Waktu penerimaan rapor semesteran Audi, anak lanangku satu-satunya, ada satu angka merah yang cukup mengganggu. Bahasa Indonesia. Memang sih di rapor angka 60 tidak benar-benar ditulis dengan tinta merah, namun angka tersebut tetap termasuk angka merah karena di bawah nilai rata-rata seharusnya (apa sih ini istilahnya zaman sekarang, aku lupa… hehehe). Nah, Audi mengeluh kalau dia jadi sering diejek teman-teman dan guru Bahasa Indonesia. Kata mereka, masa mamanya penulis, anaknya nilai Bahasa Indonesia-nya jelek banget. Audi sempat tanya juga gimana sih caranya mempelajari Bahasa Indonesia ini? Apa harus jadi penulis dulu biar pintar pelajaran yang satu ini?

Cintai Bahasa Indonesia

Ketika masih duduk di Sekolah Dasar, guru Bahasa Indonesia saya pernah berkata, “Cintai Bahasa Indonesia karena inilah bahasa satu-satunya yang akan membawa kita mencapai impian.” Dulu, saya tidak paham dengan kalimat ini, namun entah kenapa, kalimat “Cintai Bahasa Indonesia” terus terekam dalam kepala saya. Sejak saat itu, saya lebih suka menggunakan Bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari (meski kadang masih dicampur dengan bahasa Banjar yang merupakan bahasa daerah tempat tinggal saya. Di rumah, orangtua dan adik-adik bercakap-cakap menggunakan bahasa Banjar, sementara saya sebisa mungkin menggunakan bahasa Indonesia. Itu makanya sampai hari ini, bahasa Banjar saya tidak sefasih seharusnya.

Kenapa saya mencintai bahasa Indonesia? Seperti yang guru saya bilang, bahasa Indonesia bisa membawa saya ke mana pun. Tapi anak SD mana bisa pergi ke sembarang tempat secara bebas, kan? Nah cara saya agar bisa “melalangbuana” adalah melalui buku. Saya senang membaca, baik majalah mingguan, tabloid, koran, hingga novel. Semua bacaan saya menggunakan bahasa Indonesia. Kalau saya tidak belajar dan mencintai bahasa ini, jelas sulit bagi saya untuk memahami bacaan. Selain itu, saya yakin jika suatu hari saya pergi ke daerah lain di Indonesia, bahasa Indonesia inilah yang bisa membantu saya berkomunikasi dengan orang lain.┬áDan terbukti, begitu lulus SMP, saya melanjutkan SMA di Malang. Menguasai bahasa Indonesia membuat saya lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan baru dan orang-orang baru yang saya temui. Selain itu, saya jadi lebih mudah memahami suatu topik bahasan ketika guru menerangkan atau ketika saya butuh informasi lain dari seseorang.

Jadi, bagaimana caranya agar bisa menguasai bahasa Indonesia? Tips yang bisa saya beri berdasarkan pengalaman, antara lain:

  1. Harus memahami dulu kalau bahasa Indonesia adalah bahasa pemersatu bangsa.
  2. Cintai bahasa Indonesia dengan cara menggunakannya dalam percakapan sehari-hari.
  3. Banyak membaca akan menambah perbendaharaan kata.
  4. Saat menemukan kosakata baru segera cari artinya di kamus.
  5. Penggunaan struktur bahasa bisa dipelajari dari buku maupun menyimak keterangan yang diberikan guru bahasa Indonesia.
  6. Agar nilai bahasa bagus, bisa pula rajin mengerjakan latihan soal bahasa Indonesia.

Tips tersebut lalu saya berikan ke Audi. Memang sih nilainya tidak sebrilian yang diharapkannya sendiri, namun ternyata tips tersebut cukup membantunya meningkatkan nilai pelajaran bahasa Indonesia-nya. Nah, buat kalian yang saat ini juga masih sering dapat nilai merah untuk pelajaran yang satu ini, mungkin bisa ya gunakan tips yang saya berikan. Siapa tahu bisa membantu.

Awas, Cinta Bahasa Indonesia Bisa Mendorongmu Jadi Penulis!

