Benarkah cinta pertama tak pernah mati?
Bagaimana jika ternyata takdir sudah terpatri?
Hidup sudah ditentukan awal dan bagaimana harus diakhiri
Cinta dalam hati pun bisa perlahan mati tanpa kita sadari
 
Kamu kembali 
Mengisi relung yang sepi
Berdiam di antara nyata dan mimpi
Tapi diam-diam aku menyesali
Karena kamu bukan kamu yang kukenali
 
Semua kenangan kita bagai foto berselimut debu
Berkisah tentang cinta yang telah berlalu
Dalam bayang-bayang tangis dan pilu
Airmata tanpa henti mengisi kalbu
 
Dua cinta hadir dan menunggu
Menyelinap diam-diam dalam satu waktu
Membuatku berkubang bimbang dan ragu
Hingga akhirnya aku tahu
Aku tak bisa mengubah atau pun mengulang masa lalu
 
Edelweiss itu abadi
Kenyataan itu tidak pernah kupungkiri
Kini hidupku bergulir kembali
Pada satu hati yang diam-diam menanti
Menunggu di ujung jalan yang kulewati
Berdiam di sana tanpa meminta pasti
Tapi rela menghabiskan hidupnya hingga kami berdua mati
***
Prolog
Ini terlalu menyakitkan. 
Protes menggema di dalam kepala Sasa. Berputar riuh tanpa henti. Di saat yang sama, ia tidak bisa mengalihkan tatapan matanya dari pemandangan yang tersaji di hadapannya. Segala hal yang ada di sekelilingnya terlihat buram. Ia sungguh tak percaya kenyataan seperti inilah yang harus dihadapinya.
Sasa menarik nafas panjang berkali-kali, mencoba meredakan debar di dadanya yang menghentak-hentak dan membuatnya kesulitan bernapas. Satu tangannya terangkat untuk mencari pegangan pada bingkai pintu yang persis berada di sebelahnya. Sasa limbung sesaat. Ini benar-benar terlalu menyesakkan.
Lalu dengan perlahan ia menatap
laki-laki itu. Laki-laki yang sedang berusaha mengenakan pakaian dengan sikap yang terlihat tak peduli. Sama sekali tak ada canggung atau pun rikuh. Meski apa yang dilakukannya berada di bawah tatapan mata Sasa yang terluka. Dengan santai, laki-laki itu menyelesaikan apa yang seharusnya diselesaikannya sedari tadi. Kepercayaan diri laki-laki itu terlihat begitu tinggi.
“Pergi, Sa! Menjauhlah dariku saat ini,” gumam laki-laki itu sambil meraih sebotol minuman di atas meja, lalu menuangkan isi botol berwarna kuning keemasan itu ke dalam gelas yang tidak seberapa jauh letaknya dari botol tersebut.
Sedikit pun Sasa tak berniat untuk beranjak dari tempatnya. Kalimat yang diucapkan laki-laki itu bagai bisikan samar yang tak bisa ia cerna maknanya. Ia mengalihkan pandangan matanya ke bagian lain ruangan. Seorang perempuan berambut pendek penuh highlight warna merah menyala terlihat berusaha keras menutupi beberapa bagian tubuhnya yang terbuka pada tempat yang tak seharusnya. Perempuan itu terlihat kacau balau. Ada geli yang menggelitik hati Sasa. Betapa bodohnya ia dan juga perempuan itu karena sudah begitu mudahnya terpesona pada laki-laki yang ternyata jelmaan iblis. Tanpa sadar, bibir Sasa tersenyum samar.
Sasa menolehkan kepalanya kembali pada laki-laki yang kini berdiri menghadap ke jendela kaca dengan gelas berada digenggaman tangannya. Laki-laki itu terlihat sama, penampilannya sama sekali tak berubah, masih sama seperti ketika Sasa menyadari dirinya jatuh cinta pada laki-laki itu. Nyatanya, ia sudah tidak mengenali laki-laki itu lagi. Laki-laki yang dulu dipuja dan dicintainya itu sudah tak ada lagi dan berganti dengan wajah malaikat yang berhati seribu dewa kematian.
Ke mana hilangnya laki-laki penuh perhatian yang menyayanginya?
“Pergi, Sa! Apa kamu tidak mendengar apa kataku?” Laki-laki itu berteriak seraya memutar tubuhnya menghadap Sasa.
Sekuat tenaga, Sasa berusaha mengulaskan senyum samar pada laki-laki yang kini menatapnya lekat-lekat, “Aku nyaris tak bisa lagi mendengar apa pun katamu.”
Begitu Sasa selesai menghentikan kalimat jawabannya, ia terpana. Sekelebatan tadi ia melihat luka samar membias di mata sehitam malam itu.
Bagaimana mungkin laki-laki itu bisa merasa terluka setelah ia melakukan segala kekacauan ini? 
Bukankah seharusnya hanya Sasa yang terluka dan menjadi korban yang mengenaskan?
“Berengsek! Aku bilang pergi ya pergi!”
Kali ini, bukan hanya teriakan saja yang terdengar. Namun gelas yang tadi dipegang laki-laki itu terlihat melayang, melewati sisi kanan kepala Sasa dan menghantam dinding yang ada di belakang tubuh Sasa. Suara kaca yang pecah terdengar. Keping pecahannya berserakan di lantai, tersebar di sekeliling kaki Sasa yang mendadak goyah.
“Beri satu alasan kenapa kamu melakukan semua ini padaku?” Sasa terkejut ketika menyadari nada suaranya terdengar begitu tenang. Ia mengulaskan senyum. Senyum yang membuat lidah dan seluruh rongga mulutnya terasa pahit. Matanya menatap laki-laki yang kini mengeluarkan sebatang rokok putih dan mulai mengisapnya. Lalu tak lama kemudian laki-laki itu mengembuskan asap putih dari mulut dan hidungnya dengan sentakan yang kasar.
“Jangan berpura-pura bodoh, Sa! Harusnya kamu sudah tahu apa yang membuatku melakukan semua ini!” sahut laki-laki itu yang kini merangsek maju ke arah Sasa dan membuat Sasa tanpa sadar mundur ke belakang. “Sekarang pergilah!” desisnya sambil menghamburkan asap nikotin persis di wajah Sasa.
Jadi semua ini salahku!
Sasa terpana.
Kalimat itu bergaung nyaring di kedua telinganya. Terlalu memekakkan. Sasa merintih dalam hati. Nyeri yang menusuk ulu hati membuat kedua kakinya terpaku di lantai. Ia tak mampu menggerakkan kakinya untuk berlari meninggalkan ruangan itu. Ia tak bisa bergerak. Ia tak bisa ke mana pun. Kenyataannya, ia membenci laki-laki yang kini berdiri persis di hadapannya sekaligus tak rela pula untuk melepaskannya. Rasa sakit yang dirasakannya ini, ia tak sanggup menanggungnya sendirian. Ia pernah kehilangan laki-laki itu, dan kini ia harus kehilangan lagi. Masih bisakah ia bertahan?
Mendadak Sasa terkesiap ketika ada tangan kekar yang dingin menyentuh pundaknya. Rasa dingin itu menembus blouse yang dikenakannya dan merambati seluruh permukaan kulitnya. Hampir saja ia mengira kalau laki-laki yang berada di depannya itulah yang sudah menyentuh pundaknya. Ternyata bukan.
Ada laki-laki lain yang hadir di antara mereka, persis di belakang tubuhnya.
“Kita pulang, Sasa,” bisik laki-laki yang berdiri di belakangnya itu menurunkan tangannya untuk menggenggam tangan kanan Sasa dengan erat. Laki-laki kedua ini terdiam sesaat, membiarkan Sasa memutuskan sendiri apa yang ingin dilakukannya.
Sasa menganggukkan kepala. Laki-laki itu mengulurkan tangan kanannya untuk merangkul pundak Sasa dan mulai membawa Sasa keluar dari neraka kecil itu. Seolah-olah, dengan rengkuhan tangannya, laki-laki itu hendak menawarkan sebuah perlindungan yang aman dan memabukkan.
Mereka berjalan bersisian. Lorong apartemen yang dilalui Sasa terasa sangat panjang. Selangkah demi selangkah terasa semakin berat. Rasanya bagai berjalan di atas lantai yang penuh dengan taburan paku.
“Apa kamu baik-baik saja, Sa?”
