Tips & Trick

Tips 30 Hari Menulis Nonfiksi (1): Melakukan Persiapan

Industri perbukuan dan penerbitan dari tahun ke tahun terus mengalami perkembangan. Meskipun ada kasus-kasus mengenai plagiasi yang menimpa penulis (termasuk saya beberapa waktu lalu), juga kasus mengenai pajak penulis yang cukup besar, tetap saja banyak di antara kita yang tergiur untuk ambil bagian dalam industri ini. Kali ini, saya akan berbagi tips mengenai cara menulis buku nonfiksi dalam 30 hari.

Mengenal Nonfiksi

Nonfiksi adalah semua karya tulis yang bukan rekaan atau khayalan. Nonfiksi harus ditulis berdasarkan data dan fakta yang kita dapatkan melalui riset, referensi, melakukan wawancara dan sebagainya. Intinya, karya nonfiksi dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya dan sesuai dengan kenyataan yang ada. Contoh karya tulis nonfiksi: esai, feature, skripsi, karya ilmiah, makalah, laporan, tesis, disertasi, berbagai buku resep, buku pengembangan kepribadian, buku biografi, bahkan artikel, termasuk artikel yang ditayangkan di suatu website.

Contoh Buku Nonfiksi. Foto: dok.pribadi
Contoh Buku Nonfiksi. Foto: dok.pribadi

Persiapan yang Perlu Dilakukan.

Sama seperti kegiatan lain yang biasanya kita lakukan sehari-hari, menulis juga membutuhkan persiapan. Dengan persiapan yang matang, kita bisa memasuki proses menulis dengan kepercayaan diri yang penuh dan tekad yang semakin kuat untuk menyelesaikannya. Nah, berikut ini adalah beberapa persiapan yang perlu dilakukan setelah kita melalui proses pengenalan naskah nonfiksi.

1. Wajib Rajin Membaca

Analogi yang biasanya saya gunakan untuk menjelaskan hubungan kegiatan menulis dan membaca adalah tentang gelas yang diisi air hingga penuh. Ketika air meluber ke luar akibat terus-menerus diisi, seperti itulah kerja otak kita saat berada dalam proses menulis. Semakin banyak membaca, semakin mudah kita menulis. Dengan membaca, kosakata, pengetahuan, dan wawasan kita pun bertambah. Kita jadi lebih mudah menuangkan isi pikiran kita dalam bentuk tulisan. Kegiatan membaca juga akan membantu kita menghasilkan tulisan yang 'berisi' dan kaya akan informasi. Penulis yang berhasil menulis tanpa menyukai kegiatan membaca memang ada, tetapi coba bandingkan saja karya tulis yang ditulis oleh penulis penyuka kegiatan membaca dan penulis yang tidak suka membaca, pasti hasilnya berbeda.

Salah Menulis Buku Ini Saya Harus Membaca Kisah Sherlock Holmes Dulu.

Contoh nyata yang sudah saya alami. Ketika hendak menuliskan buku berjudul 99 Cara Menyelesaikan Masalah ala Sherlock Holmes, saya tidak mungkin bisa menyelesaikan tulisan tersebut tanpa membaca terlebih dahulu semua kisah perjalanan detektif fiktif yang kondang itu. Lalu saat saya menuliskan Ubah Krisis Jadi Bisnis bersama Eugenia Rakhma, saya pun harus membaca sebanyak mungkin kisah perjalanan hidup para miliarder dan mencari tahu bagaimana mereka mengatasi krisis yang terjadi dalam hidup mereka, kemudian mengubahnya menjadi kesuksesan.

2. Memiliki Peralatan Pendukung.

Persiapan selanjutnya, memiliki peralatan pendukung. Banyak orang beranggapan untuk menjadi penulis harus memiliki laptop, notebook, komputer, dan gadget pendukung lainnya. Kalau tidak memiliki semua itu maka proses menulis tidak bisa dilakukan. Menurut saya, anggapan ini hanyalah alasan yang dicari-cari. Dulu, saya juga memulai karier sebagai penulis tanpa komputer maupun laptop. Saya hanya mengandalkan buku tulis 38 halaman seharga 2 ribu rupiah dan pulpen. Kadang, saya memanfaatkan halaman belakang kertas taking order yang saya bawa untuk menuliskan apa pun yang melintas dalam pikiran saya. (Dulu saya sales lapangan yang seharian penuh berada di jalan, berkunjung dari satu outlet ke outlet berikutnya. Di sela-sela waktu istirahat, saya suka menulis di selembar kertas, buku tulis yang saya bawa, atau buku order ketika buku tulis saya ketinggalan di rumah/habis halamannya). Setelah beberapa tulisan jadi, barulah saya pergi ke warnet terdekat dan menyalin semua tulisan tangan saya menjadi bentuk digital, agar bisa dikirimkan melalui email atau dicetak menjadi hardcopy sesuai syarat dari penerbit yang dituju.

