Laptop hasil menulis
Sumber: dok.pribadi
Saya sering sekali menerima inbox di Facebook dari teman-teman yang ingin bisa menulis. Setelah chat panjang lebar bertanya mengenai tips menulis, percakapan lalu ditutup dengan kalimat, “Tapi, Mbak, aku nggak punya komputer/laptop untuk menulis. Kayaknya sulit deh bisa jadi penulis kayak Mbak. Mbak sih enak, komputer/laptop sudah tersedia. Tinggal nulis aja.”
Saat membaca kalimat seperti itu, rasanya saya ingin sekali berteriak, “Hellow, dulu saya juga tidak punya laptop saat memulai tulisan-tulisan pertama saya! Dan laptop yang saat ini saya miliki adalah hasil dari saya menulis dulu.”
Tapi pada akhirnya saya tidak mengatakan apa-apa dan hanya memberi semangat seperlunya. Kalau dia punya keinginan kuat untuk bisa menulis, maka dia harus mencari cara sendiri mengatasi kesulitan-kesulitan “sepele” yang dihadapinya
(Sorry, masalah tidak punya komputer/laptop tadi saya anggap masalah “sepele” karena sebenarnya ada banyak cara untuk mengatasi hal ini!
Tujuh tahun lalu, saya juga punya keinginan mewujudkan impian lama yang tertunda. Saya ingin jadi penulis. Tapi keinginan ini harus saya pendam selama puluhan tahun karena orang tua tidak setuju. Pada akhirnya, keinginan ini muncul lagi dan saya tidak tidak menahannya lagi.
Saat itu, kehidupan saya sendiri tidak mudah. Saya seorang single parent dengan satu anak laki-laki (yang terpaksa dititipkan di rumah orang tua), menumpang tinggal di rumah adik, tidak punya komputer, dan bekerja sebagai sales lapangan yang berkeliling dari satu toko ke toko lain untuk mendapatkan orderan (demi memenuhi target yang telah ditetapkan di tempat bekerja saja). Pukul 6.30 saya sudah meninggalkan rumah di daerah Juanda, Surabaya, dan menembus kemacetan sepanjang jalan A.Yani. Tiba di tempat kerja (daerah Raya Darmo) setengah delapan. Setelah kroscek persediaan barang dan pesanan yang telah masuk, pukul 9 saya harus sudah keluar untuk berkeliling. Area penjualan saya adalah Sidoarjo dan sekitarnya. Jadi, saya balik lagi menembus kemacetan Jl. A. Yani untuk sampai di Sidoarjo. Sepanjang hari saya harus masuk keluar toko orang demi mendapatkan sederet pesanan.
Pukul 3 sore saya kembali ke tempat kerja untuk memasukkan order/pesanan yang telah saya dapat. Saya juga harus memeriksa kembali pesanan sebelumnya apakah telah diproses bagian gudang, apakah nota penjualan telah dibuat, dan lain sebagainya. Pukul setengah enam sore baru pulang kerja dan kembali bermacet ria dulu untuk tiba di rumah (sekitar pukul delapan malam). Namanya tinggal di rumah orang, meski di rumah adik sendiri, tetap saja saya tidak bisa seenaknya. Pulang kerja tidak bisa langsung istirahat. Biasanya, saya akan bantu ponakan perempuan saya bermain dan belajar dulu. Baru sekitar pukul 10 malam saya bebas dan bisa masuk kamar saya.
Jadi, kapan saya menulis? Apakah saya langsung menulis di komputer/laptop?
Sebelumnya, saya sudah bilang kan, saat itu saya tidak punya komputer apalagi laptop. Saya menulis di buku tulis atau di lembar-lembar kertas loose life yang juga sering saya gunakan untuk mencatat pesanan dari pelanggan. Saya menulis menggunakan tangan dan pulpen (bukan di komputer atau laptop). Saya menulis di malam hari, setelah ponakan, adik, dan adik ipar saya tidur. Saya menulis saat jam makan siang di kedai mana saja yang saya temukan. Saya menulis ketika sedang menunggu pelanggan yang masih sibuk atau sedang pergi. Kadang, saya menulis di pinggir jalan A, Yani sambil minum es kepala muda (untuk sekadar melepas lelah setelah mengendarai sepeda motor selama dua atau tiga jam). Intinya, saya menulis saat tersedia sedikit saja waktu luang. Semua tulisan itu saya tulis dengan tangan dan di lembaran kertas loose life atau buku.
Menulis di buku dan menggunakan pulpen masih saya lakukan hingga saat ini
Sumber: dok. pribadi
Hari Sabtu, saya hanya bekerja setengah hari. Inilah hari yang paling saya tunggu. Pukul 1 siang, selepas meninggalkan tempat kerja, saya langsung meluncur ke warnet di daerah Simolowaru. Di sana, saya membeli paket internet untuk 4 jam. Saya akan mengetik semua tulisan saya dengan cepat, menjadikan tulisan-tulisan itu sebagai file agar bisa dikirim ke penerbit atau ke website yang menerima karya tulis dengan bayaran. Kadang, di hari Minggu, jika tidak dimintai tolong momong ponakan, saya kembali pergi ke warnet untuk mengetik semua tulisan saya.
Apakah semua tulisan saya langsung diterima dan memberi hasil? TIDAK! Ada banyak tulisan yang dikirim kembali pada saya karena tidak sesuai dengan yang diminta, dianggap jelek, dan lain sebagainya. Penolakan jadi makanan sehari-hari yang harus saya hadapi, sama seperti penolakan demi penolakan yang saya dapatkan dari pelanggan.
“Maaf, hari ini tidak order dulu ya. Toko lagi sepi nih.”
“Minggu ini nggak usah datang ke sini. Barang yang minggu kemarin dipesan masih banyak.”
“Datang lagi bulan depan ya. Saat ini nggak order dulu.”
“Maaf. Kami belum bisa menerbitkan naskah Anda karena tidak sesuai dengan visi dan misi kami.”
“Maaf, artikel Anda harus dikembalikan karena tidak sesuai dengan konten yang kami minta.”
Jika dikumpulkan, beragam kalimat penolakan rasanya bisa jadi satu buku. Meski menggunakan pilihan kata berbeda, tetap saja intinya DITOLAK. Tapi dari beragam penolakan itulah saya terus berusaha memperbaiki tulisan saya. Dari berbagai penolakan, saya belajar untuk menghasilkan karya yang lebih baik lagi. Caranya? Banyak membaca!
Kapan waktu saya membaca, sementara jadwal saya sudah padat sekali?
Saya berusaha menyediakan waktu satu – dua jam sebelum tidur untuk membaca. Kadang malah cuma satu jam karena saya ketiduran. Meski begitu, saya tetap berusaha membaca setiap hari dan menulis setiap hari. Setiap hari saya menjalani hal ini dan dari hasil tulisan-tulisan saya itulah saya akhirnya bisa membeli komputer pertama saya dan secara bertahap saya akhirnya bisa membeli laptop (yang hingga saat ini masih saya gunakan)
Kenapa saya tidak terlalu menanggapi keluhan teman-teman di inbox mengenai ketiadaan peralatan untuk menulis (dalam hal ini komputer dan laptop). Karena orang yang mengeluh seperti ini saya anggap kurang memiliki keinginan kuat untuk mewujudkan cita-citanya.
Tuhan sudah begitu baik menyediakan otak untuk berpikir, tubuh yang sehat, dan dua tangan untuk menulis. Masa pemberian Tuhan itu tidak digunakan secara maksimal untuk mewujudkan impian? Buku tulis juga masih terjangkau, kan? Pulpen atau pensil juga. Saat ini malah sudah ada android atau smartphone yang bisa digunakan untuk menulis kapan saja. Alasan untuk tidak menulis karena tidak punya komputer/laptop jadi terdengar tidak masuk akal bagi saya jika dikeluhkan saat ini.
Kalian bagaimana? Apakah masih sering menjadikan ketiadaan peralatan sebagai alasan untuk tidak menulis? Jika iya, sebaiknya tidak usah saja bercita-cita jadi penulis.

1,728 total views, 2 views today

SHARE
Previous articleKomunitas Keren Beraura Positif
Next articleCara Mengirim Naskah dan Tema yang Disukai Penerbit

2 COMMENTS

  1. Wow luar biasa! Ada banyak jalan menuju Roma.Saya jadi menunduk malu dipojokan karena kebanyakan ngeluh.

    Nggak punya laptop sampai tahun berapa? Jadi penasaran pengen tahu lanjutan cerita bagaimana akhirnya punya laptop sendiri.

    Btw, itu tulisan tangan bisa rapi gitu ya?

  2. Angkat tangan, malu-malu…
    saya iya, mba Monic….

    Jadi Surabaya lah saksi bisu di balik kesuksesan mba Monic.
    *saya bisa membayangkan gambaran kisah mba Monic (karena sama-sama warga Surabaya).

    Haturnuhun mba Monic untuk mood booster nya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here