Di malam hari kedua setelah kami dari Bukit Campuhan, kami menginap di Santun Guest House. Karena tempat menginap kami ini enak banget, hari ini kami bangun agak siang. Sekitar jam 9 pagi kami baru sarapan di ruang makan yang ada di lantai 1. Sarapannya asyik, bisa milih antara pancake atau roti yang sudah termasuk dalam harga sewa kamar. Saya pilih banana pancake. Kami menikmati sarapan dan menyusun destinasi kami hari ini. Seperti yang telah direncanakan sejak di Jakarta, mulai hari ini kami tak lagi menggunakan mobil sewaan, melainkan sewa motor saja. Kebetulan di Santun tersedia motor untuk disewa dengan harga 50 ribu permotor untuk satu hari (mulai pagi sampai malam). Kami sewa dua motor. Karena kedua teman kami tak bisa naik motor maka saya terpaksa mengalah untuk tidak berboncengan dengan Pewe. Hiks. Saya boncengan teman kami yang satu dan Pewe bonceng teman kami yang lain.

Candi Tebing Gunung Kawi

Bersama Teman di Candi Tebing Gunung Kawi – Bali. Foto: Andini Harsono

Sekitar pukul 10, kami meninggalkan penginapan menuju Candi Tebing Gunung Kawi dengan rute: Jalan Raya Ubud, Jalan Gunung Sari, lewat Jalan Raya Pejeng Kawan yang panjang banget, masuk Jalan Raya Tampaksiring, dan tak lama kemudian tiba di Candi Tebing Gunung Kawi. Ya candi yang jadi destinasi kami ini memang berada di Kecamatan Tampaksiring, Banjar Penaka, Kabupaten Gianyar. Setelah berkendara kurang lebih 30 menit, kami akhirnya tiba. Dekat pintu masuk terdapat sawah dengan sistem subak, lalu kami melalui lorong dengan pintu gerbang dari batu. Di sana tertulis harus cuci tangan dan cuci muka dulu dengan air suci, namun air pancurannya tidak keluar, jadi kami langsung masuk saja. Begitu tiba di dalam, saya terpukau. Candi Tebing Gunung Kawi berbeda dengan candi yang saya lihat selama ini. Jika candi lain utuh dalam bentuk bangunan, candi di sini dipahat di tebing batu cadas hingga membentuk ruang-ruang yang unik berbentuk candi. Menurut cerita yang beredar di kalangan penduduk setempat, candi ini dipahat oleh seorang yang sakti bernama Kebo Iwa. Ia memahat dengan menggunakan kuku-kuku jarinya yang tajam, bukan menggunakan alat pahat seperti zaman sekarang.

Jalan Setapak Untuk Berkeliling di Area Wisata Candi Tebing Gunung Kawi

Area tempat wisata ini cukup luas karena di sini tidak hanya ada candi berukuran besar, namun juga hampir di semua tebing yang ada di area ini dipahat dan dibangun menjadi ruang-ruang kosong semacam gua. Entah apakah dulu dimanfaatkan untuk tujuan tertentu atau persembunyian, saya belum menemukan referensinya. Pokoknya berada di sini bikin betah sekaligus penasaran, apalagi ditambah ada beberapa pura di lokasi berbeda (masih di area yang sama), seperti Pura Kawan, Candi Prasadha Ukir, Pura Puncak Gunung Kawi, Pura Taman Suci, Pura Melanting, Pura Gunung Kawi, juga ada sawah dengan sistem subak yang airnya bergemericik menimbulkan perasaan yang nyaman. Kami sempat berpisah. Sementara dua teman kami berfoto di Candi Tebing Gunung Kawi dan Pewe berkelana menyusuri jalan setapak untuk menjelajah Pura lain, saya memilih duduk sejenak di dekat persawahan, menikmati gemericik air, sambil membayangkan apa sih yang dulu pernah terjadi di tempat ini sampai ada bangunan seindah ini. Kami berkumpul lagi setelahnya dan berkeliling bersama-sama sekalian foto-foto tentunya. Oh ya, sebelum pulang, kami turun melalui undakan batu menuju sungai yang juga masih terdapat di area tempat wisata ini. Pewe dan satu teman kami turun ke sungai, sementara saya memilih duduk di undakan menertawakan polah mereka. Satu teman kami yang lain seperti biasanya, jadi juru foto dadakan…. hahaha

Petunjuk Arah di Candi Tebing Gunung Kawi

Shanti Agrowisata

Destinasi kami berikutnya adalah Pura Tirta Empul. Sengaja cari destinasi yang dekat saja karena waktu telah menunjuk pukul dua. Perjalanan dari Candi Tebing Gunung Kawi menuju Pura Tirta Empul kurang lebih 20 menit. Baru saja kami memarkir sepeda motor di parkiran Pura Tirta Empul, kami dihampiri seorang Bli (panggilan lelaki di Bali) yang mengajak kami untuk mengunjungi agrowisata kopi bernama Shanti Agrowisata. Katanya, kopi di sini enak dan termasuk destinasi wisata baru yang digemari wisatawan asing. Mendengar kalau ini destinasi wisata baru, kami jelas tertarik, apalagi diiming-iming boleh mencoba kopi secara gratis. Jadi kami pun naik motor lagi mengikuti si Bli tadi (saya lupa namanya). Namun di pertengahan jalan, dia mengajak kami mampir dulu untuk makan siang di salah satu tempat makan yang kami temukan di jalan. Oke, lah, kami makan dulu, baru sesudahnya lanjut ke Santi Agrowisata.

Gazebo di Shanti Agrowisata Dengan Pemandangan yang Indah Banget

Tiba di Santi Agrowisata, kami disambut Bli Nyoman. Dia adalah salah satu pengurus di agrowisata tersebut. Kami diajak melewati area terbuka penuh tanaman kopi dan cokelat, kemudian bertemu dengan seorang ibu yang sedang mengsangrai biji kopi, melihat luwak yang bertugas makan biji kopi demi menghasilkan kopi luwak, dan akhirnya diajak turun ke gazebo di bagian bawah agrowisata. Di gazebo inilah kami boleh mencicipi berbagai minuman kopi dan cokelat yang dihasilkan di Shanti Agrowisata, antara lain Bali Cocoa Coffee, Bali Coconut Coffee, Lemon Grass, Ginger Tea, Bali Ginseng Coffee, dan sebagainya.

Puas mencicipi kopi dan sesi foto-foto, kami sempat bertemu dengan pemilik dan mengobrol mengenai kopi, budaya Bali, dan kondisi Indonesia saat ini hingga menjelang pukul 5 sore. Kami lalu pamit. Acara ke Pura Tirta Empul pun dibatalkan karena salah satu teman kami ada janji dengan pemilik bungalow di Ubud, Puji Bungalow. Kami langsung berkendara kembali ke Ubud, menghabiskan malam itu dengan mengobrol dengan pemilik Puji Bungalow sembari mengamati kehidupan para penghuni bungalow yang sebagian besar wisatawan asing.

Hari 3 di Bali berlalu dengan cukup memuaskan meski hanya dua destinasi yang kami kunjungi, yaitu Candi Tebing Gunung Kawi dan Shanti Agrowisata. Masih ada hari untuk ekplorasi destinasi keren lainnya. Tunggu tulisan saya selanjutnya ya.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here