Kecintaan saya pada bahasa Indonesia terus berlanjut. Ketika SD, saya jadi satu-satunya murid yang kartu perpustakaannya penuh saking seringnya pinjam buku di sana. Ketika SMP, hal yang sama terjadi lagi. Bahkan selama 3 tahun duduk di bangku SMP, saya beberapa kali ganti kartu saking penuhnya kartu saya (dulu kan kartu perpustakaan berupa selembar kertas yang nantinya diisi dengan judul buku yang pernah dipinjam, beda dengan sekarang kartunya). Di SMP ini pula, kegemaran saya akan bahasa semakin berkembang. Saya tidak lagi hanya senang membaca, tetapi juga mulai menulis. Ada banyak cerita yang saya tulis di buku tulis. Sayangnya di masa itu saya belum mengenal dunia publishing. Saya hanya menulis dan hasil tulisan saya tetap tersimpan di buku itu hingga buku itu dibuang mama yang hobi bersih-bersih lemari meja belajar saya… hahaha

Buku Pertama Saya yang Berhasil Terbit. Penerbit: Tiga Serangkai

Saat SMA di Malang, kecintaan saya semakin menjadi-jadi karena bertemu dengan Pak Bernardus, guru bahasa Indonesia saya ketika itu. Beliau inilah yang kemudian banyak mengasah kemampuan menulis saya. Bahkan di luar jam pelajaran, beliau mau mengoreksi cerpen-cerpen yang saya tulis, memberi kritik dan masukan, atau malah meminta saya menulis ulang. Nilai pelajaran bahasa saya pun di atas rata-rata, bahkan menjadi satu-satunya pelajaran dengan nilai 9 di rapor.

Kenaikan kelas dua SMA dan harus mulai memilih jurusan, keinginan saya untuk masuk jurusan Bahasa ditolak mentah-mentah oleh papa saya. Menurutnya, tidak ada profesi yang bagus di dunia menulis. Penulis adalah seniman, dan seniman biasanya punya masa depan suram. Akhirnya mau tidak mau saya masuk jurusan IPA, dan impian jadi penulis pun berubah karena tuntutan. Dan ini mengubah pula keseluruhan rencana masa depan yang pernah saya impikan. Lulus SMA, saya masuk kuliah dan mengambil jurusan yang “bukan saya banget”, arsitektur. Karena bidang ini tak benar-benar saya sukai, pada akhirnya selepas meninggalkan bangku kuliah, saya malah menjadi sales, bidang yang paling umum buat cari uang…

Meski begitu banyak halangan yang mencegah saya menjadi penulis, kecintaan saya akan bahasa Indonesia, juga dunia membaca dan menulis, tetap mendorong saya untuk mengisi waktu luang dengan banyak membaca dan mulai menulis dengan lebih serius. Di dalam tas saya selalu ada buku bacaan dan notes untuk menulis cerita, yang terselip di antara brosur produk yang saya bawa kerja. Saat jam makan siang, saya lebih memilih menulis daripada ngumpul dengan karyawan lain. Pulang kerja pun begitu juga, saya lebih suka segera pulang biar bisa punya waktu menulis daripada nongkrong ngalor-ngidul membicarakan sales target yang tak masuk atau bergosip mengenai karyawan lain.

Novel Pertama Saya Terbit Tahun 2012

Akhirnya, keinginan untuk fulltime di dunia menulis dan punya karya sendiri yang dibaca banyak orang sudah tak terbendung lagi. Saya mulai mengirimkan tulisan-tulisan saya untuk lomba menulis, untuk jadi penulis artikel berbayar, kemudian memberanikan diri mengirimkan naskah saya ke penerbit. Prosesnya tidaklah mudah. Penolakan demi penolakan pernah saya alami. Tapi tidak ada kerja keras yang tak mendapatkan balasan terbaik, kan? Tahun 2012 menjadi awal perjalanan saya merintis karier sebagai penulis. Satu persatu buku saya terbit di penerbit besar. Saya pun mulai menikmati jerih payah saya dan hidup dari hasil tulisan saya.

Hingga hari ini, tahun 2018, saya masih “betah” di dunia tulis menulis ini. Siapa bilang dunia menulis tak bisa dijadikan profesi? Nyatanya, ada banyak bidang yang bisa dikembangkan berkaitan dengan dunia menulis. Tinggal kita mau atau tidak berusaha terus berkarya dengan hasil pemikiran sendiri dan terus belajar untuk menciptakan inovasi-inovasi baru. Dan hari ini, saya tak memungkiri kalau pelajaran bahasa Indonesia di masa lalu berperan besar dalam karier saya saat ini. Andai dulu saya tidak jatuh cinta dengan bahasa Indonesia, mustahil saat ini saya bisa berkarya dan terus menulis.

Nah, kalau kamu bagaimana? Adakah pelajaran di masa lalu yang ternyata mengantarkanmu meraih profesi impian di masa sekarang?
Yuk berbagi kisah di kolom komentar ya.

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here