“Gimana sih caranya biar produktif menulis seperti kakak? Kasih tipsnya dong, Kak?” Saya cukup sering menerima pertanyaan semacam ini di akun messenger. Rata-rata yang bertanya adalah teman-teman yang berminat “terjun” di dunia kepenulisan. Di lain waktu, ada pula teman yang bekerja kantoran berkeluh kesah betapa hidupnya jadi tidak bebas karena waktu habis di kantor. Dia membandingkan kesehariannya dengan keseharian saya yang lebih banyak di rumah. Menurutnya, menjadi pekerja freelance seperti saya jauh lebih menyenangkan karena punya waktu tak terbatas yang bisa diatur sesuka hati dan bebas bekerja dari mana saja. Buntut-buntutnya, dia juga tanya gimana sih bisa tetap produktif walau bekerja freelance. Satu hal yang kebanyakan dari mereka lupa, menjadi freelance punya tantangan tersendiri, terutama dalam pengelolaan waktu dan meningkatkan produktivitas.

5 Hal Kecil Meningkatkan Produktivitas

Kebebasan waktu menjadi “iming-iming” menggiurkan bagi pekerjaan kantoran yang ingin banting setir ke dunia freelance. Saya pribadi pun begitu. Dulu ketika masih bekerja kantoran, rasanya waktu yang saya miliki sangat terbatas. Pagi-pagi sudah harus bermacet ria di jalan agar bisa tiba di kantor tepat waktu. Mulai jam 8 hingga jam 5 sore, segunung pekerjaan memenuhi meja kerja saya hingga saya tak lagi punya waktu untuk melakukan satu hal yang saya cintai, yaitu menulis. Selepas jam kantor, saya lagi-lagi harus bermacet-macetan untuk sampai di rumah dan akhirnya begitu tiba di rumah, tenaga saya telah habis. Saya benar-benar kekurangan waktu untuk menulis dan menyelesaikan naskah-naskah saya. Pada akhirnya, saya nekat berhenti kerja dan memutuskan menjadi freelance.

Apakah setelah memiliki banyak waktu karena tak lagi bekerja kantoran saya jadi lebih produktif menulis? Ternyata tidak juga. Tantangan pertama yang perlu saya taklukkan adalah menaklukkan diri saya sendiri, rasa malas, suka menunda, melakukan kegiatan di luar tujuan saya menjadi freelance, dan sebagainya. Bukan punya banyak waktu yang menjadikan seseorang lebih produktif berkarya, inilah yang saya pelajari berikutnya, melainkan pengelolaan waktu yang baik sekaligus mengelola mood agar bisa tetap berkarya dalam kondisi tak kondusif sekali pun.

Dalam perjalanan karier saya sebagai penulis selama 5 tahun terakhir, saya mengalami produktivitas yang naik turun. Ada tahun di mana saya bisa menerbitkan lebih dari 10 judul buku, namun di tahun berikutnya saya melempem. Jangankan menghasilkan 10 buku, untuk menyelesaikan satu naskah saja rasanya berat banget. Alasannya banyak, mulai dari tak punya ide, sedang tidak mood, sedang dalam kondisi yang tak menyenangkan hingga tak bisa menulis, dan sebagainya. Fakta yang tak bisa dipungkiri, begitu produktivitas seorang freelance melempem, dapur pun tak bisa mengebul. Dengan kata lain, tidak ada karya ya tidak makan.

5 Hal Kecil Meningkatkan Produktivitas Dengan Casio My Style Colorful Series

Jadi Apa yang Perlu Dilakukan Agar Tetap Produktif?

Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, selama tak ada karya, berarti tak ada pemasukan. Bisa sih berkarya asal saja dan secukupnya, misalnya cuma satu buku setahun. Iya kalau bukunya laku, kalau tidak? Selama satu tahun saya terpaksa gigit jari dong. Oke, cukuplah ya punya buku 3 saja. Tetap saja ini berat bagi penulis buku fulltime seperti saya. Royalti hanya dibayarkan 2 kali dalam setahun, yaitu bulan Februari dan Agustus. Lah bulan-bulan yang lain gimana? Kalau saya mau jalan-jalan atau punya impian beli sesuatu masa harus menunggu royalti dulu? Belum lagi biaya bulanan, uang pendidikan anak, tabungan, atau saat berada dalam kondisi darurat. Impian saya yang sampai hari ini belum tercapai adalah punya rumah sendiri. Kebayang dong berapa banyak uang yang perlu saya punya agar bisa beli rumah? Jadi mau tak mau saya harus lebih produktif lagi agar satu demi satu impian saya tercapai. Caranya?

