Arus jalan yang padat merayap hampir di semua ruas jalan
Sumber Gambar : merdeka.com
Mudik?
Kata yang satu itu terdengar aneh jika aku yang mengucapkannya. Entah kenapa, meski hidup berpindah-pindah kota selama beberapa tahun terakhir ini, aku tidak pernah benar-benar mengalami MUDIK dalam arti yang sebenarnya.
Tapi berhubung tahun ini aku berada di Jakarta bersama suami, akhirnya MUDIK yang sebenarnya itu kualami juga. Kami akan mudik seperti yang dilakukan oleh ribuan orang yang mengadu nasibnya di Jakarta untuk pulang ke kota kami, Semarang.
Ada banyak cara untuk mudik. Ada yang memilih naik kereta api yang tiketnya sudah habis sejak H-90. Ada yang jauh-jauh hari berburu tiket pesawat untuk mendapatkan seat di hari H. Ada yang naik mobil pribadi. Dan kali ini, kami (lagi-lagi) memilih mudik dengan melakukan touring naik sepeda motor.
Tapi pada dasarnya aku dan suami tidak seperti orang-orang yang suka berplanning, kami mudik dengan cara kami sendiri. Tidak heboh. Santai dan enjoy saja (meminjam istilah suamiku). Aku dan suami masih sempat menghadiri acara bukber bersama di Taman Ismail Marzuki sehari sebelumnya. Jam sepuluh malam, kami baru tiba kembali di kamar kost dan memilih menghabiskan waktu dengan menonton film. Menjelang subuh kami baru bisa tidur, maklum tipe-tipe manusia kalong selalu mengalami kesulitan tidur sebelum subuh datang 🙂
Jam sebelas kami berdua baru bangun. Packing ala kadarnya
(hanya dua buah tas ransel yang berisi laptop serta satu travelling bag berisi baju dan sedikit oleh-oleh karena kami masih memiliki baju ganti di rumah). Aku dan suami juga menyempatkan diri untuk membersihkan kamar kost agar nanti sewaktu kami kembali, kami tidak perlu repot bebersih lagi dan tepat jam satu siang, kami meninggalkan rumah kost yang sudah kosong sepenuhnya. (Kami berdua adalah orang terakhir yang meninggalkan rumah kost ini).
Begitu keluar rumah kost, memasuki jalan Pondok Aren, kemacetan sudah terasa memusingkan. Aku yang jarang keluar rumah memiliki fobia naik sepeda motor dan berada di keramaian, sehingga belum apa-apa, aku sudah dilanda ketakutan hebat melihat para pengguna jalan yang saling mendahului dengan cara yang sangat berbahaya. Dan sejak itulah, tidak ada satu ruas jalan pun yang kami lalui yang tidak macet. Di mana-mana macet. Konvoi sepeda motor memenuhi jalan. Bahkan ada banyak sekali pengendara motor yang menaiki sepeda motornya dengan penumpang lebih dari dua orang termasuk berbagai barang bawaan mereka yang diikat di bagian belakang.
Empat Penumpang di Satu Sepeda Motor
Sumber Gambar : bebek.com/cahayareformasi.com
“Miris lihatnya ya, Cha. Anak-anak kenapa harus ikut merasakan penderitaan orang tuanya dengan menempuh perjalanan jauh seperti ini.”
Berulang kali suamiku bergumam begitu sepeda motor yang kami tumpangi melewati sepeda motor lain yang penumpangnya terdiri dari orang tua dengan satu, dua atau tiga anak sekaligus. Aku hanya bisa menjawab kalau keadaanlah yang membuat mereka harus melakukan itu. Bukankah tidak semua orang memiliki mobil? Juga tidak semua orang mampu membayar biaya transportasi darat yang harganya naik berkali-kali lipat dari harga yang seharusnya. Bahkan dari salah seorang pengendara motor yang akhirnya beristirahat bersama kami bercerita kalau harga tiket bis untuk satu penumpang sudah mencapai angka empat ratus ribu. Jika mereka sekeluarga (yang berjumlah lima orang) semuanya memilih naik bis, maka bisa dipastikan akan banyak sekali biaya yang harus dikeluarkan hanya untuk acara mudik setahun sekali ini.
Perjalanan mudikku tahun ini memakan waktu hampir 27 jam. Benar-benar perjalanan panjang yang sangat melelahkan. Hampir di seluruh ruas jalan mengalami kemacetan yang luar biasa. Begitu terbebas dari kemacetan, semua pengendara langsung berebut untuk mendapatkan kesempatan memacu kendaraannya dan mendadak menjadi pembalap yang saling mendahului. Mereka seolah-olah tidak takut akan kecelakaan yang bisa saja tiba-tiba terjadi tanpa disangka. Padahal sepanjang perjalanan dari Jakarta menuju Semarang, aku menyaksikan banyak sekali kecelakaan terjadi, terutama kecelakaan sepeda motor.
Apakah nyawa manusia itu sedemikian tidak pentingnya hingga bisa dengan mudah setiap orang mengabaikan keselamatan diri sendiri dan keselamatan orang lain?
Aku tidak tahu jawaban atas pertanyaan tersebut. Mungkin sebagian orang berpendapat bahwa takdir setiap manusia sudah ditentukan oleh Sang Pencipta. Bisa saja yang mengendarai kendaraannya pelan-pelan celaka. Bisa jadi yang ngebut gila-gilaan akan selamat. Begitulah takdir mereka sudah diatur dengan sempurna. (Itu menurut mereka, mungkin)
Kalau menurutku pribadi, setiap orang bertanggung jawab atas keselamatan dirinya masing-masing. Kita bisa saja meminta perlindungan pada Tuhan. Meminta agar dijaga sepanjang perjalanan hingga akhirnya tiba dengan selamat sampai di tujuan.
Bagaimana Tuhan bisa menjaga kita jika kita malah menantang maut?
Sejujurnya, aku juga tidak tahu, apakah keputusanku dan suami untuk melakukan touring juga termasuk dalam kategori menantang maut. Sungguh, aku tidak tahu. Paling tidak, sepanjang jalan kami berusaha menjaga kecepatan motor hanya berkisar antara 60 km/jam dan hampir sepuluh kali kami berhenti hanya untuk beristirahat (tidak termasuk berhenti saat harus mengisi bahan bakar)
Kami tiba di Semarang sekitar jam empat sore pada tanggal 4 Agustus 2013. Bertemu dengan Papa Mertua yang ternyata sudah menunggu di rumah. Dan setelah bebersih, aku langsung tidur seperti orang mati. Baru malam harinya aku bertemu dengan Mama Mertua dan adik-adik ipar.
Syukur tak terhingga pada Tuhan Sang Penjaga Semesta. Kami tiba di rumah tanpa kurang apa pun. Mudik kali ini begitu berkesan, penuh ketegangan sepanjang jalan. Berharap kelak di kemudian hari, kami bisa mudik dengan mobil saja… hehehe

406 total views, 1 views today

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here