Kesehatan

Kenali dan Cegah Kanker Serviks Bersama RS Mayapada

Beberapa waktu lalu netizen di media sosial dihebohkan dengan meninggalnya seorang artis cantik berusia muda yang sedang dipuncak kariernya akibat kanker serviks. Kejadian itu sungguh tak disangkal. Padahal diketahui artis tersebut telah melakukan pengobatan dan pada akhirnya penyakit tersebut mengalahkan perjuangannya. Peristiwa meninggalnya artis ini seolah menyadarkan banyak pihak. Mereka berlomba-lomba mencari tahu cara kenali dan cegah kanker serviks dari berbagai sumber terpercaya, termasuk mencari berbagai artikel kesehatan yang banyak beredar di dunia maya dan media sosial.

Saya pribadi selama ini beranggapan hidup dan mati seseorang berada dalam tangan Tuhan, takdir yang sulit dielakkan. Tetapi ketika suami masuk rumah sakit selama lebih dari dua bulan, lalu diagnosis awal dokter yang menyebutkan ada massa (tumor) di ususnya, membuat dunia saya yang tenang seolah terjungkir balik. Indikasi adanya tumor seolah menjadi peringatan bagi saya. Menurut dokter bedah disgestif yang menangani suami, tumor jika ganas bisa berubah menjadi kanker. Ini yang perlu diwaspadai. Beliau lalu melakukan serangkaian pemeriksaan lengkap dan wawancara mengenai ada tidaknya gejala. Di saat yang sama, saya juga sadar dengan gaya hidup saya yang ngawur dan sering begadang, saya termasuk orang dengan risiko tinggi. Dari sinilah akhirnya saya mulai mencari tahu berbagai informasi berkaitan dengan kanker. Dengan kata lain, mau tidak mau Saya Peduli Kanker Serviks agar terhindar dari penyakit ini.

Blogger Gathering Untuk Kenali dan Cegah Kanker Serviks

Pucuk dicinta ulam tiba. Keingintahuan saya berkaitan dengan kanker serviks sepertinya terjawab dengan datangnya kesempatan untuk menghadiri Blogger Gathering dengan tema "Mengenali Bahaya Kanker Serviks" yang diselenggarakan RS Mayapada di The Hook, Jakarta, pada 30 November 2017. Ada 3 pembicara dihadirkan dalam acara ini untuk memberikan informasi mengenai kanker serviks, yaitu dr. Yuslam Fidianto, Sp.OG dari RS Mayapada, Annisa N. Nugraha influencer yang memiliki perhatian mendalam berkaitan dengan kanker serviks, serta Ibu Sumbangsih Elly Mawati, survivor kanker dari Komunitas CISC (komunitas kanker).

Kenali dan Cegah Kanker Serviks. Foto: Dede Ariyanto

Acara dibuka dengan makan malam bersama secara prasmanan. Beberapa menu favorit The Hook tersaji di meja yang telah disiapkan, antara lain sup tom yam, mie goreng, nasi, brokoli (untuk nama masakannya saya lupa... hahaha, tapi brokolinya enak sekali), juga ada ayam kungpao yang memang salah satu makanan kegemaran saya. Setelah seluruh peserta selesai menikmati makan malam, acara pun dimulai. Sambil mendengarkan penjelasan mengenai informasi serviks, saya dan teman-teman blogger yang hadir ikut membagikan informasi yang kami dapatkan di media sosial masing-masing dengan hastag #SayaPeduliKankerServiks. Bagi yang ingin tahu lebih jauh bisa mengikuti di Twitter dengan hastag tersebut atau membuka akun Twitter @RSMayapada.

Pembicara pertama adalah dr. Yuslam Fidianto, Sp.OG. Beliau mengungkapkan bahwa penyakit kanker serviks berada di urutan kedua setelah kanker payudara yang menyebabkan kematian pada perempuan di Indonesia. Hal ini diperkuat pula dengan data yang dikeluarkan WHO tahun 2014, yang menyebutkan ada kurang lebih 92 ribu kasus kematian pada perempuan akibat kanker dan kurang lebih 10 persennya disebabkan oleh kanker serviks. Banyaknya kasus yang telah terjadi seharusnya membuat kita menjadi lebih waspada dan bergegas melakukan pencegahan. Selama ini, penyakit kanker memang menjadi penyakit yang paling ditakuti karena hampir tanpa gejala awal dan sulit terdeteksi. Kebanyakan penderita baru tahu mereka menderita kanker setelah penyakit itu telah dalam kondisi parah atau stadium lanjut sehingga sulit diobati. Selain itu, angka penderita kanker serviks juga telah mengalami perubahan. Jika dulu penyakit ini banyak diderita perempuan berusia di atas 35 tahun, sekarang banyak kasus yang telah terjadi dan penderitanya adalah perempuan berusia sangat muda, antara 20-25 tahun.

