Meningkatkan Keahlian Modal Bertahan di Masa Pandemi Covid

Hari Minggu adalah hari belajar. Ini yang beberapa bulan terakhir aku terapkan, mengingat memang tak bisa ke mana-mana selama masa pandemi ini. Hal yang jadi fokus tulisanku kali ini adalah tentang kemauan dan tekad untuk terus belajar untuk meningkatkan keahlian sebagai modal bertahan di masa pandemi Covid.

Weekend dan Creative Journaling untuk Mengasah Kreativitas dan Mengelola Stres

Hmmm… ini bukan berarti aku ahli atau sok menasihati ya dalam tulisan ini. Niatnya hanya berbagi melalui tulisan berdasarkan pengalaman yang sudah kujalani.

Saat weekend begini memang me time yang kulakukan untuk bermain-main dengan jurnal. Creative journaling yang banyak bermain dengan warna, menggambar, gunting, lem, sticker, dan kertas-kertas cantik, bisa membantu mengasah kreativitas, mengalihkan pikiran pada hal lain yang lebih menyenangkan, dan bagus untuk mengelola stres.

Ya iyalah, siapa yang tidak stres terkurung terus di rumah, melihat pasangan yang wajahnya begitu-begitu saja, atau menghadapi rutinitas yang itu-itu saja? Makin stres sih biasanya.

Apalagi kalau sampai berharap setiap pagi bangun terus menemukan orang yang berbaring di sebelah wajahnya seperti Oppa-oppa Korea, lalu berakhir dengan adegan romantis tanpa bau jigong… hahaha.

Dalam blog ini, aku pernah menulis tentang 5 manfaat menulis jurnal harian. Kalau mau tahu manfaatnya apa saja, bisa langsung meluncur baca dulu artikel tersebut ya.

Jurnal Harian Membantu Meningkatkan Kapasitas Diri untuk Bertahan dalam Berbagai Situasi

Berkat kelima manfaat menulis jurnal yang sudah kurasakan, maka aktivitas menulis jurnal harian sampai hari ini masih terus kulakukan. Beberapa hal yang kemudian berkembang dari kebiasaan menulis jurnal ini, antara lain:

Evaluasi Mingguan untuk Meningkatkan Keahlian

Karena terbiasa mencatat semua pekerjaan yang dilakukan dalam satu hari beserta hasilnya, aku bisa melakukan evaluasi di akhir minggu.

Pekerjaan mana saja yang bisa diselesaikan dengan baik. Pekerjaan mana saja yang selesai, namun hasilnya kurang baik. Mana pekerjaan yang butuh perbaikan, kegiatan yang hanya memboroskan waktu? Bagaimana dengan progress kerja tim?

Catatan Perbaikan

Setelah membuat catatan evaluasi dan melihat hasilnya sesuai dengan progress yang terjadi, selanjutnya ya membuat catatan perbaikan.

Biasanya, aku akan membuat mind map dan outline kasar dalam bentuk gambar peta, menggunakan spidol atau pen warna-warni (biar mudah diingat dan bisa dianalisis pula alur kerjanya).

Catatan perbaikannya diusahakan sedetail mungkin. Misalnya, langkah perbaikan yang perlu diambil, rencana cadangan kalau langkah itu gagal, termasuk siapa (orang) yang bisa diajak berkolaborasi menyelesaikannya.

Rencana Cadangan Ketika Bekerja sama dengan Orang Lain

Hmmm… tapi bekerja sama dengan orang lain, juga tetap perlu rencana cadangan lho. Paling bikin geleng-geleng kepala kalau sudah berhadapan dengan orang yang iya-iya di awal, mundur belakangan tanpa berusaha menyelesaikan pekerjaan, dan disertai dengan banyak alasan.

Atau gampang sekali bilang, gaskeun, oke, majuuu, dan sejenisnya. Tapi begitu kerjaan sudah di depan mata, eh melempem. Target juga seringkali disalahkan. Lalu, waktu 24 jam yang tak cukup untuk mengerjakan semuanya juga paling kasihan disalahkan terus. Padahal dari dulu semua manusia juga memang hanya punya 24 jam, kan?

Aku rasa, ini termasuk catatan perbaikan yang aku highlight, bold, tulis besar-besar sebagai reminder. Jadi orang itu harus bisa menakar kapasitas diri.

Tahu sampai batas mana kemampuan yang dimiliki, bisa mengelola waktu (atau minimal berusaha melatih diri untuk belajar mengatur waktu dengan baik), dan tidak serakah.

Semua mau diambil, mau dikerjain, habis diambil eh tak sanggup tinggal mundur tanpa memikirkan risiko yang bakal ditanggung orang lain. Ini not good banget nih. Makanya, rencana cadangan untuk setiap tahap perlu dibuat dan dipersiapkan juga.

belajar untuk meningkatkan kemampuan

Rencana Mingguan

Selain sebagai penulis buku yang kerjanya memang menulis buku, juga sebagai blogger yang sering dapat job tulisan mandiri, aku juga kan mengembangkan diri jadi koordinator blogger dan influencer, content writer di beberapa website, atau bantu Pewe mengelola kelas online gratis sebagai media berbagi.

Hmmm… masalah berbagi itu hanyalah salah satu cara kami untuk belajar jadi manusia yang bermanfaat. Tak punya uang buat dibagi-bagi buat bantuin orang lain, ya berbaginya lewat waktu, tenaga, dan pengetahuan yang sedikit dimiliki ini.

Minimal kalau suatu hari mati mendadak, trus ditanya Tuhan apa yang sudah dilakukan semasa hidup, ada kata berbagi yang sudah dilakukan lah ya.

Hal yang sama juga berlaku saat jadi koordinator blogger atau influencer. Ini hanya sampingan, di mana kami berkesempatan membagi peluang ke banyak orang. Jadi talang, meski talangnya rapuh, rasanya lebih baik agar hidup tak terlalu sia-sia. Meski kadang godaan hati untuk ambil semua sendiri job untuk blog, mengingat saat ini blog pribadi yang aku dan Pewe kelola sudah lebih dari 200 blog.

Dengan pekerjaan yang harus ditangani setiap hari sedemikian banyak, bisa rontok otak kalau tak membuat rencana mingguan. Makanya, weekend adalah waktu terbaik untuk melakukan analisis, memikirkan, mempertimbangkan, dan menyusun ulang.

Apa yang akan dilakukan selama 1 minggu kedepan? Mana saja yang menjadi prioritas? Pekerjaan mana yang bisa didelegasikan dan bisa jadi peluang untuk orang lain?

Catatan Progress Belajar Demi Meningkatkan Keahlian

Belajar itu harus dilakukan terus menerus demi meningkatkan keahlian dan kapasitas diri. Belajar dari mana saja wis pokoknya, baik dari kegiatan membaca buku, nonton video microlearning, ikut kursus online baik yang gratis maupun berbayar, bahkan ikut webinar.

Untuk kegiatan membaca buku, aku selalu memaksa diri untuk membaca minimal 2 halaman, kemudian membuat rangkumannya di jurnal. Apa yang baru saja aku baca? Bagaimana hal tersebut bermanfaat buat aku? Bisakah diterapkan dalam keseharian? Semacam itu.

Secara teori, hasil belajar kelihatannya mudah. Tapi coba praktikkan. Susah euy… makanya butuh belajar berulang buat pengingat, jadi reminder, dan berharap segera ada perbaikan. Nah untuk membuat catatan yang rapi atas hasil belajar ini, aku punya jurnal khusus.

Ribet kebanyakan jurnal? Iya juga sih. Tapi aku tipe orang yang belajarnya tidak cuma dengan membaca dalam hati. Sejak masa sekolah dulu, aku harus membaca dalam hati sekali dua kali, lalu menulis rangkumannya, dan terakhir membaca dengan keras agar bisa didengar telinga dan bisa ingat untuk waktu yang lama.

Kalau pun kelak lupa, tinggal buka jurnal rangkuman, tak perlu mengobok2 tumpukan buku lagi.

Sekarang pertanyaan besarnya, apa hubungannya kebiasaan belajar, menulis jurnal, upaya untuk mengubah diri yang sudah kulakukan di atas, dengan melalui masa pandemi Covid-19 saat ini? Terutama masa beberapa bulan terakhir setelah lebaran, malah tingkat kasus penderita Covid semakin menggila. Apa manfaatnya?

Meningkatkan Keahlian Modal Bertahan di Masa Pandemi Covid

Pandemi mengubah kehidupan. Ini fakta yang sekarang sudah terjadi. Mana bisa pula kita memungkiri sementara kita ya memang mengalami, kan? Dari segala sisi, segala bidang, mau tidak mau dan suka tidak suka, harus ikut menyesuaikan diri.

1,5 tahun ini, banyak orang terpaksa harus lincah melihat peluang, namun tetap diam di rumah untuk mencegah penularan. Semuanya berusaha bertahan dengan berbagai cara.

Sayangnya memang, tidak semua orang beruntung dan bisa mendapatkan pekerjaan online. Ada banyak faktor yang membuat hal ini terjadi, seperti:

  • Kurangnya kemampuan melihat peluang di internet.
  • Tidak memiliki keahlian digital sehingga tidak tahu harus mulai dari mana.
  • Belum memiliki pengetahuan tentang literasi digital. Punya smartphone, tapi pemiliknya belum bisa memaksimalkan fungsi smartphone.
  • Tak mau belajar dan upgrade diri atas kebutuhan keahlian dan kemampuan baru di era sekarang.

Di saat yang sama perusahaan sebesar apa pun juga melakukan banyak perubahan demi bisa bertahan. Ada bidang usaha yang mengalami peningkatan dengan begitu cemerlang. Sebaliknya, ada pula perusahaan yang terpuruk hingga terpaksa menghilang.

Beberapa catatan yang kemudian saya highlight di jurnal sebagai hal yang perlu menjadi fokus dalam upaya meningkatkan keahlian dan menggali potensi diri, antara lain:

Efektivitas Tenaga Kerja

Di masa pandemi, ketika perusahaan juga melakukan berbagai upaya untuk bertahan, mereka akhirnya menyadari cara untuk meningkatkan kinerja dan efektivitas tenaga kerja. Perusahaan pada akhirnya melihat ada banyak pekerjaan yang awalnya dikerjakan 5 orang, misalnya, ternyata bisa selesai dengan baik meski hanya satu orang yang mengerjakannya.

Maka jika sebelumnya harus mengeluarkan biaya operasional 5 x 3jt (UMR) – belum termasuk bonus dan biaya lainnya. Maka saat ini cukup hire 1 orang dengan nominal yang sama (atau kurang sedikit), bekerja WFH, tak ada beban operasional lain-lain yang mengikuti (sewa kantor dan bayar listrik misalnya).

Terbuka Peluang Baru dan Profesi Baru

Lahir dan berkembang berbagai profesi baru yang sebelumnya tak ada. Kreativitas, agile, kemampuan berpikir praktis dan analisis menjadi modal utama. Contohnya: social media content, content creative, konsultan online, dokter online, jasa analisis, dll.

Masalahnya, untuk bisa menemukan peluang baru dan memulai profesi baru, mau tak mau kita belajar. Kalau dulu tahunya ponsel cuma buat telepon dan kirim pesan, sekarang ponsel bisa berguna pula untuk berbisnis dan jualan.

Jika sebelumnya ponsel cuma untuk stalking media sosial, atau kepoin artis, sekarang dari ponsel yang terhubung ke internet, kita bisa dapat penghasilan. Entah jadi konten kreator, Youtuber, blogger, bahkan jadi guru atau konsultan online.

Uji Mental dan Kemampuan Bertahan

Satu setengah tahun terakhir ini mental benar-benar mendapatkan ujian luar biasa. Di saat yang sama, kemampuan bertahan di masa sulit juga perlu menjadi fokus perhatian. Jika mampu bertahan, maka bisa melanjutkan perjalanan. Jika melempem, ya mundur pelan2 dengan banyak alasan. Atau akhirnya tertinggal dan kehilangan kesempatan lebih banyak.

Aku rasa, kemauan untuk terus belajar (terutama mempelajari hal-hal baru) penting sekali di masa sekarang. Butuh waktu dan proses ya sudah pasti. Sedikit demi sedikit lama-lama bisa kok. Ini yang selama ini menjadi prinsip aku dan Pewe. Semua bisa dipelajari. Tinggal kitanya mau atau tidak.

Sayangnya, masih banyak yang baru mulai saja sudah patah arang. Ini terlihat pada beberapa kelas gratis belajar ngeblog yang aku ikuti. Baru bahas yang paling simpel terkait fitur di dalam blog saja, sudah banyak yang mutung.

Belum lagi pas perbaikan struktur blog, pasang robot txt, wah makin banyak yang langsung hilang dari grup (hilangnya tidak left sih, tapi tak berani tanya, tak melakukan tugas, dan akhirnya ya sudahlah).

Oh ya, mental dan kemampuan bertahan ini sebenarnya tidak hanya tentang belajar bertahan di masa pandemi. Dalam pekerjaan pun sama sebenarnya. Ketika mendapatkan tanggung jawab atas pekerjaan tertentu, berapa banyak orang yang mau belajar dan berjuang hingga pekerjaan selesai.

Terlepas nanti hasilnya bagus atau tidak, sesuai harapan atau tidak, menurutku itu urusan belakang. Kemauan untuk mengerjakan sampai selesai saja sudah membutuhkan mental tangguh, kan? Nah, berapa banyak orang yang mau berusaha mengerjakan tugasnya dengan sebaik-baiknya?

