Hari ini, saya tergelitik untuk menulis tentang Tips BELAJAR MENULIS Buku dan Novel
karena tadi di Inbox FB, saya melihat ada beberapa pertanyaan yang nyaris serupa, “Mbak, bagaimana ya caranya bisa menulis seperti Mbak Monic?”

Sejujurnya, saya bingung harus menjawab apa atas pertanyaan seperti ini karena yang muncul di kepala saya adalah “Bukankah kita sudah (belajar) menulis sejak kita masih kecil?”

Jika pertanyaan di inbox itu saya jawab dengan pertanyaan lagi, pastilah jawaban saya sangat tidak memuaskan si penanya. Untuk menjawab pun, saya tidak terlalu menguasai teori-teori menulis yang banyaknya minta ampun. Itulah kenyataannya, sampai hari ini pun saya masih belajar, baik belajar menulis maupun belajar berbagai teori dan tips menulis buku dan novel.

Tips (Belajar) Menulis Buku

Dulu, ketika saya masih mencoba memulai untuk menulis, ada beberapa hal yang saya lakukan. Menulislah dari hati. Artinya, gunakan hati saat kita menulis. Ketika kita marah, maka segera tuliskanlah kemarahan kita itu entah di buku, di halaman kosong yang ada di komputer/laptop, atau hanya ditulis di selembar kertas. Begitu pula saat kita sedih, tuliskan semua hal yang menjadi penyebab kita sedih.

Di masa lalu sebelum saya bisa menulis buku, saya tidak mengetahui prinsip menulis dengan hati ini. Tapi saat itu, saya sudah sering menuliskan segala isi hati saya dalam sebuah buku harian dan agenda. Bahkan saya juga sering menuliskan isi hati saya di dalam buku tulis. Dan ternyata, potongan-potongan tulisan yang tercerai berai di dalam buku harian, dalam agenda atau di buku tulis itu, bisa dikembangkan lagi menjadi sebuah karya tulis.

Saat menulis, jangan pernah membaca ulang tulisan sebelumnya. Tulis saja semua yang melintas di dalam kepala kita dengan cepat. Biasanya, saat saya menulis, maka saya akan menutup akses pikiran saya ke hal lain. Saya mencoba masuk sepenuhnya dalam cerita yang sedang saya tulis. Dan saya menjadikan diri saya sebagai tokoh utama di dalam cerita tersebut.

Paling tidak, kita mencoba merasakan apa yang sedang dirasakan tokoh-tokoh kita itu. Saya akan membiarkan semuanya mengalir. Tidak menginterupsi sedikit pun. Dan pada saat itulah saya menemukan bahwa setiap tokoh itu akan memainkan perannya sendiri-sendiri dan menemukan solusi untuk masalah-masalah yang dihadapi si tokoh.

Tulis Apa yang Kita Tahu

Tulis apa yang kita tahu. Kalimat ini saya dapatkan dari seorang penulis senior, di sebuah workshop kepenulisan yang saya ikuti. Menuliskan apa yang pernah kita alami di dalam kehidupan kita adalah cara termudah dalam (belajar) menulis.

Kita bisa menceritakan apa yang kita rasakan, apa yang pernah terjadi di dalam kehidupan kita dan solusi apa yang kita ambil untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut. Dengan menuliskan pengalaman kita sendiri, maka akan jauh lebih mudah bagi kita menuangkan pikiran kita. Memang awalnya tidak mudah. Tapi prinsip utamanya, TULIS SAJA! Hasil akhirnya belakangan.

Tulislah Tentang Kenangan di Masa Kecil

(Belajar) menulis juga bisa dengan cara menggambarkan masa kecil kita. Dari pada kenangan masa kecil itu tersimpan di dalam ingatan dan kemudian menghilang dengan cepat seiring waktu. Kenapa kita tidak membekukan kenangan kita dalam bentuk tulisan yang bisa kita baca kelak di kemudian hari?

Seperti foto tua yang mulai berwarna kuning dan menyimpan kenangan masa kecil kita, begitu juga dengan tulisan yang kita buat mengenai kehidupan masa kecil yang pernah kita alami. Bahkan dari tulisan, kita bisa menceritakan lebih detail kisah masa kecil kita dibandingkan sebuah foto yang hanya menceritakan sebagian dari kenangan itu.

Ciptakan Keajaiban

Buatlah keajaiban dalam setiap cerita yang kita tuliskan. Bagian ini sebenarnya lebih berisi tentang harapan-harapan kita yang ini kita wujudkan, yang belum terwujud atau pun yang sudah terwujud. Ada banyak keajaiban yang sebenarnya bisa dengan mudah terjadi. Seperti sebuah doa yang selalu kita ulang dan kita pinta, begitu pula dengan tulisan-tulisan yang kita tuliskan.

Saya masih ingat dengan jelas tentang tulisan pertama yang pernah saya tulis. Tulisan pertama itu berisi tentang kenangan saya yang selalu menulis di buku harian dan menulis cerita-cerita pendek tentang petualangan saya bersama teman-teman masa kecil saya.

Saat itu, karena kondisi ekonomi keluarga saya yang sangat minim, membeli buku adalah kemewahan. Karena saya tidak bisa membeli buku, maka saya menulis sendiri cerita-cerita yang nantinya akan saya nikmati ulang. Dan di setiap cerita pendek itu selalu saya sisipkan impian saya kalau suatu hari nanti saya akan menjadi seorang penulis yang memiliki buku yang dijual di toko buku yang ada di seluruh Indonesia.

Dan TADAAA… Impian itu terwujud. Memang memakan waktu yang sangat lama dan proses yang panjang, tapi akhirnya saya bisa menyebut diri saya sebagai seorang penulis karena saya sudah memiliki buku dengan nama saya tercantum di cover bagian depannya.

Jadilah Jurnalis

Bagian ini terdengar aneh sebenarnya. Tapi seperti seorang jurnalis yang menulis di sebuah media, kita juga bisa melakukan hal yang sama. Buka mata, buka telinga dan lihatlah semua yang terjadi di sekitar kita. Kita bisa merekam segala kejadian yang terjadi di sekitar kita layaknya seorang jurnalis. Kemudian tuliskanlah apa yang kita lihat, apa yang kita dengar dan apa yang kita alami itu menjadi sebuah tulisan.

Jadi … (Belajar) menulis itu tidaklah sulit. Yang perlu kita lakukan adalah MENULISKANNYA! Tulis saja apa pun yang terlintas dalam pikiran kita. Tulis saja apa yang pernah kita alami. Tuliskan perasaan kita. Dan akhirnya kita bisa menulis.

Kita hanya bisa berusaha. Hasilnya? Biarkan Tuhan yang menentukan yang terbaik untuk kita. Yuk! Singsingkan lengan baju. Ambil pena, ambil buku, atau buka laptop.
Mari BELAJAR MENULIS. Karena semua orang bisa menulis. Semoga Tips (Belajar) Menulis Buku dan Novel bisa bermanfaat.

980 total views, 1 views today

SHARE
Previous articleSalesman’s Tools
Next articleGod’s Plan

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here