Sasa menolehkan kepalanya dengan cepat dan menatap laki-laki yang berjalan di sebelahnya dengan pandangan mata nanar. Ditatapnya wajah laki-laki yang terlihat cemas, dengan mata penuh kesedihan dan keprihatin itu. Gema pertanyaan itu tertinggal  di dalam kepala Sasa. Menyesakkan sekaligus menggelikan. Ingin rasanya Sasa tertawa saat itu juga. Tertawa sekeras-kerasnya dengan mata yang bersimbah air bagai hujan deras.
Kenapa pertanyaan bodoh itu yang harus didengarnya sekarang?
Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat dan membiarkan rasa karat merembes di sela-sela giginya. Tiba-tiba saja ia merasa muak. Ia benci laki-laki yang berdiri di sebelahnya itu. Laki-laki yang sebenarnya sudah menyelamatkan hatinya dari kehancuran yang lebih parah. Tapi jika laki-laki di sebelahnya ini mencintainya, kenapa tidak ada apa pun yang dilakukannya untuk membela Sasa? Sasa membenci kelemahan. Sasa benci jika harus selalu dirinya yang mengambil keputusan.
“Sasa ….”
“Aku baik-baik saja,” potong Sasa cepat. Ia sudah tidak mau mendengar apa pun lagi. Rasa panas menyerang matanya. Membuat pandangannya perlahan buram. Dadanya yang sesak seolah ikut bekerja sama untuk menambah buruk suasana yang harus dialaminya. Sesak. Nyeri. Segala rasa bercampur aduk menjadi satu dan membuat ia tak mampu lagi mengisi paru-parunya.
Bagaimana mungkin ia masih bisa tersenyum setelah apa yang dilihatnya? 
Bagaimana bisa ia dengan santainya mengatakan semuanya baik-baik saja?
Sepertinya ia sudah gila! 
Dan di detik berikutnya, ketika kedua matanya tak mampu lagi melihat apa yang ada di hadapannya, Sasa jatuh berlutut.
Ternyata ia tak sekuat yang diduganya.
Ia hancur.
Ia nyaris histeris
Hatinya mati!
***
Apakah Edelweiss itu memang abadi?
Nyatanya tidak! Cintamu ternyata tidak seabadi Edelweiss yang kau beri.
Lalu siapa cinta sejatiku yang sesungguhnya?
Kenapa cinta jadi begitu melelahkan? Kenapa rasanya sakit sekali?
***
Harusnya Sasa merasakan kebahagiaan ketika Ari kembali padanya. Kenyataannya, laki-laki yang berhasil hidup lagi setelah sekian lama terjerat gelapnya hidup dalam keadaan koma tidak membuat Ari menjadi lebih baik.
Ada luka yang disimpan oleh laki-laki itu hingga membuat hidup Sasa, hidupnya sendiri, dan hidup Rudi bagai neraka. Mereka bertiga berkutat dalam masalah yang tak ada habisnya. Kecemburuan, kebencian, perkelahian, hingga rasanya bagai hidup dalam lingkaran setan yang berputar tanpa henti.
Ari kembali turun ke jalan, jadi pembalap gila yang rela menyerahkan nyawanya pada iblis penjaga malam. Rudi masih tetap dengan setia di sisi Sasa, berdiri di pojokan, menatap Sasa penuh sayang, dan menjaga perempuan itu hanya demi membahagiaan Sasa.
Sayangnya bukan itu yang diinginkan Sasa.
Cinta ternyata tidak sesederhana itu.
Ada banyak hal yang harus dipikirkan.
Lalu siapa cinta sejati Sasa sesungguhnya?
Apakah Rudi?
Ataukah masih Ari?
Lalu siapa laki-laki sinting yang selalu ada di mana pun ketika kekacauan terjadi?

 1,300 total views,  2 views today

2 KOMENTAR

  1. prolog yang luar biasa! saya sungguh penasaran dengan isi novel ini. insyaallah, kalau ke kota nanti saya cari novel ini di toko buku.

  2. Hai, Mb. Ulum. Terima kasih banyak sudah mampir di blog ini ya. Terima kasih juga sudah berkenan mencari novel ini. Ditunggu review, masukan dan sarannya ya 🙂

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here