Kenali Kanker Serviks

Kanker serviks juga dikenal dengan nama kanker mulut rahim karena bagian yang mengalami masalah (terserang virus) ada di bagian mulut rahim. Serviks atau mulut rahim merupakan sepertiga bagian bawah uterus, berbentuk silinder, menonjol, dan terhubung dengan vagina melalui ostium uteri eksternum.

Sumber: detik.com

Penyebab utama kanker serviks adalah virus Human Papilloma Virus (HPV). Ada kurang lebih 100 jenis virus HPV yang dapat menyebabkan kutil di tangan, kaki, dan alat kelamin. Dari 100 jenis itu, ada kurang lebih 13 jenis virus HPV yang bisa memunculkan penyakit kanker, namun yang paling berbahaya adalah virus HPV subtipe 16 dan 18 yang mengganggu sel-sel di mulut rahim hingga memicu kanker serviks. Virus ini dapat ditularkan melalui hubungan seksual. Jika mediumnya mendukung (yaitu mulut rahim) maka virus ini akan berkembang dan menjadi penyebab kanker. Virus HPV tidak dapat hidup di luar organ atau mediumnya. Perkembangan virus bisa menjadi lebih pesat kalau didukung dengan sanitasi yang buruk dan perilaku serta faktor-faktor risiko lainnya.

Faktor Risiko Penyebab Kanker Serviks

1. Terlalu Muda Menikah

Pernikahan yang dilakukan dengan perempuan yang berusia di bawah 18 tahun meningkatkan risiko perempuan tersebut terserang penyakit kanker serviks. Menurut dr. Yuslam Fidianto, Sp.OG hal ini bisa terjadi karena organ reproduksi wanita belum siap untuk melakukan hubungan seksual, apalagi kalau sampai terjadi pembuahan. Semakin muda seorang perempuan melakukan hubungan seksual maka akan semakin tinggi risiko terserang penyakit kanker serviks.

2. Merokok

Di dalam sebatang rokok terdapat lebih dari empat ribu bahan kimia selain nikotin dan tar. Tidak hanya menjadi penyebab kanker serviks, namun rokok juga menjadi penyebab penyakit kanker secara umum. Kandungan racun yang sangat tinggi dalam asap rokok yang terhisap dapat merusak sel-sel DNA, yang mengakibatkan mutasi sel terjadi tak terkendali hingga menyebabkan kanker.

3. Terlalu Sering Hamil

Optimalnya, perempuan hanya boleh melahirkan tiga kali. Jika lebih dari tiga kali hamil, apalagi ditambah dengan jarak kehamilan yang terlalu dekat meningkatkan risiko kanker serviks. Sering hamil menyebabkan kondisi otot-otot rahim menjadi lebih lentur (kendor) dan tidak sehat. Perubahan hormon selama masa kehamilan juga membuat leher rahim rentan terserang virus HPV.

4. Hubungan Seksual Tidak Sehat dan Berganti Pasangan

Melakukan aktivitas seksual yang tak sehat sudah pasti dapat menjadi pintu masuk bagi virus HPV, misalnya seks secara oral, melakukan hubungan sesama jenis, atau bahkan sering berganti-ganti pasangan. Bisa kebayang kan jika berganti-ganti pasangan, kemudian salah satu pasangan telah memiliki virus HPV di dalam tubuhnya, maka dengan mudah virus itu akan berpindah ke tubuh kita. Agar terhindar dari kanker serviks salah satunya adalah dengan setia pada pasangan dan tidak melakukan hubungan seksual yang tidak sehat.