Tapi sekarang warnet susah, kak, kalau tidak punya komputer atau laptop, mana bisa menulis!? Oke, bisnis warnet sudah mulai tenggelam sejak beberapa tahun lalu. Saat ini, warnet sangat susah ditemukan. Namun ada cara lain. Lihat saja smartphone yang kamu gunakan. Di sana ada aplikasi notepad ataupun word. Manfaatkan smartphone tidak hanya sekadar untuk chatting atau main media sosial, tetapi bisa pula menghasilkan karya tulis yang bermanfaat bagi orang lain. Dengan kata lain, selama kamu mau berusaha maka kamu akan menemukan banyak jalan untuk mewujudkan impian apa pun yang ingin kamu raih, termasuk menulis buku dalam waktu 30 hari.

3. Tekad yang Kuat.

Nah, ini nih yang paling dibutuhkan dari semua teori menulis. Saya sering menerima pesan di kotak pesan media sosial saya dari seseorang yang ingin jadi penulis atau minimal bisa menulis satu buku dalam hidupnya. Orang tersebut dengan menggebu-gebu menceritakan impiannya tersebut, usaha yang telah dilakukan, seperti membeli dan membaca banyak buku, menabung untuk membeli laptop/komputer, atau smartphone paling canggih agar bisa menghasilkan karya tulis. Lalu, ia meminta tips kepada saya bagaimana cara menerbitkan buku, menembus penerbit, dan sebagainya. Saya senang dong dengan semangat mereka. Sungguh, semangat itu menyebar dan membuat saya jadi ikut bersemangat juga. Sayangnya ketika saya tanya, "Kamu sudah menulis berapa halaman? Apakah sudah ada naskah yang jadi?" Dan jawaban yang saya terima membuat saya hanya bisa tertawa kecil.

"Ya, belum sih, Mbak. Saya sibuk banget. Pagi-pagi sekali udah ngejar kereta biar nggak terlambat sampai ke sekolah/kantor. Seharian banyak kerjaan yang harus diselesaikan, lalu pulang udah capek. Kalau akhir pekan kan waktunya senang-senang sama teman biar nggak stres. Ya, jadi nggak tahu deh kapan saya bisa menulis buku seperti Mbak Monic."

Inilah alasan paling sering dijadi jawaban atas pertanyaan saya tadi.

Proses menulis itu tidak semudah membalik telapak tangan, bahkan tidak semudah memasang kaus kaki dengan posisi yang pas. Menulis seperti perjalanan panjang yang prosesnya berliku sehingga membutuhkan semangat, niat, dan tekad kuat. Banyak juga yang mengalami, 5 halaman pertama penuh semangat. Memasuki 10 halaman selanjutnya, masih bersemangat meski sudah mulai berkurang intensitas menulisnya. Sesudah 50 halaman, akhirnya berhenti dengan alasan tidak tahu lagi apa yang mau ditulis, sementara jumlah halaman minimal untuk dikirimkan ke penerbit biasanya antara 70-150 halaman (tergantung genre dan syarat masing-masing penerbit). Jika sudah berhenti di tengah jalan begini, jelas tidak akan pernah ada buku yang diterbitkan atas nama kita, kan? Jadi, siapkan terlebih dulu semangat, tekad, dan niatkan dengan sepenuh hati. Sekali memulai harus sampai selesai.

Masih ingin jadi penulis?

Ayo lakukan persiapan dengan sebaik-baiknya dulu ya, terutama siapkan tekad dan niat yang kuat tadi agar perjuanganmu menghasilkan karya tulis yang bisa diterbitkan menjadi buku tidak sia-sia. Yakinkan pula dirimu kalau kamu bisa menulis buku dalam waktu 30 hari.

4 thoughts on “Tips 30 Hari Menulis Nonfiksi (1): Melakukan Persiapan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *