Menjadi Pribadi Produktif dengan Rumus 3 Hal untuk Jalani Masa Pandemi

Hari ini saya akan berbagi rumus 3 hal yang membantu saya jadi pribadi produktif di masa pandemi. Ini hanya berbagi cerita saja ya, tanpa bermaksud menggurui atau apalah. Ambil saja yang baiknya dan hilangkan yang buruknya. Sesederhana ini hidup. Baca hal-hal yang bisa membantu meningkatkan produktivitas kerja, dan tinggalkan yang hanya menghabiskan waktu percuma.

Hidup ya begitu. Manusia ya begitu. Maafkan saya untuk cara berpikir dan cara pandang saya yang mungkin tampak aneh bagi orang lain (Pewe saja suka merasa aneh kok dengan cara saya berpikir, hidup, bahkan katanya kalau saya bernapas pun kadang ya terlihat aneh… hahaha).

Intinya sih, hanya ingin berbagi semangat (sedikit) bahwa kondisi apa pun yang sedang kita hadapi saat ini, jangan berputus harapan. Jangan menyerah. Meski Indonesia sedang tidak baik-baik saja, akan selalu ada cara untuk tetap baik-baik saja.

Berpikir Baik Menjadi Baik

Pandemi Covid-19 di Indonesia sudah memasuki tahun ke-2. Selama 1,5 tahun ini, hampir semua orang berusaha keras beradaptasi dengan perubahan yang terjadi, termasuk saya. Ketika awal kabar adanya pandemi, saya sempat khawatir.

Bagaimana nasib saya dan Pewe, suami istri bekerja secara freelance? Berapa lama kami bisa bertahan kalau sampai tak ada pekerjaan? Cukupkah tabungan yang kami punya seandainya terjadi sesuatu?

Tapi di saat yang sama, saya tetap berusaha optimis. Apalagi ada lagu yang sering Mama nyanyikan di masa kecil, dan saya ingat dengan baik hingga hari ini.

Jangan kamu khawatir.
Burung di udara Dia pelihara.
Bunga di padang Dia hiasi.
Jangan kamu khawatir apa yang kamu makan, minum, pakai.
Bapa di surga memelihara.

Hmm, jangan khawatir. Semua akan baik-baik saja. Dua kalimat ini sering sekali terucap mudah dari mulut. Tapi namanya manusia, tetap saja sulit untuk tidak merasa khawatir, terutama kalau sudah berhubungan dengan kenyamanan yang mungkin terganggu atau hilang.

Rumus 3 Hal untuk Pengembangan Diri

Saya tidak menemukan kata yang tepat nih untuk menyebutkan rumus yang saya gunakan selama ini untuk melakukan pengembangan diri dan meningkatkan produktivitas kerja. Ya, sudah, mari kita sebut saja rumus 3 hal untuk pengembangan diri ya.

Cerita dimulai saat ada isu kemunculan virus baru di akhir 2019. Ketika itu, yang ada dalam pikiran saya hanyalah waspada dan perlu sesegera mungkin melakukan berbagai persiapan. Oh tunggu, saya tidak tahu akan ada pandemi yang berlangsung sedemikian lama. Tapi kebiasaan membaca berita, membaca buku, dan juga menulis, membantu saya memahami berbagai kemungkinan.

Bukankah ada pepatah yang mengatakan, “Sedia payung sebelum hujan.” Artinya, selalu berjaga-jaga dan waspada dengan selalu sedia “payung”. Jadi saat hujan datang, kita tak basah. Yah, semacam ini.

Ada beberapa hal yang saya lakukan sebagai persiapan. Saya menganalisis semua hal yang bisa saya lakukan, yang saya kuasai dengan baik, dan segala sesuatu yang bisa saya kontrol. Karena saya terbiasa menulis jurnal harian, ini cukup memudahkan saya.