5. Konsumsi Makanan Kurang Sehat

Makanan yang dikonsumsi juga bisa menjadi penyebab datangnya penyakit, termasuk penyakit kanker, jika makanan tersebut kurang sehat dan mengandung karsinogenik. Mengurangi konsumsi junk food dan makanan berlemak serta menambah porsi buah dan sayur bisa menjadi salah satu cara mencegah kanker serviks.

6. Penggunaan Jangka Panjang Alat Kontrasepsi Oral

Ada banyak penelitian yang telah dilakukan berkaitan dengan konsumsi kontrasepsi secara oral (pil KB) dalam jangka waktu panjang (lebih dari 5 tahun) bisa menjadi jalan masuk virus HPV. Mengkonsumsi pil KB dipercaya akan menyebabkan perubahan hormon di dalam tubuh sehingga pembuahan tak terjadi. Namun di saat yang sama, perubahan hormon akan dapat dimanfaatkan virus HPV masuk ke tubuh dan kemudian berkembang menjadi kanker serviks.

7. Sanitasi dan Higienitas yang Buruk

Sanitasi yang buruk berkaitan dengan penggunaan air untuk membasuh alat kelamin. Hindari membasuh alat kelamin dengan air yang kotor karena bisa membuat kondisi alat kelamin menjadi tidak sehat dan rentan dimasuki virus HPV. Dengan kata lain, kebersihan alat kelamin patut diperhatikan dengan saksama demi mencegah terjadinya keputihan, yang nanti pada akhirnya keputihan tersebut menjadi jalan masuk virus HPV penyebab kanker serviks.

Gejala Kanker Serviks

Masih di acara Blogger Gathering, dr. Yuslam mengatakan kalau kanker serviks pada awalnya tidak menunjukkan gejala sama sekali. Sama seperti kebanyakan penyakit kanker jenis lain yang baru terdeteksi setelah dalam kondisi parah begitu pun kanker serviks. Meski begitu, sebenarnya ada beberapa pertanda (gejala) yang patut diwaspadai, antara lain:

  • Keputihan dengan keluarnya cairan dari vagina yang berbau aneh dan berwarna (merah muda, cokelat, atau mengandung darah).
  • Rasa sakit ketika melakukan hubungan seksual.
  • Perubahan siklus menstruasi.
  • Pendarahan yang terjadi di luar masa menstruasi, setelah berhubungan seks, atau pada masa telah menopause.
  • Pembengkakan pada salah satu kaki tanpa diketahui penyebabnya.
  • Nyeri pada tulang, punggung, pinggang, atau sakit pada perut bagian bawah dan panggul.
  • Perubahan kebiasaan buang air kecil.
  • Ada darah dalam urine.

Jika mengalami salah satu atau beberapa gejala segera periksakan diri ke dokter atau rumah sakit terdekat. Semakin cepat memeriksakan diri dan mendeteksi penyebab terjadinya gejala-gejala tadi bisa memperkecil risiko dan kemungkinan sembuh pun meningkat. Penyakit kanker serviks termasuk penyakit yang bisa dicegah dan disembuhkan asalkan kita mau sedikit repot dengan rutin mengunjungi dokter untuk melakukan pemeriksaan kesehatan.

Cegah Kanker Serviks Dengan Papsmear

Kanker Serviks sebenarnya adalah penyakit kanker yang bisa dicegah, yaitu dengan pemberian vaksin sedini mungkin. Vaksin HPV sudah bisa diberikan kepada anak perempuan berusia antara 9 - 14 tahun yang belum pernah melakukan hubungan seksual. Suntikan vaksin ini harus dilakukan secara berurutan dengan jeda waktu antara 5 sampai 13 bulan antara suntikan pertama dengan suntikan kedua. Sementara untuk perempuan berusia 15 - 25 tahun, ada 3 dosis suntikan vaksin yang perlu diberikan dan harus lengkap tiga kali. Jarak antara suntikan pertama dan kedua antara 1 -25 bulan. Pemberian vaksin juga tetap bisa dilakukan hingga perempuan berusia 55 tahun.

Selain melakukan vaksin HPV untuk cegah kanker serviks, kita juga bisa melakukan pap smear atau tes IVA secara rutin untuk mendeteksi dini ada tidaknya kanker serviks. Tes Inspeksi Visual Asam asetat (IVA) adalah pemeriksaan serviks (leher rahim) dengan mata telanjang (melihat secara langsung) setelah dilakukan pemulasan larutan asam asetat (3-5%) di serviks. Jika terjadi perubahan warna setelah pengolesan berarti ada indikasi pra kanker sehingga perlu dilakukan pemeriksaan lanjutan. Pemeriksaan ini merupakan salah satu cara untuk mendeteksi kanker rahim dan perlu dilakukan 5 tahun sekali bagi perempuan berusia 35 tahun ke atas dan aktif secara seksual.

Cara lain, bisa melakukan pap smear. Banyak perempuan yang takut melakukan pap smear. Padahal kata Chacha, panggilan Annisa N. Nugraha, proses pap smear tidaklah menakutkan, bahkan berlangsung cepat. Chacha melakukan pap smear karena sempat mengalami keputihan yang cukup lama dan menganggu. Karena khawatir, ia pun memeriksakan diri dan disarankan dokter untuk melakukan pap smear.

Proses pap smear tidak lama kok, begitu kata Chacha. Kita akan diminta duduk dengan posisi seperti naik becak. Lutut ditekuk dan tumit bertumpu di alat yang disebut stirrups. Kemudian dokter akan memasukkan alat yang disebut spekulum ke vagina demi memperluas ruang pandang. Kemudian dengan menggunakan sikat lembut atau scraping datar yang disebut spatula, dokter akan mengambil sampel sel serviks.

Agar hasil pemeriksaan pap smear maksimal disarankan:

  • Tidak melakukan hubungan intim 48 jam (2hari) sebelum pemeriksaan.
  • Tidak sedang menstruasi dan dilakukan 2 minggu setelah hari pertama menstruasi.
  • Tidak melakukan pencucian atau pembilasan vagina dengan antiseptik 24 jam sebelum pemeriksaan.
  • Bagi penderita yang mendapatkan pengobatan lokal seperti vagina supositoria atau ovula perlu menghentikan pengobatan dulu selama seminggu sebelum pap smear.
  • Tidak sedang dalam infeksi berat, seperti keputihan parah.
  • Perempuan yang baru saja bersalin, baru operasi rahim, atau pengobatan dengan radiasi, sebaiknya melakukan pemeriksaan setelah 6-8 minggu.

Tes IVA dan Pap Smear bisa dilakukan di seluruh Rumah Sakit Mayapada, seperti Mayapada Hospital Lebak Bulus, Mayapada Hospital Tangerang, Mayapada Healthcare Group. Informasi lengkap mengenai prosedur dan paket pemeriksaan kanker serviks serta informasi lain berkaitan dengan kanker serviks bisa pula dibaca di website Mayapada Hospital.

Bisa pula menghubungi hotline 24 jam Mayapada Hospital di:
Area Tangerang: (021) 5578-1888
Area Jakarta Selatan: (021) 2921-7777

Mengapa kita perlu mencegah terjadinya penyakit ini? Coba bayangkan deh, kalau kita sampai terkena kanker serviks bukan hanya hidup kita saja yang mengalami perubahan besar, namun keluarga kita juga ikut merasakan dampaknya. Kita jadi tidak lagi bisa produktif bekerja dan berkarya karena harus fokus pada pengobatan. Efek pengobatan juga akan melemahkan tubuh kita sehingga kita perlu beristirahat total atau malah menginap dalam waktu lama di rumah sakit. Masalah berikutnya yang harus dihadapi adalah pengeluaran untuk biaya pengobatan yang tidak sedikit. Saya peduli kanker serviks. Kamu juga, kan? Yuk kita kenali dan cegah kanker serviks.

1 thought on “Kenali dan Cegah Kanker Serviks Bersama RS Mayapada

  1. Wah lengkap sekali mbak ulasannya. Senang rasanya bisa baca informasi yang Mbak Monic tuangkan ke dalam artikel ini. Awareness tidak hanya penting diketahui oleh para wanita saja tetapi juga ini menjadi boomerang buat para pria untuk mengingatkan serta menyadarkan pasangan dan anggota keluarga atau di sekitarnya apa itu kanker serviks dan bagaimana cara mencegahnya. Tulisan bernas serta bermanfaat. Terima kasih. Salam Germas!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *