Kesehatan

Tangkal Kolesterol Cegah Serangan Jantung

Bisakah tangkal kolesterol cegah serangan jantung? Bagaimana caranya? Sebelum lebih jauh membahas mengenai hubungan kolesterol dan serangan jantung, serta cara mengatasinya, ada baiknya kita melihat terlebih dahulu gaya hidup yang kita jalani sehari-hari. Jika berkaca pada kegiatan sehari-hari, banyak orang yang menghabiskan waktu dengan duduk di depan laptop selama berjam-jam. Alasannya tentu saja karena banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, sedang kena tenggat waktu, dan lain sebagainya.

Duduk dalam waktu lama menjadi semakin lama ketika jam makan siang kita memilih untuk pesan makan siang menggunakan layanan pesan antar, memakan bekal tetap di meja kerja (makan sambil tetap bekerja), meminta layanan office boy untuk membeli makanan, dan sebagainya. Sepulang kerja, aktivitas fisik di rumah tetap saja terbatas karena ada pembantu rumah tangga yang akan siap melayani semua kebutuhan kita, atau untuk mengisi waktu luang kita memilih duduk bersantai sambil menonton televisi dan menikmati camilan. Lagi-lagi, waktu yang kita habiskan dalam posisi duduk akan memakan waktu 2-3 jam atau paling tidak sampai tiba waktunya tidur. Padahal sebelumnya, saat perjalanan pulang dari tempat kerja, kita telah menghabiskan waktu duduk di dalam kendaraan. Keesokan hari, kegiatan yang kurang lebih sama kembali terulang. Dengan aktivitas yang seperti ini, otomatis gerak fisik tubuh kita menjadi terbatas. Timbangan pun merangkak naik, dan satu per satu penyakit bermunculan. Penyakit yang hampir tanpa gejala, namun memiliki dampak yang bisa menimbulkan penyakit lain adalah kolesterol.

Tangkal Kolesterol Cegah Serangan Jantung Dengan Menghilangkan Gaya Hidup Sedentari

Mengenal Gaya Hidup Sedentari dan Akibatnya

Beberapa tahun belakangan teknologi berkembang sedemikian cepat diikuti dengan inovasi di berbagai bidang yang bertujuan untuk memudahkan hidup manusia. Berbagai fasilitas dan hiburan pun bermunculan, mulai dari layanan pesan antar, ojek online, lift dan eskalator yang membuat kita malas untuk berjalan atau menaiki tangga, termasuk penggunaan gadget yang menyediakan banyak sekali fitur hiburan sehingga kita lebih banyak bermain gadget. Kita jadi lebih sering leyeh-leyeh sambil main gadget, yang diperburuk dengan kebiasaan menyamil serta pola makan sembarangan. Gaya hidup yang penuh dengan kemudahan membuat aktivitas fisik kita menjadi kurang. Inilah yang dikenal dengan gaya hidup sedentari.

Perilaku/gaya hidup sedentari adalah kebiasaan seseorang yang lebih banyak menghabiskan waktu tanpa banyak melakukan aktivitas fisik, terlalu banyak duduk atau berbaring, yang dilakukan setiap hari, namun tidak termasuk waktu tidur. Perilaku sedentari yang biasa dilakukan di tempat kerja, misalnya: duduk dalam waktu lama di meja kerja, di depan komputer, membaca, menulis, dan sebagainya. Perilaku sedentari di rumah yang banyak dilakukan orang, antara lain duduk menonton televisi, main game tanpa ingat waktu baik dalam posisi duduk atau berbaring, duduk di kendaraan dalam perjalanan jauh (di bus, kereta, mobil, motor, pesawat).

Dari data yang dihimpun Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI Tahun 2013 diketahui hampir separuh proporsi penduduk kelompok umur lebih dari 10 tahun atau kurang lebih 42 persen berperilaku sedentari 3 hingga 6 jam dalam satu hari. Perilaku sedentari lebih dari 6 jam bahkan lebih banyak, yaitu hampir satu dari empat penduduk. Masih dari penelitian yang sama juga ditemukan ada 22 provinsi yang penduduknya kurang beraktivitas fisik. Lima daerah berada di posisi tertinggi jumlah penduduk yang jarang beraktivitas fisik, yaitu: DKI Jakarta (44,2%); Papua (38,9%); Papua Barat (37,8%); Sulawesi Tenggara dan Aceh masing-masing 37,2%). Pada waktu yang hampir bersamaan, Badan Kesehatan Dunia (WHO) merilis data yang menunjukkan gaya hidup sedentari merupakan 1 dari 10 penyebab kematian terbanyak di dunia.

Sumber: Instagram nutrivebenecol_id

Mengapa perilaku atau gaya hidup sedentari menjadi penyebab kematian terbanyak di dunia?
Orang yang kurang beraktivitas fisik, atau dalam istilah kekinian terlalu sering mager, memiliki risiko tinggi mengalami peningkatan kolesterol, tekanan darah tinggi, diabetes, dan mengalami obesitas. Kolesterol menjadi salah satu penyakit yang dipercayai memiliki risiko 2 kali lebih besar menyebabkan penyakit jantung dan stroke. Lebih berbahayanya lagi, kolesterol ini sama sekali tak menunjukkan gejala apa apun sehingga banyak orang yang tak sadar kalau kolesterolnya sudah terlalu tinggi sampai muncul berbagai komplikasi yang mengancam jiwa. Data yang dihasilkan dari Survey Sample Registration System (SRS) tahun 2014 menyebutkan penyakit jantung dan pembuluh darah menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Faktanya, terjadi penambahan jumlah penderita penyakit jantung setiap 12 detik dan 3 detik kemudian ada 1 penderita yang mengalami stroke.

"Gaya hidup sedentari, atau kurangnya aktivitas fisik, merupakan faktor risiko utama penyakit kardiovaskuler, diabetes, dan kanker. Data global menunjukkan 1 dari 4 orang dewasa serta 4 dari 5 remaja tidak cukup aktif. Sementara olahraga terbukti mampu mengendalikan berat badan, tekanan darah, meredakan peradangan, meningkatkan kesehatan pembuluh darah secara keseluruhan, dan meningkatkan HDL."

- Ilkka Ojansivu, Business Manager in Multiple Asian Countries, dari Raisio Prinsipal Benecol Finlandia -

Data lain yang perlu diketahui mengenai kematian akibat kebiasaan mager dilaporkan oleh European Prospectuve Investigation into Cancer and Nutrition (EPIC) tahun 2008. Di dalam laporan itu disebutkan kalau kematian akibat kurangnya aktivitas fisik dua kali lebih banyak dibandingkan dengan kematian akibat obesitas, apalagi bila gaya hidup sedentari ini diikuti dengan pola makan yang tidak seimbang dan kebiasaan lainnya yang kurang sehat, seperti merokok, minum alkohol, dan lain sebagainya, maka gaya hidup ini berisiko mempertinggi kemungkinan kena serangan jantung dan stroke.

Indonesia Tangkal Kolesterol Cegah Serangan Jantung

Di tahun 2015, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Bidang Kesehatan (BPJS) melaporkan biaya pelayanan penderita penyakit jantung mencapai 6,9 triliun rupiah dan biaya ini meningkat hingga 7,4 triliun rupiah di tahun 2016. Peningkatan beban biaya jaminan kesehatan bagi peserta BPJS ini hanya untuk penyakit jantung. Sementara untuk penderita stroke, biaya yang dihabiskan kurang lebih 1,15 triliun rupiah pada 2015 dan meningkat menjadi 1,2 triliun rupiah pada 2016. Terjadinya peningkatan biaya ini menunjukkan adanya peningkatan jumlah penderita penyakit jantung dan stroke. Hal ini membuat Kementerian Kesehatan RI, Yayasan Jantung Indonesia, klikdokter.com, dan Kalbe Nutritionals bekerja sama dan berkomitmen menyelenggarakan program Indonesia Tangkal Kolesterol Bersama Nutrive Benecol dengan tema yang diangkat adalah Gerakan Jantung Sehat.