Selanjutnya, saya menuliskan semua hal yang saya butuhkan sebagai modal saya melangkah dalam bentuk Rumus 3 Hal yang jadi artikel ini, yaitu:

3 Hal yang Bisa Saya Lakukan

Pada bagian ini, saya cukup menulis 3 hal yang benar-benar bisa saya lakukan, apa pun kondisinya. Karena saya pekerja freelance dengan pekerjaan dan penghasilan yang tidak pasti, jelas pada bagian ini perlu dipikirkan dengan matang. Maka 3 hal tersebut, seperti:

  • Mencari peluang pekerjaan lain dari yang biasa saya lakukan.
  • Membuka daftar jaringan dan mencoba kontak kembali mereka yang sempat tak lagi terhubung.
  • Mendata aset dan menghitung ketersediaannya dalam jangka waktu tertentu, termasuk merancang rencana cadangan jika terjadi sesuatu yang tak diinginkan.

3 Hal yang Saya Kuasai dengan Baik

Setelah menyusun 3 hal yang bisa saya lakukan (dengan segera), berikutnya yang harus saya cari tahu adalah kemampuan atau keahlian apa saja yang saya miliki. Contohnya:

  • Menulis dengan baik, dalam bentuk buku fiksi, nonfiksi, artikel dengan berbagai tema.
  • Kemampuan belajar dengan cepat dan membaca cepat untuk hal-hal baru, bahkan yang sebelumnya tidak dikuasai dengan baik.
  • Meski belum benar-benar ahli, saya cukup mampu menyusun strategi kreatif, terkait konten, aktivitas menulis dan blogging, serta strategi kerja harian untuk saya pribadi dan Pewe (he is a technical man, not a strategic).

3 Hal yang Bisa Saya Kontrol

Nah ini yang paling penting. Saya belajar dari buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring. Di dalam buku tersebut banyak filosofi Stoic yang bagus untuk diterapkan dalam kehidupan.

Mengingat situasi dan kondisi, baik yang berhubungan dengan manusia (orang lain), alam, atau peristiwa, tidak bisa saya kontrol, maka fokus saya adalah hanya pada segala sesuatu yang bisa saya atur, kelola, dan benahi.

Tiga hal yang bisa saya kontrol kemudian saya masukkan dalam tabel yang sudah saya buat, yaitu:

  • Pikiran dan motivasi diri saya sendiri.
  • Pengelolaan waktu yang lebih baik.
  • Apa yang perlu dan yang tidak perlu saya kerjakan.

Menjadi Pribadi Produktif Itu Pilihan

Dalam blog saya ini, cukup sering yang menuliskan artikel dengan tema produktivitas dan cara menjadi pribadi produktif. Seperti:

Seingat saya, sejak memutuskan menjadi freelance, memang menjadi produktif itu seperti obsesi buat saya. Ada baiknya, ada buruknya, memang. Hanya saja saat ini saya ingin mengatakan, menjadi pribadi produktif itu pilihan.

Itu sebabnya, setelah menyusun rumus 3 hal untuk pengembangan diri, saya pun mulai melakukan langkah-langkah yang diperlukan agar tetap bisa bekerja dan berkarya secara produktif meski di rumah saja. Berikut cara menjadi pribadi produktif yang saya lakukan berdasarkan rumus 3 hal:

Melihat Peluang dan Langsung Laksanakan

Sekali lagi, saya tidak tahu akan ada yang namanya pandemi dan memaksa semua orang melakukan perubahan besar dalam menjalani hidup, salah satunya terpaksa bekerja dan sekolah dari rumah. Hanya saja, yang saya lihat di akhir 2019 itu adalah adanya peningkatan aktivitas digital.

Jadi setelah saya menghitung aset dan tabungan yang tersedia, saya dan Pewe memutuskan untuk investasi membangun beberapa blog sekaligus dari luar blog utama kami. Dari yang awalnya hanya punya dua blog, yaitu monicaanggen.com dan pe-we.com, kami jadi punya sekitar 10 blog.

Kehadiran 10 blog baru jelas menambah kerjaan baru pula bagi kami. Otomatis ada waktu khusus yang harus disediakan untuk membangunkan secepat mungkin 10 blog tersebut agar segera bisa menghasilkan.

Upaya ini kami lanjutkan 3 bulan kemudian ketika 10 blog sebelumnya mulai ada pemasukan. Begitu penerapan PSBB diberlakukan di Indonesia, kami sudah punya sekitar 20 blog dan semuanya bisa digunakan sebagai saluran penghasilan baru.

Membuka Jaringan dan Bekerja Sama

Saya kan awalnya bukan blogger, tapi penulis buku. Hanya karena Pewe sempat sakit dan butuh support untuk come back lagi ke dunia nyata, saya melepaskan sejenak kegiatan menulis buku.

Saya fokus belajar bareng Pewe semua hal tentang digital, mulai dari cara bangun blog, membangun media sosial, belajar digital marketing, SEO, creative content, copywriting, bahkan desain sederhana biar bisa bikin foto atau ilustrasi yang (minimal) enak dilihat.

Tapi entah kenapa, sekitar bulan Desember 2019 itu pula, keinginan untuk kembali menulis buku menggebu-gebu dalam hati saya. Inilah yang kemudian mendorong saya untuk menghubungi para editor yang dulu kerja bareng saya (yang sempat putus kontak karena beliau pernah ganti nomor ponsel dan kesibukan saya merawat Pewe yang sakit sampai sibuk merintis karir sebagai blogger… hahaha.

Kontak pertama dilakukan segera dan komunikasi kembali terjalin. Kami sama-sama belum tahu juga mau bikin apa, wong secara bersamaan kami cuma bilang, “Kita bikin best seller kayak dulu lagi yuk.” Hanya ini.

Semesta mendukung. Dari banyak percakapan yang kami lakukan setelahnya, memang ada beberapa project menulis buku yang kami kerjakan bersama. Lalu tanpa diduga, permintaan untuk menulis buku secara ghostwriter juga meningkat.

Menolong Orang = Menolong Diri Sendiri

Awalnya saya sempat berpikir. Duh, kok sayang ya. Sudah lama saya tidak menerbitkan buku atas nama sendiri, lalu sekarang kembali ke dunia menulis buku malah menulis untuk orang lain. Di saat yang sama, suara hati saya malah bilang gini, “Kamu menolong orang, nanti kamu akan tertolong.” Ah, baiklah. Mari saling tolong menolong saja.

Di titik ini, saya jadi ingat lagi nasihat Papa, “Memberi dalam kekurangan tidak akan membuat diri kita jadi kekurangan kok. Menolong orang lain sebenarnya sama dengan kita menolong diri sendiri.”

Inilah yang kemudian terjadi. Ketika dua buku dengan misi nolong orang tadi selesai, malah antrian proyek menulis buku selanjutnya datang silih berganti. Salah satunya lumayan pakai banget, walaupun namanya lumayan pastilah tekanan dan effort kerjanya ya lumayan.

Di saat bersamaan, kekhawatiran saya tentang job blogging yang ada kemungkinan sepi, masih tetap ada kok. Gantian datangnya. Selesai satu, dilanjutkan satu, lalu satu lagi, terus saja sambung menyambung.

Syukur sungguh tak terkatakan. Seperti burung di udara dipelihara dengan baik, begitu pun manusia ya, jelas juga akan dipelihara dengan baik. Tinggal manusianya saja, mau tidak dipelihara olehNya? Mau tidak terus bergerak? Mau tidak pantang menyerah dan tetap semangat berikhtiar?

Sepanjang masa pandemi diikuti PHK besar-besaran terjadi di mana-mana. Brand papan atas yang sudah sangat lama bertahan dan jadi juara, tutup satu persatu. Dan ketika teman-teman lain mengeluh aliran job digital berkurang secara signifikan, saya dan Pewe malah amat sangat sibuk. Bahkan kami akhirnya harus bikin tim supaya semua pekerjaan bisa diselesaikan dengan baik, tepat waktu, dan dengan hasil yang baik.

Oh satu lagi nih, ketika banyak yang bilang tahun 2020 adalah tahun yang sulit, saya tak memungkiri hal ini. Kesulitan ya tetap ada. Namanya hidup, masalah ya ada-ada saja.

