Freelance Content Writer: 9 Langkah Praktis Merintis Karirnya

Home » Content Marketing » Freelance Content Writer: 9 Langkah Praktis Merintis Karirnya

Saya tidak menyangka akan berkarir sebagai seorang freelance content writer selama beberapa tahun belakangan ini. Bahkan sama sekali tak pernah juga menduga, kalau kemampuan menulis dan kesenangan saya membaca buku bisa membaca saya sejauh ini. 

Iya, saya tak perlu kerja kantoran hanya untuk mendapatkan gaji dari kemampuan menulis. Bahkan berkarir sebagai freelance content writer sudah membawa saya mendapatkan hidup yang saya impikan. 

Kamu juga mau merintis karir sebagai freelance content writer? Ini langkah praktis yang dulu saya lakukan secara rutin! Yuk, baca pengalaman saya ini.

9 Cara Praktis Merintis Karir Sebagai Content Writer Profesional

Apakah semua orang bisa menjadi content writer? Jawabannya, tentu saja bisa. Apalagi menjadi penulis konten yang profesional tidak berpatok pada latar pendidikan khusus.

Namun tetap dibutuhkan pengetahuan dan wawasan yang luas untuk bisa menghasilkan tulisan yang bernas. Caranya bisa mengikuti langkah-langkah berikut:

1. Paham Tugas & Tanggung Jawab Content Writer

Content writer adalah orang yang menciptakan konten menarik di media online. Bentuk kontennya bisa berupa artikel, ebook, script, caption di media sosial, dan sebagainya.

Karena saat ini saya berprofesi sebagai penulis artikel, baik untuk blog sendiri maupun untuk beberapa website klien, maka pembahasan di artikel ini lebih ke penulisan artikel ya.

Nah, berprofesi sebagai freelance content writer mengharuskan kita berfokus pada beberapa tugas dan tanggung jawab berikut:

  • Menemukan dan mengembangkan ide yang menarik dan relevan dengan pembaca situs web tempat kita bekerja.
  • Membuat taxonomy research dan topic clustering, untuk membangun topic authority.
  • Melakukan riset kata kunci, juga mengumpulkan data, fakta, atau referensi yang dibutuhkan dalam menulis.
  • Berkolaborasi dengan tim, seperti tim desain, tim marketing, dan lainnya.
  • Adakalanya content writer juga perlu melakukan wawancara dengan pemangku kepentingan dan ahli dalam bidang tertentu.
  • Menguasai teknik copywriting, content marketing, dan storytelling, untuk menghasilkan konten yang bisa menarik perhatian target audiens.
  • Melakukan revisi dan perbaikan jika diperlukan. Untuk bisa melakukan hal ini, saya harus memiliki skill editing dan analisis konten.

2. Punya SkillSet Lengkap

content writer harus punya skillset lengkap

Untuk bisa jadi freelance content writer profesional, tentunya kita perlu memiliki skill content writer. Beberapa di antaranya:

  • Kemampuan berpikir kritis, analitis, dan kreatif.
  • Menguasai tata bahasa, diksi (pilihan kata), dan ilmu terkait Ejaan yang Disempurnakan (EYD).
  • Punya skill Search Engine Optimization (SEO), sehingga bisa membuat konten atau artikel yang SEO friendly, dan bisa muncul di halaman pertama hasil pencarian.
  • Terampil mengorganisir, merencanakan, hingga mengembangkan konten, dari awal berupa ide hingga menjadi konten yang mendatangkan traffic.
  • Mampu menarik perhatian pembaca mulai dari kalimat pertama. Karena sebagus apa pun konten, jika tidak menarik, pembaca cenderung tidak akan membacanya hingga selesai.
  • Kreatif dalam menentukan topik tulisan serta mampu menyesuaikan tulisan dengan style brand.

3. Beretika & Punya Etos Kerja Tinggi

Menjadi seorang freelance content writer profesional yang beretika dan memiliki etos kerja tinggi adalah suatu keharusan.

Dalam konteks ini, beretika artinya memiliki kesadaran untuk menghasilkan konten yang jujur, akurat, dan tidak merugikan pihak lain. Ini mencakup beberapa hal berikut:

  • Menyajikan informasi yang benar, tidak melakukan plagiat, tidak copy paste tulisan orang, menghindarkan diri dari penyebaran hoax, dan sebagainya.
  • Memiliki integritas, bisa dipercaya, punya kemampuan menjaga kepercayaan, baik yang berkaitan dengan kerahasiaan pekerjaan maupun tentang hubungan kerja.
  • Menghormati hak cipta serta.
  • Bisa berkomunikasi dengan klien dan pembaca secara transparan.

Sementara memiliki etos kerja tinggi, berarti bisa berkomitmen untuk memberikan hasil kerja terbaik, termasuk:

  • Menghasilkan tulisan yang tidak asal-asalan dan isinya sesuai dengan standar yang telah ditentukan klien, meskipun dalam tekanan deadline.
  • Memastikan tulisan yang dihasilkan tidak akan merugikan klien, terlepas tulisan tersebut tayang tidak dengan nama kita.
  • Berdedikasi, punya tanggung jawab atas hasil kerja & memahami kebutuhan klien.
  • Mau melakukan riset mendalam sehingga bisa menghasilkan konten yang berkualitas tinggi dan relevan.
  • Memiliki kemampuan untuk mengelola waktu dengan baik.
  • Terus meningkatkan keterampilan dan pengetahuan dalam bidang penulisan.

Beretika dan punya etos kerja tinggi akan membantu kita membangun reputasi yang baik, mempertahankan hubungan jangka panjang dengan klien, dan sukses dalam karir.

4. Akrab dengan KBBI dan EYD

Ini sebenarnya dasar banget nih, apalagi sejak sekolah kita kan sudah belajar bahasa Indonesia yang mengharuskan kita rutin membuka KBBI dan buku EYD.

Namun faktanya, masih banyak lho penulis yang sudah malang melintang di dunia kepenulisan, masih tidak tahu mana saja penggunaan “di- yang disambung” dan “di- yang dipisah”.

Jadi kalau kamu ingin menjadi content writer yang profesional, pastikan kamu paham tata bahasa yang baik dan benar, sinonim, antonim, akronim, gaya bahasa yang beragam, dan emosi di balik diksi.

Agar bisa menggunakan tata bahasa yang tepat, kita mesti akrab dan sering buka KBBI sebagai sumber rujukan. Di saat yang sama, paham juga dengan Ejaan yang disempurnakan (EYD).

cara jadi freelance content writer

5. Menentukan Spesifikasi Keahlian

Meskipun bisa saja ada penulis yang memiliki kemampuan untuk menulis fiksi, nonfiksi, prosa, puisi, atau bentuk karya tulisan lainnya, tetap saja kita perlu menentukan keahlian yang spesifik. Karena tidak ada gunanya kita bisa semua, namun hasilnya hanya setengah-setengah.

Ini pula yang pernah saya lakukan di masa lalu. Saya pernah menerbitkan novel maupun buku-buku pengembangan diri di penerbit mayor sepanjang 2010 – 2017.

Namun pada akhirnya saya memutuskan menjadi freelance content marketing dengan spesifikasi keahlian content marketing.

Dengan berfokus pada satu keahlian yang terus kita tekuni dengan sepenuh hati, keahlian akan terus berkembang, dan akhirnya hasil tulisan kita pun jadi semakin baik.

6. Tahu Cara Kerja Berbagai Platform

Ada banyak platform digital yang bisa kita gunakan untuk mempublikasi hasil tulisan, mulai dari blog (Blogspot atau Wordpress), Wix, Medium, dan sebagainya.

Apapun media yang mau kita gunakan, pastikan kita benar-benar paham cara kerja media tersebut. Termasuk berbagai fitur yang ada di dalamnya.

Hal ini penting lho. Tak hanya mempengaruhi pembaca, namun juga berpengaruh besar pada algoritma mesin pencari.

Sekali lagi, menulis banyak artikel di blog, tapi tidak ada pembaca yang membaca tulisan-tulisan tersebut, buat apa?

7. Skill Komunikasi & Manajemen Waktu

Bisa berkomunikasi dengan baik menjadi salah satu skill penting, terutama untuk mengkomunikasikan ide-ide, menggali kebutuhan klien, saat diskusi dan brainstorming, presentasi, dan selainnya.

Di saat yang sama, kita sebagai freelance content writer juga wajib banget punya manajemen waktu yang baik. Apalagi kalau kerjanya punya deadline yang ketat.

Sama satu lagi nih, harus siap untuk melakukan revisi sesuai permintaan klien jika diperlukan. Bahkan siap ketika colekan untuk revisi itu datangnya dadakan, atau agak diburu-buru.

8. Portofolio dan Personal Branding

bangun portofolio dan personal branding sebagai content writer

Biasanya perusahaan akan meminta portofolio saat kita mengajukan diri untuk menjadi penulis konten atau artikel.

Portofolio adalah kumpulan karya atau proyek yang pernah kita kerjakan dan bisa kita selesaikan dengan baik. Di dalamnya bisa terdapat contoh tulisan yang sudah tayang, performa tulisan di hasil pencarian, atau hasil kerja lainnya.

Selain itu, kita juga perlu pula membangun personal branding. Yah, meski ini masih jadi kelemahan saya juga nih yang belum serius membranding diri di media sosial.

Meski begitu, ada banyak cara kok membangun personal branding dan membuat kita dikenal sebagai seorang penulis, misalnya:

  • Menulis rutin di blog terkait kemampuan yang dimiliki atau saat bekerja sama dengan suatu brand.
  • Menjaga kualitas tulisan di mana pun hasil tulisan kita akan ditayangkan.
  • Membangun jaringan / networking.
  • Membuat profil penulis di berbagai platform yang relevan, misalnya di Goodreads (jika sudah pernah menerbitkan buku).
  • Menang lomba blog atau lomba kepenulisan lainnya.
  • Sering berbagi insight tentang kepenulisan di media sosial.

9. Bergabung dengan Komunitas

Membangun relasi dan networking menjadi salah satu cara cepat yang bisa mendukung kita menjadi freelance content writer profesional. Misalnya bergabung dengan komunitas BRT Network dan lainnya.

Tapi bergabung di komunitas, lalu hanya jadi silent reader, tak akan ada gunanya lho. Kamu perlu aktif ikut berdiskusi, saling berbagi informasi dan pengetahuan, dan lain sebagainya.

Nah, bagaimana? Siap jadi freelance content writer profesional yang sukses? Kalau iya, terapkan langkah-langkah di atas. Jangan lupa, pelajari dan kuasai semua hal tentang content marketing dan cara menulis listicle artikel. Atau kalo mau mencari tahu lebih lanjut tentang freelance writer, baca saja di sini: Freelance Writer: Apa, Mengapa, Gaji, dan Cara Kerjanya.

Sedang mengikuti pelatihan prakerja untuk meningkatkan skill

About the author

Hobi saya dalam hal kepenulisan menjadikan saya ingin selalu berkarya. Menciptakan ruang blog monicaanggen.com ini bukanlah sesuatu hal yang kebetulan gais. Sit, Enjoy, and Starting Read.. ^_^

Tinggalkan komentar