Program Indonesia Tangkal Kolesterol ini disosialisasikan di 5 kota besar di Indonesia sejak bulan Juli 2017 hingga bulan Oktober 2017. Program ini bertujuan untuk mengajak masyarakat Indonesia hidup sehat demi mencapai kehidupan yang lebih baik. Hidup sehat yang dimaksudkan di sini adalah gaya hidup yang memiliki kebiasaan rutin beraktivitas fisik secara aktif, rutin berolahraga, menerapkan pola makan gizi seimbang dan rendah lemah jenuh, menghindari kebiasaan buruk seperti merokok dan minum alkohol, serta mengontrol dan menjaga kadar kolesterol dalam tubuh. Harapannya dengan gaya hidup sehat ini bisa memperkecil risiko terkena diabetes, obesitas, cegah serangan jantung dan menghindari terjadinya stroke.

Saya beruntung sekali mendapat kesempatan ambil bagian dalam acara sosialisasi program Gerakan Jantung Sehat: Indonesia Tangkal Kolesterol 2017 yang diselenggarakan di The Hall Senayan City Mall lantai 8 pada 21 Oktober 2017 lalu. Saya melakukan registrasi terlebih dahulu begitu tiba di tempat acara, kemudian saya mendapat kesempatan melakukan pemeriksaan kolesterol gratis. Pertama, saya diambil darah dulu untuk menentukan tinggi-rendahnya tensi saya. Setelahnya, ada petugas yang memandu saya melakukan tes kolesterol yang dikenal dengan nama The Framingham Heart Study. Alat tes kolesterol ini berupa serangkaian pertanyaan yang harus saya jawab untuk memperkirakan risiko seseorang terkena serangan jantung 10 tahun mendatang.

Sumber: Buku Rahasia Tangkal Kolesterol & Jantung Sehat

Ketika petugas mengatakan tensi saya normal, saya menarik nafas lega. Tapi kemudian hasil tes kolesterol saya menunjukkan kalau total kolesterol saya berada di angka 180 mg/dL, dengan kolesterol LDL saya lebih tinggi dari kolesterol HDL. Saya sempat kebingungan ketika mendengar istilah kolesterol HDL dan LDL. Untungnya petugas kemudian menerangkan kepada saya kalau kolesterol total itu merupakan kadar keseluruhan kolesterol yang beredar dalam tubuh manusia. Kolesterol total itu terdiri dari 3 elemen, yaitu:

  1. Kolesterol HDL merupakan kolesterol baik karena dapat membantu menghilangkan kolesterol LDL di dalam arteri.
  2. Kolesterol LDL adalah kolesterol jahat yang menyebabkan timbulnya plak di pembuluh darah, tebal, dan tumpukan lemak keras yang jika dibiarkan akan dapat menyumbat arteri.
  3. Trigliserida adalah salah satu jenis lemak yang ada di dalam darah dan dibutuhkan tubuh untuk diubah menjadi energi. Kadar Trigliserida yang tinggi akan menyebabkan meningkatnya risiko serangan jantung dan stroke.

Rahasia Tangkal Kolesterol Cegah Serangan Jantung

Setelah selesai melakukan pemeriksaan, saya memasuki ruangan seminar. Ruangan tersebut sudah penuh dengan peserta seminar yang ingin tahu mengenai cara hidup sehat dengan tangkal kolesterol hingga bisa cegah serangan jantung. Tak lama kemudian, acara pun dimulai. Sesi yang menarik minat saya adalah saat dr. Vito A. Damay, SpJP, MKes, FIHA, FICA mengatakan bahwa kolesterol yang tak terkontrol bisa menjadi pemicu berbagai penyakit, terutama meningkatkan risiko terkena serangan jantung, penyakit kadiovaskuler lainnya, juga berkemungkinan mengalami stroke.

Penyakit jantung dan stroke termasuk penyakit pembunuh nomor satu di dunia. Di Indonesia, kedua jenis penyakit ini masuk dalam sepuluh penyakit utama yang paling banyak diderita. Penyakit lainnya yang juga masuk dalam daftar 10 besar penyakit di Indonesia, antara lain diabetes mellitus dan hipertensi. Penyebabnya tentu saja gaya hidup yang buruk dengan perilaku sedentari hingga mengakibatkan kelebihan berat badan, tumpukan lemak dan kolesterol tak terkontrol, kebiasaan merokok, minuman keras, dan malas berolahraga.