Tapi di tahun tersebut, kami bahkan bisa membuat beberapa kali kelas gratis dengan membayar guru untuk mengajar, menyediakan tools dan materi, berbagi merchandise, juga meluncurkan website BRTNetwork tempat teman-teman bisa titip tulisan.

Tujuannya cuma satu, berbagi tidak ada ruginya. Berbagi peluang dan kesempatan yang sama. Berbagi ilmu untuk modal utama kerja, mencari tambahan penghasilan, dan agar bisa sama-sama bertahan melalui masa pandemi ini.

Fokus pada Hal-hal yang Bisa Dikontrol

Pada poin 1 dan 2, saya mengaplikasikan hal-hal yang bisa saya lakukan dan yang saya kuasai dengan baik, sebagai modal utama saya untuk tetap bisa berkarya dan menjadi pribadi yang lebih produktif. Lalu pada poin ke-3 ini, menurut saya inilah yang paling penting dan paling bisa membantu saya meningkatkan produktivitas kerja sehari-hari saya.

Fokus pada hal-hal yang bisa saya kontrol di sini bisa diartikan secara sederhana sebagai fokus hanya pada segala sesuatu yang bisa kita kendalikan. Contohnya: kegiatan harian, mau kerja yang mana, perilaku, pikiran, perasaan, bahkan mau menghabiskan energi untuk apa.

Masih bingung? Oke, saya coba kasih contoh dalam bentuk poin-poin kasus saja ya.

  • Ketika ada seseorang yang sibuk membicarakan hal-hal baik dalam tanda petik tentang kita, apakah kita bisa mengatur dan mendikte orang tersebut untuk tidak membicarakan kita?
  • Ketika pandemi terjadi, apakah kita bisa menghalau dan mengusir pandemi seketika
  • Tentang musibah, sakit, kejadian tak terduga lainnya, bisakah kita mengontrol agar semua itu tidak terjadi?

Hmmm… Semua poin di atas itu hanya contoh kejadian atau peristiwa yang terjadi di luar kehendak kita. Iya, kita tak bisa bilang, “Hei Corona, sana pergi!” atau “Hei gempa, jangan datang!” Itu jelas tak mungkin.

Hal yang bisa kita lakukan adalah melakukan persiapan. Kalau ada banyak yang membicarakan kita di luar sana, baik atau buruk, ya bagus juga. Makin terkenal tanpa kita bersusah payah memperkenalkan diri. Hahaha.

Menjadi Pribadi Produktif dengan Rumus 3 Hal

Akhir-akhir ini, banyak warning tentang kemungkinan terjadi banjir, gempa bumi, dan sebagainya. Coba lakukan persiapan sebagai fokus kita untuk hal-hal yang bisa dikontrol, misalnya menyiapkan tas bencana.

Tahu kan tas bencana apa? Itu loh satu tas isinya barang kebutuhan selama 3 hari, lengkap dengan dokumen, surat-surat penting, uang cash, dan sebagainya, yang siap kita angkat ketika bencana alam terjadi mendadak.

Contoh lain tentang fokus pada hal yang bisa kita kontrol. Kita tak bisa mengusir pandemi. Menghabiskan energi juga kalau kita sibuk mengutuk si Corona atau orang-orang yang tak aware hingga membahayakan diri sendiri, keluarga, dan orang lain.

Perilaku dan cara hidup orang itu jelas bukan urusan kita. Mending kita fokus ke diri kita sendiri (dan tentu saja keluarga). Baca berita mengenai perkembangan virus, penyebaran, cara penanganan, bahkan tentang penanggulangan dan vaksinasi, penting dilakukan.

Baca berita jadi salah satu kegiatan wajib yang saya lakukan setiap hari. Selanjutnya, fokus arahkan saja pada upaya meningkatkan imunitas tubuh. Jaga kesehatan. Terapkan protokol kesehatan. Jaga diri kita baik-baik, itu fokus kita.