Bekerja Sehat, Hidup Sehat

Sub bahasan ini terlintas dalam pikiran, namun aku pribadi tidak tahu apa yang harus kutulis. Secara, caraku bekerja belum masuk kategori bekerja sehat dan belum juga menjalani hidup sehat.

Tapi dari banyak buku yang kubaca, begitu pun dengan berbagai referensinya, bekerja sehat adalah bekerja dengan mengutamakan produktivitas dan pengelolaan waktu, namun tetap memperhatikan sinyal tubuh.

Misalnya, mata yang terus menerus melihat screen kan jelas tidak sehat. Posisi duduk. Tidak melakukan peregangan dalam jarak waktu tertentu, juga sangat berbahaya.

Ah, PR-nya masih banyak sekali sebenarnya. Tapi dari catatan hari ini yang kutuliskan di jurnal, poin demi poin yang sudah tercatat masih perlu mendapatkan perhatian khusus dan upaya untuk mencoba melakukannya di minggu depan. Tujuannya, ya biar hidup tetap baik-baik saja meski kondisi di luar sana sedang tidak baik-baik saja.

Semoga ya pandemi cepat berlaku. Jangan lupa untuk terus belajar demi meningkatkan keahlian yang menjadi modal bertahan di masa pandemi covid ini.

18 pemikiran pada “Meningkatkan Keahlian Modal Bertahan di Masa Pandemi Covid”

  1. aku belum terorganisir buat lakuin evaluasi rutin selama mingguan mba, rasanya tuh penuh banget padahal penting yah ada evaluasi kayak gitu biar tahu mana yang perlu perbaikan semacam itu..menarik banget ini sih mba tapi sayangnya aku belum bisa

    Balas
  2. Kekurangan saya yang paling sulit ditolerir itu adalah mengelola waktu dengan baik.
    Saya suka kebablasan setiap duduk di depan laptop. Lupa waktu, makanya kerjaan lain jadinya terbengkalai.
    Maka perlu banget ini menggunakan jurnal mingguan kalau perlu jurnal harian, biar tidak keteteran dengan waktu.

    Balas
  3. Semoga pandemi segera berlalu. Mau nggak mau bisa nggak bisa kita memang dipaksa oleh keadaan untuk tetap terus bertahan menghadapi cobaan ini. Setuju banget nih kalau lebih baik belajar sedikit demi sedikit daripada tidak belajar sama sekali.

    Balas
  4. Mbak, aku setuju banget kalau terus belajar meningkatkan keahlian jadi faktor penting untuk bertahan. Terlepas adanya covid atau enggak, belajar memang sebuah kewajiban, ya. Aku juga sering ikut kelas online buat ningkatin skills nih. Menurutku, belajar skills baru jadi investasi yang penting untuk masa depan. Ya setidaknya kalau belum bisa investasi dalam bentuk uang, bisa invest keahlian kan? :))

    Balas
  5. Kemajuan utk bisa membuat konten yg bagus blm tuntas bunda pelajari. Pokoknya bunda SLOW BUT SURE aja deh. Tp kl baca tentang job online, ingatan melayang ke tahun 2015 apakah diusia 82 bunda masih bisa dpt kesempatan utk menulis di blog secara kontrak 3 bulan seperti th 2015 menulis di blog 8 postingan setiap bulan dengan fee rounded hampir 5 jutaan. Rasanya banggaaa banget jd blogger. Nah! Bunda hrs menggali ilmu perblogingan agar blog diintip banyak blogger lain. Siapa tau ada yg mau kontrak bulanan lg utk bikin postingan.

    Balas
  6. Huhuhuuu…bunds blm pernab bikin jurnal sejak jd blogger th 2009 hingga sekarang. Ternyata memang bunda hrs kembali lg ke sini utk menyimak dengan baik content blog ini. Nunda harus bnyk bljr apa saja yg berkaitan dengan ilmu perbloggingan dengan pernak perniknya. Sdh terlambat krn usia sdh 82? Selagi ada semangat belajar usia tdk menjadi penghalang utama.

    Balas
  7. Belajar pengembangan diri, salah satunya upgrade skill terus, buat tetap bertahan dan menjadi Flexible menerima kolaborasi dengan siapapun. Berjejaring dan memperluas networking, insyaallh banyk membuka peluang dimasa pandemi sekarang.

    Wow 200 blog mah udah ongkang2 kaki, pake adsense, Ternikmat nunggu PO tiap bulan, asik tuuh beternak blog.

