Home Tips & Trick Ini 10 Hal yang Saya Lakukan Ketika Merasa Sakit Hati

Ini 10 Hal yang Saya Lakukan Ketika Merasa Sakit Hati

8
185

Namanya manusia yang merupakan makhluk sosial, interaksi dengan orang lain mau nggak mau harus tetap dilakukan, baik secara individu maupun secara profesional (berkaitan dengan pekerjaan). Bersamaan dengan itu, kebutuhan untuk berkomunitas juga merupakan hal yang tak bisa diabaikan. Dengan berkomunitas, manusia akan lebih berkembang, baik secara pemikiran maupun mental. Masalahnya, dalam berkomunitas pun tak bisa dihindarkan adanya kemungkinan terjadinya “gesekan-gesekan kecil”, entah karena kesalahpahaman, salah persepsi, miskomunikasi, cara pandang yang berbeda dan sebagainya. Hubungan antar manusia seperti ini mau tak mau membawa kita pada kemungkinan terjadinya sakit hati. Lalu apa yang harus dilakukan ketika merasa sakit hati? Ini 10 hal yang saya lakukan ketika merasa sakit hati.

10 Hal yang Saya Lakukan Ketika Merasa Sakit Hati

1. Evaluasi Ulang Permasalahan

Ketika dalam kondisi emosi, cobalah mengambil jarak dulu. Setelah hati dan kepala dingin, evaluasi ulang permasalahan yang sedang dihadapi. Lihat dari berbagai sudut pandang. Apa penyebab masalah ini bisa terjadi? Kenapa? Apakah telah terjadi miskomunikasi atau mispersepsi? Analoginya, letakkan permasalahan di dalam kotak, lalu panjatlah tangga dan berdirilah di atas kotak, agar setiap sudut permasalahan bisa terlihat. Setelah tahu apa penyebabnya, temukan solusi terbaik untuk menyelesaikannya. Cara menemukan solusi, bisa bertukar pendapat dengan orang yang dipercaya (pasangan atau teman yang benar2 dekat), instrospeksi diri, bahkan dari berbagai buku bacaan.

2. Hilangkan Sifat Defensif

Kebanyakan orang ketika sedang menghadapi masalah pasti bersikap defensif dengan berbagai alasan maupun alibi. Pembenaran diri, inilah yang sering saya alami. Tetapi ini bukan solusi untuk menyelesaikan masalah. Kita perlu membuka hati dan pikiran. Jika untuk dapat menyelesaikan masalah kita perlu mengajak bicara orang yang bermasalah dengan kita, ajaklah bicara. Kalau merasa salah, berbesar hati saja untuk minta maaf. Urusan orang mau memaafkan atau tidak, itu urusan orang itu sendiri. Tetapi jika dalam usaha untuk menyelesaikan masalah ini ternyata komunikasi tak berjalan selaras dan baik, atau malah menimbulkan perdebatan yang tak ada habisnya. Menyingkirlah dari “medan peperangan” ini… hahaha. Kita tidak bisa mengubah pemikiran dan pandangan orang lain, tetapi kita bisa mengubah pemikiran dan pandangan kita sendiri.

3. Setiap Orang Punya Kekurangan dan Kelebihan

Lihat ke dalam diri kita sendiri. Pasti ada banyak kekurangan yang kita miliki, sama banyaknya dengan kelebihan yang juga kita miliki. Pahami hal ini karena orang lain pun sama seperti kita, punya kelebihan dan kekurangan. Cari tahu lebih banyak mengenai orang yang bermasalah dengan kita. Jika memang tabiat dan sifatnya sudah begitu, apa mau dikata. Kita tidak perlu menceburkan diri dalam permasalahan yang tak ada ujungnya. Meski begitu, fokuslah pada kebaikannya saja dan skip semua hal buruk yang pernah terjadi. Jika tidak mungkin berbaikan kembali, ya sudah. Maafkan saja. Lalu menyingkirlah dari lingkaran yang hanya mendatangkan ketidakbahagiaan ini tanpa perlu memperpanjang masalah. Masa hidup yang singkat harus diisi dengan ketidakbahagiaan? Semua orang berhak untuk bahagia. Kamu dan saya juga berhak untuk bahagia.

4. Beri Batasan Untuk Diri Sendiri

Saya dan kamu punya hak untuk menentukan di titik mana kita bisa bertoleransi atas perilaku dan tabiat orang lain. Saya pribadi bisa mengabaikan berbagai sifat buruk orang lain, misalnya baperan, ngambekan, pemarah, cengeng, dan sebagainya. Namun untuk hal-hal berkaitan dengan kejujuran dan kepercayaan saya memang mbatek saklek, apalagi sampai suka menikung, memotong rezeki, atau mencurangi orang lain dengan berbagai cara. Nah, untuk hal-hal terakhir ini saya memilih menjauh.

5. Berdamai Dengan Diri Sendiri

Seorang pakar Matematika yang pernah memenangi Nobel Sastra tahun 1950 pernah mengatakan bahwa orang tidak mungkin bisa berdamai dengan orang lain sebelum dia belajar berdamai dengan diri sendiri. Berdamai dengan diri sendiri artinya menerima diri apa adanya, baik semua kekurangan dan kelebihan, dan tidak menganggap semua kekurangan yang dimiliki adalah penghalang untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Dulu saya pernah beranggapan kalau sifat saya yang keras kepala dan saklek (kalau berkaitan dengan kejujuran dan kepercayaan) adalah kutukan yang membuat saya sulit berteman. Tapi kemudian guru suami saya di Semarang pernah berkata, “Sifat keras kepalamu memang kadang membuat kamu banyak terlibat masalah. Belajarlah untuk mengendalikannya dan cobalah memahami mengapa orang lain berbuat tidak jujur atau tidak bisa dipercaya. Setiap orang punya kesulitan hidup sendiri-sendiri dan mencari berbagai cara untuk mengatasinya (tentu saja cara mereka ya yang mereka anggap benar dan bisa membebaskan mereka dari kesulitan hidup). Kamu boleh memutuskan untuk tidak terlibat, tetapi tidak boleh men-judge mereka apa pun mengenai perbuatan mereka tersebut. Berjalanlah terus dalam kebaikan, nanti kamu akan bertemu orang-orang yang sevisi denganmu, yang bisa memahamimu dengan baik dan juga bisa kamu pahami dengan baik. Sulit, tapi ada. Jangan kuatir.”

10 Hal yang Saya Lakukan Ketika Merasa Sakit Hati. Sumber: tinybuddha.com

6. Mengumbar Masalah Hanya Akan Menimbulkan Masalah Baru

Inilah yang saya pelajari selama ini. Ketika kita sedang berada dalam suatu masalah, dalam hal ini karena ada orang yang menyakiti hati kita, maka sebaiknya tidak mengumbar (menceritakan) masalah ini ke orang lain yang belum benar-benar dekat dengan kita. Kadang menceritakan ke orang lain, meski tujuannya untuk meminta pendapat atau hanya sekadar curhat, malah bisa menimbulkan masalah baru. Tidak salah curhat, tapi sebaiknya pilihlah teman curhat yang memang bisa kasih solusi dan benar-benar bisa menjaga rahasiamu. Kalau tidak, cerita akan menyebar luas, ditambahi bumbu-bumbu, kemudian didengar oleh orang yang jadi subjek curhatan, dan akhirnya jadi ramai. Mending curhat aja di buku harian. Rahasia terjamin, hati jadi lega, dan masalah tidak jadi melebar ke mana-mana. 

7. Berpikir Positif dan Fokus Pada Tujuan Hidup

Masalah dengan orang lain seringkali membuat kita terus berpikiran buruk tentang orang tersebut. Semakin banyak pikiran kita diisi dengan hal-hal buruk maka banyak pekerjaan kita jadi terbengkai. Kita jadi tidak fokus lagi pada tujuan hidup kita yang sebenarnya. Jadi alangkah baiknya tetap berpikiran positif. Singkirkan semua hal negatif (baik pikiran, perkataan, maupun perbuatan) dan tetaplah fokus pada apa yang ingin kita capai. Sulit? Memang. Saya pun masih belajar mengenai hal yang satu ini. Kalau ingat kejadian yang menyebabkan kita sakit hati rasanya kesal sekali dan membuat kita jadi merasa serba salah dalam bekerja. Kalau sudah begini, kita yang rugi sendiri, kan? Jadi mending maafkan saja perbuatan menyakitkan orang lain pada kita, setelah itu lepaskan semuanya. Bangkit dan kembali bersemangat menjemput impian.

8. Berhenti Buang-buang Energi Untuk Menjelaskan Diri Kamu

Orang punya hak untuk menilai kita, apalagi saat terjadi masalah. Sudahlah. Untuk apa membuang-buang energi dengan berusaha menjelaskan siapa kita, bagaimana masalah bisa terjadi, bagaimana orang lain menyakiti kita, apakah kita salah atau benar, dan sebagainya. Waktu akan menjawab semuanya tanpa perlu kita memberi penjelasan panjang lebar. Lagian, kita tidak bisa mendikte agar orang lain berpikiran dan berpendapat kita orang baik. Mereka punya cara pikir dan cara pandang sendiri. Mending gunakan energi dan waktu yang kita miliki untuk berkarya dan bekerja dengan sebaik mungkin.

9. Ikhlas

Waduh, saya menuliskan ini juga agak keder nih karena ikhlas ini ilmu yang sulit. Mudah ngomongnya, tapi praktiknya sulit banget. Hari ini kita berniat untuk mengikhlaskan semuanya. Tapi besok, lusa, atau minggu depan, saat teringat kembali, pasti rasa sakit itu akan tetap ada, terutama kalau ada teman yang lagi-lagi mengungkit dan menanyakan masalah yang sedang kita hadapi. Jadi harus gimana? Nikmati saja prosesnya. Tetaplah berusaha sekuat hati untuk mengikhlaskan segala yang sudah terjadi. Jangan main hitung-hitungan juga, contoh: aku udah berjasa, aku udah berbuat baik sama orang itu, aku udah melakukan segala-galanya, dan sebagainya. Tidak ada gunanya lagi juga kan kita itung-itungan begitu. Percaya sajalah, semua kebaikan akan ada balasannya tanpa kita perlu menghitung untung dan rugi.

10. Jadilah Diri Sendiri dan Tetap Bahagia

Kita tidak perlu mengubah seluruh diri kita jadi seperti orang lain atau jadi seperti yang diharapkan orang lain. Capek tahu kalau harus hidup dengan berpura-pura dan memasang topeng yang bukan diri kita. Jadilah diri sendiri, apa adanya kita, dengan segala kelebihan dan kekurangan kita. Berhentilah mengeluh dan jangan mengkhawatirkan apa pun juga. Burung di udara dan bunga di padang saja Tuhan pelihara kok. Otomatis Tuhan juga memelihara kita dengan baik, asalkan kita tetap bergerak dan berusaha dengan sebaik mungkin. Hal paling utama, tetaplah bahagia. Bahagia itu bukan datang dari orang lain, tetapi dari diri kita sendiri. Kita yang menentukan mau bahagia atau tidak. Jadi jangan biarkan rasa sakit hati membuat kita tak bahagia. Jangan lupa, kelilingi diri kita dengan orang-orang yang menginspirasi, yang bersemangat dengan passion-nya, yang memotivasi, yang penuh syukur, dan yang memiliki pikiran terbuka untuk maju dan berkembang bersama-sama.

Inilah 10 hal yang saya lakukan ketika merasa sakit hati. Bukan karena saya expert dalam hal ini. Saya juga masih belajar untuk berdamai dengan diri sendiri. Yuk, kita belajar sama-sama untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain yang ada di sekitar kita.

8 COMMENTS

    • Nah itu, seperti yang tadi kita bahas di grup, susaaaah banget praktiknya ya. Cuma pasti bisa karena mau nggak mau kita juga berhak bahagia. Cara bahagia ya udah ikhlasin aja daripada dipikirin mulu terus bikin tambah badmood. hahaha

  1. buang-buang energi dengan berusaha menjelaskan siapa kita, bagaimana masalah bisa terjadi, bagaimana orang lain menyakiti kita, apakah kita salah atau benar, dan sebagainya

    ini satu hal yang jarang diingat orang

    • Ya, Mbak Tanti. Bener banget. Nggak perlu jelasin panjang lebar ya sebenarnya ketika kita sedang terlibat masalah. Buang-buang waktu aja. Ntar kan pada tahu sendiri siapa dan bagaimananya kita sebenarnya. Makasi sudah berkunjung, Mak 🙂

  2. Favoritku nomor 6 itu!

    Nah untuk yang nomor 4, apalagi kalau dicurangi, hmmm, paling tidak aku harus menjelaskan “aturan main” yang telah disepakati.
    Kalau akhirnya rival mau menang sendiri, yup kudu ke nomor 7, berpikir positif (meski agak sulit prakteknya dan perlu waktu…) dan yah… memang belum rezeki.

    Hihihi… malah curhat ^_^

    • Hai, Mbak Rosanna, senangnya aku dikunjungi kamu. Nah khusus yang nomor 4, kalau sebenarnya “aturan main” telah dibahas di awal, kemudian dilanggar, ini yang masih sering sulit kuterima. Kalau tak bisa berkomitmen atau janji, ya jangan lakukan. Cuma ya tetap, aku berusaha ngomong. Kalau alibinya, khilaf, aku memilih menjauh. Khilaf kok terus2an 😀 Berpikiran positif itu nulisnya gampang, sama kayak nulis mengenai ikhlas, praktiknya yang susah… hahaha

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here