Perjalanan Harus Punya Tujuan

Sama seperti ketika kita hendak bepergian, kita pastilah sebelumnya sudah menentukan tujuan mau ke mana, naik apa, berapa dana yang perlu disiapkan, apa saja yang perlu dibawa, menginap di mana, dan sebagainya. Hidup yang kita jalani sehari demi sehari serupa perjalanan. Hidup harus punya tujuan yang ingin dicapai. Tujuan-tujuan itulah yang nantinya akan menjadi titik di mana kita akan berhenti sejenak dan menikmati pencapaian prestasi. Tak peduli apakah jalan yang dilalui lurus atau berkelok-kelok dan naik turun, titik itulah fokus kita. Satu tujuan yang tercapai akan membantu kita untuk merealisasikan tujuan-tujuan berikutnya. Agar “perjalanan” hidup menjadi menarik, tetapkanlah satu tujuan untuk setiap tahunnya dan berusahalah untuk mencapainya.

Tahun 2018 ini ada dua tujuan yang ingin saya capai. Pertama, mengajak anak lanang saya satu-satunya melanjutkan kuliah di kota tempat saya tinggal. Kami sudah terlalu lama hidup berjauhan, dan saya rasa inilah saatnya saya dan suami berkumpul dengan anak kami satu-satunya ini. Apalagi dia sudah mulai dewasa, banyak waktu kebersamaan yang telah terbuang begitu saja. Untuk itu, saya harus lebih bersemangat berkarya agar tabungan dana pendidikannya terpenuhi dan dia bisa kuliah di universitas mana pun yang menjadi pilihannya, asalkan universitas itu berada di kota tempat saya dan suami tinggal. Tujuan kedua saya: memulai usaha rintisan (semacam startup) yang saya kelola bersama suami dan teman dekat. Punya usaha sendiri ini orientasinya tak melulu uang, tapi saya ingin belajar mengenai
kerja sama tim (mengingat selama ini saya single fighter dan belum pernah bekerja sama dalam tim). Selain itu, saya ingin usaha ini nantinya jadi wadah bagi kami untuk sama-sama mengembangkan diri menjadi pribadi lebih baik, bisa membantu lebih banyak orang mendapatkan peluang, menjalin kolaborasi dengan banyak pihak, dan sekaligus mencapai sukses bersama-sama.

Tindakan Untuk Merealisasikan Tujuan

Rencana tanpa realisasi sama aja omong kosong karena akan selamanya jadi rencana. Kita harus menentukan tindakan atau langkah apa saja yang perlu dilakukan untuk mewujudkan setiap rencana yang disusun demi tercapainya tujuan. Saat membuat rencana, fokuslah pada tujuan yang ingin dicapai. Buat rencana harian dan susunlah prioritas. Apakah perlu menyusun to do list harian? Boleh saja. Tetapi perlu diingat dalam membuat to do list buat berapa banyak pekerjaan yang perlu diselesaikan, tetapi susunlah pekerjaan yang bisa diselesaikan dalam satu hari. Selain membuat rencana harian, kita juga perlu menyusun timeline kerja dalam bentuk mingguan dan bulanan. Dengan cara ini kita akan tahu target mingguan dan bulanan apa saja yang perlu dicapai.

Membuat rencana harian, mingguan, dan bulanan seperti milestone atau gampangnya anak tangga deh. Ketika satu anak tangga telah terlampaui, kita bisa melanjutkan langkah kita ke anak selanjutnya. Jika setiap anak tangga telah terlalui, pada akhirnya kita akan tiba di puncak tangga, yaitu tujuan yang ingin kita capai. Setiap anak tangga juga perlu diperinci apa saja yang perlu dilakukan. Semakin detail kita membuat rencana, semakin jelas kita tahu apa yang perlu dilakukan. Misalnya nih, untuk mewujudkan tujuan pertama saya, yaitu mengajak anak pindah melanjutkan pendidikan tinggi di Jakarta, maka saya perlu tahu berapa budget yang dibutuhkan untuk masuk kuliah. Saya mencari sebanyak mungkin informasi di universitas yang diminati anak. Setelahnya saya mulai menghitung berapa jumlah tabungan saya dan berapa banyak lagi dana yang perlu saya sediakan. Di sini dibutuhkan perencanaan keuangan yang matang sehingga saya membutuhkan catatan keuangan khusus untuk dana pendidikan. Untuk memudahkan proses hitung menghitung, saya pakai colorful calculator keluaran Casio My Style yang warnanya adalah warna kesukaan saya. Bentuknya yang mungil membuat kalkulator ini mudah dibawa ke mana saja dan bisa digunakan kapan saja saya membutuhkannya. Harga #CasioMyStyle ini sangat terjangkau, apalagi kalau belinya pakai kode promosi CASIOBLOGZO2127 dan gunakan kode tersebut di Matahari MallOh ya, pilihan warnanya beragam. Kamu bisa pilih sesuai warna yang menggambarkan karakter pribadimu.

Agenda saya yang berfungsi untuk mencatat jadwal kerja dan keuangan demi meningkatkan produktivitas

Lalu, rencana apa yang saya susun untuk mewujudkan tujuan saya yang kedua? Untuk memiliki usaha rintisan (startup) butuh tim kerja yang memiliki visi dan misi yang sama serta menganut prinsip jujur dan bisa dipercaya. Beruntungnya, saya telah menemukan tim kerja impian dan telah menyusun berbagai rencana strategis yang pelan-pelan kami wujudkan bersama. Pertemuan rutin kami lakukan untuk pengembangan usaha ini. Diskusi melalui aplikasi chat maupun bertemu secara langsung juga terus dilakukan agar usaha ini bisa segera berjalan. Tak perlu terburu-buru, yang penting terus melangkah dengan pasti demi mencapai sukses bersama-sama. Selain mensinkronisasi internal, kami juga tetap menjalin hubungan dengan banyak orang, siapa tahu terbuka peluang berkolaborasi. Prinsipnya, sukses itu sulit kalau sendirian, tapi jauh lebih mudah kalau bisa bersama-sama.

Bekerja Efektif dan Kreatif

Langkah selanjutnya setelah menyusun rencana harian, mingguan, maupun bulanan, adalah bagaimana merealisasikan setiap langkah tadi menjadi tindakan nyata. Saya dan kamu diberi Tuhan jumlah waktu yang sama dalam sehari, yaitu 24 jam. Tidak ada satu pun orang yang punya waktu lebih banyak atau lebih sedikit. Masalahnya yang membuat perbedaan, bagaimana caranya mengelola waktu agar dengan waktu yang terbatas ini kita bisa menyelesaikan lebih banyak pekerjaan. Kata menyelesaikan sengaja saya tebalkan nih karena fakta yang sering terjadi, kita melakukan banyak pekerjaan tapi tak ada yang selesai… hahaha.

Cara bekerja (berkarya) secara efektif dan kreatif:

  • Mulailah mengerjakan pekerjaan paling penting terlebih dahulu. Kerjakan dengan sebaik mungkin hingga selesai.
  • Setelah satu pekerjaan selesai, baru kita kerjakan lagi pekerjaan penting berikutnya. Biasanya setelah satu pekerjaan selesai, kita
    jadi lebih percaya diri untuk mengerjakan pekerjaan berikutnya.
  • Gunakan teknik mengelola waktu yang sesuai dengan kebutuhan dan kepribadian kita. Misalnya menggunakan teknik Podomoro, yaitu
    bekerja dengan timer. Kita menyediakan timer dan kemudian bekerja secara fokus dan maksimal dengan harapan timer berbunyi pekerjaan
    kita pun selesai. Ada banyak teknik lain. Coba cari referensinya dan terapkanlah.
  • Biasakan untuk langsung mengerjakan pekerjaan yang bisa dikerjakan hari ini. Jangan suka menunda-nunda. Semakin sering menunda,
    tumpukan pekerjaan yang harus diselesaikan jadi semakin banyak.
  • Bekerjalah secara kreatif dan cerdas. Jika pekerjaan A bisa selesai dengan metode B, maka lakukanlah. Jangan fokus hanya pada satu
    metode sementara metode tersebut ternyata tidak efektif untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut.
  • Bekerja secara efektif dan kreatif juga bisa dengan mendelegasikan pekerjaan kepada orang lain yang lebih ahli. Contoh: saya penulis
    buku yang tak pandai ilustrasi. Daripada saya membuang lebih banyak waktu hanya demi belajar ilustrasi, mending saya serahkan saja
    naskah yang sudah jadi pada teman yang punya keahlian ilustrasi untuk mempercantik naskah saya. Sementara saya bisa lanjut menulis
    naskah berikutnya.
  • Tidak disarankan untuk bekerja secara multitasking bagi orang yang tak terbiasa, karena bukannya mempercepat malah bisa jadi akan
    membuat semua pekerjaan jadi berantakan. Mending kerjakan saja satu demi satu sampai selesai.
Salah satu cara biar kreatif, sering-seringlah traveling

Cara Agar Tetap Kreatif:

  • Banyak baca buku. Dari kegiatan membaca kita bisa menemukan ide-ide kreatif yang mungkin saja memperlancar pekerjaan kita.
  • Bertemu dengan banyak orang dari berbagai profesi juga bisa mengasah sisi kreatif. Berbincanglah dengan mereka. Bertukar pikiran dan siapa tahu malah bisa berkolaborasi. Ingat, tahun 2018 adalah tahun kolaborasi (katanya sih begitu… hahaha)
  • Pergilah keluar ketika stuck. Tetap bertahan di rumah atau di ruang kerja sementara kita tak tahu lagi apa yang harus dikerjakan adalah kegiatan sia-sia. Mending pergi saja keluar, jalan-jalan di taman sambil menyegarkan pikiran. Atau pergi saja berolahraga, berenang atau joging misalnya. Biasanya sih kalau saya melakukan hal ini, pulang ke rumah saya jadi tahu apa lagi yang perlu saya kerjakan demi selesainya pekerjaan yang sedang saya tangani.
  • Pergi traveling juga jadi salah satu cara yang digunakan banyak orang agar tetap kreatif. Seperti waktu saya ke Bali kemarin. Saya dan suami memutuskan untuk berpisah dari rombongan. Awalnya suami agar takut karena dia terakhir ke Bali waktu SMP. Sementara saya yang sudah beberapa kali ke Bali belum pernah mencoba jalan sendiri di pulau ini. Tapi inilah tantangannya. Kami harus putar otak gimana caranya dengan budget yang tersisa, tetap bisa menikmati senang-senang di Bali. Sisi kreatif kami “diperas” untuk menemukan cara paling hemat dan efektif. Dan ternyata berhasil. Meski sempat tersesat dan bingung arah jalan pulang (nyanyi deh ini), saya dan suami enemukan banyak cara, banyak tempat baru, dan tetap survive sampai tiba waktunya kami kembali ke Jakarta. Jadi kalau kamu mau kreatif, sana pergi jalan-jalan ke tempat yang jauh, yang belum pernah dikunjungi, dan taklukkan tempat itu dengan caramu sendiri.

Singkirkan Gangguan

Ini nih yang paling penting dari seluruh rencana yang kita buat. Tanpa kita sadari, kita sering membiarkan berbagai “gangguan” hadir dalam hidup kita hingga pekerjaan yang harusnya bisa selesai dalam satu hari malah jadi tertunda dan baru selesai beberapa hari kemudian. Ada banyak bentuk gangguan, baik yang kita ciptakan sendiri maupun yang diciptakan orang lain. Gangguan bisa dalam bentuk: media sosial yang terus menyala dan membuat kita tergoda untuk menghabiskan waktu di sana. Chat tanpa henti di aplikasi chat yang ada di ponsel. Telepon dari teman, kemudian kita bergosip hingga lupa waktu. Televisi yang menyala juga bisa mengalihkan perhatian kita hingga kita lebih banyak nonton televisi daripada bekerja. Apalagi ya? Kamu pasti bisa menyusun daftar gangguanmu sendiri dan cobalah menyingkirkannya satu persatu.

Daftar Gangguan ala Saya dan Solusi untuk Mengatasinya:

Godaan terbesar bagi saya adalah notifikasi yang berbunyi dari media sosial atau aplikasi chat di ponsel. Kalau diabaikan takutnya itu peluang kerja baru dari seseorang. Tak diabaikan, pekerjaan yang ada terganggu. Tapi kemudian saya mencoba mengatasi gangguan ini dengan cara, tak terus-terusan memeriksa ponsel setiap kali notifikasi berbunyi. Saya menggunakan teknik Podomoro. Misalnya untuk menulis satu bab, saya butuh waktu sekitar 45 menit. Selama 45 menit itu ponsel saya silent. Saya akan fokus bekerja dulu. Setelah alarm berbunyi tanda waktu 45 menit tadi selesai, saya menyediakan waktu kurang lebih 30 menit sampai 1 jam untuk beristirahat. Nah,
di waktu istirahat inilah saya memeriksa notifikasi dengan cepat, kadang dibarengi dengan memeriksa dan membalas email. Setelahnya, lanjut kerja lagi dong.

Telepon yang berdering bisa menandakan banyak hal, terutama bagi saya yang perantauan dan jauh dari keluarga. Saya selalu merasa khawatir kalau ada telepon dari keluarga, takutnya ada yang benar-benar urgent. Ketika ponsel dalam keadaan silent, tetap saja saya tak bisa menjauhkan ponsel dari sisi saya karena berjaga-jaga mengenai hal ini. Jadi saat telepon masuk (yang ditandai dengan lampu di ponsel yang berkedip-kedip), saya akan tetap mengangkatnya. Hanya saja, pembicaraan dilakukan seefektif mungkin dan saya akan mengatakan jujur kepada si penelepon kalau saya sedang bekerja. Kalau ternyata isi pembicaraan yang dilakukan tak terlalu penting, saya akan berusaha membatasi pembicaraan seminimal mungkin, dan berjanji menghubungi si penelepon begitu pekerjaan saya selesai (untuk ngerumpi sih biasanya ini)

Di Jakarta, saya tinggal cuma berdua dengan suami dan suami tahu benar ketika saya sudah duduk di depan laptop dan mulai menulis, saya tak bisa diganggu. Biasanya saya akan kasih tanda sih kalau saya mau diganggu… :p Berbeda saat saya pulang ke rumah orangtua di Banjarmasin atau waktu berkunjung ke rumah adik di Surabaya. Ada anggota keluarga lain di sana, juga ponakan-ponakan yang kalau lihat saya pasti ingin ngajak main. Sama seperti ketika saya terima telepon, saya akan bicara jujur pada mereka. Biasanya saya lakukan sebelum mulai kerja dengan mengatakan, “Saya kerja dulu ya. 1-2 jam jangan diganggu, kecuali penting banget.” Lalu saya masuk kamar, tutup pintu, pasang headset di telinga, dan mulai bekerja. Begitu waktu 1-2 jam tadi selesai, saya akan keluar kamar dan bergabung dengan mereka. Bagaimana pun kebersamaan bersama keluarga sama pentingnya dengan pekerjaan. Kalau mementingkan salah satunya saja, hidup jadi tak seimbang.

Gimana kalau tiba-tiba diajak ketemuan untuk urusan pekerjaan? Atau kalau ada tamu yang datang tanpa buat janji dulu? Untuk masalah yang satu ini tak bisa saklek banget ya. Tidak mungkin dong tamu yang datang dari jauh terpaksa disuruh pulang karena kita sedang bekerja. Jadi, mau tidak mau saya tetap meluangkan waktu untuk bertemu dengan tamu yang datang ini, mencari tahu keperluannya,  mengobrol, dan tetap jaga hubungan baik. Waktu kerja yang tertunda akan saya ganti langsung begitu tamu pulang.

Untuk janjian bertemu dengan seseorang, saya memang lebih suka bikin janji jauh-jauh hari dan setiap janji akan saya catat di agenda saya (ini juga berlaku kalau saya ingin hadir di suatu acara). Saya orangnya tak terlalu suka terburu-buru saat pergi ke suatu tempat, termasuk ketika menempuh perjalanan ke tempat janjian. Misalnya janjian jam 10 pagi, maka sejak jam 6 saya sudah bersiap dan paling lambat dua jam sebelumnya sudah berangkat untuk antisipasi kalau terjadi hal-hal di luar dugaan. Dan saya selalu membawa laptop, buku bacaan, notes, atau minimal ponsel. Jadi ketika janji temu tak terlaksana, saya tetap bisa mengisi waktu yang kosong dengan mengerjakan sesuatu. Cara ini sudah lama saya terapkan karena bagi saya waktu sangatlah berharga. Waktu yang hilang tak bisa diputar ulang.