Rahasia berikut agar bisa meningkatkan produktivitas kerja, jadi pribadi produktif, dan bisa menyelesaikan lebih banyak pekerjaan, kurangi scrolling di media sosial. Ini terdengar aneh tidak sih, mengingat saya juga pegiat media sosial dan kerjanya juga banyak di media sosial? Tidak.

Ada caranya kok mengurangi distraksi atau procrastination. Tahu, kan, procrastination itu apa? Procrastination adalah kebiasaan menunda-nunda pekerjaan. Banyak orang kerap melakukannya, baik secara sadar maupun tidak sadar. Biasanya godaan untuk menunda pekerjaan ini seringnya karena kebanyakan kepo di media sosial.

Nah, terus bagaimana dong? Satu sisi mau mengurangi media sosial. Di sisi lain, kerjaan ya banyak di media sosial. Di semua platform media sosial itu kita bisa atur berbagai fitur yang tersedia.

Saya masih aktif di semua media sosial, tapi ya memang seperlunya dan kalau ada pekerjaan saja. Saya akan menandai akun-akun favorit dengan menyalakan notifikasi. Tujuannya, supaya saya tak tertinggal berita. Sisanya, saya cuma baca sekilas dan secukupnya saja. Cukup tahu, tanpa mau menghabiskan waktu di sana. Begini sih yang saya lakukan biasanya.

Tetap Produktif, Fokus, dan Jadilah Diri Sendiri Apa Adanya Saja

Sudah panjang banget ini tulisan saya. Tapi semoga rumus 3 hal yang membantu saya jadi pribadi produktif dan bisa meningkatkan produktivitas kerja harian ini, juga bisa bermanfaat dan menjadi inspirasi bagi siapa pun yang membutuhkan suntikan semangat.

Kalau ada yang tanya, “Apakah saya sudah sukses?” Ya belum. Saya masih tinggal di kontrakan mungil begini jelas belum sukses ya. Tapi saya bersyukur. Sejak 2013 datang ke Jakarta dan tinggal di daerah sini, kami sangat baik kondisinya.

Tidak kena banjir (ini penting karena saya takut lintah dan binatang melata lainnya yang biasanya banyak muncul saat banjir). Jarang mati lampu juga di sini (Pertimbangan wajib saat memilih tempat tinggal karena saya takut gelap). Selain itu, di sini para tetangga semuanya yang memang perantauan pada saling bantu, saling jaga, dan tidak kepo urusan orang.

Takaran sukses tiap orang beda-beda. Daripada sibuk membandingkan diri dengan orang lain, sibukkan saja diri dengan melakukan kegiatan produktif, yang bisa bantu diri sendiri dan keluarga + bisa bantu orang lain.

Kalau ada lagi yang di akhir membaca artikel ini membatin dalam hati, “Sok baik bantu orang, padahal bukan orang baik!” Hmmm… iya, saya bukan orang baik. Pewe juga bilang begitu kok. Terlalu ceplas-ceplos dan gradak-gruduk, ini saya banget.

Saya bersyukur sangat karena Tuhan menciptakan Pewe dengan hati yang luas dan sabar luar biasa menghadapi saya yang kepala batu untuk banyak hal. Dan kami berdua, butuh waktu yang amat sangat panjang untuk bisa jadi pribadi produktif, mengejar tahun-tahun tertinggal di masa lalu akibat terlalu banyak terlena, dan tetap bersama hingga hari ini karena berkat Tuhan semata.

Pandemi kapan berakhir? Tidak ada yang tahu. Jadi, tetaplah semangat. Jalani hari sebaik-baiknya. Berbagi sebanyak mungkin jika bisa. Jadilah produktif dan tingkatkan terus produktivitas kerja demi bisa bertahan, bahkan mungkin bisa jadi lebih baik dari sebelumnya.

Jangan lupa, waspada dan bersiap-siaplah untuk apa pun yang mungkin terjadi karena dengan melakukan persiapan, kontroling sudah berada di tangan kita. Sisanya, ya hanya Tuhan yang tahu.

Tinggalkan komentar