"Kolesterol dan penyakit kardiovaskuler juga terkait dengan proses yang disebut ateroklerosis, yaitu suatu kondisi yang terjadi ketika terbentuk plak pada dinding pembuluh darah arteri. Penumpukan ini mempersempit arteri sehingga darah sulit mengalir melalui arteri. Plak juga bisa pecah (ruptur) dan memicu terbentuknya bekuan darah dan gangguan aliran darah ini dapat menyebabkan terjadinya serangan jantung atau stroke. Salah satu faktor utama penyebab aterosklerosis adalah dislipidemia, yaitu peningkatan kadar kolesterol, trigliserida, atau keduanya, atau penurunan HDL dalam plasma darah yang berkontribusi pada perkembangan aterosklerosis."


- dr. Vito A. Damay, Sp.JP(K), M.Kes, FIHA, FICA, Pengasuh Redaksi Medis dari Klikdokter.com serta spesialis jantung dan pembuluh darah -

Apa yang harus dilakukan demi tangkal kolesterol dan cegah serangan jantung?
Melalui kampanye Gerakan Jantung Sheat: Indonesia Tangkal Kolesterol 2017, Nutrive Benecol memperkenalkan gaya hidup TANGKAL, yaitu 7 langkah tangkal kolesterol:

  1. Teratur periksa kolesterol.
  2. Awasi asupan dan pola makan.
  3. Nikmati hidup tanpa rokok dan minuman beralkohol.
  4. Giat berolahraga dengan senam B-Fit.
  5. Kendalikan berat badan dan hindari stres.
  6. Awasi tekanan darah.
  7. Lengkapi dengan Nutrive Benecol 2x sehari.

Ngomong-ngomong mengenai Nutrive Benecol, awal mula saya mencoba minuman ini karena persediaan air minum yang saya bawa dari rumah habis dan kebetulan di lokasi acara susah sekali mendapatkan air minum. Ini sempat membuat saya merasa sangat kehausan, terutama setelah makan siang dan tidak ada minuman. Lalu saya melihat beberapa staf dari Kalbe Nutrition membagikan contoh produk Benecol. Saya yang kemudian disodori satu gelas kecil dan diminta mencoba Benecol, tentu saja dengan senang hati menerimanya. Saat saya minum, rasa sedikit asam dan manis langsung memenuhi mulut saya, dan saya langsung suka. Karena masih merasa haus, saya pun membeli satu paket. Saya pikir ketika itu, sekalian coba deh.

Sejak hari itu, saya secara rutin minum Benecol dua kali sehari. Ada empat varian rasa yang tersedia, blackcurrant, leci, stroberi, dan orange. Saya paling suka rasa leci dan stroberi karena rasa asam dan manisnya pas di lidah saya. Selama lebih dari dua minggu ini saya tetap melanjutkan minum Nutrive Benecol ini karena secara berangsur-angsur pegal-pegal di tubuh yang sering saya rasakan, kesemutan di tangan dan kaki, serta rasa pegal dan kaku di leher, berangsur-angsur hilang dan tubuh saya terasa lebih segar. Saya pun jadi penasaran, kok bisa sih Nutrive Benecol membuat tubuh saya lebih nyaman, jadi saya pun mencari lebih banyak informasi mengenai Nutrive Benecol ini. Ternyata kandungan Plant Stanol Ester (PSE) yang ada di dalam Nutrive Benecol dapat membantu menurunkan kolesterol dan mengurangi risiko terkena penyakit jantung koroner. PlantStanol Ester (PSE) adalah senyawa dari tumbuhan yang menyerupai kolesterol sehingga mampu menggantikan kolesterol dalam penyerapan di usus. Kesamaan bentuk molekul antara PSE dan kolesterol menjadikan proses penyerapan kolesterol di usus tergantikan. Artinya, proses penyerapan kolesterol akan berkurang karena tergantikan PSE.

Ayo dukung Gerakan Jantung Sehat: Indonesia Tangkal Kolesterol dengan melakukan 7 Langkah Gaya Hidup Tangkal dan nikmati hidup dengan kesehatan yang lebih baik, terbebas dari kolesterol dan terhindar dari risiko serangan jantung dan stroke.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *