Persiapan Menulis NonFiksi

Industri perbukuan dan penerbitan dari tahun ke tahun terus mengalami perkembangan. Meskipun ada kasus-kasus mengenai plagiasi, yang menimpa penulis (termasuk saya beberapa waktu lalu).

Tetap saja, banyak di antara kita yang tergiur untuk ambil bagian dalam industri ini. Kali ini, saya akan berbagi tips mengenai cara menulis buku nonfiksi dalam 30 hari, dengan fokus persiapan menulis nonfiksi.

Mengenal Nonfiksi

Nonfiksi adalah semua karya tulis yang bukan rekaan atau khayalan. Nonfiksi harus ditulis berdasarkan data dan fakta yang kita dapatkan melalui riset, referensi, melakukan wawancara dan sebagainya.

Intinya, karya nonfiksi dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya dan sesuai dengan kenyataan yang ada. Contoh karya tulis nonfiksi: esai, feature, skripsi, karya ilmiah.

Selain itu, makalah, laporan, tesis, disertasi, berbagai buku resep, buku pengembangan kepribadian, juga buku biografi, termasuk nonfiksi. Bahkan, artikel, termasuk artikel yang ditayangkan di suatu website, masih dalam kategori nonfiksi.

Persiapan Menulis Nonfiksi

Sama seperti kegiatan lain yang biasanya kita lakukan sehari-hari, menulis juga membutuhkan persiapan. Dengan persiapan menulis nonfiksi yang matang, kita bisa memasuki proses menulis dengan kepercayaan diri yang penuh.

Nah, berikut ini adalah beberapa persiapan yang perlu dilakukan.

wajib membaca sebagai persiapan menulis buku nonfiksi

Wajib Rajin Membaca dalam Persiapan Menulis Nonfiksi

Analogi yang biasanya saya gunakan mengenai pentingnya membaca, adalah tentang gelas yang diisi air hingga penuh. Proses membaca ibaratnya seperti mengisi air dalam bak. Semakin banyak membaca, semakin banyak air. Lama-lama, air akan luber jika terus diisi.

Seperti itu pula, cara kerja otak kita. Semakin banyak membaca, semakin mudah dan lancar kita menulis. Mengapa? Dengan membaca, kosakata, pengetahuan, dan wawasan kita pun bertambah. Kita jadi lebih mudah menuangkan isi pikiran kita dalam bentuk tulisan.

Membaca Memperlancar Proses Menulis

Kegiatan membaca, akan membantu kita menghasilkan tulisan yang ‘berisi’ dan kaya akan informasi. Penulis yang berhasil menulis tanpa menyukai kegiatan membaca memang ada. Tetapi, coba bandingkan saja. Karya tulis yang ditulis oleh penulis penyuka kegiatan membaca, dengan penulis yang tidak suka membaca. Hasilnya, pasti berbeda.

Contoh nyata yang sudah saya alami. Saya sudah pasti baca kisah Sherlock Holmes dulu, sebelum menuliskan buku berjudul 99 Cara Menyelesaikan Masalah ala Sherlock Holmes  Kalau saya tidak baca, pasti saya akan sulit menyelesaikan tulisan saya.

Saat saya menuliskan buku tentang cara sukses, saya juga harus membaca sebanyak mungkin kisah perjalanan hidup para miliarder. Saya juga mencari tahu, cara mereka mengatasi krisis yang terjadi dalam hidup mereka. Kemudian, mengubahnya menjadi kesuksesan.

Memiliki Peralatan Pendukung

Persiapan selanjutnya, memiliki peralatan pendukung. Banyak orang beranggapan, untuk bisa menjadi penulis, harus memiliki laptop, notebook, komputer, dan gadget pendukung lainnya. Kalau tidak memiliki semua itu maka proses menulis tidak bisa dilakukan.

Menurut pengalaman saya, anggapan ini hanyalah alasan yang dicari-cari. Dulu, saya juga memulai karier sebagai penulis, tanpa komputer maupun laptop. Saya mengandalkan buku tulis 38 halaman seharga 2 ribu rupiah dan pulpen.

Kadang, saya memanfaatkan halaman belakang kertas taking order yang saya bawa, untuk menuliskan apa pun yang melintas dalam pikiran saya. Dulu, saya sales lapangan yang seharian penuh berada di jalan. Tugas saya, berkunjung dari satu outlet ke outlet berikutnya.

Rajin Menulis di Mana pun dan Kapan pun

Di sela-sela waktu istirahat, saya suka menulis di selembar kertas, buku tulis yang saya bawa, atau buku order ketika buku tulis saya ketinggalan di rumah / habis halamannya.

Setelah beberapa tulisan jadi, barulah saya pergi ke warnet terdekat dan menyalin semua tulisan tangan saya menjadi bentuk digital, agar bisa dikirimkan melalui email atau dicetak menjadi hardcopy sesuai syarat dari penerbit yang dituju. Intinya, tidak punya laptop, bukan alasan untuk tidak menulis.

Tapi sekarang warnet susah, kak, kalau tidak punya komputer atau laptop, mana bisa menulis!? Oke, bisnis warnet, memang sudah mulai tenggelam sejak beberapa tahun lalu. Saat ini, warnet sangat susah ditemukan.

Namun ada cara lain. Lihat saja smartphone yang kamu gunakan. Di sana, ada aplikasi notepad ataupun word. Manfaatkan smartphone, tidak hanya sekadar untuk chatting atau main media sosial, tetapi bisa pula menghasilkan karya tulis yang bermanfaat bagi orang lain.

Dengan kata lain, selama kamu mau berusaha maka kamu akan menemukan banyak jalan untuk mewujudkan impian apa pun yang ingin kamu raih, termasuk menulis buku dalam waktu 30 hari.

memiliki peralatan menulis seperti buku, pulpen, laptop, smartphone, notes

Tekad yang Kuat Jadi Salah Satu Persiapan Menulis Nonfiksi

Nah, ini nih yang paling dibutuhkan dari semua teori menulis. Saya sering menerima pesan di kotak pesan media sosial saya dari seseorang yang ingin jadi penulis atau minimal bisa menulis satu buku dalam hidupnya.

Orang tersebut dengan menggebu-gebu menceritakan impiannya tersebut, usaha yang telah dilakukan, seperti membeli dan membaca banyak buku, menabung untuk membeli laptop/komputer, atau smartphone paling canggih agar bisa menghasilkan karya tulis.

Lalu, ia meminta tips kepada saya bagaimana cara menerbitkan buku, menembus penerbit, dan sebagainya. Saya senang dong dengan semangat mereka. Sungguh, semangat itu menyebar dan membuat saya jadi ikut bersemangat juga.

Sayangnya ketika saya tanya, “Kamu sudah menulis berapa halaman? Apakah sudah ada naskah yang jadi?” Dan jawaban yang saya terima membuat saya hanya bisa tertawa kecil.

“Ya, belum sih, Mbak. Saya sibuk banget. Pagi-pagi sekali udah ngejar kereta biar nggak terlambat sampai ke sekolah/kantor. Seharian banyak kerjaan yang harus diselesaikan, lalu pulang udah capek. Kalau akhir pekan kan waktunya senang-senang sama teman biar nggak stres. Ya, jadi nggak tahu deh kapan saya bisa menulis buku seperti Mbak Monic.”

Inilah alasan paling sering dijadi jawaban atas pertanyaan saya tadi.

Temukan Cara Menulis yang Asyik

Proses menulis itu tidak semudah membalik telapak tangan, bahkan tidak semudah memasang kaus kaki dengan posisi yang pas. Menulis seperti perjalanan panjang, yang prosesnya berliku. Artinya, kita membutuhkan semangat, niat, dan tekad kuat. Meski begitu, kalau sudah tahu caranya, kita bisa kok menulis nonfiksi dengan cara yang asyik.

Banyak juga di antara kita yang mengalami, 5 halaman pertama penuh semangat. Memasuki 10 halaman, semangat sudah mulai berkurang. Sesudah 50 halaman, akhirnya berhenti dengan alasan tidak tahu lagi apa yang mau ditulis.

Jika sudah berhenti di tengah jalan begini, jelas kita yang sudah kita rencanakan jadi, akhirnya tinggal mimpi. Oleh karena itu, lakukan persiapan matang dengan tekad yang kuat untuk menulis nonfiksi sampai selesai. Sekali memulai, harus sampai selesai.

Masih ingin jadi penulis?

Ayo lakukan persiapan menulis nonfiksi dengan sebaik-baiknya dulu ya. Siapkan pula tekad dan niat yang kuat tadi. Tujuannya, agar perjuangan kita tidak sia-sia untuk menghasilkan karya tulis yang bisa diterbitkan menjadi buku.

Jangan lupa, baca juga tips menulis cepat, menulis buruk, dasar-dasar menulis fiksi, dan tips menulis lainnya di blog ini. Kalau sudah melakukan semua persiapan menulis nonfiksi, yakinkan dirimu, kalau kamu bisa menulis buku dalam waktu 30 hari.

6 pemikiran pada “Persiapan Menulis NonFiksi”

  1. Iya masih mau menulis, tapi tekadnya harus dikuatin nih kayaknya. Suka down kalau dikasih saran terutama novel

    Balas
  2. Ping-balik: Tips 30 Hari Menulis Nonfiksi (4): Pentingnya Bank Ide
  3. Ping-balik: Bermain dengan Mind Mapping untuk menulis artikel atau buku

Tinggalkan komentar