Hari ini adalah hari ke-4 kami di Bali. Waktu berjalan begitu cepat hingga rasanya tahu-tahu sudah malam, lalu pagi, dan terus begitu. Hari pertama, kedua, dan hari ketiga berlalu bagai mimpi. Ada cukup banyak destinasi yang telah kami kunjungi, namun ada lebih banyak lagi destinasi wisata yang masih perlu kami kunjungi. Memangkan, ya? Setiap kali kita pergi berlibur, pastilah waktu terasa begitu cepat berlalu. Keterbatasan waktu membuat kami bergegas untuk bergerak menuju tempat-tempat keren yang sudah ada dalam daftar kami. Dan hari ini tujuan kami adalah Tegenungan Waterfall, Pantai Lebih, Blangsinga Waterfall, Tegalalang Rice Terace.

Tegenungan Waterfall

Perjalanan hari ini kembali saya dan teman-teman lalui dengan naik sepeda motor. Yah, sama seperti sebelumnya, saya membonceng satu teman, dan Pewe membonceng teman yang lain. Risiko nih jalan-jalan sama yang nggak bisa naik motor, saya “terpaksa” berpisah dengan Pewe untuk sementara waktu dengan hati sedikit tak rela lihat Pewe boncengan sama perempuan lain yang pakai celana pendek setengah paha… hahaha. Oke, curhatnya kapan-kapan aja. Lanjut deh ke Tegenungan Waterfall.

Tegenungan Waterfall
Tegenungan Waterfall. Foto: dok.pribadi

Air terjun Tegenungan atau Tegenungan waterfall berada di Desa Kemenuh, Kec. Sukawati, Kabupaten Gianyar. Jarak dari penginapan Santun ke sana kurang lebih 10km atau sekitar 30 menit berkendara. Pokoknya arahkan saja mobil atau sepeda motor yang dikendarai menuju ke Pasar Sukawati, saat bertemu Patung Rare Kumara (patung bayi raksasa), sudah dekat tuh dari sana. Gampangnya, manfaatkan saja aplikasi peta di ponsel. Saya juga mengandalkan aplikasi peta kok untuk sampai ke Tegenungan Waterfall ini.

Begitu tiba di lokasi, kami memarkir motor, lalu berjalan melewati deretan kios-kios yang menjual pakaian dan kain Bali, makanan, juga sovenir kerajinan kayu dan ukiran. Para pedagangnya cukup ramah dan tak terlalu mengganggu, jadi tidak perlu pula susah payah untuk menolak tawaran mereka. Setelah membeli tiket seharga Rp25.000,- perorang, saya pun melanjutkan perjalanan menuruni anak tangga yang lumayan banyak jumlahnya, berhenti sebentar untuk foto-foto dengan latar Tegenungan Waterfall yang tersembunyi di antara pepohonan, kemudian terus turun hingga ke bagian bawah, ke aliran sungai berwarna kecokelatan dengan rock balance berjajar di tengah sungai.

Rock Balance di Tegenungan
Rock Balance di Tegenungan. Foto: dok.pribadi

Ya, air yang mengalir di sungai tersebut berwarna kecokelatan karena beberapa ini Bali terus diguyur hujan. Kata penduduk setempat, jika tak terjadi banjir akibat guyuran hujan, air yang mengalir lebih bening dan bersih, tak berwarna cokelat seperti saat saya berkunjung. Ah, sayangnya. Ini jadi catatan untuk kembali lagi ke Bali saat bukan musim penghujan.

Cukup lama saya dan Pewe, juga kedua teman kami, berada di sini, bermain air, menikmati pemandangan dan foto-foto. Di kejauhan, kami melihat air terjun besar yang juga berwarna cokelat. Saya melihat jalan untuk menyeberang, namun karena tidak ada satu wisatawan pun yang menyeberang, akhirnya niat untuk menyeberang ke sisi lain untuk melihat air terjun besar itu pun urung saya laksanakan. Setelah puas, kami melanjutkan perjalanan kembali.

Pantai Lebih, Gianyar

Bosan melihat air terjun melulu, keluh salah satu teman. Akhirnya kami mengubah destinasi selanjutnya menuju pantai dan pantai pilihan kami adalah Pantai Lebih di Kabupaten Gianyar, kurang lebih 13km dari Tegenungan Waterfall atau kurang lebih 30 menit naik sepeda motor.

Pantai Lebih termasuk pantai baru dalam daftar tujuan wisata Bali dan masih sedikit pengunjung. Biasanya yang berkunjung ke pantai ini adalah penggemar kuliner laut karena memang di area dekat parkiran penuh dengan depot-depot yang menjual makanan laut, mulai dari ikan tenggiri, tuna, udang, cumi, dan sebagainya. Karena masih kenyang, kami memilih menyisiri pinggir pantai yang telah ditembok dengan bebatuan untuk mengurangi abrasi akibat terjangan gelombang.

Pantai Lebih Gianyar
Pantai Lebih Gianyar. Foto: dok.pribadi

Kami menemukan gazebo di depan ruang yang biasa digunakan sebagai tempat penyewaan papan surf dan duduk-duduk di sana. Cuma Pewe yang betah jalan-jalan ke pinggir laut dan bikin video entah apa. Kata penjaga pantai yang kebetulan berada di dekat kami, kalau musim liburan, pantai ini dipenuhi wisatawan penggemar surfing, sementara bulan Januari begini lebih sepi. Ya tak apalah, kapan lagi kan bisa menikmati pantai sepi begini sambil membiarkan angin yang cukup kencang menerpa kami.

Blangsinga Waterfall

Tengah hari tiba, perut mulai keroncongan. Awalnya saya sempat menawarkan ke teman-teman apakah ingin makan di Pantai Lebih, namun mereka menolak dan berniat makan siang di tujuan selanjutnya saja. Jadilah kami jalan lagi ke arah Ubud. Intinya, hari ke-4 di Bali ini kami hanya mau eksplorasi tempat wisata di sekitar Ubud saja. Dalam perjalanan balik ke Ubud, saya tanpa sengaja melihat petunjuk jalan menuju Blangsinga Waterfall. Saya pun mengikuti petunjuk arah tersebut. Pewe yang mengendarai sepeda motor di belakang saya terus mengikuti. Tidak ada satu pun di antara mereka yang tahu kalau saya mengincar air terjun lagi untuk tujuan berikutnya.

Pewe di Blangsinga Waterfall.
Pewe di Blangsinga Waterfall.

Blangsinga Waterfall hampir saja terlewat, untung saya cepat mengerem, yang mengakibatkan teman di boncengan saya berteriak dan Pewe pun mengomel karena saya tiba-tiba mengerem. Saat itulah saya bilang, saya mau ke air terjun lagi mumpung lewat. Hahaha…

Blangsinga Waterfall berada di salah satu kecamatan di Gianyar, tepatnya di Blahbatu. Perjalanan menuju ke air terjun ini lagi-lagi kami tempuh kurang lebih setengah jam dari Pantai Lebih. Tidak terlalu jauh dan melelahkan, apalagi jalan di Bali tidak semacet di Jakarta. Masuk ke tempat wisata ini cukup membayar tiket kurang lebih Rp15.000,- Lebih mengejutkan lagi, ternyata Blangsinga Waterfall adalah air terjun berair cokelat yang tadi saya lihat dari Tegenungan Waterfall.

Blangsinga Waterfall.
Blangsinga Waterfall. Foto: dok.pribadi

That’s right! Kedua air terjun ini berseberangan. Kalau masuk dari Blangsinga Waterfall, kami malah bisa menyeberang hingga ke Tegenungan, sementara sebaliknya tidak bisa. Ini keren banget dan andai tahu, seharusnya kami langsung saja ke Blangsinga. Yah mau apa lagi sudah terlanjur.

Di Blangsinga Waterfall, posisi kami berada di atas air terjun tersebut, bukan berada di bawah seperti Tegenungan. Kami pun berfoto di tebing dekat air terjun tercurah, sambil diwanti-wanti petugas yang berjaga untuk tidak terlalu berdiri di pinggir tebing. Bebatuan di bawah kami cukup licin sehingga berisiko tergelincir. Saya sempat melongokkan kepala ke bawah dan berpikir kalau sampai tergelincir tamatlah riwayat saya.

Ngomong-ngomong, di Blangsinga ini dulu terkenal dengan objek wisata bungee jumping-nya, entahlah kenapa sekarang tak lagi dilakukan. Mungkin kalau masih ada, saya akan terpikir untuk mencoba. Uji nyali yang pastinya lebih seru daripada hanya berdiri di pinggir tebing untuk berfoto. Ya, kan? Pulangnya, kami mampir ke salah satu kedai yang tak jauh dari parkiran motor. Kami membeli buah naga yang langsung kami makan di tempat, membeli pula dua bungkus nasi jinggo untuk makan kami.

Tegalalang Rice Terace

Matahari sudah mulai turun ketika kami meninggalkan Blangsinga Waterfall. Salah satu teman yang bertugas membaca peta di aplikasi ponselnya mengatakan ingin ke Campuhan lagi, tetapi dengan rute yang berbeda. Kami semua setuju. Suasana sore di Campuhan itu ngangenin banget. Meski sudah pernah ke sana, tetap saja kami ingin kembali ke sana lagi. Sayangnya, sepertinya teman tersebut salah baca peta dan kami malah menuju ke Tegalalang Rice Terace, 20km dari Blangsinga Waterfall atau berkendara sekitar 1 jam.

Tegalalang Rice Terace terletak di pinggir jalan rute Kintamani-Ubud, masih di Kabupaten Gianyar. Tempat parkir di lokasi ini belum tersedia, jadi para pengunjung akan memarkir kendaraan di pinggir jalan. Kami pun mau tak mau melakukan hal yang sama. Setelahnya, kami berjalan menuju pintu masuk yang akan membawa kami ke persawahan berundak-undak. Pemandangan hijau memenuhi mata kami. Waktu melihat tangga yang cukup curam dan turun jauh ke bawah, saya dan teman-teman jadi urung. Di Tegenungan Waterfall tadi pagi tenaga kami sudah terkuras habis untuk turun dan naik tangga. Kalau sekarang harus turun dan jalan kaki lagi menyusuri pematang sawah, rasanya pasti melelahkan.

“Lain kali aja kita kembali ke sini,” kata kedua teman saya, yang langsung disetujui Pewe dengan sukacita.

Kami akhirnya memilih salah satu kafe dari deretan kami yang memenuhi tempat itu. Namun karena pegawai kafe yang melayani meja kami saya rasa kurang ramah, saya memutuskan untuk pindah ke tempat lain. Masa beli satu minuman untuk berdua saja langsung diketusin? Malas banget, kan? Saya dan Pewe pindah ke tempat lain, sedangkan kedua teman saya tetap tinggal di kafe itu.

Sore yang Redup di Tegalalang Rice Terace
Sore yang Redup di Tegalalang Rice Terace.

“Untung kita pindah, jadi bisa nemu tempat ini ya? Kalau nggak rugi dong bayar kopi segelas yang mahal dan dapat bonus diketusin, tapi pemandangan yang kita lihat sama aja,” celetuk Pewe menggoda saya waktu saya menemukan teras sebuah toko yang menghadap ke persawahan dan ada bangku-bangku serta meja tempat kami bisa duduk santai menikmati pemandangan. Kami duduk cukup lama di sana, bahkan sempat makan nasi yang kami beli tadi di Blangsinga Waterfall. Sekitar setengah tujuh malam baru kami meninggalkan tempat itu menuju Ubud, kembali ke penginapan.

Malam itu harusnya seperti biasanya kami berkumpul untuk menghitung pengeluaran kami, lalu membaginya sama rata, namun karena saya dan Pewe harus menyelesaikan tulisan kami dulu, kami berdua mendekam di kamar, sedangkan dua teman kami baru jalan-jalan. Baru sekitar pukul 21.30 WIB, Pewe mengajak saya keluar untuk jalan-jalan berdua menikmati malam di sepanjang Jalan Raya Ubud. Hanya kami berdua. Bagaimanapun ketenangan saat kami berdua begini sungguh luar biasa. Ketenangan yang membuat kami tetap bisa merasakan keberadaan satu sama lain, tanpa perlu ada satu pun di antara kami yang berbicara. Kami berjalan kaki berdua cukup jauh sambil bergandengan tangan. Minum. Makan. Tertawa. Bahagia. Ubud akhirnya tidur dengan temaramnya lampu-lampu pertokoan dan kedai makanan di sepanjang jalan itu. Ini tandanya kami harus segera kembali untuk beristirahat agar besok kami bisa melanjutkan perjalanan kami lagi. Jika kalian berlibur ke Bali, jangan lupa untuk mampir ke Tegenungan Waterfall, Pantai Lebih, Blangsinga Waterfall, Tegalalang Rice Terace.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here