Sumber Gambar : unknown

 

Hari pertama di bulan Agustus 2013.
Entah kenapa, akhir-akhir ini aku merasakan pemikiran dan pandanganku akan hidup mulai berubah. Awalnya aku ketakutan sendiri karena merasa kalau semua yang kualami akhir-akhir ini adalah sebuah penurunan. Namun setelah berdiskusi dengan Mr. PW, aku malah menemukan banyak hal baru.

 

1. Ambisi
Empat bulan terakhir ini, aku merasa kalau aku tidak lagi bernafsu mengejar sesuatu yang di luar kemampuanku. Sejak kepindahanku ke Jakarta akhir Maret 2013 lalu dan memulai kembali kehidupan sebagai anak kost, ambisiku untuk ini dan itu nyaris tidak ada lagi.
Aku malah mulai
belajar kembali menyusun rencana harian yang harus kukerjakan. Ada waktu yang harus kubagi antara menyiapkan makanan, atau terpaksa jalan keluar cari makan. Dulu, waktu di Semarang, aku tidak pernah memusingkan hal tersebut karena Mama Mertua tercinta sudah memasak makanan untuk kami semua yang ada di rumah itu.
Belum lagi tetek bengek lain seperti urusan mencuci pakaian, dan lain sebagainya. Di kost tidak ada mesin cuci kan? Jadi harus cuci pakai tangan dan itu cukup membuang waktu. Selain itu, PW yang biasanya bagi tugas denganku mengurusi urusan logistik juga pergi pagi dan pulang malam, sehingga sering kali ia cuma bisa membantuku kalau hari Sabtu atau Minggu saja.

Aku juga mulai harus membagi kehidupanku dengan lebih memperhatikan kedua orang tuaku. Aku jadi semakin sering pulang ke Banjarmasin, untuk anakku dan orang tuaku. Jelas berpindah tempat selalu menimbulkan jeda bagiku untuk kembali menyesuaikan diri. Dan ambisiku untuk terus bekerja harus dikurangi porsinya agar semua yang membutuhkan perhatianku bisa mendapatkannya.

Aku tidak mau kehilangan waktu dan kesempatan lagi untuk berkumpul bersama keluarga. Entah keluarga yang di Banjarmasin, keluarga di Semarang atau pun berkumpul dengan adik-adik di Surabaya. Jangan sampai kehabisan waktu, karena waktu tidak memberi peringatan. Aku tidak mau suatu saat hanya bisa berkumpul ketika ada salah seorang di antara kami meninggal. Itu sudah sangat terlambat, kan?

Masalah ambisi ini juga berkaitan dengan naskah.
Dulu, dalam sebulan, aku bisa merampungkan beberapa naskah sekaligus.
Sekarang, tidak lagi.
Dulu, aku berpikir kalau seorang penulis itu hanya perlu menulis naskahnya dan begitu selesai baca sekali lalu kirim. Sisanya biarkan editor yang merapikannya.

Namun sejalan dengan waktu, aku merasa kalau naskah yang sudah rapi jauh lebih baik daripada menyerahkan naskah asal jadi. Karena itulah akhirnya aku berusaha membuat naskahku serapi mungkin. Minimal tidak terlalu banyak salah ketik.

Hasilnya?

Pekerjaan di editor jauh lebih cepat. Naskah jadi cepat naik cetak. Proses seleksi di editor akuisisi juga jauh lebih cepat. Meski kadang-kadang masih ada juga sih naskah yang ternyata belum layak terbit dan harus melalui proses revisi atau perbaikan.

Namanya manusia, tidak ada yang sempurna, kan?

Oh iya, masalah ambisiku yang menurun ini juga terasa aneh sekali.
Kalau dulu, aku selalu berusaha mengejar berlian yang nyatanya meski aku tidak tidur beberapa malam, tidak pernah berhasil kudapatkan bahkan untuk ukuran terkecil sekali pun. Lalu aku berusaha lagi dan lagi, mengorbankan jam tidur, mengejar berlian impian yang menjuntai ketinggian. Hasilnya hanya stress, tangan mati rasa, sering sakit dan tidak bahagia.

Sekarang cukuplah bisa membeli emas meski dalam berat yang kecil. Bukankah sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Tidak usahlah bermimpi mendapatkan berlian karena emas juga sudah membahagiakan. <<<< Analogi aneh ini jangan dipercaya. Tidak bisa beli emas pun cukuplah bisa beli buku-buku impian yang bisa kupelajari dan kubaca :v

Seperti yang dulu dikatakan Papaku. Jadi penulis itu hanyalah sebuah cita-cita untuk menjadi gelandangan.
Ah, aku belum bisa mengatakan kalau aku sukses dan kaya raya. Tapi paling tidak aku adalah gelandangan yang paling berbahagia saat ini. Gelandangan yang bisa bepergian ke mana pun yang kuinginkan, gelandangan yang kaya akan buku. Gelandangan yang bisa makan tiga kali sehari, bahkan bisa sesekali naik pesawat.

Lagi nih ya, kalau terlalu bernafsu membeli sebuah rumah mewah, jelas itu sangat melelahkan kan? Bikin frustasi karena kenyataannya, rumah mewah susah sekali didapat meski sudah menulis banyak sekali naskah.

Mending berpikir beli Wrangler aja deh, nanti tidurnya di tenda…
wkwkwkwk… mulai ngaco dah :p

2. Masalah Hati

Aku sangat moody. Itu kuakui dan nyaris susah kuhilangkan meski secara perlahan aku berusaha memperbaiki diri. Dan tetap saja, ada banyak bantuan dan dukungan dari orang-orang sekitarku, terutama Mr. PW tercinta. Kesabarannya membuatku malu kalau aku meributkan hal-hal kecil dan sepele.

Sejak tinggal di Jakarta, nge-kost di sebuah rumah kost yang kamarnya berupa petak-petak dan mayoritas laki-laki, ternyata membuatku merasakan ketenangan aneh di tengah keriuhan. Sebagai perempuan yang bersuami, aku jelas tidak bisa dengan mudah berbicara dengan mereka. Aku lebih suka berdiam di kamar, menghadapi laptop dan hanya sesekali bergabung kalau suami ada di rumah dan sedang kumpul-kumpul dengan para tetangga yang ada di samping kiri dan kananku.

Rumah kost ini tidak bisa dianggap sebagai sebuah rumah yang tenang. Para lelaki selalu berisik. Belum lagi ada kegiatan bermain musik seminggu tiga kali yang dilakukan persis di depan kamarku. Tapi itu tidak jadi masalah karena ternyata keriuhan itu malah bikin hidup jadi seru.

Dulu aku beranggapan kalau aku tidak bisa menulis kalau berisik. Kenyataannya, keriuhan dan keberisikan yang terjadi di sekitarku malah membuatku menemukan hal-hal baru. Contohnya :

  • Pak Tukang yang joget sambil nge-cat. Lalu berkaraoke sepanjang hari dengan perpaduan yang aneh : Lenka – Rhoma Irama – Sahrul Khan. Benar-benar membuatku terbahak sambil mengintip di jendela kamar.
  • Para lelaki yang latihan musik dan aku mendengar penyanyinya menyanyikan “Good Time” milik Owl City, jauh lebih bagus dan lebih keren dari penyanyi aslinya.
  • Para mahasiswa yang berlatih musik dengan alat musik seadanya tapi bisa menciptakan harmonisasi yang keren. Drum dari box speaker. Gitar akustik yang dimodifikasi berbunyi bas. Dan perpaduan musik mereka unik, ada pemain harmonika, saxophone, biola, drum, gitar tapi lagu yang dimainkan punyanya METALICA
  • Kami penghuni kost di sini punya delivery Aqua yang ditelpon dan bisa langsung datang. Seorang bapak tua gendut dan botak serta naik motor butut yang suaranya berisik tapi kalau masuk ke halaman rumah kost yang sedikit menanjak, si bapak itu terpaksa berteriak minta bantuan dorong.
  • Kadang kala, kami makan bersama. Aku akan masak nasi. Lalu ada yang pesan seporsi ayam mentega, seporsi mie goreng yang pesan di warung depan, indomie rebus pakai telur. Dan semua makanan itu dikeroyok rame-rame. Bahkan dua kucing piaraan anak-anak sini juga kebagian jatah
  • Yang lebih seru kalau setiap penghuni kamar sedang bermain game Dota. Mereka berteriak riuh, memaki, mengejek, lalu gema tawa langsung memenuhi setiap sudut halaman yang terdiri dari tiga bangunan, dengan masing-masing bangunan terdiri dari 4-5 kamar. Pernah nonton sitkom di televisi kan? Nah rumah kost yang kutempati seperti itulah keadaannya.

Empat bulan ini, aku jauh lebih tenang. Memang kadang masih meledak, tapi dengan berusaha menjauhi hal-hal negatif yang hanya memicu perasaan sensitifku semakin kuat, aku jadi bisa melihat berbagai masalah dari sudut pandang berbeda.

Empat bulan lalu, aku mudah sekali tersulut. Seperti kompor yang tiba-tiba bisa meledak padahal hanya tersulut api kecil yang tak berarti. Aku sempat sangat kecewa ketika orang-orang yang dulu begitu dekat denganku mulai menyingkir perlahan, menjauhi dengan alasan yang tidak kutahu. Aku merasa sedih karena pernah bertanya pada beberapa di antaranya, “Apa salahku?” dan “Kenapa kalian menjauhiku?”

Lagi-lagi, PW memberi nasihat dan pandangan padaku.

Kita tidak bisa menyenangkan semua orang. 

Kita juga tidak bisa selalu menjadi ‘tameng’ orang lain.
Yang perlu kita lakukan adalah tetap menjadi diri kita sendiri. Kalau mereka menjauhi kita tanpa kita tahu alasannya, itu urusan mereka sendiri. Kamu tetaplah menjadi dirimu. Berusahalah berbuat baik. Hindari mencampuri urusan orang lain. Urus urusanmu sendiri.Hei, aku jelas protes!

“Bukankah mereka dan aku bersahabat? Masa aku tidak boleh tahu apa salahku?

Kalau aku salah, aku minta maaf?”

PW hanya mengatakan kalau aku memang merasa salah, ya minta maaf. Kalau mereka tetap tidak mau berteman. Itu urusan mereka! Dan akhirnya itulah yang kulakukan, aku tidak lagi berusaha mencari tahu. Aku juga tidak lagi berusaha membuat semua orang senang padaku dengan memasang topeng palsu. Aku akan tetap menjadi diriku. Kalau mau berteman, mari berteman. Kalau tidak pun tidak apa-apa 🙂

Ketenangan hati ternyata kurasakan dengan berjalannya waktu. Aku lebih bisa menghargai diriku sendiri. Aku tidak sibuk dengan urusan orang lain. Dan aku tidak lagi merasakan kemarahan-kemarahan yang tidak perlu. Intinya, aku jauh lebih berbahagia sekarang dengan hidupku.

3. Masalah Sosialisasi

Ada perubahan yang terjadi selama empat bulan terakhir ini. Awalnya aku mengira kalau aku harus berusaha mencari banyak teman agar aku tidak kesepian. Kondisi PW yang selalu sibuk sepanjang pagi hingga malam dan baru bertemu denganku malam hari membuatku ketakutan. Ketiadaan teman lama yang menghilang dari hidupku juga salah satu faktor yang membuatku sempat down dan meratapi apa salahku. Aku tidak suka sendirian. Aku tidak suka sepi.

Nyatanya, tanpa aku harus mencari, apalagi sampai bersikap palsu, teman baru datang satu per satu.
Teman lama yang dulu jarang berinteraksi mulai berinteraksi dengan normal. Aneh kan?
Selama empat bulan terakhir ini, aku enjoy saja menikmati hari demi hari. Bahkan interaksi teman-teman di dunia maya jauh lebih baik. Aku bisa kapan saja ikut ngobrol dan berbincang dengan siapa pun. Saat aku tidak ingin membuka koneksi internet, aku tinggal matikan semua akses dan menikmati kesendirianku dengan membaca buku atau melakukan kegiatan apa pun yang kusukai. Tidak ada keharusan lagi untuk membalas pesan secepat yang kumampu, tidak ada keharusan untuk duduk di depan laptop setiap saat dan berinteraksi secara ekslusif dengan orang-orang tertentu.Aku yang sekarang bisa berbicara dengan siapa saja. Perubahan ambisi dan hati ternyata membawa perubahan besar dalam interaksi sosialku. Pikiran negatif berkurang, dugaan-dugaan tentang si A begini atau si B begitu tidak lagi kurasakan. ‘Indera keenam’ yang dulu rasanya galak sekali hanya menyala kalau aku memang berada dalam kondisi hidup dan mati…

Feel Free!
Itulah yang kurasakan saat ini yaitu saat di mana aku bisa berteman dengan siapa pun.

Yang lebih membahagiakan, ada banyak teman baru yang kukenal. Ada banyak perkenalan baru yang terjalin dengan jauh lebih mudah. Ada banyak pula percakapan dan diskusi seru dengan orang-orang yang dulu mungkin kuabaikan. Untuk kesalahan pengabaian yang dulu kulakukan, maafkan aku ya 🙂

Aku berterima kasih dengan sangat untuk beberapa teman yang begitu memberi support padaku. Tidak ada tuntutan. Hanya saling pengertian yang tulus. Tidak ada keharusan, hanya memberi dan menerima tanpa batas. Tidak ada persaingan yang memompa ambisi, yang ada hanyalah pemberian semangat tanpa batas. Saling membuka jalan tanpa berusaha untuk memanfaatkan. Inilah pertemanan dalam arti sesungguhnya.

Take and give! Tidak perlu ada kata partner atau sahabat. Tapi tetap dekat.
Memberi ruang ketika diperlukan. Mendekat tanpa harus mengatakan.
Semua berjalan alami, apa adanya bukan karena ada apanya.

Oh iya, aku juga mulai aktif ikut kegiatan kumpul-kumpul yang dulu sering kuhindari. Ikut pertemuan demi pertemuan yang membuatku mengenal dan mendapatkan teman-teman baru. Bertemu dengan teman-teman lama. Ikut workshop. Ikut buka bersama. Ikut kegiatan apa pun yang bisa membuatku bertemu dengan lebih banyak orang.

DAN ITU SANGAT MENYENANGKAN TERNYATA!

Kenapa harus berusaha menjadi ekslusif kalau sebagai manusia, jelas kita tidak akan bisa hidup sendiri?

Kemampuan kita terbatas. Kita membutuhkan orang lain dan orang lain pun membutuhkan kita.

4. Hubungan Internal

Wasyah! Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya. Aku sangat moody. Perasaanku sangat tergantung dengan segala kejadian di sekitarku. Uring-uringan adalah masalah utama yang sering kali membuat mood-ku rusak. Tapi ketika tiga masalah di atas mengalami perubahan. Ternyata hubungan internalku juga mengalami perbaikan.

Kalau aku tidak uring-uringan, maka segala hal jauh lebih mudah.
Tidak ada pertengkaran? Ah itu bohong banget. Tapi kini bertengkar tidak lagi sesering sebelumnya.
Perdebatan masih ada, hampir setiap hari terjadi, tapi berlalu dengan cepat dan berganti tawa kembali

Hubungan keluarga juga jauh lebih baik ini nyaris tidak terbayangkan olehku. Hati dan pikiran yang tenang membuatku bisa melihat segala hal jauh lebih baik. Ketika orang terdekatku, entah PW, entah orang tua kami, entah saudara atau pun anak, yang dalam kondisi hati yang buruk, aku tidak lagi mudah terpancing. Aku lebih suka diam dan menunggu. Tidak lagi seperti dulu yang mudah sekali meledak.

Hari pertama di bulan Agustus

Aku merasa bebas. Menjadi manusia baru dengan pandangan baru
Semoga semakin ke depannya semakin baik.
Semoga semakin hari semakin bertumbuh, tidak hanya jasmani maupun rohani
Semoga di bulan Agustus ini ada lebih banyak kebahagiaan, lebih banyak kebaikan dan lebih banyak kesenangan.
Tapi tentu saja tetap bekerja keras, terus belajar, terus membina, terus menjalin

Dan hidup sebagai mana yang seharusnya.

Pesan PW yang harus tetap tercatat di dalam hatiku


Thank you for always beside me
 
Ikhlas dan sabar itu tidak ada batasnya
Menerima hidup apa adanya dengan tetap terus berusaha jauh lebih nyaman daripada ambisi kosong mematikan.
Saling memberi dan menerima tanpa tuntutan jauh lebih menyenangkan dari pada keterikatan yang menyesakkan.
Hiduplah seperti yang seharusnya. Sewajarnya. Senormalnya saja.
Dan tetaplah bersamaku karena aku pun akan begitu untukmu (ini nih yang terakhir yang maut banget, kan?)
Jakarta, 1 Agustus 2013

821 total views, 3 views today

SHARE
Previous articleGod’s Plan
Next articleMudik Lebaran 2013

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here