Sudahkah kita semua tahu cara menyelamatkan diri saat bencana terjadi?

Masih segar dalam ingatan saya ketika mengalami keriuhan akibat gempa yang mengguncang Jakarta. Saat itu saya berada di salah satu gedung tinggi di Jakarta dan sedang mengikuti suatu acara. Awalnya, saya merasakan meja bergetar. Saya pikir, salah satu teman yang duduk di meja saya menggetarkan kakinya hingga meja ikut pula bergetar. Namun saya tak menemukan ada satu orang pun yang sedang menggetarkan kaki.

Karena getaran di meja tak kunjung berhenti, saya menengadah dan tak sengaja melihat lampu kristal yang banyak tergantung di langit-langit ruangan. Semua lampu kristal itu bergoyang-goyang. Tak lama kemudian terdengarlah teriakan panik dari tamu undangan yang berada di ruangan itu. “Gempa! Gempa! Lari ke luar!” Saya yang masih shock hanya bisa terpana sesaat, tetapi kemudian saya tersadar.

Cara menyelamatkan diri saat bencana gempa bukan dengan lari meninggalkan ruangan! Meninggalkan ruangan dengan kepanikan yang tinggi hanya akan menimbulkan musibah lain. Itulah yang selama ini saya ketahui. Saya mengedarkan pandangan ke sekeliling dan hanya bisa menatap orang-orang yang berlarian meninggalkan kursi masing-masing menuju pintu keluar. Hanya tinggal beberapa orang saja yang bertahan di dalam ruangan dan memilih untuk berlindung di bawah meja.

Pentingnya Sistem Peringatan Dini Bencana
Pentingnya Sistem Peringatan Dini Bencana. Sumber: Indonesiabaik.id

Hari itu, tanggal 23 Januari 2018, gempa mengguncang Jakarta. Pusatnya di Lebak Banten, persis 81 km arah barat daya Lebak. Dari laman detik.com saya mengetahui hal ini. Gempa yang berpusat di kedalaman 10km dan terjadi kurang lebih pukul 13.34 WIB tersebut berkekuatan 5.1SR dan membuat banyak masyarakat di Jakarta berlarian keluar gedung. Di antara sekian banyak orang yang akhirnya berhasil menyelamatkan diri tersebut, berapa orangkah yang benar-benar tahu cara menyelamatkan diri saat bencana? Mungkin karena masih banyak orang yang belum benar-benar sadar dan siap siaga bencana, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengajak segenap orang dan instansi, baik instansi pemerintahan maupun swasta, untuk melakukan simulasi penyelamatan diri saat bencana di peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana tanggal 26 April 2018 lalu.

Simulasi Menyelamatkan Diri dari Bencana di Kantor BNPB Jakarta

Pada 26 April 2018 lalu, saya berkesempatan ikut simulasi penyelamatan diri di Graha BNPB, Jakarta. Saya hadir di acara ini kepagian dan akhirnya memilih cari kopi dulu. Sayangnya, kantin kantor belum buka dan di sekitar gedung tak ada kedai kopi yang bisa saya jumpai. Akhirnya daripada bengong, saya berkeliling gedung dan melihat persiapan yang dilakukan para petugas untuk acara hari ini.

Sekitar pukul 10, akhirnya apel pagi dimulai. Apel pagi tersebut dipimpin oleh Pak Willem Rampangilei, Kepala BNPB. Seraya menekan sirine yang menandai berlangsungnya gladi evakuasi bencana di Graha BNPB sekaligus tanda memperingati Hari Kesiapsiagaan Bencana 2018, beliau berkata, “Masing-masing keluarga perlu menyepakati rencana menghadapi situasi darurat dengan beberapa skenario, karena aksi yang perlu dilakukan bisa menjadi berbeda untuk kondisi yang berbeda. Skenario dibuat bersama seluruh anggota keluarga sesuai jenis bahaya yang mengancam. Dalam Skenario, disepakati siapa melakukan apa dan bagaimana caranya.”

Apel Pagi di Hari Kesiapsiagaan Bencana
Apel Pagi di Hari Kesiapsiagaan Bencana

Hari Kesiapsiagaan Bencana adalah peringatan tentang penanggulangan bencana yang sebenarnya telah didengungkan oleh BNPB sejak 2017, namun baru ditetapkan sebagai Hari Kesiapsiagaan Bencana setiap tanggal 26 April 2018 bertepatan dengan tanggal dikukuhkannya UU No.24/2007 tentang Penanggulangan Bencana.

Kesiapsiagaan akan bencana ini sudah seharusnya menjadi kesadaran setiap orang mengingat wilayah Indonesia cukup rawan bencana, mulai bencana banjir, gempa bumi, tsunami, erupsi gunung api, longsor, dan bencana lainnya. Dari data yang tercatat di BNPB ada kurang lebih 2.372 bencana yang telah terjadi sepanjang tahun 2017 dan memakan korban jiwa sebanyak 377 orang. BNPB mengharapkan latihan evakuasi yang menjadi simulasi dalam acara hari ini meningkatkan awareness setiap orang yang terlibat untuk tanggap akan keselamatan diri dan orang-orang di sekitarnya, mengenali informasi peringatan dini, memahami rambu-rambu peringatan, serta tak mudah panik dan ketergesaan saat evakuasi untuk meminimalkan risiko terjadinya musibah baru. Fakta yang banyak terjadi di lapangan saat proses evakuasi adalah jatuhnya korban jiwa yang tak perlu akibat rasa panik yang berlebihan.

Di saat yang sama, dalam konferensi pers yang dilakukan di Graha BNPB lantai 1, Wisnu Widjaja, Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB, mengingatkan perlunya kita belajar dari Jepang. Hasil survei yang pernah dilakukan di Jepang saat terjadi bencana Gempa Great Hansin Awaji tahun 1995 menunjukkan bahwa persentase keselamatan seseorang sebagai berikut:

  1. Kesiapsiagaan diri sendiri sebesar 35%.
  2. Adanya dukungan anggota keluarga 31%.
  3. Dukungan teman atau tetangga untuk memberi pertolongan 28,1%.
  4. Orang yang kebetulan lewat 2,6%.
  5. Tim penolong 1,70%.
  6. Lain-lain 0,90%

Dari data tersebut terlihat bahwa keselamatan seseorang sangat bergantung pada kesiapsiagaan diri orang itu sendiri, didukung dengan anggota keluarga dan teman atau tetangga yang berada di sekitarnya. Sementara selamat berkat adanya orang yang lewat atau kedatangan tim penolong kecil sekali persentasenya, mengingat seringkali tim penolong tak selalu berada di sekitar kita atau bisa datang tepat waktu untuk menolong kita.

“Kesiapsiagaan individu dan keluarga menjadi begitu penting, mengingat faktor yang paling menentukan untuk keselamatan diri dari potensi bencana adalah penguasaan pengetahuan yang dimiliki diri sendiri.”

– Wisnu Widjaja, Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB –

Tumbuhkan Budaya Siaga Bencana
Tumbuhkan Budaya Siaga Bencana. Sumber: Indonesiabai.id

Cari Tahu Cara Menyelamatkan Diri Saat Bencana

Penting sekali bagi kita untuk mencari tahu cara menyelamatkan diri dari bencana dan menyesuaikan cara-cara tersebut untuk setiap bencana yang terjadi. Seperti yang disebutkan Pak Willem di awal tulisan ini, skenario A kadang harus berubah begitu kondisi yang dihadapi mengalami perubahan. Artinya, harus punya skenario A, B, dan C, dan setiap skenario benar-benar diketahui cara menyelamatkan diri dan orang-orang terdekat.

Hari ini, saya dan teman-teman Blogger serta media mendapat kesempatan ikut simulasi penyelamatan diri dari gedung bertingkat ketika terjadi bencana kebakaran. Sebelum dimulai simulasi, saya dan yang lainnya berbagi tugas, ada yang berada di lantai 1, lantai 2, atau lantai 3, sementara saya berada di lantai 10. Sengaja sih memilih lantai ini karena saya penasaran dengan Pak Willem yang akan terjun dengan tali pengaman dari lantai 10… hehehe.

Tepat saat waktu yang telah ditentukan tiba, dering alarm terdengar nyaring. Dua orang petugas kemudian meneriakkan saran agar semua orang menunduk atau berjongkok sambil melindungi kepala. Setelah suara alarm reda, petugas kemudian mengarahkan setiap orang untuk berjalan perlahan, tak perlu tergesa atau panik, menuju ke tangga darurat. Dalam simulasi ini yang ditekankan adalah kemampuan untuk menguasai diri dan situasi dengan bersikap tenang, tak perlu panik. Sambil berusaha keluar dari ruangan, tetap lindungi diri, terutama kepala, dari benturan atau ancaman benda keras yang mungkin menimpa kita. Selain itu, kita perlu pula berusaha mencari tempat aman. Jika ada anak-anak, bantu anak-anak dengan memberi arahan dan petunjuk untuk mengikuti orang dewasa berlindung tanpa perlu panik.

Setelah proses evakuasi dengan melalui tangga darurat selesai, saya berpindah ke lobi samping lantai 10 untuk melihat simulasi proses evaluasi menggunakan tali pengaman. Untuk simulasi yang satu ini, Pak Willem menjadi orang pertama yang akan turun dengan menggunakan tali pengaman tersebut. Para petugas terlihat sibuk memasangkan tali pengaman di tubuh Pak Willem. Di sela-sela proses pemasangan tali ini, Pak Willem sempat memberi komando kepada petugas BNPB ketika mengetahui tali pengaman yang dikenakan kepadanya masih milik petugas Damkar. Menurutnya, alangkah baiknya BNPB memiliki tali pengaman sendiri untuk disimpan di setiap lantai sehingga ketika dibutuhkan tak perlu menunggu petugas Damkar dulu untuk memasangkan tali. Artinya, jika terjadi bencana dan seluruh penghuni di setiap lantai telah siap dengan tali pengaman terpasang di tubuh masing-masing, maka proses evakuasi bisa dilakukan jauh lebih cepat.

Cara Menyelamatkan Diri Saat Bencana
Petugas Membantu Pak Willem Memasang Tali Pengaman

Saya sempat iseng bertanya langsung pada Pak Willem, deg-degan nggak sih mau terjun ke bawah hanya dengan tali pengaman? Beliau menanggapinya dengan tertawa seraya meminta saya memegang dadanya. “Coba pegang dada saya, cari tahu sendiri deg-degan tidak sayanya,” katanya. Dan saya pun tertawa malu. Jelaslah beliau tak deg-degan karena selanjutnya yang saya lihat, beliau sangat tangkas ketika turun dari lantai 10 tersebut hanya dengan tali pengaman. Setelah Pak Willem, masih ada beberapa orang lagi yang disimulasikan sedang dievakuasi dengan tali, ada yang berposisi tandem, ada juga yang diturunkan dengan tandu seolah telah terjadi sesuatu pada orang tersebut.

Ada banyak lagi sih cara evakuasi yang disimulasikan pada hari ini di gedung BNPB ini. Kesimpulan yang saya ambil untuk cara menyelamatkan diri saat bencana, antara lain:

  1. Pahami dan ketahui peringatan dini terjadinya bencana.
  2. Ketahui cara aman untuk berlindung dengan menyesuaikan diri akan situasi yang terjadi.
  3. Saat alarm tanda bahaya berdering jangan langsung panik. Tetap tenang.
  4. Ikuti arahan petugas.
  5. Berkumpul di titik kumpul yang telah ditetapkan.
  6. Hindari menggunakan lift saat berada di gedung bertingkat. Gunakan tangga darurat.
  7. Tak perlu berlari untuk menyelamatkan diri karena hanya menimbulkan kepanikan.
  8. Jika mampu, maka bisa mencoba memadamkan api ketika terjadi kebakaran di dalam ruangan.
  9. Hubungi segera nomor darurat saat terjadi bencana.
Cara Menyelamatkan Diri Saat Bencana
Kontak Darurat

Mengapa BNPB mengadakan simulasi dan latihan kesiapsiagaan bencana? Tujuan diadakannya latihan ini untuk meningkatkan kesadaran, kewaspadaan dan kesiapsiagaan seluruh komponen bangsa dalam menghadapi potensi bencana di Indonesia. Dalam situasi darurat, pengambilan keputusan secara cepat dan tepat dan meningkatkan peluang selamat dan meminimalkan dampak kerugian, baik materi maupun jiwa. Yuk, kita cari tahu cara menyelamatkan diri saat bencana agar ketika terjadi, kita telah siap dan bisa meminimalkan kerugian materi dan jiwa.

1,035 total views, 2 views today

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here