Investasi Emas Perhiasan di The Palace Jeweler- Ada satu cerita yang terekam erat dalam ingatan masa kanak-kanak saya berkaitan dengan investasi emas perhiasan. Ketika itu, perekonomian keluarga saya belum sebaik sekarang. Papa masih bekerja sebagai supir truk dengan penghasilan tergantung jumlah pesanan batu dan pasir yang bisa beliau ambil dari pelosok Kalsel. Di lain waktu, papa jadi nahkoda kapal tandu, yang kadang berhari-hari tak pulang.

Mama? Ibu rumah tangga yang membantu cari penghasilan tambahan dari jualan toko kelontong, bensin literan, dan batu dan pasir karungan. Sore hari saat Papa pulang dengan sedikit pasir atau batu yang tersisa, saya dan adik lelaki akan bantu Mama mengisi karung-karung dengan batu atau pasir tadi, sementara Papa kembali berangkat ke pelosok atau melaut. Dengan keadaan ekonomi yang masih dibawah layak, bisa makan daging seminggu sekali merupakan hal mewah yang saya dan adik saya tunggu-tunggu. Pokoknya, hidup kami saat itu harus benar-benar mengencangkan ikat pinggang.

Meskipun hidup pas-pasan, masalah pendidikan tetap nomor satu. Papa termasuk tipe ayah yang keras kalau sudah urusan pelajaran dan nilai yang kami dapat. Kami didorong untuk belajar dan terus belajar. Kata Papa, modal utama untuk hidup lebih baik itu bukan uang, tapi kemampuan diri yang terus mengalami peningkatan. Kemampuan diri akan meningkat kalau saya dan adik mau terus belajar, baik belajar hal-hal yang kami sukai maupun yang tidak kami sukai. Intinya, selama kami mau belajar dan terus menambah ilmu demi meningkatkan kemampuan diri, masalah apa pun yang datang dalam kehidupan kami akan bisa kami atasi dengan baik. Hari demi hari dan bulan demi bulan, nasihat dari Papa menjadi pegangan kami dan membuat kami terus berusaha mencapai prestasi terbaik yang kami mampu.

Saya lulus SD dengan nilai memuaskan. Beberapa piala dan penghargaan pun sudah masuk dalam rak koleksi pribadi maupun sekolah. Namun ketika kelulusan tiba dan saya harus melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, Sekolah Menengah Pertama (SMP), berita buruk menghampiri dan saya pun menangis sepanjang hari begitu Mama menyampaikan berita buruk tersebut.

Mengenal Investasi Emas untuk Pertama Kalinya

“Seandainya kamu tak melanjutkan sekolah dulu karena Mama dan Papa belum punya uang gimana?” tanya Mama siang itu sambil mengisi botol-botol kosong dengan bensin dari jirigen besar di dekat kakinya.

Saya yang mendengar berita buruk itu hampir saja melepaskan tangan dari selang yang melintang dari jerigen ke botol. Untung saja tidak, karena kalau sampai hal itu terjadi, Mama pasti rugi. Lalu dengan tangis yang sudah memenuhi tenggorokan, saya menjawab, “Yah, kalau memang belum punya uang, mau gimana lagi. Tapi kalau tidak sekolah, aku ngapain dong, Ma? Masa di rumah aja?”

“Bantuin Mama di rumah sambil nanti belajar juga sama Mama dan Papa. Kalau uangnya sudah terkumpul, tahun depan baru kamu melanjutkan sekolah,” sahut Mama lagi tanpa melihat ke arah saya. Oh, God, dalam pikiran kanak-kanak saat itu, saya ingin sekali bilang, “Ma, saya mau tetap sekolah. Alasan sepelenya, saya malu kalau teman-teman sampai tahu saya tak bisa melanjutkan sekolah gara-gara orangtua saya miskin. Alasan utamanya, saya ingin jadi orang sukses biar kelak bisa bantuin Mama dan Papa. Biar mereka tak perlu lagi bersusah payah bekerja.” Tapi keinginan ini saya simpan dalam mulut yang terkatup rapat. Sampai sore, kami berdua sibuk dengan botol-botol, bensin, selang, dan jirigen. Tak ada satu pun dari kami yang membicarakan masalah sekolah dan uang yang belum kami miliki.

Keesokan harinya, Mama pamit pergi pagi-pagi sekali dan saya diminta untuk jaga warung kelontong sembari menemani adik lelaki saya bermain. Mama pergi dengan tergesa dan berpesan agar saya berhati-hati. Oh ya, Papa sejak semalam belum pulang karena sedang bertugas di kapal tandu. Kan sebelumnya saya sudah cerita, kalau tak sedang bertugas di kapal tandu, Papa mengambil batu dan pasir sesuai pesanan orang, dan kalau sedang bertugas, ya beliau akan berada di kapal tandu untuk berhari-hari lamanya sampai tiba waktunya gantian lagi dengan temannya. Saya lupa tepatnya berapa lama Mama pergi, pokoknya begitu Mama tiba di rumah, wajahnya terlihat bahagia dan senyum terus terkembang di bibirnya. Belum sempat saya bertanya, rasa penasaran saya sudah terjawab duluan.

“Kamu bisa melanjutkan sekolah. Besok kita daftar ulang di SMP dekat sini aja ya. Nanti kamu bisa…” Seketika itu juga saya berdiri dan langsung memeluk Mama erat-erat sambil menangis. Saya menangis bahagia karena bisa tetap sekolah.

Pertanyaan yang kemudian muncul dalam kepala saya, dari mana Mama dapat uang? Apakah Mama meminjam dari orang lain? Atau jangan-jangan…. Ah, Mama tak mungkin melakukan hal buruk hanya untuk mendapatkan uang!

Saya baru tahu, dari mana Mama dapat uang setelah Papa berada di rumah. Kata Papa, saat Papa dan Mama menikah dulu, Mama ada dapat perhiasan emas dari saudara-saudaranya. Namanya perempuan, pastilah senang dengan perhiasan, terutama emas. Mama juga begitu. Perhiasan hadiah pernikahan tersebut Mama simpan baik-baik. Lalu setiap bulan, Mama selalu menyisihkan sedikit dari uang yang diberikan Papa untuk membeli emas, entah cincin, anting, kalung, atau emas batangan, dengan berat yang beragam, tergantung kemampuan Mama membeli saat itu.

Papa juga menjelaskan, kalau emas yang disimpan itu mirip tabungan. Sedikit-sedikit lama-lama menjadi banyak. Dan nilai emas tidak akan berkurang meski disimpan lama. Mama mulai menyimpan emas dari harga emas masih 5000 per gram dan ketika Mama menjual emasnya untuk membayar uang masuk SMP saya, harga emas sudah kira-kira 100ribu per gram (seingat saya). Jelas untung jual emas begitu harganya naik. Hari ketika Papa menceritakan hal ini menjadi hari saya mengenal yang namanya investasi emas perhiasan maupun batangan. Pokoknya, investasi emas, dan ini sangat menguntungkan. Di hari yang sama, saya juga melihat betapa Papa bersyukur memiliki istri yang pandai berinvestasi dan menabung dalam bentuk emas, sehingga ketika dibutuhkan dalam keadaan mendesak bisa langsung digunakan, bahkan mendapatkan keuntungan yang cukup besar dibandingkan dengan harga saat membeli.

Investasi Emas Perhiasan di The Palace Jeweler

Sejak saya tahu cara menabung selain menyimpan uang ternyata bisa investasi emas, saya pun mulai mencoba melakukannya. Ini saya lakukan sejak menerima gaji pertama masa saya menjadi karyawan dulu. Memang, membeli emas, baik emas perhiasan maupun emas batangan, tidak selalu jadi investasi yang mendapatkan untung besar karena adakalanya nilai emas naik atau turun. Kalau saat mau jual harga emas turun ya rugi tentu saja. Tapi akan menguntungkan jika kita menjual emas di saat harganya tinggi.

Saya membeli emas dengan menyisihkan sedikit penghasilan yang saya dapatkan tiap bulan. Jika hanya mampu beli satu gram, maka senilai itulah yang saya beli. Jika dapat bonus banyak atau kebetulan penghasilan ada lebih, ya saya beli agak banyakan. Pokoknya disesuaikan dengan kemampuan. Oh ya, saya pada akhirnya belajar juga lho untuk menentukan kapan waktunya saya beli emas perhiasan dan kapan waktunya saya beli emas batangan.

Emas batangan saya beli untuk saya simpan dalam jangka panjang, sementara emas perhiasan saya beli jika modelnya bikin jatuh hati dan bisa meningkatkan penampilan saya di moment-moment istimewa, misalnya ketika menghadiri pernikahan saudara, merayakan anniversary perusahaan, datang ke event besar, dan sebagainya. Emas menjadi lambang prestise yang bisa meningkatkan kepercayaan diri juga sih menurut saya. Intinya, perempuan perlu melengkapi penampilan dengan perhiasan emas biar bisa tampil elegan dan berkelas, selain tentu saja harus pintar berinvestasi demi menjaga kestabilan ekonomi keluarga.

Untuk membeli emas, ada satu tempat istimewa nih, namanya The Palace Jeweler. Di sini, saya bisa menemukan koleksi perhiasan emas dengan bentuk dan desain yang berbeda dari kebanyakan desain emas di pasaran. Ada tema unik yang sesuai dengan kepribadian saya yang nasionalis abis, yaitu tema Perhiasan Nusantara. Desain perhiasan dalam tema ini hasil kolaborasi The Palace Jeweler dengan Samuel Wattimena, desainer yang karyanya sudah terkenal di mana-mana. Ada 3 seri yang diangkat dalam rangkaian tema Perhiasan Nusantara, yaitu:

Seri Nusa

Seri Nusa artinya rangkaian kepulauan yang mewakili wilayah Barat Indonesia. Bentuk perhiasan pada seri ini berupa cincin, kalung, dan anting yang desainnya mengadaptasi Pending berbentuk oval serta perpaduan etnik pedagang Tiongkok dan masyarakat Sumatera.

Seri Anta

Seri Anta terinspirasi dari tiga perhiasan khas masyarakat NTT, yaitu Taka, Mamuli, dan Marangga. Arti dari seri Anta lebih pada angan-angan seseorang. Hal ini sama seperti makna 3 perhiasan dari NTT yang disimpan di bawah atap rumah dan hanya dikeluarkan ketika pemiliknya ingin meminta sesuatu.

Seri Tara

Seri yang satu ini terinspirasi dari Mas Bulan Base, Belak, dan Pepek Sortil, perhiasan dari wilayah Maluku Tenggara dan Timor. Makna dari perhiasan ini adalah perempuan yang memiliki kebebasan jiwa sehingga bisa meraih keberhasilan dan prestasi hidup sejati.

Selain tiga seri dalam tema Perhiasan Nusantara tadi, masih ada banyak sekali koleksi dengan tema-tema tertentu yang tersedia di The Palace Jeweler. Kita bisa membeli emas perhiasan dengan menyesuaikan kebutuhan. Beberapa koleksi tersebut, antara lain: All About Love, ForeverMark, Gift Ideas, Kekaseh, Men’s Jewelry, dan sebagainya.

#ThePalaceStories di The Palace Summarecon Mal Bekasi

Perhiasan dan wanita memiliki ikatan yang erat. Mama saya contohnya. Beliau suka banget sama yang namanya perhiasan emas, itu sebabnya Mama menyimpan emas mulai sejak ia mendapatkan hadiah pernikahan dalam bentuk emas, bahkan bela-belain menyisihkan uang belanja yang tak seberapa hanya untuk membeli emas. Seingat saya, ketika perekonomian keluarga belum mendukung dan masih di bawah rata-rata, Mama selalu tampil elegan dan berkesan mewah setiap hadir dalam suatu acara tertentu, pernikahan khususnya.

Saya tahu, koleksi pakaian Mama bukanlah pakaian berharga mahal, wong untuk makan saja kami berhemat mati-matian. Tapi ketika hadir ke pesta, penampilan Mama dalam acara-acara istimewa itu selalu disertai dengan kalung emas berkilau yang menghiasi lehernya, gelang emas, atau kadang anting menjuntai. Mama juga pandai sekali membuat serasi penampilannya, kapan perlu pakai kalung dan cincin? Kapan hanya perlu pakai anting menjuntai dan gelang?

Selain Mama dan juga saya, di luar sana pasti banyak perempuan yang juga menyukai perhiasan emas. The Palace Jeweler tahu kebutuhan para wanita Indonesia akan perhiasan emas yang unik, sekaligus untuk mengangkat budaya Nusantara yang juga perlu dilestarikan.

Makanya pada 4 September 2018, The Palace Jeweler menyelenggarakan pameran perhiasan di The Palace Summarecon mal bekasi dengan mengangkat tema #ThePalaceStories. Hadir pula dalam acara tersebut Brand Ambassador The Palace National Jeweler, Bunga Citra Lestari. Saya jadi tak sabar untuk hadir dalam acara #ThePalaceJeweler dan #NationalJeweler ini untuk melihat secara langsung koleksi terkini sekaligus pengen lihat sih #ThePalaceBCL sukanya perhiasan yang seperti siapa. Syukur-syukur, saya bisa juga punya perhiasan sama seperti yang BCL gunakan. Kan biar saat hadir ke suatu acara, saya bisa seelegan dan secantik BCL.

4,484 total views, 5 views today

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here