaknya otot-otot dasar panggul yang berfungsi sebagai klep. Lemah atau rusaknya otot-otot tersebut bisa jadi karena perubahan kadar hormon, menopause, proses persalinan normal dengan bayi besar, penuaan, atau pernah melakukan operasi di daerah sekitar panggul, misalnya operasi pengangkatan rahim.

3 Tipe Inkontinensia Urine

Urine merembes keluar akibat adanya faktor pencetus, seperti tertawa atau batuk. Dalam situasi tertentu berteriak atau mengeluarkan suara keras secara mendadak juga bisa mengakibatkan inkontinensia tipe ini.

Overflow terjadi akibat kantung kemih terlalu penuh dan urine pun meluber. Namun setelah buang air kecil ternyata urine yang keluar sedikit dan pancarannya lemah.

Tipe inkontinensia tipe urge adalah ketidakmampuan menunda buang air kecil. Jadi rasa ingin buang air kecil muncul tiba-tiba, namun belum sempat ke toilet, urine sudah keluar dulu tanpa bisa ditahan lagi.

Inkontinensia Urine
Inkontinensia Urine. Gambar: elshinta.com

Kapan Kita Perlu Curiga Menderita Inkontinensia Urine dan Perlu Segera Memeriksakan diri?

Kasus inkontinensia urine ini ada yang ringan dan hampir tanpa gejala, namun ada pula yang berat, yang gejalanya tampak nyata. Gejala yang paling sering terjadi adalah merembesnya urine saat tertawa, bersin, atau batuk. Bisa pula sudah merasa ingin buang air kecil dan sedang berjalan ke toilet, namun urin sudah merembes duluan. Gejala ringan ini sering dianggap biasa dan diabaikan. Padahal penanganan sedini mungkin akan mencegah kondisi menjadi semakin parah. Kalau kondisi sudah parah, bisa jadi urin keluar setiap jam dan kita membutuhkan popok demi tidak mengganggu aktivitas harian. Kebayang tidak sih apa rasanya baru berusia 35 tahun atau 40 tahun sudah pakai popok? Penderita Inkontinensia Urine di usia produktif juga jadi lebih rentan mengalami gangguan psikologis akibat terlalu sering buang air kecil, bau tak sedap akibat rembesan urine yang sering keluar, kurang tidur, dan yang pasti juga mengalami gangguan pada kehidupan seksualnya (bagi yang telah berumah tangga). Itu sebabnya, gangguan ini harus segera diobati.

Cara Mengobati Inkontinensia Urine

Dalam acara seminar di RS YPK Mandiri, ada salah seorang pengunjung yang menanyakan bisakah penyembuhan Inkontinensia Urine (IU) melalui konsumsi obat dan melatih otot dasar panggul dengan senam kegel? Dr. Budi Iman Santoso, menyebutkan bahwa melatih otot dasar panggul dengan senam kegel termasuk upaya pencegahan dan bagus kalau dilakukan secara rutin. Namun jika sudah mengalami IU, latihan otot dasar panggul ini sudah tak berguna lagi.

Konsumsi obat khusus untuk masalah buang air kecil ini juga bisa, tetapi tidak bisa menyembuhkan secara total. Konsumsi obat dalam jangka waktu lama juga tak bagus bagi kesehatan dan fungsi ginjal. Alangkah lebih baiknya kalau merasakan gejala IU, segera memeriksakan diri terlebih dahulu untuk mendapatkan diagnosis yang tepat dan saran terbaik untuk mengobatinya. Pemeriksaan Inkontinensia Urine bisa dilakukan di RS YPK Mandiri. Beberapa tes yang biasanya akan dilakukan dokter, seperti:

  1. Uroflowmetry
    Pemeriksaan uroflowmetri adalah pemeriksaan untuk mengukur jumlah urin dan kecepatan keluar urin untuk mengetahui ada tidaknya gangguan di saluran kemih.
  2. Urodinamic
    Pemeriksaan urodinamik adalah serangkaian tes yang dilakukan untuk menilai fungsi dan kondisi saluran kemih bagian bawah, seperti kondisi ginjak, ureter, kandung kemih, otot sfingter, dan uretra.
  3. Sitoskopi
    Pemeriksaan sistokopi adalah pemeriksaan berisiko rendah untuk mengetahui kondisi uretra dan kandung kemih menggunakan sistokop. Sistokop adalah tabung lentur atau kaku dengan kamera dan sumber cahaya pada ujungnya, yang bergerak melalui uretra masuk ke kandung kemih.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai pemeriksaan yang akan dilakukan bagi siapa pun yang mengalami gejala Inkontinesia Urine, bisa langsung datang ke RS YPK Mandiri. Di sana nanti akan dijelaskan tindakan apa saja yang perlu dilakukan. Selain itu, di sana juga tersedia pemeriksaan lain berkaitan untuk meningkatkan kualitas hidup wanita, seperti:

  • USG Pelvik dan Transperineal.
  • Perineometri.
  • Portascan.
  • Uroflowmetry.
  • Urodinamic.
  • Histerescopy Office/Sitoscopy.
  • Femilit

2 Tindakan yang tersedia di RS YPK Mandiri:

  1. Tindakan Non Bedah
    Tindakan non bedah, seperti: femilift laser vaginal rejuvenation, femilift SUI, femilife labia brightening, femilofe labia tightening, uroste, dan masih banyak lagi.
  2. Tindakan Bedah Estetika
    Tindakan bedah estetika, seperti: vaginaplasti, hymenoplasti, reparasi fistula, PRP, labio reduction mayora, dan tindakan lainnya yang diperlukan.

Untuk mengenal inkontinensia urine dan cara mengobatinya, lakukan pemeriksaan terlebih dahulu di RS YPK Mandiri ya. Ada beberapa kasus yang menunjukkan gejala UI, namun setelah dilakukan pemeriksaan lebih detail ternyata bukan. Itu sebabnya perlu berkonsultasi dan melakukan pemeriksaan terlebih dahulu demi mendapatkan diagnosis yang tepat.

1 COMMENT

  1. Sy pernah begini nih mba, saking macetnya naik bus. Bingung pengen kencing dimana.

    Nahan, malah keluar sedikit. Cape deh! Akhirnya beli CD di supermarket. Thx mba informasinya bermanfaat banget.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here