Tips & Trick

Jurus Bangkit dari Keterpurukan

Hidup serupa naik putaran roda yang melaju naik dan turun. Kadang di atas, lalu mendadak bisa saja berada di bawah, setelahnya secara perlahan bisa lagi bergerak ke atas. Saat berada di atas, senang dong ya pastinya. Bagaimana ketika berada di bawah? Apa yang akan kita lakukan? Apakah menangis dan menyesali diri? Apakah akan menyalahkan keadaan dan menyalahkan orang lain? Atau kita malah tidak mau melakukan apa-apa lagi karena beranggapan hidup tak adil? Pilihan apa pun ada di tangan kita. Kedua situasi tadi, entah berada di atas ataupun berada di bawah memberi pengalaman dan pelajaran sendiri-sendiri.

Nikmati Perjalanan dan Ambil Pelajaran

Kehidupan yang berada di atas maupun berada di bawah pernah saya nikmati keduanya. Saya pernah menikmati kehidupan di mana segala hal bisa saya dapatkan dengan mudah. Mau beli sesuatu tinggal buka dompet. Mau pergi liburan, bisa langsung pesan tiket. Mau makan apa pun yang saya sukai, semua tersedia. Namun begitu saya menikah dengan lelaki yang tak direstui orangtua, kehidupan itu lenyap seketika, sementara suami bukan berasal dari keluarga berada.

Saya dan Pewe Akhirnya Bisa Honeymoon ke Bali Setelah 15 tahun Menikah... hahaha

Shock? Jelas! Ditambah lagi, saya dan suami memiliki latar belakang berbeda dan gaya hidup berbeda. Kalau diingat-ingat lagi, awal kehidupan rumah tangga saya luar biasa sangat. Hahaha. Hidup masih numpang di rumah mertua. Makan di rumah ya tetap tak bisa bebas karena harus ingat anggota keluarga lain. Tidak bebas deh pokoknya. Kalau mau jajan sendiri juga harus mikir, sisa uang berapa ya? Besok bisa dapat uang lagi tidak ya? Saya bukan penyuka shopping layaknya perempuan kebanyakan (beli lipstik, baju baru, dan sebagainya not my style), tapi saya penggila buku. Sebelum menikah saya bisa menghabiskan setengah juta sendiri untuk beli buku dan saya melakukannya tanpa pikir panjang, sementara di awal menikah saya harus memutar otak gimana caranya dengan uang Rp100.000,- bisa dapat banyak buku.

Dalam kondisi di bawah, apakah saya menyesali keputusan saya? Ya jujur, kadang-kadang terselip perasaan itu. Hanya saja setiap perasaan itu muncul, saya malah terpacu untuk mengembalikan posisi saya, minimal tidak terlalu berada di bawah. Minimal saya bisa membeli keperluan saya sendiri tanpa harus minta suami. Wis pokoknya, saya berusaha minimal saya bisa membeli buku yang saya suka tanpa perlu mikir besok makan apa. Meratapi nasib dan hanya menunggu hidup jadi seperti yang saya impikan jelas mustahil. Toh ini keputusan saya sendiri. Menerima nasib begitu saja pun saya tidak mau. Kan Tuhan kasih “bekal” berupa kemampuan tertentu agar manusia bisa hidup lebih baik di dunia. Kemampuan itulah yang harus digunakan. Dengan kemampuan itulah seharusnya manusia berusaha untuk memiliki hidup yang diimpikan.

Bangkit!

Peran suami sangat besar dalam kehidupan saya. Thanks, God, karena Tuhan kasih dia jadi pasangan hidup saya. Dia suka mengamati saya membaca. Dia yang pertama kali melihat potensi saya dan mendorong saya untuk menulis. Saya pun mencoba menuliskan kisah-kisah saya di buku tulis dan suami yang mengetikkan semua tulisan saya dengan komputer desktop yang Pentium 1 pun belum. Dia juga yang mengajari saya menggunakan komputer. Singkat cerita, saya akhirnya bisa menjadi salah satu penulis artikel paling produktif di salah satu agensi. Tapi namanya hidup, tetap tak semudah kelihatannya. Meski sudah mulai menulis artikel, tetap kehidupan belum benar-benar membaik. Lalu, apa yang selanjutnya saya lakukan?

Lakukan sesuatu. Lakukan tanpa penyesalan sedikit pun. Tidak berkecil hati ketika menerima kritik. Kamu pasti sudah tahu apa yang akan dikatakan oleh para pengkritik itu. Singkirkan rasa takut akan kegagalan. Apa yang kamu lakukan jauh lebih berharga daripada sebuah kesuksesan semu. Kesuksesan sebenarnya adalah saat kamu mendapatkan pengakuan, berani mengambil risiko, dan bersenang-senang. Jangan pedulikan apa pun. Lakukan terus sesuatu itu.