    Balas
  8. aah iya tuh mbaa.. journaling kayaknya bermanfaat banget yaa buat meminimalisir stress. soalnya gimanapun juga pandemi ini bener2 menekan mental. banyak berita2 ga enak kita dengar dan baca nyaris setiap hari

    Balas
  9. Selalu kagum sama teman-teman yang konsisten membuat jurnal. Saya sampai ikut kelasnya mba supaya makin lancar menulis jurnal. Namun tetap konsistensi yang jadi penentunya.

    Balas
  10. Semenjak PPKM, ngerasa banget efeknya di bidang ekonomi, tp dsnilab tantangan dn kreatifitas harus dimunculkan bgmna bsa ttp menghasilkan dn produktif. Makaisb sharingnya kak nambah masukan ntuk bsa bertahan di pandemi

    Balas
  11. Wah bagus nih.. jadi keingetan aku lagi baca buku yang berhubungan dengan kebiasaan baik nyambung banget lah kebetulan lagi nyicil bikin reviewnya….

    Balas
  12. Blog pribadi yang Kak Monic dan Suami urus sudah lebih dari 200 wah amazing😍 sekaligus salut juga karena masih mau berbagi sama teman-teman blogger yang lain. Semoga makin dilancarkan rezekinya

    Balas
  13. Betul nih, org yg survive itu yg kreatif dan mau belajar yaa, jd terus upgrade skill kita, liat demand kebutuhan org2 jaman now apa, mumpung byk waktu dirumah kan selama masih pandemi dan ppkm gini

    Balas
  14. Ini kuncinya sukses ya, kak Monic.
    Meski sudah menekuni bidang kepenulisan, kak Monic gak pernah membiarkan diri untuk santai. Senantiasa belajar dan mencari ilmu dengan menyiapkan waktu khusus.
    Aku beberapa kali bikin time planner, tapi ujung-ujungnya dalam sebulan hanya terlaksana di minggu-minggu awal, semakin ke belakang, semakin banyak pemakluman.

    Pingin ngintip plannernya kak Monic jadinya..
    Hhehe…

    Balas
  15. Ilmu itu memang harus digali — tidak dapat “assalamualaikum” datang sendiri. Percaya dong ya?! Nah! Bunda sedang mulai merintis menggali ilmu yang berkaitan dengan perblogingan. Lhoh! Selama ini kemana aja ya bunda? Hidup di Zona aman dengan menulis unt blog tanpa meng-update-nya. Dalam hal cuma mengisi blog dengan CPs ( Content Placements) yg berdatangan via email sblm tahun 2020. Kesininya? Big Zero. Jd bunda hrs gali itu ilmu apa aja yg menyangkut blog. Kenapa? Ya, supaya blog bunda dilirik Clients dan dikunjungi para blogger. Sanggupkah bunda meninggalkan Zona Nyaman? Nope! Bunda hrs meninggalkan Zona Nyaman dan harus mengupgrade diri. Bisakah? Time will tell.

    Balas
  16. jadi keahlian modal ini perlu terus diasah dan dijaga yaa mba. Aku masih banyak belajar nih.. so far dari pengalaman sekolan akunting masih ambil prinsip – prinsipnya untuk pengelolaan keuangan pribadi

    Balas
  17. Motto yang bagus sekali: BELAJAR SEDIKIT DEMI SEDIKIT LEBIH BAIK TIDAK SAMA SEKALI. Tepat sekali untuk bunda terapkan. Btw sejak tahun 2009 bunda belajar menulis online sama sekali belum pgernah membuat jurnal. Parah ya!
    Dalam resolusi bunda tahun 2021 ini bunda harus mulai lagi menggali ilmu, terutama yang berkaitan dengan konten dan kalau mungkin mengupgrade. tampilan blog, termasuk belajar inforgrafis yang diperlukan ketika mempersiapkan postingan agar konten dan infografis saling mendukung (?) Pokoknya bunda harus belajar, belajar dan belajar. Harus move on dari ZONA NYAMAN hanya terpaku pada menulis postingan yang begitu begitu saja. Mampukah bunda? Time will tell!

    Balas
  18. Sejak th 2009 memiliki blog bunda blm pernah membuat jurnal. Dlm rangka menggali ilmu tentu saja konten postingan mbak Monica ini sangat valuable dan bunda harus membaca ulang dan menyimak dengan baik isinya. harus move on dari Zona Nyaman — menulis kknten blog yg bevitu-begitu saja tanpa pernak pernik yg menarik agar dilirik Clients dan para blogger. Banyak sekali yg hafus bunda pelajari tapi BELAJAR SEDIKIT DEMI SEDIKIT LEBIH BAIK DARIPADA TIDAK SAMA SEMAKI. Nice quote, mbak Monica. Tq

    Balas

Tinggalkan komentar