Kelilingi Diri Dengan Orang-orang Positif

Hal terakhir untuk meningkatkan produktivitas adalah mengelilingi diri dengan orang-orang positif yang menebarkan semangat, yang mau saling berbagi tanpa pamrih, yang tak melulu menghabiskan waktu dengan menggosip (atau membicarakan orang lain), yang tak suka mengeluh, pokoknya yang tak melulu mengisi waktu dengan berbagai hal negatif. Orang-orang positif di sini tidak berarti orang-orang yang sempurna loh ya karena tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Sempurna itu hanya milik Tuhan. Ada kok orang yang kehidupan pribadinya jungkir balik (punya banyak masalah), tetapi sikap hidup dan cara berpikirnya positif. Orang seperti ini tetap masuk dalam kategori positif. Intinya, orang yang positif adalah yang memandang kehidupan dengan cara pandang yang optimis. Dengan berada dalam lingkaran orang-orang positif ini kita mau tak mau jadi ikut positif dan ini sangat baik bagi pengembangan diri kita.

Hal kecil untuk meningkatkan produktivitas yang baru saja kamu baca di postingan saya kali ini cuma sebagian kecil dari banyak cara yang bisa diterapkan. Cobalah mencari referensi lain, baik dari buku, internet, atau dari pengalaman orang lain, bagaimana cara mereka meningkatkan produkvititas. Pelajari, coba, pilih yang sesuai dengan kepribadian kita, lalu terapkan. Setelahnya, melesatlah mencapai tujuan yang ingin dicapai.

12 COMMENTS

    • Bener banget, Mbak, pakai kalkulator warna hijau yang kebetulan warna kusuka, jadi makin cepet kerjanya. Mood jadi bagus. Dan kalau pas lagi ditaruh di meja kerja, kesannya cantik banget itu kalkulatornya… hahaha.

  1. Tak pikir dulu juga gitu, udah ga kerja kantoran lagi bisa punya banyak waktu, Eh ternyata ga juga. Kalo produktif, Alhamdulillah. Menulisnya…Tempo2… Tempo2 ada, tempo2 ilang. Banyak baca makin banyak ga taunya. Kalo stuck tak bawa masak, trus makan. Hahahah

    • Tu kan, itu juga yang aku alami pas mulai kerja freelance, bahkan sampai sekarang kadang-kadang masih begitu. Ya seperti yang kamu bilang, tempo2 ada, tempo2 ilang… hahaha. Yuk kita semakin produktif berkarya ya, Mas, di bidang apa pun yang kita sukai.

  2. Nah itu point terakhir berada ditengah-tengah orang yang berpikiran positif, susah loh.. Apalagi kalau pas liat ada yang nyinyir, yang ada malah maunya balas nyinyir juga.. :p

    Memposisikan diri tetap positif itu keren banget.. Me-Skip something to grow up.. Kapan aku bisa begitu.. Hahaha

    • Ayo sama-sama belajar biar bisa skip hal-hal tak penting, termasuk nyinyir-menyinyir. Biarin aja yang mau nyinyir, kita fokus berkarya aja

  3. Kalau saya hal yang jadi ganguaj terbesar adalah aplikasi chat yang isinya para sahabat dekat dan instagram, haduh kalau sudah buka ig susah lepasnya 😁.
    Semoga keinginan berkumpul dengan anak lanang bisa segera terwujud ya Mba.
    Salam kenal 🙏

  4. Sekarang masih kerja kantoran, dan kebayang rasanya gimana, hhee
    Pengen suatu hari bisa ambil freelance, hhee
    Semoga di tahun ini bisa lebih produktif menghasilkan karya tulisnya ya Mbak Monic
    Salam kenal dari rurohmadotcom
    ^_^

  5. Supaya kerja menjadi tenang & efektif yang penting harus fokus & menjauhkan diri dari gangguan2 tadi. Kalo saya, kadang gangguan sudah pergi, tiba2 moodnya yang kurang bagus. Harus banyak belajar dari Mba Monic nih.. Salam kenal ya mba

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here