– Asher Roth –

Ya, lakukan sesuatu! Kita tak bisa berdiam diri saja dalam situasi yang tak menyenangkan atau dalam kehidupan yang bukan kehidupan impian kita. Dan inilah yang saya lakukan pada akhirnya. Melakukan sesuatu. Memberanikan diri untuk mencoba tanpa takut gagal. Saya dan suami terus bergerak. Mencoba banyak hal. Gagal. Bangkit lagi. Gagal lagi. Wis pokoknya meski berkali-kali gagal, tetap harus bangkit lagi. Sampai akhirnya satu persatu buku saya terbit. Tapi kegembiraan kami tak berlangsung lama. Ketika salah satu novel saya dinyatakan best seller dan nilai royaltinya cukup lumayan (dari laporan pembayaran yang dikirimkan penerbit), pemilik agensi tempat saya bernaung malah bawa kabur uang royalti tersebut. Cilaka dua belas!

Saya down. Manusiawi banget kan ya. Udah capek-capek berusaha, hasilnya malah “digondol” tikus. Suami terus memotivasi saya. Katanya, nanti Tuhan ganti. Ikhlaskan aja. Gampang ngomong ikhlaskan, sakit dan kecewanya mana tahan.

Benar saya. Tuhan sepertinya memang ganti, tapi cara Tuhan itu selalu ajaib. Suami dapat tawaran kerja di Jakarta. Dan setahun berikutnya buku-buku saya mulai terbit di penerbit besar, dan tahun berikutnya lagi 6 buku saya masuk dalam daftar best seller. Tuh kan, Tuhan ganti kok. Memang tidak langsung. Ada proses yang harus dilalui setahap demi setahap. Selama kita menikmati setiap prosesnya dan terus bergerak, pasti akan selalu ada jalan.

Gambar: dok.pribadi.

Terpuruk Lagi

Hasyah. Hidup saya beneran kayak naik putaran roda kalau diingat-ingat lagi. Dari di atas, merosot ke bawah drastis. Naik sebentar, dan kembali turun. Tahun 2016, suami mulai sakit-sakitan dan pekerjaannya pun mulai terganggu akibat banyak absen. Dan puncaknya akhir 2016 dia terpaksa digotong ke salah satu rumah sakit di Jakarta. Cuma seminggu, tapi karena kami belum jadi peserta JKN, tabungan kami ludes dalam sekejap. Suami didiagnosis sirosis hati. Dokter menyarankan untuk menggunakan berbagai obat mahal untuk mengobati. Saya percaya aja karena ingin suami pulih lagi. Begitu membaik sedikit, suami minta melanjutkan berobat di Semarang, siapa tahu lebih murah katanya. Kami pun pulang ke Semarang, mengurus kepesertaan JKN, dan melanjutkan pengobatan. Dan ternyata penyakit suami bukan sirosis hati, melainkan karena ada gangguan di kantung empedunya. Dua bulan kondisi membaik, namun di akhir bulan kedua itu pula suami lagi-lagi diangkut ke rumah sakit dalam kondisi tak sadarkan diri dan dengan perut keras seperti batu. Dokter bilang kalau tidak segera dioperasi, suami bisa lewat.

Jangan kamu kuatir, burung di udara Dia pelihara.
Jangan kamu kuatir, bunga di padang Dia sirami.
Jangan kamu kuatir, apa yang kau makan minum pakai.
Jangan kamu kuatir, Tuhan di surga memelihara.

Lagu itu, lagu favorit saya dari kecil. Lagu itu pula yang menguatkan saya melalui perjalanan naik turun kehidupan saya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tuhan di surga memelihara saya. Percaya saja. Tetaplah berusaha. Jadi, saya tetap berjuang untuk bangkit. Saya yakin, selama saya terus berusaha, Tuhan tidak akan membiarkan saya terpuruk lama-lama. Saya pun mulai berpikir cepat. Memilah masalah untuk diselesaikan satu persatu. Hal urgent pertama, menyelamatkan Pewe. Saya bergerak mencari informasi mengenai penyakit yang Pewe derita. Dokter internis yang menangani Pewe hanya berani melakukan pertolongan pertama, memasang sonde melalui hidung untuk mengeluarkan cairan dari perut agar tekanan pada perut berkurang. Selanjutnya, Pewe harus dipindahkan ke rumah sakit yang lebih besar untuk tindak operasi. Saya pernah menuliskan kisah sakitnya Pewe ini di tulisan saya tentang BPJS.yang lain

Ayo Bangkit Lagi

Ada satu kejadian di rumah sakit, dua hari sebelum Pewe di operasi. Dokter bedah digestif yang menanganinya mengajak saya bicara. Tindakan operasi yang akan dilakukan risikonya cukup besar karena kantung empedu sudah dalam kondisi pecah dan batu-batu terserak di mana-mana. Selain itu sempat pula ditemukan tumor di usus. Dokter bilang, mereka akan mencoba dua cara: laparoskopik (4 sayatan kecil di perut untuk mengeluarkan batu sekaligus kantung empedu) dan jika gagal maka akan melakukan kolesistektomi terbuka (membuka bagian perut dengan sayatan besar untuk mengeluarkan batu dan kantung empedu yang busuk). Risiko cara kedua cukup besar, dan terbukti berbahaya. Salah satu pasien yang satu kamar dengan Pewe dan punya masalah yang sama akhirnya meninggal beberapa hari sebelumnya karena tidak bisa bertahan setelah pembedahan kolesistektomi terbuka. Tapi tidak ada cara lain lagi. Hanya operasi satu-satunya yang bisa mengembalikan Pewe ke kondisi yang tak sakit lagi. Waktu Pewe tahu ada opsi membuka perutnya, dia malah mau menyerah. Dia tidak mau dioperasi. Dia tidak mau mati dengan perut terbuka dan sudah diacak-acak. Waktu dengar dia ngomong begitu, saya harus menahan tangis dan berlagak kuat.

“Tidak apa-apa. Dokternya hebat kok. Tuhan juga tak akan tinggal diam.”
“Kalau gagal?”
“Pikir yang baik-baik aja. Pikir dokter akan bekerja dengan sebaik mungkin.”
“Iya, kalau akhirnya gagal?”
“Opsi kedua. Buka perut. Dan berjuang untuk kembali pulih.”
“Kalau akhirnya aku mati kayak mas-mas yang di pojok itu?”
“Ya, innalillahi.”

(Dan Pewe langsung melemparkan bantal ke wajah saya, yang langsung saya sambut dengan tawa. Bisa bayangkan tidak, saya harus menjawab semua pertanyaan itu dengan wajah datar, bahkan berusaha bercanda di kalimat terakhir, sementara dada saya rasanya mau pecah?)

“Nanti setelah operasi aku nggak bisa kerja berat lagi, kan?”
“Iya, kok kamu tahu?”
“Aku sudah browsing tadi waktu kamu dipanggil dokter. Memang satu-satunya cara untuk kantung empedu yang pecah dan ada batu empedunya ya cuma operasi, dan setelahnya tak bisa kerja berat lagi. Nggak bisa kerja kayak dulu. Trus nanti aku kerja apa? Nanti hidupin kamu gimana?”
“Tenang aja. Nanti Tuhan yang hidupin kita berdua, yang penting kita tetap berusaha ya.”

Tanggal 10 April 2017, sehari setelah keluar RS. Kami bikin foto ini biar jadi pengingat kalau kami sudah menaklukkan badai bersama-sama

Pewe akhirnya dioperasi dua hari kemudian. Operasinya sukses dan pakai cara pertama. Tuhan masih sayang padanya, pada kami, hingga memberi kesempatan untuk tetap hidup dan menikmati putaran roda kehidupan kami bersama-sama. Satu bulan tepatnya Pewe di rumah sakit. Sepuluh hari setelah keluar dari rumah sakit, dan setelah dua kali kunjungan ke dokter untuk kontrol, akhirnya kami kembali ke Jakarta dan memulai lagi kehidupan kami.

Saat ini kondisi kami sudah jauh lebih baik. Pewe bekerja freelance saja sehingga dia bisa menyesuaikan pekerjaan dengan kondisi tubuhnya yang tak boleh terlalu capek. Kesempatan menjadi blogger berhasil didapatkannya berkat bantuan banyak teman. Keinginannya untuk hidup semakin menyala ketika satu demi satu peluang datang. Bertemu banyak teman baru juga membuatnya tambah semangat. Selama ini kan dia hidupnya lebih banyak di depan layar komputer. Dunia blogging yang mengharuskannya bersosialisasi ternyata malah membuatnya exciting. Kami menemukan ritme kehidupan yang baru dan menjadi lebih kuat dalam menghadapi setiap tantangan yang datang. Kami jadi lebih solid juga setelah menaklukkan badai satu demi satu.

Kehidupan selalu ada naik dan turun. Perjalanan yang dilalui tak juga selalu mulus. Nikmati saja. Berproses tanpa lelah. Terus bergerak dan berusaha. Sertakan Tuhan dalam setiap langkah dan berjalanlah terus di jalanNya. Dan ketika jatuh, segeralah bangkit dari keterpurukan.

8 thoughts on “Jurus Bangkit dari Keterpurukan

  1. Inspiratif closingnya, Sukaaaa…

    “Kehidupan selalu ada naik dan turun. Perjalanan yang dilalui tak juga selalu mulus. Nikmati saja. Berproses tanpa lelah. Terus bergerak dan berusaha. Sertakan Tuhan dalam setiap langkah dan berjalanlah terus di jalanNya. Dan ketika jatuh, segeralah bangkit dari keterpurukan.”

    1. Mak Tanti, makasi banyak ya. Obrolan kita malam itu masih terekam jelas diingatan, termasuk nasihat-nasihatmu. Bersyukur mendapat kesempatan bisa menghabiskan banyak waktu sama Mbak Tanti. Doaku dari jauh, semoga berkat Tuhan terus melimpah untuk Mbak Tanti sekeluarga ya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *